PERBANDINGAN ANTARA IDEOLOGI DAN ILMU

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial yang diberikan oleh Drs. M. Iqbal Djajadi M.Si.

1. Pertama, kita dan ilmuwan sosial dari satu segi, kadang-kadang mempunyai kecenderungan sama untuk menganggap sebuah keyakinan atau teori sebagai sesuatu yang tidak perlu diamat-amati, sebagai sesuatu yang dianggap benar dengan sendirinya: manusia itu mahluk sosial, manusia itu senantiasa hidup dalam kelompok-kelompok, manusia punya kebutuhan sosial bukan hanya sekedar kebutuhan biologis;

2. Hal kedua adalah menjelaskan tentang bagaimana sesungguhnya dunia sosial itu atau seperti apa dunia sosial itu : dunia sosial itu mempunyai hukum-hukumnya—dalam terminologi Islam hukum-hukumnya itu disebut sunatullah—misalnya, dalam bentuk ekstrim kita mengambil contoh teori Karl Marx yang dianggap sebagai dasar prospektif dari teori konflik: pada dasarnya manusia itu hidup saling berkompetisi satu sama lain, yang satu selalu mengeksploitasi yang lain, artinya dalam posisi yang selalu antagonistik. Sementara penganut teori fungsional—yang berada diseberang teori konflik—mempunyai keyakinan bahwa semua itu dalam posisi yang harmonis, masalah timbul jika dalam kondisi keharmonisan tersebut terjadi gangguan, namun disisi lain mereka pun percaya bahwa suatu ketika kondisi tersebut akan kembali normal. Hal yang sama akan kita temukan juga antara ideologi dan ilmu—dalam hal ini teori sosial;

3. Ketiga, dalam ilmu atau teori ditawarkan suatu sistem konsep, yang harus kita bayangkan sebagai kumpulan dari konsep-konsep (Neumann : concepts cluster). Mungkin konsep-konsep ini kita bayangkan sebagai konsep X1, X2, X3, X4. Dan ada konsep-konsep lain, katakanlan Y1, Y2, Y3, Y4, Y5. Dalam kita melakukan pemahaman mengenai sistem konsep itu, sesungguhnya seseorang senantiasa merujuk kepada kecenderungan/preferensinya untuk memilih sejumlah konsep-konsep tertentu saja dan membuang konsep-konsep lain. Misalnya, cenderung untuk hanya mengambil konsep/unsur X, sedangkan unsur Y dibuang/dikeluarkan, baik dengan alasan karena sesuatu yang tidak relevan atau merupakan satu yang sama sekali tidak disadari. Konsep X1 sampai X4 ini ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan berhubung-hubungan melalui suatu model, misalnya seperti ini : X1 ke X2, X2 ke X3, X3 ke X4 baru X4 ke X1, tidak ada hubungan langsung antara X2 dengan X4, antara X3 dengan X1 dan sebagainya, ini yang disebut sebagai suatu sistem konsep dan sistem konsep semacam ini akan memberikan kemampuan dan mungkin sekaligus nanti juga suatu kendala untuk menafsirkan sesuatu. Dalam suatu kesempatan pertemuan di Bogor yang dihadiri juga oleh elit-elit politik tingkat tinggi, dosen-dosen. Seorang ulama mengatakan : banjir yang selalu melanda Jakarta antara lain disebabkan orang-orang Jakarta kerap “buang air” di Puncak (Bogor), dan dia mengarah kepada aspek moralitas dan yang dia pentingkan adalah suatu kesimpulan bahwa banjir itu turun dari tuhan, karena orang-orang tertentu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan sunatullah. Secara empirik, jika kita perhatikan fakta yang menyebabkan banjir di Jakarta misalnya erosi (Y4), masalah irigasi (Y5), drainase dan sebagainya, melalui formulasi seperti ini kita bisa menyimpulkan apa yang secara empirik terjadi. Ulama yang mengungkapkan tentang sebab-sebab banjir, kita bisa identifikasi/kenal melalui cetusan-cetusan keagamaan yang khas—sadar atau tidak, diinginkan atau tidak diinginkannya—karena dia hanya akan mengambilmemang khas. Oleh Peter L. Berger ini yang bukan hanya disebut atau sekedar sistem konsep, tetapi sebagai yang disebut relevan structure. Penekanan Neumann dengan sistem konsep adalah bagaimana konsep-konsep itu berhubungan dalam suatu hubungan yang khas. Jika Peter L. Berger merujuk atau menekankan sistem konsep itu kepada konteks bagaimana hubungan-hubungan tersebut bermakna. Dari segi ini kita sebenarnya sama dengan ulama, dalam pengertian bahwa kita juga punya sistem of concepts, kita punya relevan structure, bagaimana kita hubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain, dan mempunyai kecenderungan-kecenderungan/preferensi. Dan karena itu dalam konteks ideologi kita bisa bicara bahwa sama, kita menawarkan suatu sistem of concepts atau idea, atau sistem gagasan atau struktur relevan tertentu. Jika kita perhatikan, kita semua mempunyai perbendaharaan konsep yang khas, bahkan hanya dengan istilah-istilah yang kita gunakan akan terlihat, dan itu akan mencerminkan suatu gaya berpikir sendiri, dan jika diperhatikan kata pertama kita yang keluar dalam suatu kesempatan diskusi misalnya, akan terulang lagi pada pembicaraan berikutnya. Kita bisa lihat Gus Dur, Amien Rais, Megawati, masing-masing mempunyai perbendaharaan kata yang khas, Gus Dur misalnya modelnya sembarangan (auto context). Kenapa Gus Dur menurut kita merupakan seorang yang aneh, nyeleneh, eksentrik, atau apapun istilahnya kita memanggilnya? Jawabannya adalah karena ia menggunakan suatu sistem konsep yang berbeda dengan kita. Inti yang sebenarnya yang ingin kita ungkapkan disini adalah bagaimana kita mencoba untuk menempatkan diri kita juga sebagai Gus Dur atau sebagai orang awan jika kita bicara dengan tukang becak, misalnya dia hanya bisa mengatakan jika ketika bercakap-cakap dengan kita: saya nggak ngerti pak apa yang bapak omongin, kaerna omongan bapak itu terlalu tinggi. Seorang tukang bajaj ketika ditanya : “Bagaimana jika Amien Rais jadi presiden kita? Dengan santai dia menajwab: “Ah, saya sih nggak percaya dia, mulutnya aja mencong begitu!”, istilah mulutnya mencong itu adalah ungkapan khas dia untuk seseorang yang tidak loyal, terlampau ngakal-ngakali, pandangannya berubah-ubah, oleh karena dia tidak mempunyai perbendaharaan mengenai konsep itu, dia tidak mempunyai perbendaharaan konsep itu, dia hanya lihat dari posisi fisik miringnya mulut Amien Rais itu. Seperti halnya juga supir-supir, mereka juga mempunyai konsep: tancap!, cabut!, gunting! Mereka menyusun konsep mereka dengan mempergunakan kata- atau istilah yang biasa kita gunakan, tetapi dengan konsepsi yang berbeda. Cabut maksudnya segera berangkat, gunting artinya ambil penumpang-penumpang. Uniknya lagi adalah bagaimana mereka mampu membuat suatu sistem konsep yang diputar-putar dan konotasinya bisa dimain-mainkan kesana kemari melalui istilah : ganti oli, cuci busi, turun mesin, bengkel. Sehingga ketika mereka sedang melakukan tugasnya di bis, mereka mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi dengan rekan-rekan mereka, melalui ungkapan-ungkapan tersebut. sebetulnya mereka itu menggunakan untuk hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Sehingga ketika sedang melakukan penelitian, kita harus mencoba untuk menempatkan diri kita sebagai mereka, Kemudian, jika kita masuk ke instansi TNI, kita akan temukan istilah-istilah yang khas, singkatan-singkatan yang memusingkan. Jika kita masuk ke FK, mereka mempunyai istilah-istilah yang khas. Untuk selanjutnya, kita harus merincikan dan menegaskan tentang hubungan diantara konsep-konsep dan menjelaskan tentang apa menyebabkan apa. Jadi, ini merupakan spesifikasi yang lebih rinci dari apa yang disebut menawarkan suatu sistem konsep dengan cara memberikan suatu gambaran mengenai hal-hal itu.

4. Keempat, mengungkapkan suatu sistem gagasan yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam bahasa yang sangat teknis, agama sebetulnya bisa kita sebut sebagai teori, begitu juga halnya dengan ideologi yang juga merupakan suatu teori, sebabnya adalah karena mereka mempercayainya. Kenapa gunung itu meletus?, karena Tuhan sedang memberikan cobaan kepada bangsa ini. Gunung meletus adalah variabel dependen, cobaan adalah variabel independen. Dalam melihat sesuatu, kita bisa melihat bahwa sebetulnya operasi cara berpikir kita semua adalah sama, dalam kerangka yang besar. Namun demikian kita pun bisa melihat sebetulnya ada juga perbedaan-perbedaannya :

a. Yang satu sudah memastikan atau pokoknya mutlak hubungan-hubungan tersebut, sedangkan yang lain mengatakan relatif (relative context). Dan oleh karena itu jika kita melihat suatu kesimpulan penelitian yang biasanya dengan menambahkan suatu klausul “dengan syarat hal-hal lain dianggap sama, jika hal-hal lain tidak dipertimbangkan atau hal-hal lain dianggap dikontrol atau dikendalikan (other thing being equal)” misalnya bahwa IQ dipengaruhi oleh gizi, atau gizi mempengaruhi IQ, sebetulnya merupakan gejala ketidakpercayadirian atau ketidakpercayaan seorang ilmuwan bahwa hubungan itu benar ada. Hal-hal seperti itul lah yang memenunjukkan bahwa sebetulnya kita ini hanya yakin secara relatif. Disinilah sebenarnya letak kekuatan dan sekaligus kelemahan sebuah ilmu, karena jika kepada sesuatu hal atau fenomena terhadapnya kita sudah begitu yakin akan kebenarannya, maka kita bukan lagi seorang ilmuwan;

b. Ideologi cenderung memberikan jawaban terhadap semua hal. Dari satu segi seorang ilmuwan yang baik itu menjemukan, karena mereka mempunyai atau memberikan jawaban secara sepotong-sepotong, tidak lengkap atau parsial: “Wah saya belum bisa memberikan jawaban, oleh karena belum melakukan penelitian itu!” Ini merupakan kekuatan ilmu (sosial dan eksakta), oleh karena jika kita yakin bisa menjawab seluruh masalahnya, barangkali di duina ini tidak perlu lagi sosiolog, ahli kimia, dokter, karena pada dasarnya semua orang sudah mengetahui semuanya. Oleh karena jaman semakin menuntut kepada setiap orang mengerjakan hal-hal yang spesifik, maka emakin banyak orang ingin menjadi seorang profesional dengan cara melalui pendidikan keilmuan terlebih dulu, dan karena itulah sebabnya pula maka kita lihat semakin sedikit orang ingin berprofesi sebagai ulama, yang dianggap mempunyai pengetahuan disegala hal. Sejak dulu seorang ulama dituntut oleh santri dan masyarakat menjadi orang yang serba bisa, bisa menjawab apa saja. Nabi, ulama atau orang-orang suci yang kita kenal, dari satu segi menggambarkan peradaban pada waktu itu, orang yang pintar adalah orang yang pintar dalam segala bidang, semua hal. Seorang seperti Plato, ia memikirkan demokrasi, negara republik, atom, alam semesta dan pikiran-pikirannya diikuti oleh orang-orang pintar yang lain. Oleh karenanya disini kita tidak membicarakan hal-hal semacam itu.

c. Ideologi cenderung mempunyai suatu jawaban yang tetap atau dianggap tetap, paripurna, period, selesai, jangan tanya-tanya apa-apa lagi. Keyakinan-keyakinan seperti Tuhan itu satu, neraka sampai lapis ketujuh. Sementara ilmu pengetahuan sangat terbuka dan senantiasa mempertanyakan. Sehingga kita bisa melihat: teori Marx, Parson ditinjau kembali melalui terori-teori yang kita kenal sebagai neo marxis, neo fungsionalis, revisionis, dsb.;

d. Ideologi cenderung menghindarkan pengujian, menghindarkan satu kesenjangan atau pertemuan antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain. Hal inilah yang membedakannya dengan keilmuan. Makanya dari satu segi, ketika Amien Rais mengeluarkan statement: “bahwa kerusuhan adalah satu fungsi dari kesenjangan sosial” tanpa melakukan suatu penelitian, bahkan mungkin tanpa berpikir lagi dengan kritis, maka dalam hal ini ia berbicara dari sisi sebagai ideolog, bahkan—dalam bentuk yang paling ekstrim—(menurut Iqbal) dia sudah menunjukkan sebagai seorang demagog—penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata dusta untuk membangkitkan emosi rakyat.

