MAKING HISTORY

(AGENCY, STRUCTURE AND CHANGE IN SOCIAL THEORY)

(Sebuah Paper)

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Wacana sosiologi sejarah mencuat ke permukaan antara lain disebabkan tulisan-tulisan para ahli yang membahas proses-proses perubahan sejarah dan sosiologi. Secara khusus mereka membahas pula hubungan struktur dan aktor satu sama lain.

Munculnya anglo marxisme adalah contoh dari perubahan-perubahan sosiologi sejarah yang merupakan pengaruh ajaran-ajaran Marx pada lebih dari 20 tahun lalu. Pengaruhnya di Inggris secara keseluruhan hingga saat ini masih mendominasi pemikiran para sosialis lain.

Hubungan khusus antara Marxisme dan sejarah ditunjukkan melalui suatu terminologi yang disebut materialisme sejarah.

Sejarah bangkitnya marxisme menurut beberapa penulis, dikategorikan atas tiga kategori utama :

a. sumbangan-sumbangan pemikiran dari para sejarawan senior (Christoper Hill, Eric Hobsbaum, I.P. Thomson, George Rude, Rodney Hilton, Victor Kiernan, G.E.M. de ste Croix) dalam bentuk pandangan intelektual mereka mengenai marxisme;

b. sumbangan pemikiran dari sejarawan yang relatif lebih muda (Perry Anderson, Robert Brenner dan Chris Wickham) mengenai analisis filosofis konsep-konsep dasar materialisme sejarah;

c. bentuk ketiga yang merupakan perkembangan selanjutnya dari bentuk b. adalah penulisan sejarah marxis yang bersifat kontemporer.

Esei Louis Althuser yang berjudul Reading Capital, merupakan studi detil teoritis mengenai norma-norma materialisme sejarah dan mengundang banyak kontroversi terutama dalam pertanyaan-pertanyaan seputar structure dan actor.

Althuser berpendapat bahwa sejarah merupakan serangkaian proses yang sama sekali tanpa melibatkan actor/subject. Pengurangan peran aktor dalam membangun struktur memperlihatkan adanya usaha mengonseptualkan proses/ perubahan sejarah.

Marxisme Althuserrian dianggap gagal mempertahankan filosofinya dalam menjawab pertanyaan : bagaimana struktur dan bentuk-bentuk sosial/proses-proses sejarah diartikulasikan dalam teori materialisme sejarah. Walaupun demikian, ia masih bermanfaat dalam merangsang studi-studi historis secara kongkret melalui analisis-analisis tertentu.

Versi lain dari marxisme adalah marxisme analitis yang memperlakukan aktor sebagai pengendali struktur, acuan filsafat ini dikemukakan oleh Jerry Cohen. Lebih lanjut Cohen mengatakan bahwa sejarah dan atau marxisme merupakan dasar pertumbuhan kekuatan produktif manusia. Didalamnya menyangkut pula bentuk-bentuk masyarakat yang hilang dan tumbuh secara alamiah, yang sepenuhnya ditentukan oleh (sikap) masyarakatnya sendiri. Struktur membutuhkan aktor-aktor dalam proses perubahan sejarahnya.

Ajaran individualisme metodologis merupakan marxisme dalam bentuk yang lain, dikemukakan oleh John Elster dan John Roemer. Mereka mengatakan struktur-struktur sosial tidak identik dengan tindakan-tindakan manusia secara individu, teori ini didukung melalui penggunaan teori-teori pilihan, misalnya game theory yang merupakan dalil dasar ekonomi neo-klasik.

Teori ini dinilai lemah pula, oleh karena meninggalkan ajaran-ajaran utama Marx misalnya mengenai the labour theory of value and the law of the tendency of the rate of profit to fall.

Dalam buku “Is there a future for marxism ?”, Alex Callinicos menyatakan bahwa marxisme merupakan teori yang kompleks dan kontradiktif, dimana maknanya dipertentangkan oleh beranekaragamnya politik saat ini.

