INDIKATOR-INDIKATOR DASAR PERKEMBANGAN SOSIAL

(Suatu Reaction Paper)

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III,              NPM. 8399040304

A. SUMMARY

Perkembangan taraf kesejahteraan rakyat (perkembangan sosial) dapat dilihat dari dua perspektif :

a. Perspektif Obyektif, yang didasarkan pada hasil pengamatan obyektif di lapangan yang diterjemahkan atas berbagai indikator sosial yang diukur dengan persepsi yang sama;

b. Perspektif Subyektif, yang didasarkan pada pandangan atau persepsi subyektif masyarakat atas perubahan taraf hidup atau kesejahteraan yang mereka rasakan.

Kedua perspektif ini pada dasarnya memberikan gambaran yang sejalan dan saling isi satu sama lain.

Dengan dasar bahwa antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat (perkembangan sosial), tidak bersifat otomatis, maka peranan kebijakan pemerintah menjadi suatu yang sangat vital agar pembangunan ekonomi dapat diarahkan pada upaya langsung peningkatan kesejahteraan atau kualitas hidup penduduk.

Untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah dalam perkembangan pembangunan dalam arti luas, pemanfaatan indikator ekonomi konvensional (mis. PDB) dirasakan sudah tidak memadai lagi, sehingga diperlukan sejumlah indikator yang secara langsung dapat mencerminkan taraf kesejahteraan rakyat dan kualitas hidup penduduk.

Indikator-indikator yang diharapkan dapat memberikan gambaran sekilas tentang kualitas hidup penduduk tersebut adalah :

a. Indeks Mutu Hidup (IMH), merupakan komposit yang populer karena kesederhanaannya, disusun dari tiga indikator yaitu Angka Kematian Bayi, Angka Harapan Hidup Umur Satu Tahun dan Angka Melek Huruf. Skala IMH terletak antara 0 dan 100;

b. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), merupakan indikator komposit yang terdiri dari tiga macam indeks : Indeks Angka Harapan Hidup, Indeks Pendidikan (melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan Indeks Daya Beli. Skala IMH terletak antara 0 dan 1 atau 100.

Sedangkan untuk mengukur secara sederhana disparitas (kesenjangan) atau disekuitas (ketimpangan) ketertinggalan perempuan terhadap laki-laki dalam berbagai kedudukan, kondisi sosial, budaya, ekonomi, politik, dsb, metode analisa yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

a. Mematok proporsi/persentase laki-laki berindeks 100;

b. Menghitung indeks perempuan;

c. Mengambil selisih a dan b sebagai ukuran disparitas;

d. Paritas tercapai jika tingkat/besaran proporsi sudah menjadi kurang lebih sama.

Pencapaian tingkat pendidikan merupakan suatu indikator kunci, yaitu yang korelasinya relatif sangat kuat dengan indikator-indikator yang sebidang dan bahkan juga sangat signifikan terkait dengan indikator-indikator dalam bidang-bidang lainnya.

Pencapaian tingkat pendidikan menyeluruh (overall educational attairment) adalah persentase penduduk usia 10 tahun keatas yang telah menamatkan SLTP atau lebih tinggi.

Maka, dengan pendekatan ini dapat diketahui :

a. Sejauh mana kesenjangan (disparitas dan disekuitas) gender dalam pencapaian tingkat pendidikan menyeluruh;

b. Prediksi tahun paritas atau ekuitas gender dapat tercapai;

c. Implikasi kebijakan yang didapatkan melalui analisis disparitas/ekuitas gender dalam pencapaian pendidikan.

B. TANGGAPAN

Indikator sosial diartikan sebagai pengukuran relatif suatu keadaan dalam masyarakat (a relative measurement of a situation in the society). Pengukuran tersebut bersifat kuantitatif (berupa perangkaan, walaupun penilaian terhadap keadaan atau situasinya sendiri dapat bersifat kualitatif) dan kuantifikasinya bersifat relatif (tidak mutlak/absolut).

Pada paparan di bawah ini, justru akan dibuktikan mengenai ke-relatif-an pengukuran terhadap indikator perkembangan sosial di atas dan dalam kenyataannya masih diperlukan suatu alat bantu lain dalam melakukan pengukuran indikator-indikator tersebut. Ia masih harus diperkaya dengan penilaian keadaan/situasi yang lebih bersifat kualitatif, yang lebih menyentuh perasaan kemanusiaan seseorang yang akan melakukan penelitian keadaan masyarakat, , berdasarkan suatu konsep yang dinamakan sociological imagination (C. Wright Mills), sebagaimana diilustrasikan di bawah ini :