e. Ideologi cenderung membutakan diri terhadap pembuktian-pembuktian yang berbeda, yang menihilkan atau yang menyerang, dan dia tidak mau mengatakan seperti itu. Contoh yang paling ekstrim untuk hal itu dapat dilihat dalam agama. Dari satu sisi, jika ingin diterima oleh umat kadang-kadang yang dilakukan adalah dengan cara mendompleng ilmu. Misalnya penemuan “bahwa diluar alam semesta ini ternyata ada alam semesta lain”, dikutip oleh seorang doktor ilmu sosial, bahwa hal itu ada dalam Al Quran jauh ketika pengetahuan mengenai hal itu belum ditemukan. Contoh lain, sekte dalam agama kristen yang menyertakan istilah scientific dalam nama sektenya, yang tidak lain untuk menunjukkan bahwa agama mereka adalah agama yang mengikuti prinsip-prinsip hukum ilmiah. Tetapi yang menjadi masalahnya adalah, mereka ini cenderung tidak menggunakan temuan-temuan yang lain, yang tidak mendukung atau bahkan akan menegasikan kepercayaan yang mereka anut, padahal banyak hal yang dapat dipakai untuk mempertanyakan kepercayaan atau agama mereka. Jadi, kita melihat mereka hanya akan mengambil sesuatu yang mereka anggap akan membenarkan atau memperkuat apa yang sudah dinyatakan dalam kitab suci. Ketika hindu di tahun 60-an begitu populer dan dianggap sebagai suatu bagian dari flower generation, hindu diubah menjadi sedemikian rupa sehingga penuh dengan penjelasan-penjelasan dalam bentuk jargon-jargon fisika, kimia, psikologi dan mempergunakan Beatles adalah simbol mereka. Tahun 80-an, budha dengan simbol Richard Gere. Islam dengan simbol Cat Stevens, Muhammad Ali, Mike Tyson. Namun sekali lagi, ternyata mereka hanya cenderung mengambil bagian-bagian yang mereka anggap mendukung mereka dan akan menolak sesuatu yang dianggap akan merugikan mereka. Di lain pihak, sebetulnya banyak prinsip-prinsip keilmuan yang bisa diterapkan, tetapi karena dianggap bisa menihilkan agama sehingga tidak mereka pergunakan dan dalam kenyataannya Agama dengan prinsip-prinsip seperti itu yang justru banyak penganutnya. Jadi untuk mengatasi kesulitan ini, dipergunakanlah dua koridor, yang memisahkan antara tataran ilmu dan tataran agama, agar antara ilmu dan agama tidak saling berbenturan karena memang sangat sulit dipertetemukan.

f. Dari pihak teori atau ilmu sosial, kita bisa lihat hal yang sebaliknya yaitu adanya detached, adanya jarak, mengambil posisi atau mengambil sikap. Mungkin ini gambaran langsung dari apa yang dinamakan skeptisisme—aliran atau paham yang memandang sesuatu itu selalu tidak pasti—seorang ilmuwan bertindak disconected karena tidak ingin menghubung-hubungkan sesuatu yang memang tidak berhubungan. Dari satu segi ini yang disebut sebagai strong moral stand—mempunyai pendirian yang kuat dalam hal mempertahankan prinsip-prinsip keilmuan dan ilmu pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengajarkan kepada kita untuk bersikap skeptis, dalam arti tidak menerima sesuatu dengan begitu saja;

g. Ideologi mempunyai kecenderungan untuk terpaku hanya kepada sesuatu yang merupakan kepercayaan dasar kita dan kita tidak melihat hal-hal lain, ini sangat kontras dengan ilmu dengan apa yang disebut sebagai detached, perubahan harus didasarkan kepada suatu pembuktian, sedangkan intinya adalah detached atau berjarak;

h. Ideologi memperhatikan segala sesuatu hanya dari satu sudut, jadi sangat parsial, sangat parokial, hanya dari satu sudut pandang saja. Sementara ilmu mencoba netral dan berusaha mempertimbangkan dari segala macam aspek (higly partial);

i. Ideologi sangat kontradiktif, inkonsisten, sedangkan ilmu adalah hal yang sebaliknya, yaitu berusaha untuk atau sangat memperhatikan konsistensi, logis, koherensi. Contoh ekstrim, ungkapan seorang ulama mbeling, ndableg: “Al Quran penuh dengan inkonsistensi, misalnya apakah Islam itu memperlakukan perempuan itu sejajar atau berbeda dengan pria, dalam hal warisan, dalam hal menjadi imam, semua itu menunjukkan bahwa Tuhan itu lebih mengutamakan (lebih primer kepada) laki-laki, menempatkan pria di atas wanita.” Sementara tokoh-tokoh jender yang mempergunakan Al Quran sebagai dasarnya, tetap mengatakan bahwa Al Quran memperlakukan perempuan sejajar dengan laki-laki: “Datangilah istrimu atau suamimu karena mereka adalah pakaianmu”. Jika kita melihat dengan semangat keilmuan maka kita akan menjumpai hal-hal yang inkonsistensi seperti itu. Dalam ideologi negara ”Pancasila”, ditemui juga ketidakkonsistensian dalam jabarannya yang terwujud dalam “almarhum45 butir-butir Pancasila”-nya. Sehingga jika kita perhatikan, dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan ideologi dibandingkan dengan mempergunakan ilmu atau teori-teori sosil sosial, misalnya setiap hari kita menganggap bahwa perempuan itu cenderung emosional, perempuan itu harus mengurus rumah tangga, atau perempuan dekat dengan hal yang indah-indah. Padahal dalam tataran empirik kenyataannya tidak seperti itu, misalnya kita sering melihat kenyataan bahwa seorang istri menyeleweng, sehingga menjadi jungkir balik lah semua kehidupan. Contoh penyelewengan seorang istri itu, menggambarkan betapa berubahnya struktur sosial yang ada di Indonesia saat ini, dan hal tersebut juga menggambarkan aspek perubahan dalam bidang-bidang yang kecil lain.

Kadang-kadang kita tertawa ketika memperhatikan misalnya sebuah peraturan yang tidak lagi menggambarkan struktur sosial yang nyata: “dilarang membawa tamu yang berlainan jenis yang bukan muhrimnya”. Melalui contoh ini hanya ingin ditunjukkan jika kita sebenarnya berhadapan dengan realita sosial. Kemudian, kita pun berupaya menafsirkan dan menyusun suatu sistem konsep sendiri. Jika dalam suatu penelitian, kita baru menemukan fakta satu kali, dua kali bahkan sampai tiga kali, maka sampai disini dianggap belum terjadi suatu penelitian dan kita dilrangan untuk langsung menggeneralisasi, dan tetap kita lakukan, itu artinya kita bukan seorang ilmuwan, walaupun kita telah selesai menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam S1, S2 bahkan S3 sekalipun, karena melalui tindakan-tindakan kita yang seperti itu, kita tidak mendudukan diri kita dalam kapasitas sebagai seorang peneliti sosial. Contoh yang dapat dikemukakan disini, misalnya kita tahu banyak tentang Ambon tetapi karena kita belum pernah meneliti secara langsung disana, maka kita bukan seorang expert atau seorang pengamat tentang ambon. Dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya seperti contoh di atas, ketika kita langsung mempercayai bahwa fakta dan data yang baru dan telah kita temukan itu merupakan jawabannya, maka pada saat itu kita bukan bertindak sebagai seorang ilmuwan. Dalam konteks ilmu, tidak akan pernah ditemui suatu pengetahuan atau kebenaran yang final bahkan secara ekstrim kebenaran yang hakiki itu mungkin tidak pernah akan tercapai dan justru disitulah sebenarnya kekuatan ilmu, dan sekaligus disisi lain merupakan kelemahan ilmu. Peneltian yang dilakukan, mungkin bisa menjadi sangat birokratis, ilmu iltu selalu takes time, membutuhkan waktu yang relatif banyak, padahal melalui penelitian yang dilakukan, para birokrat dan para teknokrat harus segera mengambil keputusan secara cepat. Apalagi penelitian-penelitian antropologi bisa memakan waktu hingga 2 tahun. Dalam sisi yang lain, percepatan suatu penelitian bisa menjadi berbahaya dan berimplikasi sangat luarbiasa, misalnya jika penelitian kasus ambon dilakukan ketika dalam situasi bara seperti itu, maka apa yang bisa kita harapkan dari penelitiantersebut, pada saat kita wawancara mungkin kita tidak akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya (bias), ketika misalnya mereka baru saja misalnya kehilangan anak dan istrinya, atau masih terbayang ketika orang tuanya terbakar hidup-hidup. Hal yang paling mungkin adalah penelitian dilakukan dan bisa dijelaskan setelah waktu yang relatif lama, ketika mereka sudah mulai bisa melupakan, saling memaafkan. Hal yang akan terjadi jika tetap memaksakan penelitian di saat situasi seperti itu, maka mungkin kita nantinya akan cenderung partisan, parokial dan mungkin data akan mengikuti arus subyektif kita sebagai peneliti karena walaupun bagaimana seorang ilmuwan itu seorang manusia juga, misalnya peneliti islam akan mempercayi sumber atau data dari golongan islam saja. Hal penting yang harus kita lakukan dalam hal ini adalah memenjarakan (brancketing) pikiran subyektifitas kita. Kemudian dalam melakukan peneltian, kita jangan terkesan dengan segala macam gelar atau figur seseorang, karena yang harus diperhatikan jika seorang tokoh, figur mengeluarkan statement seseorang adalah apakan mereka telah melakukan penelitian mengenai hal ini atau belum, jika belum maka semua hal tersebut masih belum merupakan hal yang benar, masih merupakan hipotesis (hipotesis pada dasarnya merupakan turunan dari teori yang dirumuskan sedemikian rupa untuk kepentingan pengujian, jadi suatu aspek yang masih menunggu, merupakan langkah berikutnya), tanpa atau belum dilakukannya penelitian dengan teknik dan metoda yang baik, maka semua hal tersebut masih merupakan hal yang belum benar.

4. Ideologi hanya berakar dalam posisi yang spesifik, maksudnya hanya mempunyai satu akar atau satu posisi saja. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan ilmu yang melampaui atau melintasi berbagai macam posisi yang ada dalam ilmu sosial. Contoh: seseorang yang berbasiskan kepada teori konflik, maka terdapat kecenderungan bahwa ia memaksakan teori konlflik itu untuk semua hal yang diketahui atau dipelajarinya, baik dalam tataran abstrak maupun empirik. Hal itu mengindikasikan pada sisi itu bahwa ia bukan seorang ilmuwan sosial. Seorang yang berbasis teori struktural fungsional, misalnya memaksakan diri bahwa semua itu pada dasarnya mempunyai fungsi yang positif, dan pada akhirnya menuju kepada suatu equilibrium. Sehingga sosiologi sebagai suatu hal yang multi paradigm jangan lagi diperdebatkan dan dibesar-besarkan, lebih baik jika kita sudah mulai mengarah kepada suatu sintesis, melalui upaya-upaya kita untuk mempertimbangkan berbagai macam pandangan termasuk pandangan yang ada dalam sosiologi itu sendiri, atau jika tidak dilakukan kita akan secara emosional menjadi seseorang yang taklid. Konsepsi Marx yang pernah populer dan dikenal dalam literatur sosiologi pembangunan dan politik sebagai paradigma dependensi, paradigma tersebut kemudian tergantikan oleh paradigma sistem dunia (Immanuel Walstein). Sebetulnya jika kita remas dan peras, esensi yang mereka kemukakan sebetulnya sangat sederhana, yaitu ekspolitasi. Dalam kerangka pemikiran Marx, eksploitasi dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas yang berada dibawah atau proletar. Sedangkan Walstein mengatakan bahwa eksploitasi terjadi oleh negara besar (pusat) kepada negara kecil atau miskin (pheriperi). Marx menggambarkan keadaan tersebut dalam skema segitiga, pada awalnya masyarakat terdiri dari banyak kelas dan akhirnya melalui proses-proses eksploitasi luar biasa yang menghasilkan powerfulization akhirnya hanya menjadi dua kelas yaitu borjuis dan proletar yang masing-masing mengelompok. Sedangkan dalam konsepsi dependensi, digambarkan terdapatnya negara pusat (adidaya) yang selalu melakukan eksploitasi terhadap negara pinggiran (pheriperi) yang jumlahnya banyak, sehingga negara-negara besar menjadi semakin kaya. Para penganjur teori dependensi (a.l. yang sekarang menjadi Presidem Brazil : Cardozo), percaya bahwa negara dunia ketiga tidak akan mungkin bisa berhasil menjadi negara maju, karena senantiasa dieskploitasi oleh negara adidaya melalui perdagangan/ekonomi. Walstein mengkritik kepercayaan ini, dengan mengatakan bahwa negara semi peripheri dan periperi ini masih mempunyai kesempatan untuk naik kelas, dan untuk itu Walstein membagi negara di dunia kedalam tiga kategori: pusat, semipheriperi dan pheriperi. Walstein mendasarkan keyakinannya ini kepada sejarah yang telah menunjukkan bagaimana peradaban suatu bangsa timbul dan tenggelam, persis sebagaimana yang digambarkan oleh sosiolog pertama di dunia Ibnu Khaldun. Teori dependensi mendominasi dunia ilmu pengetahuan sosial dalam konteks hubungan state dan society selama hampir dua dasa warsa (60-an sampai 70-an) dan mulai ditinggalkan pada tahun 80-an, esensi teori ini sangat sederhana, dibalik teori-teori rumit dalam buku-buku tebal Waltein, yaitu negara pusat mengeksploitasi negara pinggiran. Untuk menjadikan suatu negara periperi menjadi negara semi periperi bahkan menjadi negara pusat, maka langkah yang bisa dilakukan adalah melakukan revolusi dan isolasi dan jangan lagi melakukan hubungan dagang dengan negara-negara pusat, karena tanpa gerakan seperti itu negara semi periperi dan periperi tidak akan mempunyai kesempatan sama sekali untuk bisa seperti negara pusat. Jasi, teorinya hampir mirip dengan ajakan Marx “jungkirbalikkan kelas yang ada di atas”. Tampak realitas sosial menjadi sangat-sangat sederhana dan bisa menjadi sangat berbahaya, bahkan dalam dalam ilmu sosial pun kita kadang-kadang dalam posisi untuk mengambil posisi dan menganggap hal itu merupakan sesuatu yang benar, sehingga kita anggap selesai sampai disitu (apalagi jika kita mengambil dari Samuel P. Huntington “Kelas Peradaban”)

Jika ingin melakukan klarifikasi melalui kritikan terhadap teori-teori yang sudah ada, seperti yang sering kita baca melalui surat kabar, maka seyogyanya kita melakukan kritikan berdasarkan data dan tidak cukup hanya dengan melakukan nalar saja, karena misalnya Huntington melakukan penelitian dengan mempergunakan data-data (kuantitatif yang baik) yang cukup solid walaupun penyajiannya tidak hanya berdasarkan kuntitatif.

