PENELITIAN KUALITATIF

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial yang diberikan oleh Drs. Ezra M. Choesin, M.A

Jika kita berbicara mengenai penelitian kualitatif, istilah kualitatifnya itu sendiri katakanlah merupakan istilah payung yang dipakai untuk berbagai macam pengertian, rangkuman pengertian kualitatif dari beberapa sumber, sehingga kita bisa melihat penelitian kualitatif mempunyai nuansa perbedaan atau silang pendapat diantara para ilmuwan. Prinsip-prinsip umum yang bisa dikatakan disepakati oleh orang-orang kualitatif. Walaupun kesepakatan tersebut masih bertanda kutip, artinya masih tetap terdapat perbedaan-perbedaan kecil.

Kita berbicara terlebih dulu mengenai orientasi dalam penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang didasarkan pada pendekatan interpretatif (interpretive). Diantara ilmuwan-ilmuwan penelitian kualitatif sendiri sebenarnya masih terdapat masalah, karena pendekatan kualitatif atau kritis ini bisa ditelusuri asalnya dari akar filsafat yang berbeda-beda, misalnya filsafat hermeneutika, atau strukturalisme perancis atau dari filsafat-filsafat lain yang berkaitan dengan kuliah-kuliah teori yang sudah diberikan. Namun, pada dasarnya pendekatan interpretive atau kritis ini mempunyai beberapa ciri yaitu bahwa ia memfokuskan diri pada makna, definisi, metafor atau simbol yang sifatnya subyektif serta pada deskripsi kasus-kasus khusus. Yang dimaksudkan subyektif disini dimaksudkan sebagai subyektif pada diri orang yang diteliti atau pihak-pihak yang kita teliti. Kemudian, masalah makna, definisi, metafor, tergantung sekali dari teori-teori atau filsafat yang kita andalkan, apakah makna itu merupakan respon, apakah makna tersebut merupakan kedudukan dalam suatu sistem, apakah makna itu kita artikan sebagai suatu post modern. Hal-hal ini merupakan bahan-bahan perdebatan dalam pengertian kualitatif itu sendiri.

Yang kedua, ciri yang ada adalah bahwa pendekatan interpretatif atau kritis ini memperhatikan aspek-aspek kehidupan sosial yang sulit diukur secara tepat dengan angka, karena kita berbicara tentang emosi, tentang pandangan, tentang sikap dan tentang makna, misalnya: arti suatu peristiwa bagi orang yang kita teliti, apakah makna suatu interaksi bagi orang yang kita teliti. Inilah hal-hal yang sangat sulit diukur dengan indikator-indikator yang kita tentukan dari luar.

Yang ketiga adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan penelitian kita bersumber dari sudut pandang orang yang kita teliti. Kita melihat mereka sebagai orang-orang yang kreatif, kita tidak melihat mereka sebagai suatu obyek yang hanya sekedar kita ambil datanya saja dari mereka, kita melihat mereka sebagai agen-agen yang mempunyai keinginan bebas (free will).

Kembali ke ontologinya, ke kuliah-kuliah yang telah diberikan, kita melihat bahwa manusia itu sebagai mahluk yang menciptakan realita dia sendiri. Jadi segala macam realita itu tergantung dari bagaimana manusia itu mendefinisikannya. Ini semua kita lihat sebagai pandangan atau perspektif transenden, artinya kita tidak menganggap kita atau ilmu kita sebagai sesuatu yang perlu diunggulkan dibandingkan dengan pengetahuan atau perspektif masyarakat yang kita teliti. Kita berusaha untuk melampaui (men-transenden) berbagai-bagai macam perbedaan diantara kita dan mereka untuk mengatasi atau melihat masalah-masalah sosial yang ada. Sebagai lawan dari transenden perspektif, biasanya disebut technocratic perspective, yang cenderung kita kaitkan dengan pendekatan kuantitatif atau positivisme yang cenderung mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus dibuat lebih tinggi dari akal sehat (common sense) masyarakat yang diteliti.

