SEABAD MOHAMMAD NATSIR, MENGENANG SOSOK DA’I NEGARAWAN YANG TANGGUH

Oleh: Ngadiyo

Mengenang Alm. Mohammad Natsir tepat tanggal 17 Juli 2008 mencapai usia satu abad. Ia tidak hanya dikenal sebagai politisi, Perdana Menteri, Menteri Penerangan, Politisi ulung, sekaligus ulama di dunia Islam. Beliau sangat konsisten dalam memperjuangkan keutuhan bangsa, mengenalkan posisi Indonesia di mata internasional sampai sikap politik yang berprinsip kepada penegakan kebenaran dan keadilan. Sehingga langkah-langkahnya berseberangan dengan Presiden Soekarno sampai mendekam di penjara beberapa tahun karena beliau ingin menyelamatkan bangsa dari pengaruh komunisme dan demokrasi terpimpin yang tidak sehat.

Mohammad Natsir lahir di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai juru tulis kontrolir dikampungnya. Beliau lahir dari seorang wanita salihah, Khadijah. Natsir dibesarkan dalam suasana keserdehanaan dan dilingkungan yang taat beribadah. Semangat mengaji terus tumbuh mulai kecil, walau Natsir sendiri mengenyam pendidikan barat, ghirah dalam menuntut ilmu agama tiada pernah lekang dan terus ingin mendalami Islam. Pendidikannya dimulai di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah, Padang kemudian pindah di HIS Solok, disanalah ia menghabiskan waktu menuntut ilmu. Pagi hari di HIS, sore di Madrasah Diniyah dan malam hari mengaji ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.

Tamat dari HIS, Natsir melanjutkan pendidikannya di MULO (SMP) (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang, dan di MULO-lah awal ia aktif berorganisasi di Jong Islamieten Bond (JIB) atau Perkumpulan Pemuda Islam cabang Sumatra Barat bersama Sanoesi Pane. Organisasi ini awalnya bergerak menentang para misionaris kristen sehingga JIB banyak melakukan konterpropaganda supaya aktivitas mereka tidak meresakan umat Islam di wilayah Sumatra Utara.

Natsir selalu haus ilmu, sehingga tamat dari MULO keinginan melanjutkan studi berlanjut. Ia mendapat beasiswa studi di AMS (Algemere Middlebare School) A-II setingkat SMA di Bandung karena kecerdasan intelektualnya. Di Bandung ia berkenalan dengan tokoh-tokoh ternama seperti H. Agus Salim dari Syarekat Islam dan Ahmad Soorkaty yang mendirikan organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah. Dua tokoh itulah yang berpengaruh besar dalam karir dakwah Natsir, disamping ada inspirator lain seperti Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi.

Natsir merupakan organisator dan negarawan ulung. Karir politiknya mencuat setelah bergabung dengan organisasi Persatuan Islam (Persis) setelah banyak bergaul dan belajar dengan A. Hasan selaku aktivis Persis. Banyak pihak kagum atas kiprah, semangat juang, da’i yang tidak pernah lelah untuk menyerukan kalimatullah di muka bumi, baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Natsir dan rekan seperjuangannya terus membela Islam, memperjuangkan dasar negara berdasarkan sistem Islam, karena negara tidak bisa dipisahkan dengan agama, beliau sangat anti sekularisme. Penentangan dari pihak-pihak yang menghina Islam, para kaum misionaris dan Yahudi serta lawan-lawan poltiknya selalu diatasi dengan tegas, bijak dan berwibawa.

Mohammad Natsir sangat dihormati oleh dunia Islam, ia adalah ulama, da’i militan yang tidak pernah menyerah dengan lawan, selalu membela kebenaran. Seperti yang pernah ia lakukan terhadap masalah Palestina, berkiprah di kancah internasional, dan ia selalu sederhana dalam bernampilan.