Sehingga jika kita perhatikan akhir-akhir dalam kesempatan diskusi, seminar akan kita temukan Huntingtonian, Giddenian, teori-teori mereka selalu disebut-sebut, dan inilah barangkali yang dapat menunjukkan bahwa kita pun sebenarnya sama buruknya dengan Zainuddin MZ, Qosim Nurseha.

Tanggapan atas pertanyaan:

Yang dimaksudkan ideologi disini dalam segala manifestasinya—dalam hal ini termasuk agama. Karena ilmuwan sosial pun, bisa juga menjadi ideolog, misalnya peneliti jender—khususnya penelitian mengenai pemerkosaan yang dilakukan terhadap etinis cina pada saat terjadi kerusuhan Mei ’98—mereka sepertinya telah menempatkan diri mereka sebagai ideolog-ideolog khususnya dari segi ini, karena pada dasarnya mereka sebenarnya melakukan penelitian dan menemukan hal-hal yang sama lagi, terus dan begitu terus. Sehingga dapat dikatakan bahwa peneliti-peneliti jender sebenarnya merupakan orang-orang yang paling loyal terhadap teori Marx, karena yang mereka gambarkan adalah persis ketika Iqbal Jayadi mengkritik mengenai dependensia dan sistem dunia seperti telah diungkap kan di atas. Karena intinya terjadi pengeksploitasian terhadap kaum perempuan, perempuan selalu dalam kedudukan yang rendah, selalu salah. Iqbal tidak mengatakan hal itu sesuatu yang salah, tetapi apakah realitanya memang selalu seperti itu dan berlaku di semua suku? Dalam kondisi sebenarnya, tampaknya saat ini sudah tidak relevan lagi, dan kesimpulannya adalah hal-hal yang lagi-lagi sama. Kemudian peneltian tentang cina, cina selalu menjadi korban, pada orde lama dijadikan kambing perah, pada jaman orde baru dijadikan kambing potong.

Sebagai peneliti atau ilmuwan, kadang-kadang terperangkap dalam pola pikir ideolog—mempunyai subyektifitas-subyektifitas misalnya ke-cina-an dan ke-pribumi-an—dan hanya sekedar membuktikan bahwa apa yang dipercayai itu benar dan menyampingkan aspek-aspek lain. Misalnya apakah benar etnis cina itu selalu merupakan korban? Secara khusus harus digarisbawahi (masalah-masalah aksi kekerasan politik berkaitan dengan konflik dan integrasi), bagi Iqbal apa yang terjadi dalam kerusuhan Mei ’98 sangat sulit untuk dikatakan kerusuhan, walaupun ciri-ciri kerusuhan di Indonesia itu banyak, tetapi juga ada unsur-unsur yang lain dan salah satu unsur yang menjadi pertanyaan sampai sekarang adalah : apakah benar terjadi perkosaan yang dilakukan oleh sejumlah orang-orang terhadap perempuan-perempuan cina? Sampai sekarang bukti-bukti tidak jelas, LSM tidak menemukan sumber-sumber pertama yang langsung mendengar, yang ada adalah : kata si ini, kata si itu. Dalam sisi sebagai seorang ideolog, Iqbal mempunyai kecurigaan karena jika dilihat dari rentang sejarah, etnis cina tidak pernah pernah melngalami konflik secara langsung—kecuali misalnya di tahun ’67 di Parege—cina dan dayak berkonfrontasi, katakanlah itu bagian kecil dan unsur politiknya tinggi, karena berkaitan dengan aksi PKI dan aksi ganyang malaysia. Cina memang seakan-akan dibatasi ruang lingkupnya, diberi prioritas yang rendah, tetapi dari segi ini suatu fakta sederhana, mereka hingga saat ini secara praktis hampir tidak pernah terdengar pembunuhan-pembunuhan terhadap cina, yang diserang dalam kerusuhan-kerusuhan adalah barang atau hartanya, karena dianggap simbol kecinaan adalah kekayaan, sehingga jika perkosaan itu benar, maka menurut Iqbal hal itu adalah merupakan sesuatu hal yang sama sekali baru, karena dalam rentang sejarah yang cukup panjang yang terjadi adalah perkawinan dengan etnis cina dan selama ini tidak masalah dan disisi yang lain etnis cina selalu dalam posisi kelas menengah (bersama orang-orang Arab) sejak jaman Belanda. Artinya hal-hal seperti itu kenapa tidak dilihat atau dijadikan pertimbangan seperti bagian-bagian yang lain, dalam posisi sebagai ideolog Iqbal menduga—karena belum pernah melakukan penelitian secara khusus tentang etnis cina—sehingga Iqbal menghimbau kita untuk melihat secara seksama terhadap kepercayaan kita sendiri misalnya tidak mungkin perempuan cina itu diperkosa atau dibunuh secara sistematik—yang membuat Indonesia menjadi buruk, karena jika menyangkut minoritas dan HAM orang-orang barat menjadi over sensitif dan cenderung melebih-lebihkan dalam mass media dan hebatnya ilmuwan-ilmuwan kita yang sebenarnya tidak tahu juntrungannya atau sebenarnya tahu masih mengutip media-media seperti itu. Bahkan orang seperti Salim pun kadang-kadang bisa bertindak sebagai seorang ideolog, ketika misalnya melihat sebuah gambar kanibalisme di Kalbar yang dilakukan etnis tertentu dia langsung terpancing emosinya dengan marah : kenapa bangsa kita menjadi bangsa bar-bar, biadab. Ini merupakan contoh bahwa seorang ilmuwan juga bisa bertindaksebagai seorang ideolog, karena Emil Salim tidak konteks dari segi ini, sehingga kita sentiasa harus melihat dengan hati-hati. Dalam kasus yang ditemukan oleh Parsudi Suparlan, ada benarnya ketika beliau mengatakan etnis madura dalam hal ini salah—hal yang tidak terperhatikan oleh Emil Salim.

Dalam suatu kesempatan forum ilmiah, kadang-kadang para ilmuwan bisa menjadi ribut hanya karena kesukuan, mereka lupa mereka sebenarnya merupakan seorang ilmuwan, seingga sulit dibedakan antara pembicaraan di warung kopi dengan forum-forum ilmiah seperti itu, karena acapkali terungkap hal-hal yang sebenarnya penuh dengan prasangka dan hal-hal atau keyakinan-keyakinan yang sebenarnya masih diipertanyakan. Ini diungkapkan oleh karena yang paling penting adalah bagaimana seharusnya seseorang mempunyai titik-titik patokan tertentu sebagai seorang ilmuwan.

Ketika seorang peneliti ketika mempublikasikan sebuah temuan, resiko yang akan dialami adalah dihantam kiri-kanan dalam bentuk kritik dan hujatan-hujatan dan harus diperjuangkan, berbeda dengan menulis artikel yang intinya berbicara teoritik atau kepustakaan apalagi tanpa didukung oleh data-data empirik yang masih merupakan kemungkinan.

Tanggapan atas pertanyaan:

Iqbal disini berusaha agar orang memperoleh pemahaman yang obyektif, artinya berusaha untuk bracketing, karena dengan akan lebih mudah bagi seseorang untuk memenjarakan kemungkinan bias-bias (pribadi atau orang-orang yang akan diteliti) yang berasal dari dirinya, yang merupakan prasangka-prasangka yang ingin dibuktikan benar.

Seorang ilmuwan pun pada suatu ketika tanpa disadarnya menjadi ideolog-ideolog—karena ia hanya menghasilkan temuan-temuan yang hasilnya sudah bisa diduga oleh orang-orang bahwa hasilnya akan seperti itu. Jadi, bukan cuma agama yang merupakan ideologi tetapi juga dalam ilmu itu sendiri.

Tanggapan atas pertanyaan:

Pendekatan kulturalis, melihat ke atas tentang adanya common village(?), kita berbicara mengenai nilai maka kita berbicara masalah kultur, jika kita berbicara tentang orang-orangnya, kelompok-kelompoknya maka kita berbicara mengenai struktur.

Weber adalah tipe ideal, tidak berarti ilmu sepenuhnya menganggap bahwa teori sosial dengan ciri-ciri seperti ini dan tidak semua ideologi termasuk agama mempunyai ciri-ciri seperti itu—itu adalahbentuk ekstrimnya—namun dalam kerangka tertentu Iqbal ingin mengatakan bahwa seorang sosiolog—Comte—pernah percaya bahwa perkembangan peradaban bermula dari tahap religius (keagamaan) dimana kebenaran itu seluruhnya ditentukan oleh para pemimpin agama (nabi, ulama, pendeta, pastur, dsb). Misalnya dalam agama kristen kebenaran seluruhnya ditentukan oleh gereja—ketika belum terpecah sehingga menjadi katolik dan protestan—ketika seseorang, yang merupakan tonggak dari apa yang revolusi pengetahuan/munculnya ilmu seperti copernicus, galileo galilei, newton, ketika mereka mengemukakan hal-hal yang berbeda dari apa yang selama ini dipercayai agama, maka mereka menghadapi inkuisisi/pengadilan agama, yang berarti menentang agama, kebenaran, dan menghujat tuhan. Dan ternyata sejarah membuktikan dari segi ini, bahwa ilmu benar tetapi tidak selamanya ilmu benar dan disuatu saat nanti, dimasa depan Iqbal percaya mungkin seperti Comte membayangkan dari tahap religius, tahap metafisik—filsuf, yang secara deduktif menentukan kebenaran seperti ini: socrates, plato, demokritos—mereka penentu kebenaran yang bukan didasarkan wahyu, tetapi melalui reason/nalar, sehingga dengan reasonlah ditentukan kebenaran itu seperti apa. Seperti demokritos percaya bahwa benda-benda itu bisa dipecah-pecah menjadi satuan-satuan yang lebih kecil, straton itu sama sekali tidak bisa dipecah-pecah (atom), dan pada masa tertentu benar, namun pada perkembangannya hal tersebut tidak benar lagi, karena masih dapat dibelah-belah menjadi proton, positron, netron dan sekarangpun masih bisa dibelah-belah menjadi kuart, dsb. Itu membuktikan bahwa apa yang dihasilkan oleh sesuatu ilmu masih bisa tidak benar, sekaligus pada waktu metafisik ini diubah menjadi ilmu, kita membayangkan apakah tahap keilmuan atau yang menurut Comte adalah positivistik akan selesai sampai disitu? Kita mulai menjadi ragu dan bertanya-tanya, dulu ketika tahap peradaban religius, kebenaran ditentukan oleh orang-orang semacam demokritos, mereka juga membayangkan pada suatu waktu teori-teori mereka akan dipatahkan oleh orang-orang yang sebetulnya murid-murid mereka. Maka disinilah kita bisa melihat sudut kekuatan hakekat suatu keilmuan—yang menggantikan religius dan metafisik itu dalam pengertian bahwa mereka tidak lagi berpikir hanya deduktif tetapi juga induktif—dari atas ke bawah kemudian ditarik lagi ke atas, merupakan hal yang benar atau tidak—gagasan itu harus dibenturkan dengan realita empirik, dan itulah yang menjadikan peradaban kita itu maju, coba kita bayangkan jika dalam peradaban kita bahwa semua kebenaran itu hanya ditentukan hanya oleh agama, apa yang terjadi? Itulah yang dalam sejarah kita kenal dengan abad kegelapan (dark agres), apa yang terjadi jika kehidupan kita hanya ditentukan oleh seorang demokritos, socrates, plato yang muncul sebenarnya adalah sama saja yaitu munculnya otoriti-otoriti yang mengatakan bahwa kebenaran itu hanya seperti ini, figur-figur seperti plato, dsb. Akhirnya menjadi otoriti-otoriti yang seakan akan tunggal, bahkan beberapa orang mengatakan bahwa mereka ini sebetulnya aalah nabi. Yang menarik dari ilmu adalah, ilmu berkembang dengan kekuatan yang tidak ada di dalam agama dan filsafat, tetapi dari satu segi tidak pernah muncul otoriti dalam kekuatan penuh. Yang bernama ilmuwan yang berkembang seperti dalam masyarakat kita, dalam kondisi yang normal-normal saja misalnya hanya didengar dan diungkapkan di dalam ruang kelas, jika telah di luar siapa yang akan mendengarnya? Yang menentukan kebenaran-kebenaran itu akhirnya diserahkan kepada banyak pihak, ilmuwan tersebut hanya terbatas mempublikasikan dan menyerahkan hasil-hasil penelitiannya kepada birokrat, teknokrat dan pihak-pihak lain. Yang sering dialami oleh peneliti-peneliti perguruan tinggi dengan lembaga internasional, mereka meng-hire UI dan di pihak lain mereka meng-hire UGM ternyata dengan hasil yang berbeda, walaupun sama-sama sosiolog dengan penelitian yang kurang lebih sama. Hal ini menunjukkan kekuatan dan kelemahan ilmu dan juga merupakan antisipasi ke depan, mungkin juga ada jaman lain dimana penentu kebenaran bukan lagi ilmiah.