Sedangkan pada pandangan kualitatif, akal sehat atau common sense dari masyarakat yang kita teliti adalah sebagai suatu yang kita lihat sebagai teori-teori awam, teori masyarakat, bagaimana mereka mengatasi masalah yang mereka hadapi dan sebagai common sense atau teori awam ini layak untuk dianggap sejajar dengan pengetahuan kita sendiri, pengetahuan kita sebagai ilmuwan. Berikutnya, orientasi dalam penelitian kualitatif ini, kita melihat bahwa ia mengikuti logika bagaimana sebuah penelitian dilakukan dalam kenyataannya (logic in practice, lawannya adalah reconstructed logis/logika yang berkonstruksi atau logika yang baku atau formal: adalah ciri khas dari pendekatan positivistik/kuantitatif, dimana segala sesuatu memiliki urutan-urutan yang teratur atau tetap) sementara yang logic in practice itu adalah bagaimana dalam praktek keseharian kita, kita menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Jadi, logic in practice ini terkait pada kasus-kasus khusus, ia berorientasi pada penyelesaian praktis masalah-masalah yang kita temukan di lapangan, sebagai contoh: langkah-langkah dalam penelitian kuantitatif yang sifatnya reconstructed logic/tetap/harus mengikuti langkah-langkah tertentu tidak memungkinkan si peneliti untuk menyelesaikan masalah-masalah di lapangan di luar apa yang telah digariskan dalam prosedur penelitian kuantitatif itu sendiri. Jadi seandainya ia melakukan sebuah survei, ia telah merancang sebuah instrumen penelitian dalam bentuk kuisioner, disebarluaskan kuisioner tersebut, maka terdapat sesuatu hal, maka yang diutak-utik adalah kuisionernya, tetapi dia tidak bisa seperti halnya pada sebuah penelitian kualitatif mencoba mencari cara-cara lain untuk menyelesaikan masalah pengumpulan datanya itu sendiri. Dalam sebuah penelitian kualitatif, logic in practice, penyelesaian praktis suatu kegiatan dalam penelitian lapangannya dilakukan nanti, saat dia macet wawancara, maka ia bisa berputar kemana-mana, dia bisa mengumpulkan data dari sumber lain, dari pengamatan, ia bisa mengubah bentuk wawancaranya yang tadinya formal/berstruktur, ia bisa mengubah wawancara mendalamnya dengan obrolan sehari-hari dulu, ini adalah demi menyelesaikan masalah lapangan dalam pengumpulan datanya.

Lalu, logic in practice ini lebih merupakan perangkat aturan informal yang bersumber dari pengalaman-pengalaman si peneliti, yang dalam tradisi penelitian kualitatif, si peneliti itu mendapat sense bagaimana melakukan sebuah penelitian melalui obrolan-obrolan dengan senior-seniornya, menjadi asisten lapangan dengan leader seorang dosen atau peneliti senior, mencoba-coba. Jadi ini menggambarkan bagaimana sebuah proses dalam penelitian kualitatif itu terajarkan dalam sosok seorang peneliti, bukan diperoleh melulu dari buku-buku yang memuat ketetapan atau langkah-langkah yang pasti, lebih banyak cara-caranya daripada pendekatan kuantitatif.

Hal ketiga dari orientasi ini, dia bersifat non linier, si peneliti dapat mengulang langkah-langkah yang telah dia ambil sebelumnya dan bukan sekedar dapat mengulang, tetapi memang akan ia ulang. Ini menyangkut dengan masalah bagaimana data tersebut dikumpulkan sekaligus dianalisis dalam sebuah penelitian kuantitatif, lalu ia dapat mencoba langkah-langkah baru dalam pengumpulan atau analisis data. Analisis data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan datanya sendiri. Jadi, sebenarnya daripada melakukan langkah-langkah yang pasti seperti yang dilakukan pada penelitian kuantitatif (perumusan masalah, rancangan penelitian, hipotesis, penarikan populasi dan sampel, pengumpulan data, penyederhanaan data, analisis data, penulisan laporan dan laporan menjadi sumber perumusan masalah lebih lanjut. Maka dalam penelitian kualitatif, hal-hal ini lebih bersifat non-linier-tidak segaris: setelah perumusan masalah, lalu kita masuk dalam lingkaran pengumpulan data itu sendiri, disini kita mulai bertanya-tanya, mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kita, kita mulai menganalisis data kita, mulai mencoba membuat laporan laporan-laporan penelitian atau laporan lapangan kita, mulai masuk ke laporan akhirnya. Jika kita lihat dan kita nilai ternyata kurang memadai, kita bisa masuk kembali kedalam lingkaran sebelumnya: jadi kembali bertanya-tanya, kembali menganalisis sampai akhirnya sebagai peneliti, kita merasa telah cukup mengumpulkan data kita dan kembali kedalam lingkaran sesudahnya dan menyusun laporan akhir kita. Jadi berbeda dengan penelitian kuantitatif, jika kita sudah mengumpulkan data, kita tidak lagi kembali menyusun perumusan masalah, tidak kembali melihat hipotesis kita. Dalam penelitian kualitatif, data yang kita temukan itu akan menentukan apakah kita perlu mengubah pertanyan-pertanyaan penelitian kita. Jadi ini pun tidak final bentuknya.