Mengenang seabad Mohammad Natsir, tidak akan lepas dari kiprah beliau yang banyak bergelut di berbagai organisasi dengan jabatan strategis. Berikut ini beberapa jabatan yang pernah diamanahkan kepada sosok da’i dan sekaligus negarawan ulung, Mohammad Natsir:

1.Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung; 2.Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung; 3.Direktur Pendidikan Islam, Bandung; 4.Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing; 5.Anggota Dewan Kabupaten Bandung; 6.Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho); 7.Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI); 8.Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta; 9.Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta; 10.Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP); 11.Anggota MPRS; 12.Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia); 13.Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini; 14.Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir; 15.Menteri Penerangan Republik Indonesia; 16.Perdana Menteri pertama Republik Indonesia; 17.Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya “Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis” di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia; 18.Anggota Konstituante; 19.Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI; 20.Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia; 21.Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan; 22,Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina; 23.Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu; 24.Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia); 25.Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London; 26.Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.

Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima/berunding pejabat Malaysia.

Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI.

Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia—bahkan sampai sekarang. (www.penamuslim.com)

Disamping mahir berorganisasi sehingga menjadi negarawan ulung, beliau adalah seorang pendidik sehingga menjabat dalam berbagai posisi strategis. Mohammad Natsir sangat cinta kepada Islam. Ia adalah seorang da’i yang mendidik umat, memperhatikan kemaslahatan dan terus mengabdikan dirinya dijalan dakwah. Disamping itu, ia seorang cendekiawan yang intelektualnya ditasbihkan dalam tulisan. Mulai berdakwah lewat Majalah Pembela Islam, Majalah Pandji Islam dan banyak berkarya dalam dunia perbukuan untuk selalu mewariskan tsaqafah-nya. Hampir semua buku yang ia tulis berbahasa Arab yang bernuansa Islami. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian pada dinul Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna.

Karya-karya Mohammad Natsir antara lain: Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah), Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan), Shaum (Puasa), Capita Selecta I, II, dan III, Dari Masa ke Masa, Agama dalam Perspektif Islam dan masih banyak lagi. (Dikutip dari buku “Mereka Yang Telah Pergi” karya Abdullah Al-‘Aqil dan Majalah Al-Mujtama’ Edisi 3).

Perjalanan hidup Mantan Perdana Menteri RI terus berlawanan dengan pihak yang tidak senang dengan pandangan politik dan kebijaksanaannya. Walaupun ia sangat mati-matian memperjuangkan nasib dan kepentingan umat, bangsa dan negara. Sebagai contoh ia terkenal dengan Mosi Integral yang menyatukan keutuhan NKRI, kiprah di dunia pendidikan juga dengan getol ia lakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam. Dunia mengakuinya, namun di negerinya sendiri mulai dari rejim Soekarno dan Soeharto telah memandang sebelah mata. Ia beberapa kali masuk penjara, berjuang diputan-hutan dan sampai dilarang pergi keluar negeri oleh pemerintahan Soeharto karena ketokohannya yang sangat disegani dan dihormati di kancah perpolitikan Islam.

Kini Mohammad Natsir telah wafat. Namun semangat juang untuk meneggakan kalimatullah, bertauhid, selalu membahana dihati orang-orang yang mencintainya sebagai penerus perjuangan dakwah ini. Mohammad Natsir, dikenal dengan keserdehanaan hidup, kecerdasan intelektul, piawai dalam berpidato yang sangat menyentuh, organisator handal, kerja keras pantang menyerah dalam berdakwah, tauhidnya yang lurus menjadikan dirinya menjadi tokoh Nasional yang diakui dunia dan terus mengabdi demi kepentingan umat.

Ngadiyo

Sumber: http://muslimdaily.net/?page=artikel&option=detail&detail=87&title=Seabad%20Mohammad%20Natsir,%20Mengenang%20Sosok%20Da

MENGENANG SEABAD MOHAMMAD NATSIR

Adian Husaini

Kamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.


Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007

Monday, November 19, 2007

http://adianhusaini.blogspot.com/2007/11/mengenang-seabad-mohammad-natsir.html

Iklan

EMERSON, LAKE & PALMER (ELP) SEBUAH KISAH TANPA AKHIR

BAGAIMANA ceritanya Emerson, Lake & Palmer menjadi ELP dan mengapa bisa mereka menghamburkan uang? Cerita itu diawali oleh Keith Emerson kecil yang meniru hobi ayahnya yang menjadi pianis amatiran tanpa pernah menjalani pendidikan resmi.