Tanggapan atas pertanyaan:

Formal teori dan substansi teori dipadankan dengan teori makro, teori mikro serta grand theory dan middle range theory. Yang paling besar kemungkinannya adalah kita ini cenderung menjadi ideolog-ideolog walapun kita tengah mengadakan penelitian yang mempergunakan metode-metode ilmiah, karena hasil penelitian cenderung untuk memuaskan apa yang dikatakan dalam teori-teori besar (grand theory). Teori substantif—teori yang langsung bisa dipergunakan, Neumann. Atau teori yang sudah dirumuskan dalam bentuk variabel kongloreman[Pen] (?), misalnya dalam bentuk penelitian : hubungan antara kapitalisme dan demokrasi, yang merupakan tonggak penolakan teori dalam penelitian-peneltian—kapitalisme itu adalah sasaran [Pen] (?) sebagai unsur demokrasi, tidak akan mungkin terwujud demokrasi dalam masyarakat yang tidak menganut kapitalisme. Peneltian-penelitian sederhana seperti ini yang sering dilakukan di manca negara oleh S1, S2 dan S3, seringkali hanya meneliti hubungan sederhana seperti itu saja, yang intinya sederhana dan inilah yang disebut sebagai teori substantif. Sementara teori formal yang diajukan mislanya oleh Parsons : bahwa masyarakat itu merupakan suatu sistem, dan suatu sistem tersebut bisa terdiri dari bermacam-macam sub sistem, dan kemudian didalamnya ada yang dikenal sebagai AGIL, hasilnya mungkin bukan merupakan sesuatu yang substantif hanya menghasilkan bagian tertentu saja setelah dikunyah dan diperas-peras, dan baru bisa dipakai untuk penelitian selanjutnya. Kebanyakan orang-orang sosiologi gagal untuk membuatu penelitian yang cepat, karena yang dipergunakan adalah teori-teori yang formal. Harus-harus dihindarkan kita menjadi taklid-taklid. Misalnya lagi yang sering dipergunakan dalam ilmu psikologi dan kependudukan: perilaku adalah fungsi dari sikap, perilaku = fungsi dari sikap, ini adalah bentuk teori yang substantif. Dengan model seperti ini kita tinggal memanipulasi dan obok-obok untuk kepentingan apa, misalnya perilaku kita rubah untuk pemiihan partai politik, perilakunya adalah pemilihan partai politik dipengaruhi oleh sikap dia terhadap politik; perilakunya dirubah lagi misalnya menjadi partisipasi dalam keluarga berencana, dipengaruhi oleh pengetahuan dia tentang keluarga berencana, tentang kependudukan, tentang demografi; bahkan sikap ini bisa kita manipulasi kembali menjadi dua : sikap dia sendiri dan sikap teman-temannya; orang akan memlih partai tertentu jika dia melihat persepsi yang baik tentang partai tersebut dan apabila sikapnya itu sesuai dengan sikap teman-temannya, hingga disini selesai dan itu adalah suatu hal yang sangat substantif.

Mengawali suatu penelitian awalnya adalah membaca (iqra), jika bisa jangan baca Marx, Weber, Durkheim; yang terbaik adalah baca skripsi, hasil penelitian dan kita melihat teori-teori apa yang dipergunakan.

Terakhir, dalam konteks ilmu sosial menurut C. Wright Mills pada umumnya terdapat dua kecenderungan : antara lain pertama, abstracted empirisism, yang bermain-main di tingkat atas, manusia seperti Marx, Parsons, Weber melakukan penelitian yang sifatnya sangat teoritik sangat dekat filsafat, kecuali Durkheim yang mempergunakan data-data kuantitatif. Penelitan-penelitian yang dilakukan sesudahnya banyak yang hanya mempetemukan : misalnya munculnya kapitalisme itu kenapa? Apa yang diyakini Durkheim pasti berbeda dengan Weber dan Marx; dan peneliti-peneliti itu menganalisis gand theory itu dengan menghasilkan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda-beda. Kedua, penelitian-penelitian yang sangat final dan menghasilkan teori-teori yang kongkrit.

Iqbal menyadari bahwa ia pun sebenarnya sangat bias ilmu—jika dibandingkan dengan agama, dari satu segi ia menempatkan ilmu diatas segala-galanya, ia kebetulan di depan kelas berbicara di gardu keilmuan (perguruan tinggi), bukan di mesjid sebagai gardu agama.

Tanggapan atas pertanyaan:

Struktur relevan atau sistem konsep bukan hanya sekedar jargon, tetapi mungkin juga kata-kata yang sama (kita orang indonesia menggunakan kosa yang sama, tetapi kita mempunyai kecenderungan untuk memilih kata-kata tertentu-yang kerap kali kita gunakan juga pada kesempatan-kesempatan lain, hal itu menunjukkan karena kita sadar atau tidak sadar mempunyai kemampuan atau kecenderungan untuk memberikan penafsiran tertentu, dalam bentuk ekstrimnya biasanya jika tidak puas dengan penggunaan bahasa yang sama itu, akan dikeluarkan istilah-istilah yang berbeda, seperti struktur sosial, itu adalah jargon yang dikeluarkan oleh orang-orang sosiologi, sebetulnya esensinya hubungan, hanya kata hubungan cuma dianggap merisaukan karena ada kecenderungan itu juga ditampilkan dalam konteks hubungan seksual atau hubungan-hubungan yang lain. Sedangkan yang dimaksudkan adalah pemahaman konteks atau indeks (sebagian sosiolog mengatakan sebagai pemahaman indektikal), jadi ketika kita mengutarakan suatu konteks, maka yang dilihat itu bukan sedekar konsep, misalnya dono warkop pada tahun 1980-an : kenapa kita ini sering menyenter perempuan dalam pakaian bikini di kolam renang, di laut atau seting-seting seperti itu dan orang tidak akan mengasosiasikannya sebagai hal yang porno, tetapi jika perempuan itu difoto berbikini di atas ranjang, maka akan lain halnya. Itulah indeks atau konteks yang menempatkan, jadi pada saat kita berhadapan dengan orang seringkali yang kita lihat disini adalah bukan sekedar konsep-konsep tetapi juga situasi yang berada dihadapan kita. Dalam hal ini kita harus melihat-lihat juga dengan siapa kita berbicara, bukan masalah kita ini berprofesi sebagai apa, tetapi bisa melihat dalam konsep, dalam konsepsi tertentu ada saatnya kita seperti merendahkan atau bahkan melecehkan agama, karena kesempatannya mengharuskan seperti itu. Dalam satu kesempatan kita berbicara mengenai konteks tertentu bisa diterima oleh masyarakat dan begitu juga sebaliknya.

Literatur Review

Intinya adalah mengkaji studi yang telah dilakukan sebelumnya atau secara umum disebut sebagai studi kepustakaan, yang secara mendasar pernah dibahas, namun mungkin belum dibahas secara khusus yang menerangkan betapa pentingnya kajian pustaka, dengan harapan:

1. dengan semangat yang sangat ilmiah, dengan kajian kepustakaan kita membuat semacam akumulasi pengetahuan, karena dalam semangat ilmu yang bersifat positivisme, maka ilmu tersebut akan terus menerus diperbarui, beberapa pengetahuan yang dianggap tidak relevan akan dibuang, sementara ilmu pengerahuan yang semakin lama semakin baik akan dikumpulkan dengan cara yang lebih terorganisasi;

2. kita menghindarkan jangan sampai kita melakukan penelitian-penelitian yang sifatnya duplikasi atau replikasi dari studi-studi yang sebetulnya telah jelas hasilnya seperti itu, diharapkan fenomena-fenomena baru akan muncul dan menghasilkan juga pengetahuan baru. Penelitian-penelitian yang bersifat eksploratif ada kecenderungan semakin lama semakin hilang karena praktis sudah tidak ada lagi yang baru dalam ilmu sosial mengenai masyarakat terasing yang bisa dilihat dan oleh akrena itu, kita harapkan studi-studi dibuat dalam fenomena-fenomena yang relatif baru, salah satu diantaranya aspek yang sangat penting adalah untuk sekian lamanya di sosiologi, pusat perhatian sosiologi khususnya Jamhur atau pakar-pakar atau tokoh-tokoh/roh-roh sosiologi yang bergentayangan itu hanya dipusatkan di aspek struktur sosial tertentu, hanya memberi perhatian pada aspek vertikal dari struktur sosial, jadi misalnya Marx hanya mempermasalahkan kelas dan kemudian diikuti oleh pendukung-pendukungnya, di Amerika dan Erapa tahun 60-an sampai dengan 80-an didominasi hanya pada studi-studi yang pada dasarnya hanya menggambarkan stratifikasi saja, didlam pengertian pertentangan kelas, tidak ada studi yang diluar pekemnya Marx. Yang kedua studi2 yang sifatnya membahas aspek horisontal dalam struktur sosial tetapi penekanannya adalah kepada division of labor atau lebih kepada pembagian pekerjaan. Penelitian tentang hubungan antar etnik atau antar kelompok boleh dikatakan sangat minim sekali dilakukan, khususnya prediksi atau penelitian-penelitian yang dilakukan oleh sosiolog-sosiolog yang ada di luar AS atau entah sengaja atau tidak sosiolog2 terkenal yang dimulai dari masa klasik: dari Comte, Marx dan terakhir Weber hingga ke tokoh kontemporer seperti Parson, Merton, dsb lebih memberikan perhatian atau lebih berasumsi bahwa seakan-akan bahwa aspek horisontal dalam struktur sosial itu adalah sesuatu yang sifatnya sifatnya tidak bertalian dengan hubungan antar etnik, karena hal tersebut berhubungan dengan masa lampau, dan saat sekarang sudah tidak lagi mengalaminya dan dunia barat menganggap tidak merasa perlu untuk mengembangkannya. Tetapi ternyata hubungan antar etnik merupakan hubungan yang sangat penting dan konteksnya itu tidak bisa disamakan dengan AS yang sangat amerikan sentris dimana hubungan-hubungan di basis itu dalam konteks satu negara, padahal dalam banyak kasus hubungan antar etnis itu bukan hanya terjadi di dunia ke tiga saja, juga ternyata juga terjadi di negara-negara yang dikualifikasikan sebagai negara yang sudah maju yang menganggap hubungan antar etnik sudah selesai dan seperti yang kita lihat Inggris dan Irlandia Utara, Kanada dengan Quebec, Spanyol dengan gerakan-gerakan Basque, Yugoslavia. Literatur-literatur sosiologi di Eropa khususnya di tahun 90-an, sudah diarahkan kembali ke masalah-masalah etnik, apa yang dulu diasumsikan sudah selesai sekarang harus dianggap harus dimulai lagi, dulu peneliti-peneliti seperti Hans Count (?), kemudian Hannah Arendt, itu adalah peneliti-peneliti tentang nasionalisme, tentang klasifikasi-klasifikasi yang paling abstrak atau hubungan antar etnik atau antar primordial, itu tidak laku, kalah pamornya dengan peneliti-peneliti lain seperti tokoh-tokok dependensia, atau tokoh-tokoh teori Parson, Merton, dsb. Dengan membaca atau melakukan kajian pustaka, kita bisa melihat dan barangkali yang lebih penting adalah kita akan melakukan penelitian apa, kita harus melakukan pemetaan yang ada yang telah diteliti selama ini oleh orang-orang, kadang-kadang terlihat kesan terajdi mode dalam sosiologi yang jika kita analogikan dengan perkembangan busana: suatu waktu penelitian tentang perkotaan dan pedesaan sangat banyak, untuk kemudian pamornya hilang, seperti di AS misalnya studi tentang wilayah urban dan rural terutama muncul di tahun 30-an kenapa? Karena bertalian pada saat Roosevelt melancarkan program New Deal yang pada dasarnya bendera putih atau menyerahnya kapitalisme dan AS bukan lagi kapitalis murni karena sudah mulai mengarah kepada sosialis, karena state mulai memberikan subsidi-subsidi pada saat terjadi resesi/depresi yang sangat luar biasa yang menuntut pemerintah atau negara melakukan intervensi-intervensi, jadi tidak diserahkan sepenuhnya kepada pasar, termasuk dunia universitas dibanjiri oleh proyek-proyek pesanan pemerintah dan oleh karena itu studi tentang perkotaan dan pedesaan sangat populer sekali dan tahun 50 sampai 60 sudah mulai mereda, dan kritikan gencar tentang perkotaan dan pedesaan dibayangi oleh utopia atau hanya seperti novel-novel yang memberikan deskripsi-deskripsi yang sangat menarik, tetapi luput dalam memberikan penjelasan, akhirnya tidak tertarik lagi, muncul model lain, meneliti tentang masalah pembangunan, awalnya yang tertarik adalah para pengikut Parson, penelitian tentang modernisasi bidang agama, ekonomi, politik, pendidikan, dsb. Seiring dengan hancurnya pengaruh Parson hilang pula penelitian tentang hal tersebut, kemudian digantikan olah studi pembangunan dengan pendekatan lain, yang dipelopori oleh orang-orang dependensia, sangat mengemuka dan populer hingga lenyap juga hingga aliran ini dikalahkan oleh aliran sistem dunia yang dipelopori oleh Emmanuel Walstein, dan sekarang studi tentang pembangunan sudah tidak begitu “in”, pada saat misalnya suatu aliran tengah trend, matakuliah-mata kuliah misalnya dilengkapi dengan embel-embel misalnya: sosiologi perkotaan, perdesaan, hubungan antar kota dan desa, sosiologi perkotaan 1, sosiologi perkotaan 2. Dalam konteks seperti itu barangkali kita perlu membaca peta tentang apa yang sedang in, karena akan banyak membawa keuntungan bagi kita, literatur banyak, dosen-dosen banyak yang tertarik tentang masalah tersebut karena mungkin sedang terlibat dalam proyek-proyek tersebut. Hal tersebut merupakan hal-hal pragmatisnya, dan sebenarnya yang intinya adalah kita bisa memperoleh pengetahuan yang relatif sudah tersedia cukup banyak dan kita bisa belajar, tetapi ini juga ada bahayanya ialah jika kita terlampau masuk ke dalam suatu tren dan sudah mulai ditinggalkan, banyak yang tidak tertarik lagi dan kita akan dituntut untuk melakukan sesuatu hal yang baru, sesuatu yang lebih tinggi tingkatannya, labih kerja keras, karena dituntut untuk menghasilkan studi-studi yang hasilnya kurang lebih sama, seperti masalah jender misalnya relatif sudah tidak bisa ditemukan lagi temuan-temuan baru kecuali bagaimana perempuan diperlakukan secara tidak adil oleh laki-laki. Masalah perkotaan misalnya migrasi disebabkan adanya daya tarik kota karena gemerlapnya kota dan daya dorong yang berasal dari pedesaan, hal-hal yang sama sekali tidak baru dan tidak orisinil lagi.