Dalam buku Neuman, dalam suatu penelitian kuantitatif, tahap pengumpulan data dan tahap analisis data terbagi dua secara tegas: si peneliti mengumpulkan data, dengan kuisioner atau alat ukur lain, lalu kemudian setelah semua terkumpul, baru kemudian dilakukan analisis data tersebut. Setelah penelitian, bawa pulang semua kuisionernya, lokasi penelitiannya dia tinggalkan sama sekali. Berbeda dengan penelitian kualitiatif lebih kepada: ketika ia sedang mengumpulkan data, pada saat yang bersamaan, ia mulai menganalisis data tersebut, lalu berdasarkan analisis di lapangan, berdasarkan jawaban-jawaban informan pertama, ia menentukan apa yang akan ditanyakan kepada informan kedua atau besok kita akan tanya apa kepada informan yang baru saja kita wawancarai, kembali lagi kumpulkan data, analisis lagi malamnya, besoknya tanya lagi dan kemudian analisis lagi malamnya, ini bisa menimbulkan perubahan-perubahan dalam permasalahan penelitian itu sendiri, apakah permasalahan bisa lebih terfokus atau permasalahan itu sebaliknya bisa lebih mencakup berbagai macam hal yang tadinya secara teoritik tidak terpikirkan oleh si peneliti, sehingga disitulah ia menemukan konsep dari apa yang sedang terjadi. Tentunya pada suatu saat nanti dalam proses penelitian, akan sampai pada suatu titik dan merasa sudah cukup dan berhenti dalam pengumpulan data. Dan ini memang suatu titik, dimana pada penelitian yang benar-benar murni itu ditentukan oleh intelektualitas si peneliti, tetapi secara praktis, juga ditentukan dari hal-hal misalnya: dananya masih ada atau tidak untuk melanjutkan penelitian lapangan, sponsornya sudah menunggu atau belum, itu menentukan kapan kita berhenti dalam pengumpulan data (ini yang dapat diperoleh dari Neuman, tentang apa-apa saja ciri dari penelitian kualitatif).

Tanggapan Pertanyaan:

Dalam hal data kita tidak diperoleh dari informan secara tidak langsung (narasumber), maka ini sekali lagi ada kaitannya dengan teori yang akan kita pergunakan. Mengapa? Karena dalam melihat makna, dalam memahami situasi sosialnya, maka akan terdapat perbedaan tentang apa yang diungkapkan seseorang melalui ekspresi-ekspresi yang berbeda, maksudnya ketika kita berbicara dengan informan/narasumber, maka sebagai manusia (bukan sebagai obyek) dia berhadapan dengans seorang peneliti, dia sedang berinteraksi sosial. Dalam interaksi sosial tersebut, ia berperan atau dia dan kita memainkan suatu peran, terjadi negosiasi, dia menentukan berdasarkan pemahaman dia tentang diri kita, apa yang mau ia ungkapkan,dan kita pun demikian berdasarkan perkiraan-perkiraan kita tentang apa yang bisa disampaikan oleh si informan, kita bertanya, tetapi sumber-sumber lain berupa tulisan yang nota bene tulisan dari si informan itu sendiri adalah bentuk ungkapan yan audiencenya tidak jelas atau audiencenya belum tentu si peneliti. Jadi seorang mengatakan kepada kita sesuatu, itu jelas dia ingin mengatakan kepada kita, tetapi seseorang menulis sesuatu, audience tulisan itu belum tentu kita sebagai peneliti. Jadi, ungkapan tersebut ditemukan dalam konteks yang berbeda, ini akan menjadi masalah jika kita berpegang pada pendekatan atau teori tentang makna yang membedakan ungkapan-ungkapan seperti itu.