Begitu mengetahui Keith berbakat, sang ayah menyewa seorang guru yang bernama Nyonya Smith yang menurut Keith amat membosankan. Namun, secara perlahan-lahan, Keith menyadari bahwa les piano itu ternyata cukup bermanfaat baginya.

“Saya menjadi murid yang populer di sekolah dan saya sering terhindar dari ancaman teman-teman yang jago berkelahi karena mereka senang mendengarkan permainan piano rock’n’roll saya,” ujar Emerson kepada majalah Classic Rock edisi September.

Setelah tampil di panggung dalam sebuah acara makan malam klub menembak, terbukti bahwa permainan Emerson sangat kaya dengan improvisasi yang membuat dia serius mempelajari musik jazz. “Saya tidak mau mengikuti musik The Beatles, Rolling Stones, atau The Yardbirds yang kala itu sangat populer,” tutur Emerson.

Namun, lambat laun Emerson juga terpaksa mendalami musik blues setelah mendengarkan asyiknya organ Hammond yang dimainkan oleh Brother Jack McDuff. Di akhir musim panas tahun 1965, Emerson membentuk sebuah grup R&B di kota kelahirannya di Brighton, Gary Farr & The T-Bones.

“Bermain dengan mereka sungguh menyenangkan. Apalagi Gary Farr yang suaranya berciri blues, berulang kali tampil bersama di panggung dengan gitaris terkenal Amerika, Sonny Boy Williamson,” kenang Emerson.

Emerson tak lama bersama Gary Farr dan pindah ke The VIPs. Ia juga segera bosan, lalu membentuk The Nice. Band ini pada awalnya cuma bertugas mengiringi vokalis bersuara emas, PP Arnold, yang merupakan anak kesayangan Mick Jagger yang langsung menggaet Arnold dan The Nice ke studio rekaman.

Ketika di The Nice, Emerson dan pemetik bas, Lee Jackson, sering berlatih dengan musik-musik jazz, klasik, sampai progresif. Dan, berhubung The Nice tidak diperkuat oleh seorang gitaris, otomatis yang menjadi tontonan di panggung setiap malam adalah Emerson sang pianis.

“Saya sudah lama kesal yang menjadi bintang panggung selalu pemain gitar. Saya juga sering menyesal semestinya saya belajar gitar saja karena mudah dibawa ke mana-mana di atas panggung. Tetapi, saya mendapat inspirasi dari Don Shinn, seorang pemain kibor Hammond yang tampil di Marquee,” lanjut Emerson.

Shinn mendandani kibornya dengan berbagai benda unik seperti obeng, sengaja membuka papan-papan penutup Hammond, dan menampilkan atraksi seperti melompat atau duduk di atas kibor dengan tetap terus bermain.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Greg Lake baru saja meninggalkan kota kelahirannya, Bournemouth. Ia berasal dari keluarga miskin, dan sejak berusia 12 tahun sudah berketetapan hati untuk berkarier sebagai gitaris.

“Saya senang bermain gitar bukan hanya sebagai pilihan untuk hidup, tetapi juga karena banyak cewek yang senang. Jangan lupa, kala itu The Beatles baru mengawali karier dan semua cewek berteriak-teriak histeris. Ketika saya tampil bersama teman-teman sekolah dengan band bernama Unit Four, mobil kami selalu dikeroyok oleh cewek-cewek histeris,” kata Lake.

Setelah Unit Four, Lake pindah ke The Time Checks dan lalu ke The Shame, dua band yang rajin membawakan lagu-lagu Top 40. Setelah merasa tak bisa berkembang di Bournemouth, ia pindah ke London.

Di ibu kota Inggris itu ia membentuk The Gods bersama Lee Kerslake dan Ken Hensley, dua musisi yang kelak membentuk Uriah Heep. The Gods cukup tenar sehingga dikontrak oleh studio rekaman EMI, namun keburu bubar gara-gara Lake kembali merasa tak bisa berkembang bersama Kerslake dan Hensley.

