RATIONAL CHOICE THEORY DAN SIMBOLIK INTERAKSIONISME

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Kuliah Teori Sosial Modern yang diberikan oleh Dr. Imam B. Prasodjo

Rational Choice Theory

Sociological explanation : berupaya untuk mengungkap/menembus hal-hal yang biasanya dilakukan oleh umum, misalnya dalam kasus penembakan yang dilakukan secara tidak sengaja seorang anak 13 tahun oleh bapaknya di Amerika Serikat, pada saat penembakan sang anak yang memasuki rumahnya secara mengendap-endap dikira ayahnya adalah seorang pencuri. Jika masyarakat umum hanya mempertanyakan sebatas kenapa si anak mati, maka sociological explanation akan mengungkap lebih dari sekedar itu.

Menjelaskan fenomena sosiologi bukan menilai salah dan benar, tetapi dengan mempergunakan paradigma-paradigma sosiologi (lihat George Ritzer, Sosiologi Paradigma Ganda-Ritzer, G. 1975 Sociology: a Multi-paradigm Science. Boston: Allyn and Bacon)

.Bagaimana menjelaskan mengapa seseorang berperilaku, misalnya mencoblos tanda gambar pada saat pemilu? Jika pertanyaan itu mikro, maka penjelasannya adalah person to person interaction, bagaimana seseorang bertindak terhadap orang lain : mengapa saya melihat Imam Prasodjo?, dll. Sedangkan tindakan-tindakan sosial dalam tingkat makro (macro sociology) : integrasi, konflik, perubahan sosial.

Dalam teori sosiologi mikro yang dibahas adalah : action, agent, agency; sedangkan dalam teori sosiologi makro yang dibahas adalah: structure.

Action : paham yang memfokuskan action itu kepada individu/agent itu sendiri, yang mengamati bagaimana actor bertindak.

Sructure : misalnya begitu kita lahir, kita diajari berbicara dalam bahasa ibu, dalam bentuk bahasa yang sudah established (terkotak-kotak dalam aturan, misalnya harus dengan komposisi ini ibu saya, bukan ini saya ibu), jadi ada struktur-struktur yaitu dalam hal ini bahasa. Contoh lain : alasan mengapa seseorang ikut kuliah di S2?, misalnya ada yang mengatakan untuk mendapatkan ilmu, sehingga apakah orang tersebut tidak memerlukan ijazah?, jawaban orang tersebut keberadaan ijazah ternyata tetap diperlukan. Ini berarti seseorang tetap terikat pada struktur lagi. Sehingga terdapat seorang ahli yang mengemukakan bahwa sekolah adalah tindakan pengkotak-kotakan (ilmu membuat seseorang terpenjara-Pierre, Brasil), dimana orang yang menimba ilmu tersebut belum tentu menyukainya karena terikat pada strukutur-struktur tersebut.

Dalam kehidupan kita senantiasa terikat dan terkait dengan struktur dan norma-norma yang sudah ada dan kita dibentuk oleh struktur dan norma-norma yang sudaha ada tersebut, misalnya gaya rambut, cara berpakaian, dll.

Seseorang biasanya baru sadar terhadapa keberadaan struktur tersebut, apabila terjadi pelanggaran terhadap struktur tersebut.

Rational choice theory :

Ø Seluruh tindakan didasarkan kepada suatu kalkulasi (untung-rugi);

Ø Untung rugi tersebut didasarkan pada informasi, misalnya yangdilakukan seorang bujangan dalam memilih pasangan hidupnya, si A dan B sama-sama cantik, A berumur 30, S1, sehat, nakal dan B, berumur 17, SMP, ayan, baik.

Dalam rational choice theory, kita dalam bertindak selalu didasarkan pada pilihan-pilihan rasional, informasi yang masuk ke otak kita ditentukan oleh pilihan-pilihan, misalnya kenapa kita masuk ke UI ? karena bagus/terbagus ? belum tentu, oleh karena anggapan seperti itu bisa jadi hanya merupakan mitos.

Terdapatnya mekanisme/pertimbangan untung rugi menjadikan rational choice theory dominan dalam aplikasinya, misalnya : mengapa migrasi orang minang kebanyakan terjadi ke Jakarta, tidak ke Ambon, oleh karena ke Jakarta merupakan pilihan yang paling rasional, contoh lain pilihan untuk berumahtangga dan sekolah seperti yang telah dikemukakan di atas tadi.

Kelemahan-kelemahan rational choice theory:

Ø Kadang-kadang informasi yang diterima tidak merata antara satu orang dengan orang yang lainnya;

Ø Rasionalitas yang terjadi dalam kenyataan adalah berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya, Benjamin White pernah melakukan penelitian tentang fertilitas masyarakat petani, ia menyimpulkan bahwa petani mempunyai kecenderungan untuk memiliki anak banyak, dengan suatu alasan yang rasional menurut petani tersebut, misalnya dengan alasan : untuk cadangan bila anak yang lain meninggal (seperti kita ketahui tingkat kematian balita di desa-desa Indonesia sangat tinggi) dan alasan lain adalah untuk membantu bapaknya bekerja di sawah apabila kelak anaknya mulai beranjak dewasa. Suatu alasan yang menurut masyarakat kota tidak rasional. Sehingga contoh ini dapat menjelaskan bahwa rasionalitas tiap-tiap orang atau masyarakat berbeda-beda;

Ø Tidak semua action manusia dapat dijelaskan melalui rational choice theory ini, misalnya jika kita dihadapkan kepada aturan budaya (culture tidak sama dengan kebiasaan) maka kita cenderung untuk ikut saja : upacara nujuh bulanan, larangan seorang anak gadis berdiri di pintu, ketentuan-ketentuan agama, instink seorang bayi untuk minta netek pada ibunya, kisah cinta remaja yang mempunyai anggapan jika cinta sudah melekat, maka tai ayam sekalipun akan terasa coklat. RCT tidak memperhatikan nurani, instink, emosional, hal-hal yang irrasional, misalnya perempuan yang senantiasa marah-marah pada saat haid.

