HUTAN KELABU DALAM HUJAN

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

(Sapardi Djoko Damono)

3 thoughts on “

  1. Indah, sy pernah baca suatu tulisan, isinya kurang lebih begini:
    “Jiwa yang lembut adalah jiwa yang meng-apresiasi. Jiwa yang apresiatif. Jiwa berinteraksi dengan satu bahasa, bahasa hati. Jiwa yang berkomunikasi selalu dari hati ke hati. Tidak melulu berkalkulasi. Tdk hanya memikirkan untung-rugi. Jiwa yang menghargai interaksi antar manusia dengan manusia, dan menikmati proses itu melebihi apapun. Jiwa yang mudah larut dalam tawa dan canda bersama lawan bicaranya.
    Jiwa yang ikut merasakan getir saat sedih mewarnai pembicaraan seorang manusia yang berada dihadapannya. Jiwa yang mau memahami. Jiwa yang turut merasakan. Jiwa yang mau mengerti. Jiwa yang ‘manusiawi’. Jiwa yang dipenuhi oleh sifat-sifat kemanusiaan itu sendiri.”

    Nah, sy kepengen jadi orang yang diceritakan dalam tulisan di atas itu. Jd harus mulai menyelangi puisi, biar hati dan jiwa kita melembut secara alami hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s