Di Bournemouth, Lake sejak kecil bersahabat dengan Robert Fripp karena mereka belajar gitar kepada guru yang sama bernama Don Strike. Bukan cuma les bersama-sama, Lake dan Fripp pun beberapa kali tampil di panggung sebagai duet gitar yang unik dan menarik.

Fripp juga mengadu nasib ke London dan membentuk Giles, Giles & Fripp, sebuah trio yang sempat merilis sebuah album, The Insanity of Giles, Giles & Fripp di studio Decca. Berhubung band ini kurang sukses, Decca mendesak Fripp dan Giles bersaudara untuk mencari vokalis-kalau tidak kontrak diputus.

“Lalu Robert menelepon saya. Ia menanyakan apakah saya tertarik menjadi vokalis. Saya menjawab tentu saja. Tetapi, Robert bilang ’syaratnya satu, saya tidak perlu dua gitaris. Maukah kamu bermain bas?’ Begitulah ceritanya,” kata Lake.

Begitulah, Lake bergabung dengan band milik Fripp. Akhirnya, band itu berubah nama menjadi King Crimson, salah satu pelopor musik rock progresif.

Sementara itu, Carl Palmer sejak kecil mempunyai hobi memukul-mukul sendok kayu. “Kakek saya profesor di perguruan tinggi musik dan ayah saya pandai berpiano. Oleh sebab itu, sejak kecil saya belajar segala macam instrumen mulai dari piano, biola, cello, sampai akordeon,” kenang Palmer.

“Awalnya saya memilih biola sebagai instrumen kesayangan. Namun, setelah mengunjungi toko alat musik dan mendengarkan beberapa piringan hitam, saya pindah ke drum,” kata Palmer, yang belajar drum sejak usia 11 tahun di kota kelahirannya, Birmingham.

Palmer bergabung dengan sebuah orkestra sejak berusia 13 tahun. Ia juga belajar musik klasik secara khusus, tetapi di tahun terakhir sekolah musik akhirnya memutuskan keluar karena bosan. “Saya memutuskan memilih musik kontemporer saja, bosan dengan yang klasik,” kata Palmer.

Setelah membaca iklan di koran, Palmer yang baru berumur 16 tahun diterima masuk ke sebuah band bernama The King Bees yang membawakan musik R&B. Hanya satu hari ia bersama The King Bees dan setelah itu bergabung dengan Thunderbirds, yang membawa dia mengenal kehidupan musisi di London.

Selama delapan bulan ia hampir setiap malam manggung bersama Thunderbirds. Permainan drum Palmer menarik perhatian promotor bernama Kit Lambert dan Chris Stamp yang mengajak Palmer ikut rekaman bersama The Crazy World Of Arthur Brown.

Kelompok yang diotaki oleh Arthur Brown ini sudah terkenal berkat hit Fire. Palmer tidak betah berlama-lama dengan Brown yang makin hari makin eksentrik. Maka, Palmer pun membentuk band sendiri bernama Atomic Rooster.

MESKIPUN cukup berhasil, namun The Nice, King Crimson, dan Atomic Rooster tidak pernah membuat puas Emerson, Lake, dan Palmer. Pada awal 1970, mereka mulai kecewa dengan band masing-masing.

Emerson merasa The Nice terlalu menyesuaikan diri dengan selera pasar. “Kecenderungan musik waktu itu mengarah kepada pop melodi. Vokalis kami sebenarnya cukup bisa diandalkan, namun saya tiba-tiba senang sekali mendengarkan musik King Crimson,” kata Emerson.

Kebetulan King Crimson menjadi band pembuka pada tur The Nice di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Kesempatan ini membuat Emerson dan Lake menjadi teman dekat. Mereka berdua di panggung bahkan sempat tampil bersama, Emerson dengan kibor dan Lake dengan gitar, dalam sebuah konser di Fillmore West, AS.

