“Anaking, geura teuteup ieu langit, geura tancebkeun impian jeung harepan hidep saluhur luhurna lir langit anu teu weleh mawa kaendahan, da hirup mah gumantung kana pangharepan jeung cita-cita urang. Anaking geura papag jeung geura udag eta impian téh sing ngawujud dina kanyataan sing ngabukti dina bebeneran ku elmu jeung kasholehan…”

dinni-widya021

ISTRI YANG SUCI

(JALAN CAHAYA)

Siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita hadir dari dimensi ruang dan waktu dan masa lalu yang berbeda, bahkan, saling tak mengenal. Tapi, mengapa disaat bertemu, kita seketika saling mempercayai untuk membangun kebersamaan, dalam perjalanan?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai. Tak mengherankan, jika Allah menempatkan jodoh pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat diungkapkan dengan jelas oleh hamba-Nya.

Siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku, istri? Allah, betapa maha pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana sunnahtullah-Nya agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Tapi, kenapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali abai memahami bila istri merupakan ‘pemberian’-Nya? Betapa aku maupun kaumku, para lelaki yang merasa hebat, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu: engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian. Sungguh berbeda dengan laki-laki yang dicitrakan hebat (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika ia ditinggalkan sendirian sehingga cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Kodrat kaummu serba kontradiktif. Itukah penyebabnya Nabi SAW berfatwa, ”sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok. Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya maka kamu mematahkannya.” (HR.Aththahawi).

Namun, bagiku, istri merupakan cobaan bagi suami. Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan-Nya. Perempuanlah yang memiliki sifat rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah. Dengan anugerah kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim?

Betul, engkau istri, bukan pemimpin utama. Tapi, sesungguhnya engkau menentukan, ketika hanya menjadi posisi pendamping. Engkau, di saat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah. Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai di saat engkau berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami  dan keluarganya ke jalan yang benar.

Tapi, siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri-istri yang suci justru merupakan jalan bercahaya menuju-Nya. Kesucianmu menjadi suar di tengah keluarga tempatmu berada untuk membentuk keluarga sakinah. Cahayamu menerangi perjalanan menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat suami dan keluarga merasa khidmat untuk beribadah.

Sebaliknya, istri-istri ‘musyrik’, bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, istri, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi keluarga.

Wahai istri, di saat engkau menjadi jalan bercahaya, mengapa mesti menggantinya? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu, istri yang suci!

(unknown source)

YANG TERBAIK BAGIMU (JANGAN LUPAKAN AYAH)

teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
indahnya saat itu buatku melambung
disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
kau tuturkan segala mimpimimpi serta harapanmu

kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
patuhi perintahmu jauhkan godaan
yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
aku terus berjanji tak kan khianati pintanya
ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

andaikan detik itu kan bergulir kembali
ku rindukan suasana basuh jiwaku
membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

(ADA BAND)

PESONA POTRETMU

(Ada Band)

Letih terlihat diwajah yang tua itu
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam
Dibalik senyummu teduhkanku
Terbayang potret kala engkau masih muda
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup
Kekuatan kasihmu nyata pulihkan jiwaku yang kadang goyah
Pesonamu masih jelas kurasa hingga kini
Menemani hingga ku dewasa
Derai airmata dan pengorbananmu takkan tergantikan
Terima kasih ibu..
Waktu cepat bergulir
Sisakan banyak kisah
Dia yang kau cintai t’lah lama meninggalkan dirimu sendiri
Namun tetap kau berdiri tegak pada dunia

lebaran-di-gn-puntang2-1

MY WAY

My Way

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, I’ll say it clear,
I’ll state my case, of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full.
I’ve traveled each and ev’ry highway;
But more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, I’ve had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried.
I’ve had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say – not in a shy way,
“No, oh no not me,
I did it my way”.

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows –
And did it my way!

(Words: Revaux, Francois, Anka; Voice: F. Sinatra)