Konteks bisa bermacam-macam sifatnya (menyimpang sedikit dari topik pembicaraan). Yang sekarang banyak dipergunakan oleh peneliti-peneliti dan kebanyakan lagi oleh market research, itu adalah Focus Group Discussion (FGD) 8-10 orang dari latar belakang yang berbeda-beda dikumpulkan dalam suatu ruangan dan kemudian dipancing untuk mendiskusikan suatu produk atau masalah dan kemudian ungkapan-ungkapan mereka semua direkam dengan fasilitator dari peneliti. FGD dalam banyak buku itu dikelompokkan menjadi suatu metode penelitian kualitatif, tetapi masalahnya adalah penelitian seperti ini melupakan konteks sosial ini, artinya bahwa 10-12 informan ini sebenarnya direnggut dari konteks kehidupan mereka sehari-hari untuk berbicara tentang suatu masalah disebuah ruangan tertutup. Dari pandangan kualitatif yang murni, FGD itu sebenarnya bukan merupakan metoda atau pendekatan kualitatif,datanya adalah kualitatif dalam pengertian data nominal, data yang tidak berupa angka, tetapi berupa laporan-laporan lisan; tetapi jika dilihat dari pendekatan dia bukan penelitian kualitatif, karena penelitian kualitatif harus melihat manusia dalam konteks kehidupan sehari-hari yang gejalanya itu sendiri konteksnya seperti apa?, misalnya: dalam sebuah FGD biasanya akan terlihat siapa yang dominan berbicara dan siapa yang hanya nunut saja. Tetapi masalahnya adalah jika orang berada dalam sebuah ruangan dibandingkan jika dia berada di luar, sikap atau dominasinya belum tentu sama. Jika ia berada dalam konteks kehidupan sehari-hari, mungkin ia tidak dominan, jika dalam ruangan dan dia lihat orang-orang lain dalam ruangan itu lebih rendah daripada dia, mungkin ia bisa dominan atau dalam penelitian FGD masalah lain adalah jika ada orang yang selalu dominan berbicara, biasanya mediator atau fasilitatornya harus memberikan kesempatan kepada yang lain untuk berbicara, agar dominasi orang tadi berhenti. Sehingga ini adalah sesuatu yang konteksnya berbeda, FGD mengukur atau melihat interaksi orang di dalam lingkungan yang tertutup dan terkendali, tetapi jika penelitian kualitatif yang benar, kita melihatnya dalam konteks kehidupan mereka yang sesungguhnya.

Tanggapan Pertanyaan:

Saat sekarang memang ada suatu masalah baru dalam penelitian untuk dapatnya seseorang memberikan data melalui e-mail atau media elektronik lain, ini juga sebenarnya menjadi masalah, apakah data tersebut bisa disamakan obyektivitasnya dengan data yang dikumpulkan langsung oleh seorang peneliti? Sebenarnya yang terjadi adalah pengumpulan dua macam data: yang tatap muka adalah data yang sifatnya ungkapan-ungkapan langsung dari informan yang berada dalam konteks pertemuan dengan lapangan lain. e-mail, surat menyurat atau sejenisnya itu adalah suatu bentuk ungkapan yang disusun oleh orang yang mengungkapkan tanpa dia langsung mendapat feed back dari orang yang dihadapi, jadi lebih banyak pikiran untuk menuangkannya dan tulisan merupakan ungkapan yang berbeda, karena audiencenya tidak selalu orang yang dihadapi secara tatap muka, artinya bahwa kita sebenarnya telah menggali informasi tentang satu hal yang lain ketimbang wawancara langsung. Contoh: kenapa misalnya Ezra atau pengajar lain ketika berada dalam kelas ini, ketika berada di depan berbicara saya-bapak/ibu, tetapi sekalinya keluar dari pintu kelas berbicara menjadi gue dan elu. Hal itu disebabkan karena konteksnya sudah berbeda. Dalam setiap konteks kita menempatkan diri pada konteks atau posisi tertentu dan kita menempatkan orang lain pada posisi tertentu juga. Bukan hanya ruang dalam pengertian fisik, tetapi juga ruang dalam pengertian abstrak, yaitu tatap muka secara fisik atau tidak, maka bentuk ungkapan kita akan berbeda: jika kita menulis surat terdapat beberapa kesulitan, misalnya biasanya berbicara dengan teman-teman kuliah: gua, elu, dst. Tetapi sekalinya kita harus menulis surat, tulisan elu itu sebenarnya gimana sih? Ada yang menulis loe, elu, lu, loh, dst. Ini sebenarnya bagaimana kita ingin mengungkapkan diri, tetapi kita terperangkap pada tulisan. Jadi, ungkapan dari satu konteks ke konteks lain bisa berbeda-beda.