Emerson mengenang saat-saat yang menyenangkan itu sebagai pemicu keluarnya Lake dari King Crimson. Apalagi, dua personel King Crimson, Ian McDonald (saksofone) dan Michael Giles (drum) keluar. Ketika tawaran membuat band baru datang dari Emerson, Lake tidak menampik.

Sesungguhnya, Lake bukanlah pilihan pertama Emerson. “Saya mempunyai beberapa pilihan sebelum Greg. Pilihan pertama saya adalah Chris Squire yang waktu itu menjadi pemetik bas Yes. Ia menolak dengan menjawab, ’Saya sebenarnya bukanlah vokalis utama’,” tutur Emerson.

“Saya kemudian membujuk Jack Bruce, vokalis dan pemetik bas yang pernah memperkuat Cream. Namun, dia bersedia kalau dinobatkan sebagai pemimpin. Ia bilang ’saya yang berkuasa, kamu hanya memainkan musik saya’. Saya jawab tidak dan terima kasih,” lanjut Emerson.

Sementara itu, Lake mencoba mendekati gitaris ulung asal AS, Jimi Hendrix. “Saya sempat berbicara lama dengan penggebuk drum Hendrix, Mitch Mitchell, sepekan sebelum Hendrix meninggal dunia,” kata Lake.

Ketika itu Hendrix merasa tidak puas dengan band yang baru saja dia bentuk, Band Of Gypsies. “Mitch sempat mengatakan kepada saya bahwa Jimi tertarik untuk berlatih dengan Keith dan saya,” lanjut Lake.

Mereka sempat berlatih untuk membuka kemungkinan membentuk band bernama HELM dengan formasi Hendrix (gitar), Emerson (kibor), Lake (vokal/bas), dan Mitchell (drum). Namun, latihan itu tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

“Jimi merupakan musisi yang hebat. Namun, dia memiliki gagasan sendiri dan sudah menetapkan sebuah arah yang tak bisa diganggu gugat. Saya menilai kami tidak saling melengkapi. Kalau saya boleh memilih, saya akan mengajak Steve Howe. Sayangnya, Howe sudah bersama Tomorrow dan sedang berencana pindah ke Yes,” kata Emerson.

Setelah Hendrix tutup usia, Emerson dan Lake tampaknya sudah mantap dengan Mitchell sebagai pemain drum. Tetapi, lama-kelamaan Lake mulai tidak suka dengan Mitchell yang dia anggap cuma bisa bermain musik jazz.

“Adalah Greg yang akhirnya memutuskan tidak akan mengajak Mitch. Greg memang tidak suka jazz,” kata Emerson. “Semua musisi jazz sama saja. Mereka bermain tanpa emosi dan tidak bergairah,” ujar Lake.

Setelah mendepak Mitchell, Emerson memutuskan untuk mencari pemain drum asal AS. Di Inggris, ia bersama Lake hanya mempunyai satu pilihan saja, yakni Palmer yang memang mereka sudah kenal sejak lama.

Emerson kemudian menghubungi Palmer yang dianggapnya sebagai penabuh drum yang energik dan antusias. “Sejak dulu saya memang hanya tertarik bermain dalam band yang personelnya cuma tiga seperti Atomic Rooster. Ketika Keith menghubungi, saya menjawab siap berlatih tanpa ada kewajiban apa pun,” kenang Palmer.

Atomic Rooster ketika itu termasuk sukses, Palmer secara ekonomis juga sudah mulai merasa mapan. “Saya baru saja membeli sebuah sedan Mercedes. Saya memang mengenal Keith, namun sama sekali tidak kenal siapa gerangan Greg Lake. Saya hanya tahu dia vokalis King Crimson,” lanjut Palmer.

Untungnya, Emerson menerapkan sistem yang demokratis sehingga Palmer maupun Lake didorong untuk terlibat aktif dalam penulisan lagu. Selain itu, Emerson telah berhasil menegosiasikan kontrak dengan perusahaan rekaman Atlantic Records.

“Setelah berlatih beberapa kali, saya sadar bahwa tawaran dari Emerson jangan sampai ditolak. Kualitas musisi Keith dan Greg lebih bagus dibandingkan rekan-rekan saya di Atomic Rooster. Keith dan Greg menjanjikan sukses global, jadi tawaran mereka saya terima,” lanjut Palmer.