3. Kajian literatur bisa membuat kita mempunyai inspirasi/insight tentang apa yang sebaiknya kita teliti dan mana yang sebaiknya tidak kita teliti. Kita bisa melihat bagaimana kritik-kritik yang diajukan oleh sejumlah peneliti terhadap hasil penelitian dalam bidang-bidang tertentu. Pertanyaannya sekarang adalah, mana yang akan kita mulai baca dalam kajian pustaka. Suatu kebiasaan yang kurang baik dan cenderung menghambat adalah apabila kita membuat kajian litertur yang dimulai dari buku-buku teori apalagi teori abstrak (mis. Parson), tetapi yang baik adalah hasil-hasil penelitian, jurnal. Memulai dari jurnal ilmiah adalah hal yang paling baik, karena merupakan laporan penelitian, yang mengungkap peringkatan tentang hasil penelitian, kita langsung dapat melihat konfigurasi dari hasil penelitian karena sudah diringkaskan, pemaparan per-masing-masing bagian: latar belakang, permasalahan, kerangka pemikiran, metodologi dan yang paling penting adalah hasil peneltian dan temuan-temuan yang dihasilkan. Dengan jurnal kita bisa dengan mudah mengambil permasalahan, metodologi, kita tinggal mengambil replikasi-duplikasi tetapi tentu saja disesuaikan dengan obyek, lokasi penelitian kita dengan revisi atau penambahan disana-sini, sehingga jurnal akan memberikan gambaran komprehensif, yang artinya sesuai juga dengan pskologi gestalt, jika kita meliaht sesuatu biasanya kita lebih dulu melihat secara keseluruhan baru kemudian baru berkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu. Jadi kita lihat dulu secara keseluruhan, baru kita lihat ke organ-organ atau bagian-bagian kecil yang menarik perhatian kita. Seringkali kita tidak menyadari hal tersebut, jadi pada waktu melakukan proses penyusunan itu, kita biasanya banyak membuang waktu pada bagian outline/proposan, yaitu sesuatu yang akan merupakan cikal-bakal Bab I, atau membuang-buang waktu di latar belakang permasalahan. Padahal menurut Iqbal yang paling penting adalah mulailan dari permasalahan yang akan mengeksplisitkan tujuan penelitian, misalnya mendeskripsikan sikap masyarakat apakah masih mendukung atau sudah tidak lagi mendukung Gus Dur, jadi bisa dibayangkan hasil penelitian kita pada akhirnya hasilnya akan seperti apa? Dengan visualisasi tabel kah, peta kah, kita bayangkan kategori-kategori seperti apa dan kesimpulan seperti apa yang akan didapatkan nantinya. Itu hanya mungkin jika kita melakukan langkah taktis dengan membaca jurnal. Bisa tergambarkan apakah permasalahan itu menarik untuk digambarkan/dipetakan, karena dengan cara seperti itu kita langsung bisa langsung berkutat di metolologi atau kerangka teori, dengan cara seperti ini sebetulnya kita lebih awal dapat mengantisipasi bahwa misalnya temuan saya sebenarnya tidak menarik, apa yang bisa kita sumbangkan dengan hasil permasalahan seperti ini. Kita biasanya lebih banyak mengeluarkan uang cukup banyak untuk hanya mendukung latar belakang dan kerangka pemikiran dan melupakan temuan-temuan penelitian yang sebetulnya harus terkupas tuntas di bab akhir.

Langkah-langkah: pertama, kita harus memahami apa yang ingin kita teliti dan kedua hasilnya apa atau tujuan meneliti, gambaran mengenai tujuan itu seperti apa nantinya. Dan itu lah sebenarnya yang paling penting (tujuan dan gambaran dari tujuan). Bukan berarti hal-hal lain tidak penting, kita bisa misalkan, metodologi itu diibaratkan knalpot kerangka teori itu seperti busi, artinya hanya merupakan bagian dan artinya tidak terlalu vital.

Dalam jurnal tidak lagi ada kerangka teori, kajian pustaka, tetapi semuanya dringkaskan yang ditekankan adalah bagian awal dan akhir. Untuk membuat permasalahan dengan baik, tujuan dengan jelas dalam batasan-batasan tertentu dan kemudian hasil yang kaya yang bisa memberikan insight baru kepada pembaca, membuat decak kagum bagi orang-orang yang medengar atau membacanya itu adalah dengan bantuan teori dan metodologi. Penekanan metodologi pada awal perkuliahan memang ditekankan, karena hal itu untuk membedakan cara pengambilan informasi antara orang awam dan orang ilmiah. Dalam jurnal-jurnal di luar negeri, bab tentang metodologi merupakan bagian yang sangat sederhana, karena dianggap orang telah mengetahui. Karena mereka lebih mementingkan atau tertarik kepada apa sebetulnya temuan penelitiannya. Teori pun yang terpenting yang kita pergunakan adalah teori yang akan memberikan insight kepada kita tentang apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat. Apa yang kita lihat kita deskripsikan dengan sejelas-jelasnya sedemikian rupa sehingga pengukuran dari konsep-konsep yang ingin diteliti itu tepat, bagaimana konsep diturunkan jadi variabel, variabel diturunkan jadi indikator-indikator, bagaimana hubungannya antara suatu variabel dengan variabel lain. Hal terpenting dalam suatu jurnal penelitian, kita bisa melihat berbagai macam teori yang ada itu sekarang direduksikan, dirubah dari teori yang sifatnya formal/besar/grand theory menjadi …, karena jika kita misalnya mengikuti pemikiran Parson yang sebenarnya, sangat susah diukur, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa dalam suatu sistem itu ada yang dinamakan homestatis(?) atau equilibrium, bagaimana kita membuktikan bahwa didalam sistem tindakan itu terdiri dari 4 sistem, bahwa 4 sistem itu terdiri dari fungsi-fungsi tersebut, ada 4 pasal fungsional, sangat susah untuk membuktikannya. Kita harus turunkan kedalam variabel-variabel yang mungkin diukur karena konsep Parson tersebut sangat abstrak. Jika kita tertarik kepada kerangka Parson, mengapa kita tidak melihatnya melalui jurnal, mungkin ada penelitian yang mendukung teori Parson, tetapi mungkin teori Parson yang sudah direduksi, sudah sedemikian rupa sudah diturunkan, dan langkah tersebut jauh lebih taktis. Kemudian laporan penelitian yang dilakukan dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, laporan2 penelitian departemen, lembagai2 internasianal, bisa dijadikan patokan, pegangan. Disitu juga kita bisa melihat bagaimana teori dalam prokteknya diturunkan kedalam suatu format yang siap untuk diukur, kita tidak lagi mengalami proses2 kerumitan, kita tidak sedang berbicara tentang mengecilkan arti teori atau metodologi karena sekali kita memahami tentang teori dan metodologi, maka sebetulnya sudah tidak menarik lagi, terutama metodologi, tidak ada lagi hal2 baru dan akan begitu saja seterusnya. Sering kita melihat dalam skripsi, tesis yang melakukan peneltian deskriptif yang mengutip Neuman, van Leinberg menurut Iqbal tidak perlu lagi karena sudah jelas. Misalnya penelitian tentang petani yang terus beradaptasi mengahadapi lingkungan yang kerap berubah, cukup itu saja dan tidak usah menyebutkan banyak2. Tidak usah dalam metodologi kita menyebut menurut A begini, B begini, dan yang terpenting yang mana yang akan dipergunakan? Kita menjadi seorang pedantik, atau orang yang berlebih-lebihan, sok ilmiah, show off, sekuler,dll. Karena orang akan tertarik kepada temuan penelitiannya dan ini yang paling penting, kita mengharapkan tentu saja penelitian akan menjadi baik apabila kita menggunakan teori dan metodologi yang tepat.

Tanggapan pertanyaan:

Jika sudah banyak mempunyai data, kita tinggal merumuskan apa yang menjadi permasalahan dan kemudian, tujuan dan hasilnya yang diinginkan seperti apap, karena kita sudah mempunyai temuan penelitian yang tinggal diorganisasikan saja. Karena kita sudah lama berkecimpung dalam organisasi2 pemerintah, lsm, sudah banyak bergaul dengan data, jadi sebetulnya kita sedang berdiri, duduk atau sibuk dengan temuan2 penelitian, cuma mereka ini harus dirumuskan, harus diformat dalam bentuk temuan2 penelitian yang ilmiah. Iqbal misalnya bekerja mengumpulkan data dari data media massa dan kepolisian untuk mengukur integrasi nasional, data2 kerusuhan, konflik etnik, sedemikian rupa sehingga bisa dalam setiap tahunnya diukur integrasi nasional yang seperti apa yang sedang terjadi, integrasi societalnya, bisa membuat hubungan dengan geni ratio, geni koofisien.

Tanggapan pertanyaan:

Temuan adalah sesuatu yang kita sebut sebgai data. Yang disebut dengan suatu penelitian dalam kerangka positivism atau kuantitatif, kita berusaha untuk menurunkan teori atau konsep itu untuk mendekati kenyataan, jadi yang disebut sebegai data itu adalah dalam realitas empirik. Jadi jika berbicara temuan maka kita berbicara mengenai realitas empirik ini yang dibaca sebagai teori atau konsep tertentu, jadi esensi dari temuan penelitian itu adalah gambaran mengenai realitias empirik itu sendiri jadi yang disebut sebagai deduktif, dari awal kita sudah melihat mana data-data yang akan kita berikan baju (konsep) atau teori, sudah kita kenakan pakaian, dari hal itu kita kita hanya akan mencari data-data yang memang sudah dilihat dari baju tertentu, sementara dalam penelitian kualitatif yang bersifat induktif, kita biarkan data itu seperti apa adanya, dan disinilah mengapa prosesnya bisa menjadi begitu lama, untuk kemudian dicarikan konsep atau teorinya yang tepat.

Misalnya penelitian ingin menunjukkan bahwa kemiskinan itu dipengaruhi oleh pendidikan, jika ternyata ketika turun ke lapangan ternyata tidak ada hubungannya, itu juga merupakan temuan penelitian dan tidak menjadi masalah, apalagi dalam pengertian semangat kuantitatif yang akan merangsang orang bertanya kenapa, ternyata kemiskinan tidak dipengaruhi oleh pendidikan. Kalau begitu pasti ada variabel independen lain atau variabel pengganggu, atau variabel kontrolnya, ternyata yang menarik adalah hubungan kemiskinan dengan kemiskinan itu ternyata tidak berhubungan jika di desa dan ternyata di desa itu berhubungan, atau temuan2 penelitian2 lain yang menarik. Misalnya lagi penelitian keberhasilan Puskesmas dengan keberhasilan dalam program KB, ternyata adanya Puskesmas tidak mendorong keberhasilan program KB atau partisipasi KB itu berhasil, karena variabel yang mengganggu yaitu, tidak ada aliran listrik, hujan terus, rumah dekat rel kereta api-tidur tanggung, lari pagi takut disangka maling, akhirnya yang dilakukan adalah aktivitas2 monoton. Jadi, tidak sesuai dengan tujuan penelitian bukan berarti studi kita mempunyai nilai yang rendah.