Tanggapan Pertanyaan:

Bagaimana mengadakan wawancara dengan orang/pejabat yang terlalu sibuk? Dalam satu wawancara dalam konteks formal dan ketika wawancara dilakukan dirumah pejabat tersebut, ternyata dia berbicara lain lagi. Hal ini bukan bias, ini kembali kepada masalah bahwa dia mengungkapkan dirinya, memahami dirinya dalam peran yang berbeda-beda dari satu konteks atau dari suatu situasi dke situasi lain yang berbeda. Jadi, ketika ia sebagai seorang pejabat, dia melihat dirinya sebagai seorang pejabat. Harus kita ingat bahwa dalam penelitian kualitatif, manusia adalah sebagai orang yang mempunyai free will, mempunyai kemampuan untuk menentukan posisinya. Jadi, dia melihat bahwa dalam konteks ini seseorang bertindak sebagai seorang pejabat, sehingga harus begini, begitu bicaranya. Percaya atau tidak, tetapi ia menampilkan dirinya seperti itu, tetapi jika dalam konsteks yang lain, maka dia harus menempatkan posisi pejabatnya itu, kemudian mengambil identitas lain. Jadi bukan bias, dia sedang memainkan peran yang berbeda,dalam konteks yang berbeda. Jika kita ingin meneliti, misalnya apakah pandangan dari pejabat-pejabat atau siapapun terhadap suatu masalah, maka yang terpenting adalah kita mau melihatnya dari segi apanya? Jika kita ingin melihat dari segi efeknya misalnya, maka apa yang dia biacarakan dengan kita di rumah, tentu tidak akan terbawa ke dalam satu tindakan, karena posisinyas sebagai seorang pribadi tidak memungkinkan dia untuk membuat sebuah tindakan, tetapi misalnya kita ingin melihat dia berbicara sebagai seorang pejabat, maka pembicaraan dia sebagai pejabat itu kita ikuti, s sebab dalam posisi dia sebagai pejabat itu ia mempunyai kemungkinan untuk bertindak. Masalahnya adalah yang mana yang hendak kita teliti.

Tanggapan Pertanyaan:

Checking dan triangulasi, artinya bahwa sekalipun kita mempunyai sumber data, baik itu lisan maupun tulisan, terdapat prosedur-prosedur yang diikuti untuk menetapkan konsistensi data-data tersebut dengan data-data lain, dan ini yang nanti akan dibicarakan dalam kritik intern dan ekstern dari data tersebut, apakah terdapat konsistensi dalam datanya sendiri? Atau terdapat konsistensi antar data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, atau yang dikumpulkan dari berbagai konteks atau tahap? Jika memang hendak meneliti sesuatu berdasarkan tulisan melulu (catatan-catatan, arsip, dst) hal itu dimungkinkan. Misalnya: penelitian-penelitian yang bersifat sejarah (historical atau documents study), memang seperti itu adanya, tetapi yang perlu diingat disini adalah bahwa studi dokumen dan studi yang langsung meneliti gejala suatu masyarakat, sebenarnya berangkat dari asumsi-asumsi yang berbeda. Jadi, jika misalnya kita melakukan studi dokumen, kita melakukan studi tentang pelaporan suatu peristiwa dan kita menginterpretasikan atau sudah interpretasi pada tingkat yang kedua, artinya jika kita melakukan penelitian kualitatif, dan seperti yang telah dikemukakan adalah untuk melihat makna atau definisi atau simbol-simbol yang dipakai dalam suatu masyarakat, artinya bagaimana masyarakat tersebut memahami situasi mereka. Maka hal yang perlu diingat dalam interpretasi adalah bahwa kita sebagai peneliti tidak bisa memahami suatu masalah sama dengan orang yang kita teliti. Gejalanya bisa apa saja: apakah gejala sosial, tawuran, apakah kehidupan pribadinya, pemilu, otonomi daerah, dst bisa apa saja. Yang hendak kita ketahui dalam penelitian kualitatif adalah bagaimana orang atau masyarakat itu memahami hal-hal ini. Apakah arti kejadian ini bagi mereka? Dia sebenarnya menafsirkan situasi yang dia hadapi, si peneliti atau kita tidak menafsirkan ini, kita menafsirkan dia…