DALAM tiga tahun awal berdirinya, Emerson, Lake & Palmer (ELP) menjual piringan hitam yang jumlahnya mencengangkan. Resep sukses ELP adalah mendorong persaingan antara ketiga personel itu untuk ikut menulis musik dan lirik.

“Kami bertiga merupakan jenis orang-orang yang kompetitif, namun tidak berprinsip saling menjatuhkan satu sama lain. Saya ingat sebuah konser tahun 1971, tiba-tiba listrik padam. Saya mengusulkan kepada Greg untuk bermain piano saja selama sepuluh menitan supaya para penonton tidak bosan menunggu listrik hidup kembali. Greg menjawab, ’Jangan, tak ada yang perlu naik ke panggung. Kita mesti selalu bersama-sama’. Memang aneh, namun begitulah kira-kira kami selalu tampil bertiga dalam keadaan senang maupun susah bersama-sama,” tutur Emerson.

Lake berpendapat, setiap band tidak mungkin menahan-nahan rasa ego personelnya masing-masing. Ia merasa, pertarungan antara egoisme dia dengan Emerson maupun Palmer ketika itu berlangsung seimbang tanpa mesti menyinggung perasaan dan profesionalisme masing-masing.

“Kami terus bersaing sampai pada tingkat pasti akan mengetahui apa yang akan dipikirkan oleh yang lain. Kami sampai kepada sebuah tahap di mana kami begitu mudahnya tampil di panggung untuk menyajikan musik, cuma dengan saling menatap saja,” ujar Emerson. Begitu sengitnya perimbangan kekuatan di kubu ELP, maka sampailah mereka ke titik jenuh yang normal dialami oleh setiap band.

Emerson mengungkapkan, sampai bosannya mereka akhirnya memutuskan untuk tidak bergaul lagi. “Secara musikal, kami berkomunikasi sudah sangat lelah. Kami sudah berkomunikasi di atas panggung, makanya tak perlu lagi pergi makan bersama-sama, misalnya,” kata Emerson.

Dalam persaingan yang berimbang ini, adalah Emerson dan Palmer yang terus terlibat konflik dan konsensus mengenai karya musik apa yang terbaik bagi ELP. Sedangkan Lake lebih banyak diberikan kewenangan untuk menulis nomor-nomor balada khas ELP seperti Lucky Man, Take A Pebble, atau Still… You Turn Me On.

Bahkan, menurut para kritikus, Lake akan menjadi bintang besar andaikan saja dia bersolo karier dengan nomor-nomor balada yang selalu mendapat tempat teratas di tangga lagu tersebut. Kelak terbukti, Lake mencetak sukses luar biasa lewat nomor solo karier dia yang dirilis tahun 1975, I Believe In Father Christmas.

“Jelas saya berperanan sangat aktif di ELP. Saya selalu menjadi produser, jadi tidak ada alasan untuk merasa dibatasi oleh Keith atau Carl. Saya mungkin akan sukses jika bersolo karier seperti James Taylor, tetapi saya tidak akan menikmati sukses seperti itu. Di ELP, saya sangat menyukai musik yang energik yang kami sajikan,” kata Lake. Satu-satunya hal dia sesali adalah kegagalan ELP memasukkan unsur musik hitam lebih banyak lagi.

“Menurut saya, kami akan lebih sukses jika sering mengambil pengaruh musik blues atau soul. Musik ELP terlalu Inggris, terlalu klinis, dan sangat Eropa,” ujar Lake. Pengakuan terbesar yang diperoleh ELP adalah ketika mereka merilis album Brain Salad Surgery, yang membuat Emerson, Lake, dan Palmer menjadi musisi favorit-secara individual atau kolektif-para pembaca majalah-majalah musik.

Sebelum Brain Salad Surgery, ELP sempat kurang aktif dalam waktu yang cukup lama. Emerson kala itu banyak sekali bergaul dengan kalangan pemusik lain untuk membantu produksi album-album artis lain, sementara Lake mengerjakan konsep penyajian musik yang kelak menjadi album Brain Salad Surgery itu.

