TEORI SOSIOLOGI

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Kuliah Teori Sosial Modern yang diberikan oleh Dr. Imam B. Prasodjo

Sosiologi muncul setelah terjadi ancaman terhadap dunia yang dianggap nyata; sosiologi muncul setelah terjadi perubahan mendasar dan berjangka panjang di Eropa seperti industrialisasi, urbanisasi, rasionalisasi. Untuk menjelaskan proses-proses tersebut para ahli sosiologi berteori.

Jonathan H. Turner merumuskan teori sebagai … a mental activity … a process of developing ideas that can allow the scientists to explain (menjelaskan mengapa) why events should occur (melalui kegiatan berteori, seorang ilmuwan dapat menjelaskan mengapa peristiwa-peristiwa tertentu terjadi).

Perumusan lain menurut William Kornblum … a set of interrelated concepts that seeks to explain (menjelaskan sebab-sebab) the causes of an observable phenomenon … (yang menekankan penjelasan sebab terjadinya suatu gejala yang diamati).

Apa yang dipelajari Sosiologi ?

Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu lain, maka sosiologi pun mempunyai teorinya sendiri; mempunyai konsep, hipotesa, proposisi dan variabelnya sendiri. Suatu ciri yang dipunyai sosiologi sebagai suatu bidang ilmu ialah bahwa sosiologi mempunyai banyak teori dan dalam hal ini George Ritzer (1980) menyebutkan sosiologi mempunyai banyak paradigma (a multiple paradigm science) karena memiliki 3 (tiga) paradigma :

1. Paradigma fakta sosial;

2. Paradigma definisi sosial;

3. Paradigma perilaku sosial.

Paradigma fakta sosial, hakekat pokok permasalahannya dipecahkan hampir sama dengan pendekatan yang dilakukan oleh ilmu-ilmu alam yaitu sebagai obyek, teori yang dipergunakan adalah teori fungsionalisme struktural, metoda penelitian kuisioner dan karya ilmiah yang relevan dengan pendekatan fakta sosial adalah Penelitian Bunuh Diri oleh Emile Durkheim.

Emile Durkheim dalam bukunya The Rules of Sociological Method (1965) mengemukakan bahwa fakta sosial dapat dijelaskan dengan mempelajari fungsinya, menurutnya mencari fungsi suatu fakta sosial berarti “… determine whether there is a correspondence between the fact under consideration and the general needs of the social organism …” Contoh yang diberikan Durkheim adalah hukuman yang berfungsi untuk tetap memelihara intensitas sentimen kolektif yang ditimbulkan oleh kejahatan. Tanpa suatu hukuman maka sentimen kolektif akan segera lenyap.

Tokoh fungsionalisme klasik : Emile Durkheim, Auguste Comte, Herbert Spencer, A.R. Radcliffe Brown.

Ralf Dahrendorf mengemukakan gambarannya mengenai pokok-pokok teori fungsionalisme, sebagai berikut :

1. Setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil;

2. Mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik;

3. Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem;

4. Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya.

Paradigma definisi sosial, hakekat pokok permasalahannya dipecahkan sebagai obyek, teori yang dipergunakan adalah teori interaksionisme simbolik, metoda penelitian pengamatan dan karya ilmiah yang relevan dengan definisi sosial adalah tindakan sosial dari Max Weber.

Tokoh interaksionis simbolis klasik :

Georg Simmel berpendapat bahwa muncul dan berkembangnya kepribadian seseorang tergantung pada jaringan hubungan sosial (web of group affiliation).

Max weber memperkenalkan interaksionisme dengan menyatakan bahwa sosiologi ialah ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial dan mendefinisikan serta membahas konsep-konsep dasar yang menyangkut interaksi seperti tindakan-tindakan sosial dan tindakan non-sosial serta hubungan sosial. Sumbangan penting lain bagi teori sosiologi terletak pada konsep pemahaman (verstehen) dan konsep makna subyektif individu. Pemahaman terhadap tindakan sosial dilakukan dengan meneliti makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakannya, karena manusia bertindak atas dasar makna yang diberikannya pada tindakan tersebut.

Para penganut teori interaksionisme simbolik menyepakati beberapa hal :

1. Terdapat kesepakatan bahwa manusia merupakan mahluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol;

2. Bahwa manusia memakai simbol untuk saling berkomunikasi;

3. Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (role taking);

4. Masyarakat tercipta, bertahan dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan renungan dan untuk melakukan evaluasi.

Salemba, 2 Maret 2000

3 thoughts on “TEORI SOSIOLOGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s