Kemudian laporan penelitian dalam kuantitatif terdapat hipotesis dalam kuantitatif ada pertanyaan mengapa begini, begitu.

Kemudian, penelitian single topics dengan sintetic topics, yaitu merujuk kepada penelitian yang topiknya pada dasarnya sederhana, langsung pada fokusnya yang jelas, studi2 yang sifatnya deskriptif langsung kepada single/simbol(?) topik. Kita tidak usah pusing2 dengan topik pandangan masyarakat tentang KB, tentang wajib belajar, program IDT, yang merupakan simbol topik, tetapi jika penelitian menyangkut modernisasi di kawasan negara2 dunia ke tiga, merupakan sintesis topik, karena yang akan diukur nanti adalah berbagai macam aspek bukan hanya dalam masalah bidang budaya tetapi juga politiknya, ekonominya.

Sedangkan tahun hanya merupakan gambaran, jika bisa kita memulai dari tahun terbaru, kemudian mundur ke belakang dan jangan sebaliknya, karena buku2 terbaru akan merujuk kepada buku2 yang ada sebelumnya. Hal yang paling enak jika kita membaca dari jurnal ilmiah atau laporan penelitian, kita akan berhadapan dengan situasi dimana peneliti yang bersangkutan menyebutkan tentang masalah kemiskinan telah banyak diteliti orang, misalnya A, B, C, kita tinggal melihat catatan kaki, sumber yang mereka kutip, itu jauh lebih taktis, dan kita bisa menentukan sebaiknya mana topik yang sebaiknya kita baca habis dan mana yang tidak dan untuk membaca jurnal penelitian atau ilmiah atau laporan penelitain waktunya tidak terlampau menyita waktu dan kegunaannya langsung daripada kita membaca buku2 teori atau buku2 yang menyajikan bukan dalam bentuk laporan.

Tulisan2 yang berisi tentang sintesis-sintesis, polemik atau perdebatan tentang kapitalisme, sebetulunya kegunaannya secara langsung untuk penelitian itu tidak ada, kecuali untuk bagian khusus kerangka teori, atau untuk dipakai sebagai suatu model untuk penelitian masih jauh dan kita melihatnya hanya sebagai suatu teori juga tetapi dengan format yang lebih sederhana.

Berikutnya, buku ilmiah, yang terdiri dari seperti yang telah diungkapkan di atas terdiri dari bermacam-macam, mulailah dari jurnal. Buku ilmiah yang diprioritaskan juga adalah monograf, pada dasarnya berada diantara working (paper) dan buku, monografi mengulas secara panjang lebar dan biasanya juga merupakan suatu laporan penelitain dan tetapi belum siap untuk jadi buku, jadi merupakan manuscript yang masih tanggung, di AS mulai membuat buku mulai dari seperti itu, working paper misalnya 5-6 halaman, mereka bekerja sistematik, tiap hari mereka mengetik, yang berbeda dengan orang2 kita yang menunggu mood, santai. Dan kadang2 mungkin pada lembaran yang ke 100 itu yang merupakan isi dari karya mereka, dan penelitian mereka semakin lama semakin tajam. Monografi seringkali juga dalam bentuk laporan2 yang sifatnya deskriptif jadi bukan dalam pengertian seperti buku yang langsung lekat, tetapi khusus tentang buku, buku apa, karena juga ada buku yang isinya merupakan laporan penelitian, seperti buku Debi Paramita “Strukur Organisasi-organisasi di Indonesia” itu dijdikan buku yang diterbitkan oleh FE-UI, yang sebenarnya merupakan disertasi, atau buku “sektor informal” yang merupakan disertasi dosen fisip ui atau the religion of java, yang merupakan disertasi Clifford T. Gertz. Jika buku kumpulan artikel2 di koran, tidak ada nilainya, yang seringkali hanya merupakan cetusan2 pemikiran atau ide2 sesaat yang seringkali tidak ada pertalian satu sama lain, karena itu hanya untuk memancing ide dan formatnya biasanya sangat longgar.

Pengukuran

Selama ini kita berbicara tentang penelitian, tetapi yang menjadi pertanyaan dasar bagi kita adalah apa sebetulnya hakekat penelitian? Ketika kita sedang melakukan suatu penelitian sebebnarnya kita sedang melakukan apa, apakah penelitian itu adalah suatu upaya untuk menguji hipotesis? Ya, dalam batas-batas tertentu bisa juga dikatakan demikian, tetapi itu bukanlah hakekatnya, apakah penelitian itu pada dasarnya kita turun ke lapangan?, ya, memang tidak salah jika ada orang yang berpendapat seperti itu. Yang kemudian harus diperhatikan disini adalah hakekat dari suatu penelitian itu sendiri. Hakekat penelitian berdasarkan kajian yang kritis kita bisa melihat hakekat penelitian itu adalah pada dasarnya penelitian sama dengan pengukuran, atau penelitian itu pada dasarnya pengukuran, meneliti sama artinya dengan mengukur, ketika kita memutuskan untuk meneliti tentang misalnya konflik etnik yang terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini, sebetulnya yang sedang kita lakukan adalah mengukur konflik etnik, atau penelitian tentang efektivitas program IDT, kita sebetulnya sedang mengukur efektivitas program IDT, penelitian tentang sejauh mana pengaruh status sosial ekonomi (SSE) terhadap sikap politik seseorang, maka itu berarti kita sedang mengukur seberapa jauh hubungan diantara dua variabel, antara yang kita sebut sebagai SSE dengan sikap. Jadi jika kita lihat, kita sebetulnya sedang melakukan suatu pengukuran apa pun istilahnya, apapun definisi yang diberikan tentang penelitian, yang harus dicamkan disini adalah apa yang dimaksudkan sebagai penelitian itu pada hakekatnya adalah suatu pengukuran. Pertanyaan berikutnya adalah, pengukuran itu sendiri itu sebetunya apa? Jika kita sedang melakukan pengukuran, sebetunya kita sedang melakukan proses apa? Jika kita sedang melakukan penelitian bahwa kita ingin mengetahui sikap politik seseorang, hal itu berarti sedang mengukur, tetapi mengukur itu sendiri apa pengertiannya? Mengukur efetivitas, aktivitas politik seseorang, konflik etnik. Apa yang disebut mengukur? Pengukuran pada dasarnya adalah membandingkan. Pengukuran adalah memberikan nilai. Jadi pengukuran sebetulnya adalah membandingkan atau mendekatkan, mengintimkan. Mengukur selalu menghubungkan antara konsep dengan kenyataan. Jadi kita sebetulnya berusaha untuk membandingkan atau mendekatkan antara konsep dengan kenyataan, konsep kita berusaha turunkan, nanti ekspresinya seperti yang telah diungkapkan diatas adalah nilai. Konsep itu mempunyai nilai-nilai tertentu. Hanya itu. Tidak ada hakekat lain yang lebih tinggi selain daripada bahwa pengukuran adalah sebetulnya mengadakan pendekatan anatara konsep dengan kenyataan. Pertanyaan yang timbul adalah kenapa definisinya sedemikian rupa sehingga kita berbicara mengenai pengukuran seolah-olah hanya sederhana sekali? Mendekatkan konsep, kata atau sesuatu yang sifatnya abstrak diungkapkan secara verbal atau tulisan dan kita dekatkan dengan kenyataan, kenapa? Seakan-akan harus ada diskrepansi atau kesenjangan antara konsep dengan kenyataan, sehingga pertanyaan filosofis atau ontologisnya adalah mengapa kita mencoba mendekatkan antara kata dengan kenyataan, antara kata dengan perbuatan, antara lidah dengan tindakan, antara tulisan dengan realitas dengan yang kita lihat sehari-hari, kenapa kita melakukan penelitian, kenapa kita melakukan pengukuran, kenapa kita mendekatkan konsep dengan kenyataan, apakah memang konsep dengan kenyataan itu dengan sendirinya memang terbentang suatu jarak yang memang sangat jauh? Pertannyaannya adalah mengapa kita melakukan hal tersebut? Apa yang terjadi antara konsep dengan kenyataan. Karena kita memang bisa melihat antara konsep dan kenyataan memang terbentang jarak yang bisa sangat jauh, suatu fakta antara konsep dan kenyataan tidak ekivalen, tidak sinonim, tidak sama dengan. Suatu contoh yang sangat mudah untuk memahami ini adalah misalnya apakah negara ini demokrasi, apakah negara-negara di dunia ini lebih banyak negara demokrasi atau tidak, konsepnya demokrasi, kenyataannya? Ketika Iqbal menawarkan sebaiknya demokrasi ini diubah saja, karena jarak antara konsep dengan kenyataan itu tidak pernah dekat. Orang Indonesia itu pada dasarnya ramah tamah sebagai konsep, kenyataan yang ada? Bahkan seringkali kita melihat bahwa konsep mendefinisikan kenyataan, seakan-akan kenyataannya adalah seperti itu, konsep seakan-akan mendistorsikan kenyataan, konsep seakan-akan sudah menutupi kenyataan, orang hanya melihat berdasarkan konsep itu. Orang tidak bisa lain melihat kecuali melalui konsep. Kenyataan itu tidak bisa dilihat. Betapa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita berjalan begitu banyak kenyataan yang kita lihat dan begitu sedikit yang kita perhatikan melalui kenyataan itu sendiri. Alih-alih kita menggunakan istilah konsep, kita melihat dan menggunakan dengan kacamata konsep. Ini yang kita harus perhatikan dan karena itu lah, kita perlu mengadakan penelitian atau pengukuran. Pikiran yang kritis mungkin langsung bertanya, jika kenyataan selalu bebeda dengan konsep, lalu mengapa kita tidak berbicara di tingkat kenyataan saja? Tidak usah lagi menceritakan tentang konsep-konsep. Pada tingkatan yang paling umum kita bisa melihat bahwa kenyataan dan konsep itu yang kita anggap dalam kehidupan sehari-hari sesuatu yang sangat dekat, kita bisa membayangkan ada konsep lain yang lebih kecil, dan ada konsep lain yang lebih dekat dengan kenyataan, sehingga seperti tidak terdapat diskrepansi, walaupun tetap bahwa tidak akan pernah ada konsep yang sama dengan kenyataan. Contoh yang paling gampang yang dapat diungkap adalah konsep itu adalah harimau. Dari kata harimau yang terdiri dari kata h, a, dst, kita tidak akan membayangkan kumisnya, cakarnya, belangnya, dst, namun demikian demi memudahkan kerangka berpikir kita, konsep harimau seringkali kita terima begitu saja, dan dalam konteks ini kita membayangkan orang untuk menjelaskan konsep tersebut cukup merujuk kepada fenomenanya, pada kenyataannya, apa sih harimau? Jika kita sudah menjelaskan dengan berbagai cara dan tetap tidak mengerti maka kita langsung saja kita mengantarkannya ke kandang harimau. Dan ini adalah penjelasan yang paling intuitif yang bisa kita lakukan. Itu adalah menunjukkan konsep dan kenyataan sangat dekat, sehingga kita cukup dengan menunjukkan apa yang kita maksudkan dengan fenomenanya langsung. Dalam kenyataan sosial kita melihat dalam konsep-konsep itu banyak sekali yang abstrak, banyak sekali yang berada nun jauh disana, yang paling paling gampang sebagai contoh adalah Tuhan, apakah tuhan bisa dirujuk? Konsep demokrasi, kemiskinan struktural: miskin bukan karena mentalitas, tetapi karena strukturnya yang membuat mereka memang miskin, bagaimana menjelaskan kemiskinan struktural, apakah akan kita bawa daerah senen, daerah tanah tinggi, yang akan kita temui rumah-rumah dengan orang-orang yang memakai baju seadanya, tetapi apakah itu memang yang disebut miskin? Ketika kita harus membedakan antara konflik etnik dengan konflik primordial yang lainnya, kita mungkin harus mempergunakan berbagai macam cara untuk memperkenalkan apa yang kita maksud dengan konsep ini. Pada saat kita membicarakan tentang demokrasi, bagaimana kita menjelaskan apakah kita ajak orang itu untuk ke DPR/MPR, kita ajak melihat mahasiswa-mahasiwa demo dan itu akan tergambar konsep demokrasi? Tidak. Dalam ilmu sosial kita dihadapkan pada konsep-konsep yang sangat abstrak, ada konsep yang concreta (yang paling dekat dengan kenyataan), ada yang abstracta (yang masih sangat abstrak) dan lebih tinggi lagi ada konsep yang ilata (konsep yang sangat-sangat abstrak). Tujuan kita melakukan penelitian adalah pada dasarnya adalah upaya bagi kita untuk mendekatkan konsep dan kenyataan, mencoba memberikan makna apa yang ktia maksud dengan konsep ini. Ketika kita sedang memberikan makna tentang konsep ini maka sebetulnya kita sedang melakukan apa yang disebut sedang mendekati konsep dengan kenyataan. Mengapa kita mencoba mendekatkan konsep dengan kenyataan? Karena kita ingin memberikan suatu pengertian yang precise yang definitif yang tidak merupakan pengamatan sambil lalu, tidak ingin membingungkan orang-orang yang mendengar atau yang dihadapkan pada konsep tersebut. Ini alasan yang lain. tadi alasan pertama adalah konsep-konsep ilmu sosial pada dasarnya abstrak dan oleh karena itu kita ingin mendekatkan konsep itu dengan kenyataan, karena dengan cara seperti itulah kita sebetulnya melakukan proses pemaknaan yang nanti implikasinya universal yang bisa dimengerti oleh semua orang, yang kedua, adalah alasan untuk akurasi, kita ingin mempunyai presisi pada waktu menjelaskan. Jadi, terlihat betapa simpel, tetapi banyak orang lupa hakekat mengenai ini. Misalnya ketika orang mengadakan penelitian apakah Indonesia diambang disintegrasi? Dari a sampai z, kita melihat hasil-hasil penelitian dari orang-orang yang sebetulnya kualifaid, tidak ada jawaban bagaimana sebenarnya kondisi disintegrasi Indonesia itu. Penelitian tentang kenakalan remaja, juvenal delikuens misalnya, orang otomatis membayangkan juvala delikuens di Indonesia itu bagaimana, di jakarta itu bagaimana di kelurahan tanah tinggi itu bagaimana: tinggi, sedang, rendah; tipe a tipe b. dan inilah yang sebetulnya yang kita inginkanatau kita ketahui dan itulah sebetulnya yang dimaksudkan dengan mendekatkan konsep dengan kenyataan, ketika kita mengukur tentang efektivitas program studi, orang-orang ingin mengetahui apakah efektif, tidak efektif, kurang efektif, tidak relevan. Orang ingin memperoleh dan disini kita berkenalan dengan nilai, presisi itu ingin tkita tunjukkan dalam pemberian kategori atau tipologi. Hasil dari suatu penelitian yang pada pada hakekatnya menggambarkan pengukuran itu adalah harus menghasilkan tipologi, atau kategori. Kita akan menggunakan istilah tipologi untuk variabel yang nomonal, sedangkan kategori untu ordinal ke atas. Misalnya kita berbicara tinggi, sedang, rendah, sangat efektif, kurang efektif, dst, maka kita berbicara tentang ordinal apalagi jika kita berbicara tentang suhu 37 derajat C, tingkat kemiskinannya 40% persen hanya menerima 10% dari penghasilan rata-rata penduduk, itu sudah merupakan interval dan dapat kita namakan kategori. Dengan hanya penelitian satu variabel saja maka kita harus sampai pada pengukuran yang sifatatau hasilnya adalah kategori, harus tergambar disitu, oleh karena disitulah esensi pengukuran akan terlihat. Seperti tipologi yang dikemukakan oleh Geertz, bahwa orientasi kebudayaan orang jawa, terdiri dari tiga: santri, priyai dan abangan, ada juga yang mengatakan bahwa tipologinya a, b dan c, cukup dengan notasi matematik seperti itu, peneltian yang membandingkan konflik etnik di Kalimantan Barat dan Poso dengan Maluku, dengan membuat tipologi tipe gunung merapi dan tipe krakatau, Merapi itu dikatakan terus menerus mengeluarkan laharnya dari tahun ke tahun tetapi skalanya relatif kecil, bisa diprediksi kapan dia meletus, itu adalah fenomena konflik etnik yang terjadi di Kalbar, sementara yang terjadi di Maluku dikatakan adalah tipe Krakatau, tidak tahu aktivitasnya, tetapi tiba-tiba meletus sangat besar dan kerusakannya luar biasa, sekali tetapi dengan akibat yang sangat fatal dan itu adalah contoh dari tipologi. Pada dasarnya studi yang kita lakukan dalam paper, tesis, disertasi pada dasarnya harus menghasilkan tipologi dan kategori. Mungkin ada pertanyaan itu kan kuantitatif, bagaimana halnya dengan penelitian kualitatif? Ya sama saja, prosesnya mungkin berbeda, karena kualitatif berangkat dari kenyataan sedangkan kuantitatif berangkat dari konsep, tetapi keduanya kembalinya harus kepada kategori dan tipologi. Ketika Geertz mengeluarkan tipologi santri,abangan dan priyayi atau mengeluarkan istilah involusi pertanian, itu sebetulnya mereka mengeluarkan tipologi atau kategori, bahwa demokrasi Indonesia tinggi, demokrasi Indonesia rendah, masih memprihatinkan, jauh dari kemajuan, itu seluruhnya adalah tipologi dan kategori dan itu hakekat dari pengukuran. Entah itu tipologi ataupun kategori itu harus ada. Hasil utama dari penelitian, paling tidak dalam pengertian univariat atau satu variabel, kita harus menggambarkan tipologi dan kategori tersebut.