“Ketika bersua di studio, kami saling terinspirasi. Kami berlatih dengan membeli sebuah bioskop dan tidak pernah berhenti berlatih,” ungkap Lake. “Album Brain Salad Surgery direkam pada saat kami bertiga merasa sangat dekat lagi. Selain menjadi album terbaik, Brain Salad Surgery juga dikerjakan dalam waktu yang cukup singkat. Saya ingat tidak terlalu bertele-tele waktu mengisi suara perkusi, begitu juga yang lain. Saya sering sekali melakukan eksperimen, antara lain dengan merekam bunyi simbal-simbal yang saya taruh di lantai untuk mendapatkan suara yang lebih unik dan sempurna,” kata Palmer.

SEBAGIAN lirik album Brain Salad Surgery ditulis oleh Pete Sinfield, teman dekat Lake di King Crimson. Sementara sampul depan album itu dikerjakan oleh artis Swiss, HR Giger, yang kelak menjadi tenar berkat monster yang dia rancang untuk film-film Alien.

“Tadinya judul sementara album itu Whip Some Skull On Ya. Lalu manajer tur kami mengusulkan potongan lirik lagu karya Dr John, ’give some Brain Salad Surgery’. Itu yang kami pakai,” kata Emerson. Tur dalam rangka promosi album inilah yang menurut media massa Inggris, merupakan penghamburan uang dalam jumlah besar-besaran lewat konser megah yang dilakukan ELP di seluruh dunia.

Palmer memajang simbal atau gong, mulai dari yang berukuran mini sampai raksasa. Emerson secara khusus membangun alat yang mampu membuat dia bersama pianonya terbang berputar-putar. “Ah, yang kami lakukan hanya demi memuaskan penonton. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemborosan atau semacamnya. Kami bukan musisi-musisi gila yang mau habis-habisan,” kilah Lake.

Berbeda dengan pandangan para penggemar dan pers ketika itu, ELP bukanlah band yang rajin mengumpulkan sederet perempuan untuk pesta pora. Mereka juga jauh dari narkoba, walaupun Palmer dikenal juga sebagai seorang peminum alkohol kelas wahid.

ELP membubarkan diri tahun 1979 dan mereka bertiga pindah ke AS untuk memulai karier musik lain. “Kami sudah tahu pasti akan bubar setelah bosan memproduksi begitu banyak album dalam rentang waktu yang termasuk singkat. Album Love Beach menurut saya merupakan simbol kebosanan itu,” kata Lake.

Walaupun bubar, kisah ELP tidak pernah ada akhirnya. Setelah tahun 1979 mereka membuat album-album baru dan mengadakan konser-konser kenangan. Dan, tahun ini mereka sudah mempunyai rencana baru, entah apa lagi. (bas)

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0408/27/Musik/1232255.htm

EMERSON, LAKE & PALMER (ELP)

Emerson, Lake & Palmer (ELP) merupakan band progressive rock Inggris yang sangat popular di era 1970an. Di masa puncaknya, mereka menjual lebih dari 30 juta album dan selalu menjadi headline dalam konser-konser besar. Sound ELP didominasi organ Hammond dan synthesizer Moog yang dimainkan Keith Emerson dengan gaya flamboyan. Komposisi mereka dipengaruhi musik classical, jazz dan hard rock. Banyak karya mereka berbentuk arrangement dari musik classical dan sering disebut symphonic rock.

Band trio ELP merupakan “supergroup” di saat itu, dengan gabungan Keith Emerson (keyboard) dari The Nice, Greg Lake (gitar, bass, vokal) dari King Crimson dan Carl Palmer (drum, perkusi) dari Atomic Rooster. Dibentuk 1970, empat tahun pertama ELP dipenuhi kreatifitas dan produktifitas. Greg Lake memproduksikan enam album pertama mereka, mulai dari Emerson, Lake and Palmer yang berisi hit “Lucky Man”; Tarkus, album konsep yang menggambarkan “reverse evolution”; Pictures at an Exhibition, rekaman live Maret 1971 yang merupakan interpretasi ELP atas karya Modest Mussorgsky dan Trilogy, yang berisi single ELP paling populer “From the Beginning.”

