MENUDUH DAN MEMBANTAH

Menuduh mudah dilakukan, namun sangat berat konsekuensinya, baik bagi si penuduh maupun sang tertuduh. Yang paling berat dalam perkara menuduh adalah menuduh orang berzina. Jika tuduhannya benar, di mana dia bisa menghadirkan empat orang saksi, si tertuduh bisa dihukum. Adapun jika tuduhan tidak terbukti, si penuduh dapat dihukum dan kesaksiannya tidak boleh diterima selamanya. (Lihat QS Annur [24]: 4).
Banyaknya orang pandai bersilat lidah, baik dalam menuduh maupun membantah, inilah yang membuat Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya, kalian banyak mengadukan perkara kepadaku, sedangkan aku juga manusia. Bisa jadi, sebagian kalian lebih pandai beralasan dibanding yang lain. Maka, barang siapa yang aku menangkan perkaranya dengan menzalimi saudaranya karena dia pintar bicara, sungguh yang aku berikan adalah potongan api neraka. Oleh sebab itu, janganlah dia mengambilnya.” (Muttafaq Alaih).

Nabi sendiri bisa salah dalam membuat keputusan yang sifatnya duniawi, apalagi umatnya. Dalam hal ini, Allah-lah yang akan memutuskannya dengan segala keadilan dan ke-Mahatahu-annya, baik saat masih di dunia maupun kelak di akhirat: siapa yang salah dan siapa yang benar.
Adalah Said bin Zaid, salah seorang sahabat Nabi, dia pernah diadukan oleh seorang perempuan tua kepada penguasa. Perempuan ini menuduh Said telah merampas tanah miliknya. Saat dikonfirmasi, Said mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi bersabda, ”Barang siapa mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya, Allah akan membenamkannya ke dalam tujuh lapis bumi pada hari kiamat.” (Muttafaq Alaih).
Lalu Said berkata, ”Silakan perempuan itu datang dan mengambil tanah yang diklaimnya. Kalau dia berdusta, semoga Allah membutakan matanya dan mematikannya di tanah tersebut.” Benar, tidak lama setelah itu, mata si perempuan ini pun buta. Dan, pada suatu malam, ketika dia pergi ke tanah tersebut, dia terpeleset dan jatuh ke dalam sumur, lalu meninggal.
Menuduh bukan asal bicara, dia mesti memiliki bukti. Nabi bersabda, ”Yang menuduh harus memberikan bukti dan yang dituduh harus bersumpah.” (HR At Tirmidzi).
Sekiranya, masing-masing pihak bisa memberikan bukti dan menghadirkan saksi serta pandai berdalih. Maka, yang paling mendekati kebenaranlah yang dimenangkan. Begitulah pesan agama kita tentang perkara ini. Bahwa, mulut harus dijaga, untuk tidak asal bersuara. Bahwa, asal menuduh sangat berat pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat. (ah)

Harian Republika, 28 Agustus 2008

http://www.republika.co.id/launcher/view2/mid/161/news_id/6244

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s