Tanggapan pertanyaan:

Ada berbagai macam konsep yang oleh si penelitinya dianggap bahwa dia sudah mendekatkan konsep kepada kenyataan, tetapi ternyata tidak dan itu menarik untuk didiskusikan, apakah studi itu berhasil dengan baik atau tidak adalah pada tingkat bagaimana dia dapat menurunkan konsep tersebut menjadi kenyataan, jika dia berhasil mendekatkannya akan terlihat dari kesimpulannya sama dan banyak orang yang setuju, katakannlah 70% orang yang menghadiri presentasi penelitiannya menyatakan persetujuannya. Persetujuan itu didapatkan tentu saja dari civitas academika atau komunitas ilmiah. Ketika kita mengatakan bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang didasarkan pada adanya pada pemilihan umum dan pers bebas, maka itu berarti kita sudah mendekatkan pada sesuatu yang langsung bisa diukur, dan ini yang menunjukkan sesuatu yang dekat dengan kenyataan, ingin menunjukkan dinamika atau masalah dasar dalam penelitian ilmu sosial. Konsep-konsep dalam ilmu sosial relatif sangat abstrak, sangat sedikit yang tidak abstrak dan itu memang ilmuwan-ilmuwan sosial sengaja untuk menciptakan konsep-konsep yang tidak sama dengan kenyataan, kenapa? Karena mereka ingin mempunyai presisi, coba kita perhatikan ilmuwan biologi menggunakan istilah bahasa mati yaitu latin, karena mereka tidak ingin dikacaukan dengan istilah-istilah yang biasanya dilakukan oleh orang awam, mengapa orang awam, karena orang awam itu biasanya tidak precise, orang awam itu mempergunakan istilah yang sakarepe dewe, tidak ada presisi. Ketika kita memasuki kebun raya, bagi kita itu semua adalah pohon, misalnya pohon palem, yang disebut paus itu adalah ikan, dan itu tidak precise, tidak berdasarkan suatu klasifikasi-klasifikasi tertentu dan oleh karena itu ilmuwan sosial mengikuti cara seperti itu dengan mencoba menggunakan sejumlah konsep-konsep yang dianggap tidak terlampau crwowded dan tidak sering digunakan oleh orang-orang awam dan dengan cara seperti itu mereka bisa mempertahankan suatu presisi. Sekarang orang dengan enak bicara ini lah reformasi, konsep reformasi juga digunakan oleh orang awam: supir taksi, tukang bajaj, beca, begitu jalan macet: wah reformasi, begitu orang ditebas kepalanya, wah ini lah akibat reformasi, reformasi dikait-kaitkan dengan segala macam hal, sehingga pengertian reformasi tersebut tidak jelas lagi dan apa yang dimaksud dengan pengertian reformasi yang sebenarnya. Kadang-kadang orang awam memgunakan istilah reformasi untuk pembaruan sostem pemerintahan, dilain kesempatan reformasi ditunjukkan untuk akibat yang dilakukan, kadang kadang kata sifat untuk pengertian kebablasan. Coba kita bayangkan jika kita mengadakan penelitian tentang reformasi, apakah kita akan menggunakan istilah yang ada pada orang awam tersebut, pada hal istilah reformasi itu sendiri sebetulnya digunakan untuk menunjuk kepada suatu gejala yang memang diharapkan sampai kepada masyarakat awam dan tidak dikacaukan pengertiannya oleh masyarakat awam.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya sekarang agar konsep bisa menjadi kenyataan, apa teknik-teknik atau standar yang bisa mengubah sebuah konsep menjadi kenyataan, yang hasilnya akan menhasilkan tipologi dan kategori. Peneltian tentang apa yang terjadi pada saat pemerintahan Sultan Agung, maka kita tidak membicarakan tentang realitas Sultan Agung sekarang, tetapi kita membayangkan realitas yang terjadi pada masa Sultan Agung dan yang sering menjadi perdebatan disini adalah seseorang sejarawan mengemukakan bahwa realitas sosialnya adalah seperti ini dan sementara sejarawan yang lain mengatakan bahwa realitasnya tidak seperti itu, itu juga yang terjadi tentang peristiwa G30S/PKI atau serangan umum.

Jadi melakukan penelitan dalam ilmu sosial bukan merupaka hal yang sia-sia, oleh karena pada dasarnya ilmuwan sosial itu subject to defined atau redefined, mengkonstruksikan, medekonstruksikan dan rekonstruksikan kembali karena definisi tentang kenyataannya sangat berbeda.

Contoh tentang arkeologi, yang menurut Iqbal merupakan ilmu detektif dan sangat mengagumkan, karena hanya dengan menemukan sepotong tembikar, yang memperkirakan dibuat pada masa seperti apa dan kira-kira teknologi pada masa seperti itu apa, apakah orang pada masa itu khususnya hanya membuat tembikar, dan makannya dari mana? Paling tidak dia harus melakukan barter dengan kebutuhan-kebutuhan mereka, sehingga disimpulkan paling tidak sudah ada sistem perdagangan barter, apakah sudah ada mata uang pada saat itu? Jadi dengan hanya menemukan sekeping tembikar, seorang arkeolog bisa mendefinisikan, mendeskripsikan pertalian-pertalian yang paling mungkin dari yang terlihat atau paling tidak secara konseptual itu dipandang logis, jadi seperti detektif, dan realitas seperti itu mungkin tepat atau mungkin pula tidak tepat dan apa gunanya bagi kita dengan menemukan hal tersebut dimasa lampau? Kita bisa melihat bagaimana perubahan masyarakat dari satu masa ke masa yang lain, karena realitas sosial senantiasa berubah dan dalam sosiologi kita pelajari dengan apa yang disebut sebagai perubahan sosial.

Jadi, kembali ke pertanyaan: apakah tidak sebaiknya kita meneliti tentang realitas sosial yang ada sekarang dan merupakan hal yang sia-sia jika kita meneliti sesuatu konsep dalam kenyataannya. Jawabannya bukan merupakan hal yang sia-sia. Artinya boleh-boleh saja melakukan penelitian sosial kenyataan saat ini, namun realitas sosial masa lampau tidak boleh dikecilkan artinya, karena tidak ada suatu pun yang bisa mengatakan bahwa realitas seperti ini lah yang benar, apakah benar bahwa Gajah Mada yang mendorong-dorong Hayam Wuruk agar Diah Pitaloka yang datang kepadanya, apakah benar bahwa Gajah Mada itu seseorang yang ambisius bahwa dia adalah seorang yang berada dibelakang layar Hayam Wuruk, itu bisa kita definisikan, ilmu sosial pada dasarnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya terus menerus meredefiniskan tentang realitas yang dimaksud, suatu saat Einstein benar, tetapi pada suatu saat ilmuwan lain yang menggantikannya, demikian pula Morgan dalam antropologi dianggap benar, tetapi sekarang orang mungkin akan melihat kepada Sys Spradley, hal tersebut dikarenakan adanya realitas sosial yang berbeda. Parson melihat bahwa realitas sosial itu adalah suatu hal yang stabil atau dalam posisi yang equilibrium dan hal itu tidak salah oleh karena yang dilihat oleh Parsons adalah dalam satu segi adalah masyarakat Amerika, dan para pengkritiknnya kebanyakan melihat kondisi yang berbeda yaitu di Asia dan Afrika atau Amerika Latin, tetapi kemudian mereka bertempur tentang redefinisi realitas sosial mana yang paling benar, apakah yang dikemukakan oleh Parsons, Dahrendorf, Coser. Tetapi intinya tetap tidak berubah, bahwa apa yang dilakukan oleh Parsons, Dahrendorf, Coser adalah upaya mendekatkan konsep terhadap realita. Pemahaman yang sederhana ini jangan sampai lepas, oleh karena pada dasarnya esensi pada saat kita membuat suatu tesis, disertasi atau apapun pada dasarnya kita mengukur yang pertama dalam pengertian univariat, yaitu satu konsep didekatkan dengan kenyataan.