Konsep Agency/Actor/Subject

“Manusia bisa membuat sejarah, tetapi tidak bisa seperti yang diinginkan sekehendak hatinya, tetapi harus didasarkan situasi yang secara langsung dijumpai, diberikan dan ditransmisikan dari masa lalu … “, demikian kutipan terkenal Louis Bonaparte dalam buku The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte. Marx mendasarkan analisisnya mengenai hubungan antara struktur dan actor dari kutipan ini.

Perry Anderson mengemukakan tiga cara dimana manusia dikatakan dapat membuat sejarah, yang masing-masing berbeda tujuan kegiatannya :

a. bentuk pengejaran tujuan-tujuan pribadi actor, misalnya pilihan pada pernikahan, pelatihan tenaga kerja;

b. bentuk pengejaran tujuan-tujuan yang mengacu kepada jenis-jenis pengupayaan yang berhubungan dengan kepentingan publik, misalnya perjuangan politik, konflik militer;

c. bentuk pengejaran tujuan-tujuan yang terkait dengan transformasi sosial secara global. Bentuk ini pertama kali muncul dalam Revolusi Perancis dan Amerika. Dalam perkembangannya ia dikawinkan secara sistematis dengan marxisme revolusioner, sehingga dapat diperoleh gambaran prediksi suatu masa depan didasarkan atas pemahaman terhadap proses-proses di waktu lampau dan kini.

Pembedaan terhadap ketiga bagian tersebut untuk mengeliminasi terjadinya polarisasi abstrak antara structure dan actor (anti humanisme teoritis dari Althusser dan humanisme yang dikemukakan oleh Thompson).

Konsep Ortodok mengenai Aktor/Agen/Subyek

Untuk menjelaskan konsep ini, terlebih dulu harus dilakukan penjelasan intensional, agar diperoleh asal muasal actor mempunyai keinginan-keingingan tertentu.

Penjelasan intensional mencakup tindakan sosial manusia dalam hal-hal tertentu. Sikap intensional secara mendasar berkaitan dengan masa depan, kita baru bisa membayangkan apa-apa yang bakal terjadi dan belum dapat segera mewujudkannya. Melaui penjelasan intensional tersebut, Francis Jacob membuktikan secara tepat rangkaian sifat-sifat actor/agency/subject.

Lebih lanjut Daniel Dennet menjelaskan tiga syarat agar seorang individu agar ia termasuk dalam sistem intensional :

1. Manusia adalah mahluk yang rasional;

2. Manusia adalah mahluk yang memiliki keinginan-keinginan;

3. Manusia tergantung pada cara, sikap dan keteguhan pendiriannya.

Bagaimanakah cara kita mengetahui agar pihak lain yakin dan percaya terhadap actors ? Graham Mc Donald dan Philip Pettit memecahkan asumsi ini melalui prinsip normatif dan rasionalitas, sebagai berikut :

1. seyogyanya kita memperlakukan actors sebagai orang yang bersikap rasional artinya harus dapat memastikan bahwa hal-hal tertentu yang diyakini benar adanya;

2. seyogyanya kitapun memperlakukan actors sebagai bersikap rasional, yang bertindak berdasarkan keyakinan dan keinginan-nya sendiri.

Konsep ortodoks mengenai actors memiliki konteks intelektual spesifik, yaitu berkaitan dengan kombinasi teori-teori Plato dengan ide-ide yang lebih modern.

Mc. Donald dan Pettit berpendapat bahwa konsep filsafat analitik kurang memperhitungkan aspek sejarah, sehingga seringkali terjadi kegagalan dalam melakukan analisis-analisisnya. Penulisan-penulisan yang merupakan upaya pengenalan kepada sejarah seringkali tidak dilakukan secara integral, melainkan terpisah-pisah.

Bogor, 29 Oktober 1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s