Jadi rational choice theory, didasarkan atas falsafah utilitiarianisme, untung rugi, sangat kapitalistik, misalnya : perjanjian/kontrak sebelum melakukan pernikahan, adanya separated account (kebalikannya adalah joint account), sehingga kehidupan disetting dalam take and give dan dikalkulasi, membuat orang menjadi tidak begitu antusias menjaga lembaga perkawinan tersebut, oleh karena jikapun terjadi perceraian sudah dicover oleh sistem yang well organized.

Imam B. Prasodjo tidak begitu menyetujui teori rational choice theory ini.

Simbolik Interaksionisme

Tindakan-tindakan kita sangat ditentukan oleh bagaimana kita menafsirkan tentang sesuatu, misalnya seorang masinis yang segera menarik rem KA manakala ia melihat seseorang mengibar-ngibarkan bendera merah di jalur kereta api yang dikemudikannya, oleh karena bendera warna merah dalam dunia perkeretaapian merupakan simbol bahaya (simbol diinterpretasikan bahaya), sehingga mekanismenya adalah stimulus-mediasi-respons.

Contoh lain adalah: makna yang terdapat disetiap orang pada masyarakat Muslim Ambon, adalah common enemies misalnya orang Kristen jahat, pembunuh, oleh karena simbol-simbol yang ada ditafsirkan oleh kelompok Muslim sebagai jahat.

Herbert Mead mengemukakan konsep self indication, yaitu pada saat kita berbicara tentang interaksi maka kita berbicara pula tentang self (diri).

Dalam diri manusia terdapat I (yang mengacu kepada subyek) dan Me (yang mengacu kepada obyek) dimana keduanya bisa berkomunikasi (mengobrol), terdapat adanya self evaluation, misalnya ketika kita masih remaja, sangat susah untuk menyatakan cinta, padahal pada saat tersebut kesempatan ada, lidah terasa sangat kelu; kemudian pada saat kita pulang kerumah, kita menyesali diri kita sendiri dengan seolah-oleh mengobrol dengan diri kita yang lain : lu goblok banget sih, kesempatan ada, padahal waktu dan tempat sangat mendukung, jadi kapan lagi lu bisa mendapatkan kesempatan seperti itu lagi!?

Looking Glass Self, adalah cermin-cermin sosial yang akan mengendalikan interaksi-interaksi sosial kita.

Dalam interaksionisme simbolik, apa yang kita lakukan sebetulnya merupakan respon yang terjadi melalui suatu proses pemberian makna. Simbol yang terjadi karena seseorang membuat simbol tersebut dan orang lain memaknai simbol-simbol tersebut, misalnya : seseorang yang menerima tamu dengan hanya memakai sarung (sarungan) disimbolkan oleh si tamu bahwa tuan rumah tidak menghargai tamu tersebut, contoh lain : banser NU dengan mempergunakan atribut-atribut militer (baju loreng, sepatu lars, pisau belati) maka akan terjadi pemaknaan simbol-simbol yang bermacam-macam di masyarakat, sehingga pada contoh-contoh tersebut akan terjadi proses peresponan terlebih dulu terhadap simbol-simbol yang dipergunakan tuan rumah atau banser tersebut.

Herbert Mead : merinci bagaimana proses penafsiran makna tersebut terjadi dan bagaimana “self” bertindak dengan merespon tindakannya.

Menurut Mead, ternyata dalam “self” kita terdapat 2 dimensi : sebagai subyek (I) dan obyek (me), contoh : kita menyesali diri mengapa kita pada saat berbicara didepan publik tadi tidak begitu tepat, dan disadari oleh kita pada saat telah terjadi.

Salemba, 19 Mei 1999

2 thoughts on “RATIONAL CHOICE THEORY DAN SIMBOLIK INTERAKSIONISME

  1. cukup bagus penjelasannya…
    saya masih sedikit awam mengenai teori ini dan saya memang lagi ingin memperdalam banyak teori seperti yang anda sampaikan, mohon penjelasan lebih dalam dan simpel lagi tentang rational choice theory nya ya, kalau boleh kirim ke e-mail saya.

    thanx b4

  2. Saya mahasiswa MMPS angkatan 2008, yg sedang ingin menggunakan teori rational choices utk rencana thesis saya nanti. Bisa minta tolong tidak, untuk bisa berkomunikasi langsung dengan anda mengenai penggunaan teori ini di dalam kerangka pemikiran penelitian saya nantinya? Please ditunggu responnya ASAP. Terus terang Saya masih banyak bingungnya, daripada mengertinya.

    Thanks on advance,
    DS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s