PEMERIKSAAN PARA JAKSA

Kita perlu bertanya, apakah yang hendak dicari dari pemeriksaan para jaksa–termasuk para jaksa agung muda (JAM)–terkait kasus suap jaksa BLBI? Pemeriksaan berlangsung sejak awal pekan ini. Dan, kemarin, Jaksa Agung Muda (JAM) Perdata dan Tata Usaha Negara, Untung Udji Santoso, mendapatkan giliran. Besok jatah mantan JAM Pidsus, Kemas Yahya Rahman. Lusa pemeriksaan JAM Intel, Whisnu Subroto. Sayangnya, kita membaca gelagat, semua rangkaian ini hanyalah persoalan pemeriksaan etik, bukan hukum.


Etika semestinya melampaui hukum. Ada banyak hal yang tak diatur dalam hukum mendapatkan penuntasan dalam kerangka etik. Namun, kita khawatir penanganan secara etik diperalat sebagai pintu keluar dari ketentuan hukum. Etika secara mikro memang menjadi ranah kelompok saja, dalam hal ini berarti hanya kejaksaan. Apakah kita bisa berharap akan objektivitasnya jika orang yang diperiksa secara etik adalah pejabat tinggi yang sama tinggi jabatannya bahkan lebih senior daripada tim pemeriksanya? Kita khawatir jawabannya adalah tidak.

Berlebihankah kekhawatiran itu? Sama sekali tidak. Justru percakapan seorang jaksa agung muda dengan Artalyta Suryani menunjukkan gambaran gamblang tentang upaya dan cara membelokkan persoalan.

Ketika jaksa Urip ditangkap, menurut rekaman percakapan yang diperdengarkan di persidangan, muncul skenario di tangan para pemimpin Kejaksaan Agung untuk ”merebut” Artalyta dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke tangan kejaksaan. Skenario itu untuk mengamankan nasib Artalyta. KPK, untungnya, bereaksi keras saat mendengar adanya skenario itu dan ketuanya mengatakan, ”Untuk apa kejaksaan ikut campur?” Lalu, KPK bergerak lebih cepat dengan segera menangkap Artalyta.

Melihat situasi seperti itu, masuk akallah ide sejumlah pengamat, lembaga swadaya masyarakat, juga Ketua DPR, agar pemeriksaan di kejaksaan melibatkan unsur dari luar. Presiden, bila perlu, dapat membentuk tim ad hoc karena demikian runyamnya persoalan. Pas dengan ucapan Jaksa Agung, Hendarman Supandji: Ia kira hanya jaksa Urip yang tersangkut kasus tersebut, namun ternyata jaksa-jaksa atasannya pun punya hubungan istimewa dengan Artalyta.

Jadi, diksi Jaksa Agung dalam kasus ini patut kita cemasi. Akhir pekan lalu, misalnya, alih-alih mengatakan hendak memeriksa, ia memilih frase ”minta klarifikasi” kepada para jaksa agung muda. Berikutnya, ia baru menjanjikan pemetaan untuk melihat apakah ini kasus korupsi atau masalah etik. Sementara, menguatnya ketidakpercayaan publik terhadap Korps Adhyaksa menuntut tindakan pembenahan secara hukum.

Instruksi Presiden dalam hal ini sangat jelas. Jaksa Agung harus mengambil langkah-langkah penting dan tepat untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap Kejaksaan Agung. Jaksa Agung pun, menurut Wakil Presiden, telah diperintahkan untuk bertindak keras. Sebelumnya, Jaksa Agung menangis dan bertindak tegas saat kasus ini membelit jaksa Urip. Mungkin ia perlu menangis dan bertindak tegas lagi saat ini.

Harian Republika, Rabu, 18 Juni 2008


http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=337968&kat_id=17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s