Menjelang ditutupnya abad XX, dan memasuki abad XXI, kita semua menyaksikan dan merasakan perubahan yang sangat cepat (revolusioner), penuh warna (kompleks) dan baru sama sekali. Hal ini mengakibatkan apa yang ada dalam bangunan pemikiran kita selama ini, baik berupa konsep ataupun paradigma berpikir, menjadi tidak relevan lagi dalam menjelaskan, mengantisipasi dan memecahkan persoalan-persoalan sosial yang muncul dihadapan kita

Adalah Naisbitt yang pernah “meramal” kehadiran kejaiban Asia yang berporos pada tiga negara yaitu Hong Kong, Tokyo dan Singapura. Ketiga negara ini akan menjadi macan Asia, karena laju pertumbuhan ekonominya yang sangat fantastis. Indonesia pun tidak ketinggalan, selama dasawarsa terakhir mengalami angka pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-7%. Para pengamat atau pakar dalam berbagai bidang disiplin ilmu, berlomba-lomba membuat kajian mengenai hal-hal yang akan terjadi di negara-negara dunia ketiga, misalnya William Liddle, meramalkan masih sangat kuatnya posisi Soeharto, satu minggu sebelum ‘lengser keprabon’.

Ternyata, hampir seluruh prediksi itu meleset. Ekonomi Asia terpuruk akibat krisis moneter yang berkepanjangan, Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden karena desakan mahasiswa. Padahal, analisis ramalan para pakar itu tidak kurang kadar ilmiahnya, karena didukung analisis dan data yang canggih, serta dilakukan oleh para pakar yang tidak diragukan lagi dalam mengulas analisis-analisisnya. Apakah ini pertanda atau gejala, betapa bangunan pemikiran yang ada, apalagi paradigma pemikiran yang mapan, semuanya telah usang dan tidak memadai lagi?

Dalam filsafat dikatakan bahwa bahasa adalah baju dari pikiran. Seseorang yang menggunakan bahasa yang nylimet, seringkali menggambarkan dengan nyata adanya keruwetan dalam pemikirannya. Demikian juga halnya, bahasa yang sarat dengan data dan hitungan fisik, biasanya disebabkan dimensi fisik telah menguasai pikiran seseorang dan menjadikannya sebagai ukuran bagi paradigmanya, sehingga dimensi non-fisiknya nyaris tidak terlihat.

Bahasa ilmu yang selama ini berkembang, telah dikuasai oleh paradigma rasionalisme empiris (yang berbasis pada data-data empiris). Data-data empiris dimasa lalu menjadi pusat perhatian ilmu ekonomi, sains, teknologi dan ilmu sosial, yang selanjutnya digambarkan dalam tabel-tabel, yang sarat dengan muatan statistik dan matematik. Tanpa angka seolah-olah dirasakan kurang berbobot ilmiah. Dengan data-data empiris itu, berbagai ilmu mencoba memprediksi masa depan, dan seolah-olah perjalanan ke masa depan bergerak secara beraturan dan linier. Keadaan hari esok seolah sepenuhnya ditentukan oleh keadaan hari ini dan kemarin.

Ilustrasi masa depan linier berjalan berkesinambungan di atas grafik yang terus bergerak naik dengan runtut. Tetapi keadaan kini sudah berubah, realitas sudah jungkir balik, perubahan terjadi makin cepat, “ramalan” jangka panjang tidak bisa dilakukan lagi. Ketidakpastian tampil dalam garis yang lebih tegas.

Menghadapi situasi sekarang ini, yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk mengubah pola pikir lama yang bersandar pada paradigma realisme empiris kepada pola pikir baru yang imajinatif (sociological imagination), yang pergerakannya bisa jadi melompat-lompat dan tidak beraturan, namun lebih memberikan peluang membuka dan menemukan pilihan-pilihan baru yang lebih hidup.

Konsep pengetahuan yang berbasis pada paradigma realisme empiris sudah saatnya diperkecil perannya, karena seperti telah digambarkan di atas ia terbukti kurang memadai lagi untuk memahami dan menguasai perubahan serta ekses-ekses yang ditimbulkannya.

Sedangkan konsep pengetahuan yang imajinatif (yang dikemukakan oleh ahli sosiologi Amerika C. Wright Mills), sepenuhnya bersandar pada kreativitas bebas dengan memberikan ruang terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang sama sekali lain dari yang sudah ada dan sudah dipikirkan sebelumnya, serta didasarkan atas kesadaran bahwa hakekat realitas kehidupan adalah bersifat plural, multidimensi dan spiritual.

Konsep pemikiran sociological imagination diharapkan dapat membantu memecahkan persoalan dalam setiap jenjang kehidupan manusia disamping pemanfaatan pengukuran secara kuatitatif, oleh karena dalam setiap krisis senantiasa terdapat peluang-peluang bagi pemecahannya.

Bogor, 5 Oktober 1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s