Brain Salad Surgery (1973) merupakan album studio mereka yang paling terkenal dengan sebagian liriknya ditulis Pete Sinfield, penulis lirik King Crimson. Tur dunia yang diselenggarakan selanjutnya didokumentasikan menjadi album triple yang diberi judul Welcome Back My Friends to the Show that Never Ends.

Pertunjukan perdana ELP diadakan di Isle of Wight Festival, Agustus 1970, salah satu festival “flower power” era Woodstock. Pada April 1974, mereka menjadi pemain utama di California Jam, popularitas besar mereka bahkan menggeser Deep Purple menjadi band headline kedua. Pertunjukan mereka di California Jam disiarkan langsung keseluruh pelosok AS dan dipandang sebagai puncak kesuksesan karir ELP.

ELP kemudian mengambil cuti tiga tahun untuk merencanakan arah musik baru, akan tetapi scene musik yang berubah membuat mereka kehilangan ide. Mereka bekerja keras untuk menghibur audiens dengan mengadakan tur di AS dan Kanada tahun 1977 dan 1978 dengan orkestra penuh yang memakan biaya, namun sewaktu disco, punk rock dan new wave mengambil alih peta musik, mereka tidak sanggup lagi menjadi inovator musik dan berujung dengan perpecahan yang dilandasi konflik pribadi dan perbedaan visi. Album studio terakhir mereka, Love Beach, disambut dingin oleh pres maupun penggemar. ELP mengaku album ini dibuat hanya untuk memenuhi obligasi kontrak.

Tahun 1985, Emerson dan Lake membentuk ELP yang baru dengan drummer Cozy Powell. Palmer tidak bergabung dan pilih bergabung ke Asia. Desas desus mengatakan Bill Bruford akan bergabung ke ELP, tetapi ex penabuh drum Yes ini sudah terikat dengan King Crimson dan grup pribadinya Earthworks. Emerson, Lake and Powell membuat single “Touch and Go”, yang berhasil masuk ke chart dan mendapatkan ekspose radio dan MTV.

Beberapa tahun kemudian, Lineup pertama ELP dibentuk lagi dan pada tahun 1992 mereka rilis album comeback, Black Moon, melalui Victory Records. Tur 1992/1993 berjalan sukses dan memuncak di Wiltern Theater, Los Angeles yang bootlegnya banyak diedar. Setelah itu, Palmer menderita carpal tunnel syndrome dan Emerson mengalami repetitive stress disorder pada satu lengannya, sehingga tidak mengherankan album berikut, In the Hot Seat, tidak mencapai standar ELP.

Setelah sembuh, Emerson dan Palmer menjalankan tur lagi. Tur terakhir diselenggarakan tahun 1996, 1997 dan 1998 di Jepang, Amerika Selatan, Eropa, AS dan Kanada dengan memainkan versi baru materi lama mereka. Meskipun hasil tur memuaskan, ukurannya hanya di arena kecil dan dihadiri audiens kecil. Perencanaan atas album baru menimbulkan konflik baru yang berujung pada perpecahan lagi. Lake bersikeras ingin memproduksi album tersebut karena kesuksesan dalam memproduksi album-album lama mereka. Emerson mengeluh di internet bahwa dia dan Palmer berlatih keras untuk mmpertahankan ketrampilan sedangkan Lake hanya bersantai saja. Lake mengaku tidak melatih vokalnya karena menurutnya setelah beberapa pertunjukan, vokalnya akan kembali mantap.

Tahun 2003, Keith Emerson mengadakan tur keliling UK dengan teman lama dari The Nice. Carl Palmer sekali-kali mengadakan tur dengan Carl Palmer Band, yang mengisi bagian keyboard lagu-lagu lama ELP dengan gitar elektrik. Greg Lake tur ke AS bersama Ringo Starr pada tahun 2002.