Bagaimana merancang pengukuran terhadap suatu konsep dengan kenyataan? Dalam pemahaman kuantitatif upaya mendekatkan konsep dengan kenyataan melalui suatu proses yang disebut sebagai: (1) menentukan definisi konseptual (2) menentukan dimensi konsep, (3) menentukan definisi operasional (4) menghasilkan tipologi dan kategori, tergantung dari jenis variabel (5) menentukan indikator-indikator. Proses dari 1 s.d. 4 secara umum disebut sebagai operasionalisasi konsep. Dan keseluruhan proses ini yang disebut pengukuran, yaitu upaya mendekatkan konsep kepada kenyataan. Kita mencoba menghubungkan konsep tersebut melalui proses operasionalisasi konsep, itulah makanya disebut sebagai definisi konseptual. Apa yang dimaksud dengan demokrasi, ini bertalian dengan definisi konseptual.

Definisi konseptual merujuk kepada upaya menghadirkan konsep yang lebih rendah abstraksinya, upaya memberikan pengertian tentang apa yang kita maksud dengan menghadirkan konsep-konsep yang penting, misalnya konsep-konsep yang ingin kita katakan tentang demokrasi, yang belum dekat dengan kenyataan, mungkin konsep tentang demokrasi itu mengatakan bahwa suatu sistem politik yang bla..bla; yang dimaksud dengan dimensi konsep adalah memberikan batasan, ruang lingkup pengertian yang ingin kita ambil. Misalnya definisi konseptual dari demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan, sedangkan dimensi konsepnya adalah dua saja, misalnya: pemilihan umum dan division of labor, yang lain mengatakan dimensi konsep saya tentang demokrasi adalah bukan saja mencakup kekuasaan eksekutif, lelgislatif dan yudikatif tetapi mencakup juga bagaimana pemilihan eksekutif dan legislatif itu, sehingga bagi peneliti-penelti dimensi konsepnya berbeda-beda: misalnya dimasukannya unsur adanya pers bebas atau unsur ditegakkannya HAM. Hal itu disebabkan konsep seringkali merupakan pengertian yang sangat abstrak. Untuk menetapkan pada ruang lingkup mana atau pada domain mana kita ingin memberlakukan konsep itu, diluar itu kita bisa menetapkan semacam asumsi ceteris paribus, hal-hal lain tidak diperhitungkan, hal-hal lain dianggap tetap. Jika ada penelitian yang mengatakan bahwa Indonesia demokrasinya sangat tinggi, maka kita kita tidak usah terkejut, kita tinggal melihat definisi dan dimensi konseptualnya. Seringkali yang menjadi sumber polemik pada ilmu sosial adalah karena definisi konseptual mereka tidak jelas, apalagi dimensi konsepnya. Oleh karena kita ingin mempunyai presisi maka salah salah satu syaratnya adalah bahwa definisi konsep dan dimensi konsep kita harus jelas, dan kita tidak usah terkaget-kaget jika mendengar tinggi atau rendah penilaian terhadap sesuatu yang kita teliti karena definisi konsep dan dimensi konsepnya jelas.

Dalam psikologi, konsep didefinisikan sebagai suatu predisposisi atau kecenderungan seseorang terhadap suatu obyek, dengan dimensi konsepnya yang paling terkenal ada tiga: kognitif, bertalian dengan tata ruang, afektif, bertalian dengan masalah perasaan atau evaluasi, dan psikomotorik. Jadi sebetulnya sama. Pertama tentukan definisi konseptualnya, kemudian tetapkan pula dimensi konsepnya, khususnya bagi mereka yang hendak melakukan penelitian kuantitatif. Jadi sekali lagi proses ini adalah upaya untuk mendekatkan konsep kepada kenyataan. Konsep itu merupakan simbol dan bukan merupakan kenyataan yang sebenarnya. Namun, kehebatan manusia adalah bagaimana menghadirkan realita tanpa kita hadir dalam realita itu sendiri, misalnya ketakutan kita terhadap macan hanya digambarkan melalui sebuah konsep tentang macan, tanpa perlu menarik-narik dan menghadirkan macan tersebut dalam ruang kelas ini, tanpa batasan ruang dan waktu kita dapat menghadirkan sesuatu dalam konsep. Kemudian, banyak juga yang mengatakan bahwa konsep itu indikan dari kenyataan. Jadi kehebatan budaya manusia sebetulnya inti terdiri dari kata-kata. Kita dapat memperhatikan dan membayangkan bagaimana realitas sosial seakan-akan dibentuk melalui konsep-konsep ilmu sosial, ini menunjukkan kehebatan manusia, manusia dibeda-bedakan: kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. (brahmana, ksatria, weisya, sudra). Melalui konsep-konsep tersebut manusia yang sebetulnya tidak ada perbedaan satu sama lain, melalui konsep tipologi manusia itu, realitas sosial dipagar sedemikian rupa.

Tanggapan ?-an: cara yang paling mudah untuk menentukan suatu hasil penelitian ilmiah itu baik atau tidak adalah dengan melihat secara langsung, apa yang dihasilkan dari penelitian itu atau menghasilkan pengukuran apa, jika tidak diketemukan pengukuran atau hasil pengukurannya maka hasil penelitian ilmiah tersebut tidak baik. Kedua, harus ditemukan definisi konseptual, dimensi konseptual. Klaim-klaim tentang demokrasi di Indonesia, yang berisi begini dan begitu kita tidak dibawa kepada atas dasar apa seseorang bisa mengatakan seperti itu, bukunya boleh tebal dan panjang lebar tetapi didalamnya kita tidak menemukan apa-apa saja yang sebenarnya yang sedang diukur oleh penulis tertentu.

Geertz merupakan contoh tipikal dari penelitian yang sifatnya kualitatif, jadi prosesnya deduktif. Pengukuran adalah proses menurunkan konsep-konsep lain yang dekat dengan kenyataan, betapapun kecil jaraknya, tidak pernah konsep itu sama dengan kenyataan. Menurut Iqbal, Geertz tidak langsung sampai kepada santri, abangan dan priyayi tetapi dia mengelompokan dulu, kemudian dicari ciri-ciri atau indikator-indikatornya. Dia memulai dari kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan, melalui pendekatan dulkonah.

Iqbal mengatakan bahwa pendekatan kuantitatif dari satu segi umumnya mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pendekatan kualitatif, yaitu ia mempunyai sistematika yang jelas, bagaimana caranya melihat, mengontrol dan segala macam ada rumus-rumusnya sedemikian rupa sehingga mempunyai pegangan, pedoman yang relatif lebih pasti. Kita bayangkan seorang peneliti kualitatif yang mempunyai pengalaman kuantitatif sebelumnya itu seringkali akan lebih baik. Jadi bisa dikatakan bahwa penelitian kualitatif itu sebetulnya adalah tingkatan lanjutan setelah penelitian kuantitatif. Pendekatan kualitatif, karena tidak mempunyai kerangka yang jelas, untuk orang-orang yang tertentu seringkali menjerumuskan kita. Iqbal mengatakan bahwa kehebatan pendekatan kualitatif adalah bagaimana mereka berangkat dari kenyataan dan kemudian sampai pada suatu konsep yang bahkan seringkali menghantam konsep-konsep yang telah ada sebelumnya dan menghasilkan konsep yang sama sekali baru, contohnya Geertz, yang hingga kini dalam ilmu sosial konsep Geertz dianggap belum ada padanannya.

Suatu penelitian dalam semangat kualitatif akan menghasilkan konsep-konsep, sedangkan dalam semangat kuantitatif akan melipat atau membersihkan atau mempresisikan tentang apa yang dimaksud dengan konsep-konsep itu, membuat konsep itu semakin standar, semakin jelas.

Istilah pendekatan hanya tepat untuk pendekatan kuantitatif dalam semangat kualitatif tidak tepat, yang lebih tepat adalah konseptualisasi, membuat kenyataan menjadi konsep.

Tanggapan pertanyaan:

Batasan deduksi dan induksi itu lebih menunjukkan kepada proses yang umum. Sebetulnya sebuah penelitian entah itu kuantitatif maupun kualitatif akan mengandung dua unsur tadi yaitu deduksi dan induksi, dalam kuantitatif deduksi terjadi yang paling terlihat jelas itu pada saat kita berangkat dari proposal: permasalahan yang sudah disudutkan, dari kerangka teori yang sudah disudutkan, dibuat model analisis sedemikian rupa sehingga terjadi segitiga terbalik; jadi proses deduksi dan induksi adalah proses berpikir secara umum, tetapi dalam pengertian khusus pendekatan kualitatif dan kuantitatif tidak usah dicampurbaur, lebih baik menggunakan satu pendekatan saja, bukannya tidak bisa tetapi seringkali akan memperumit permasalahan dan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang tidak baik, hasilnya tidak jelas, menjadi bahan kontroversi, menimbulkan mudarat daripada manfaat.

Apakah dari penelitian kuantitatif bisa mengambil segi kualitatifnya, menurut Iqbal hal seperti ini bisa, ini merupakan gabungan yang justru diharapkan, karena ada semacam anggapan bahwa penelitian kuantitatif hanya dianggap sebagai testing hipotesis, hanya akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sebenarnya orang sudah tahu banyak, kesimpulan-kesimpulan yang hanya ingin menegaskan tentang kebenaran yang memang sudah diketahui, dengan kata lain steril, tidak inovatif, tidak ada hal-hal baru dan cenderung membosankan karena temuannya hanya seperti itu-itu saja. Dari penelitian kualitatif itu yang diharapkan muncul daya yang inovatif, inspiratif, menghasilkan sesuatu hal-hal baru yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan, misalnya ketika antropolog2 mendefinisikan tentang kemiskinan yang sangat berbeda dengan definisi yang lebih kepada aspek ekonomi: berapa kali makan, rumahnya kondisinya seperti apa, pakaiannya dan seterusnya. Sedangkan menurut antropologi, kemiskinan itu adalah kondisi budaya, bukan kondisi fisik, mereka punya budaya seperti itu lah maka disebut sebagai miskin dengan ciri-ciri yang kemudian terlihat juga pada aspek fisiknya. Menurut Iqbal dengan semangat menggabungkan dua pendekatan tetapi dalam pengertian yang paling praktis dan implikasinya akan sangat luar biasa, sehingga penelitian kuantitatif dapat saja menggunakan tipologi yang dihasilkan oleh Geertz atau tipologi kualitatif lain mengenai orang jawa (Nit Mulder), gabungan tipologi kualitatif ini bisa kita uji dengan semangantkuantitatif.

Iqbal ingin agar penelitian kuantitatif pun berangkat dari pengertian kualitatif datang dari realita empirik, datanglah ke palangkaraya atau sampit langsung, karena kebanyakan yang disebut kesimpulan atau pengamatan oleh wartawan atau ilmuwan sosial itu dinyatakan dalam bentuk konsep dan konsep itu sudah ada disan dan bukan sesuatu yang datang dari kenyataan empiriknya, banyak yang mengulas tentang konflik etnik tersebut bahkan belum pernah sama sekali ke sana. Jadi, dengan kata lain ia sudah mempunyai konsep, yaitu gambarab tentang orang madura, dan dayak, konflik etnik sudah ada dan ketika peristiwa tersebut muncul, maka tinggal mengaplikasikan konsep itu saja tanpa mempedulikan apakah konsep itu sesuai atau tidak dengan kenyataan.

Akan selalu terjadi suatu diskusi yang tidak akan ada habisnya oleh karena realitas sosial itu seringkali didefinisikan atau dikonseptualisasikan berbeda dan disitulah terjadi dinamika, ada yang mengatakan bukan demokrasi yang ada tetapi poliarki, oleh karena kenyataannya demokrasi itu sebetulnya tidak ada dalam kenyataan, sehingga istilah demokrasi agar ditinggalkan dan istilah yang lebih tepat ternyata poliarki. Ada yang menyatakan ini adalah kerusuhan rakyat dan yang lain mengatakan bahwa ini adalah konflik etnik, kita akan selalu diskusi ribut di tingkat yang paling abstrak atau kita melihatnya mereka ribut soal konsep. Sebetulnya dalam kenyataan mereka meributkan soal bagaiman kita melihat kenyataan.

Untuk bivariat atau multivariat, hal yang dilakukan adalah sama, yaitu menurunkan konsep menjadi kenyataan. Langkah berikutnya barulah kita mendefinisikan hubungan-hubungan ini. Maka jika kita akan menghubungkan antara SSE dengan sikap, maka kita harus terlebih dahulu mendefinisikan konseptual tentang sikap itu apa, dimensi konsepnya apa, definisi opersionalnya apa, tipologi dan kategorinya apa, jangan langsung dihubungkan, demikian juga dengan SSE, prosesnya sama, apa definisi konseptualnya, dimensi konsepnya, dst. Jadi, kita harus waspada terutama bagi kita yang akan melakukan penelitian yang menghubungkan variabel, paling tidak pengukuran itu harus menghasilkan: (1) dari variabel dependennya (2) dari variabel independennya (3) dari hasil pengukurannya dan nanti akan diperoleh sikap positif atau negatif, SSE tinggi atau rendah, kita mempunyai dua hal 1 tipologi dan 1 kategori, hubungannya antara tipologi dan kategori yang dihasilkan dalam penelitian: misalnya semakin tinggi SSE sikapnya semakin negatif (kategori ke tiga), pengukuran selanjutnya adalah hubungan variabel.

Salemba, 2001


[ ]ragu-ragu

One thought on “PERBANDINGAN ANTARA IDEOLOGI DAN ILMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s