Orang-orang yang ekstrim mengatakan: bahwa dalam melakukan penelitian kualitatif, kita benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang kita teliti, kita merasakan apa yang mereka rasakan. Untuk hal seperti ini, kita tidak boleh mempercayainya, karena kita sesungguhnya tidak berniat untuk merasakan apa yang mereka rasakan, kita tidak bisa tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui, walaupun kita mau enam atau satu tahun tinggal bersama petani. Oleh karena masalahnya adalah, ketika kita sudah capek, lelah dan jemu meneliti, kita bisa pulang ke Jakarta dan menemukan kasur yang nyaman, mandi air hangat, sementara si petani atau gelandangan yang sedang kita teliti, tidak mampu melakukan hal-hal seperti itu. Jadi jika kita katakan bahwa kita sudah pernah hidup merana, karena sudah pernah mengadakan penelitian diantara gelandangan-gelandangan, pernah merasakan kemiskinan mereka. Tetapi sebenarnya adalah bagaimana kita bisa merasakan hal-hal yang mereka rasakan, ketika pada saat kita lapar, capek, lelah kita bisa pulang dulu. Artinya walaupun bagaimana tetap kita tidak bisa sepenuhnya merasakan apa yang mereka rasakan. Masalahnya adalah sebenarnya si petani, si gelandangan meneliti atau memahami dunianya sendiri, dan kita disini hanya sekedar mencoba memahami atau menginterpretasikan bagaiman dia menginterpretasikan dunianya.

Kembali ke pertanyaan: jika sekarang ada kaitannya dengan sumber data yang sudah tersedia, artinya bahwa ada sumber-sumber informasi pilihan. Kemudian, kita sebagai peneliti, karena mungkin ini tidak terjangkau atau tidak mungkin kita lakukan, kita mengarah ke …, masalahnya adalah ini dulu disiapkan oleh siapa dan ini dulu disiapkan untuk apa, hal-hal seperti ini harus masuk kedalam interpretasi kita juga.

Jika kita kembali kepda studi dokumen, sebenarnya dari dokumen-dokumen tersebut banyak hal yang perlu diperhatikan, misalnya sejarah Indonesia yang ingin kita ketahui sebenarnya adalah bukan sejarah Indonesia, tetapi sejarah raja-raja atau keluarga bangsawan, karena sejarah rakyat-rakyat kecilnya hampir-hampir tidak ada. Sehingga dalam penelitian dokumen/sejarah saat sekarang sudah mulai ada perhatian ke arah tersebut. Bagaimana menggali sejarah dari masyarakat yang tidak bersuara ketika mereka hidup, tidak bisa mengungkapkan diri mereka saat itu, tidak bisa menghasilkan tulisan. Jadi hal penting yang perlu diingat adalah bahwa studi dokumen memang dimungkinkan, tetapi terdapat kendala-kendala yang tidak bisa disamakan dengan apa yang kita lihat pada saat kita langsung bertemu dengan mereka.

Kembali ke topik pokok, bahwa makna dari suatu gejala sosial tergantung pada konteks sosial gejala tersebut, mungkin pernyataan ini sudah agak jelas melalui contoh-cotoh di atas, adalah bagaimana seseorang memberi makna pada situasi yang dia hadapi tergantung dari berbagai macam konteks di luar dan disekelilingnya. Jadi, misalnya saja KB. Jika kita ingin mengetahui bagaimana masyarakat sebuah desa mengartikan KB, maka jika program KB tersebut datang dengan paksa, maka mereka akan memberi makna yang negatif, tetapi jika program tersebut didatangkan dengan cara yang lunak, maka mungkin mereka akan lebih positif memandangnya. Konteks munculnya gejala tersebut berbeda, maknanya sendiri berbeda-beda. Apa sih artinya seseorang datang ke sebuah klinik atau mengikuti program KB, jika dia dilihat atau tidak dilihat oleh Kadesnya: jika misalnya ia terlihat oleh Kadesnya pergi ke klinik atau ke pos lingkaran biru, maka mungkin motivasinya bukan karena Kbnya sendiri, tetapi agar ia mendapatkan fasilitas dari Kadesnya. Dan itulah maknanya, karena konteksnya berbeda-beda. Dalam kaitannya dengan itu, si peneliti memperhatikan gejala-gejala yang mendahului dan menyertai gejala-gejala yang hendak ia teliti. Jadi dalam konteks yang lebih luas.

Seberapa luas konteks yang harus kita perhatikan? Misalnya: penelitian tentang kerusakan lingkungan di Sulawesi Selatan. Dalam masyarakat pesisir indonesia, banyak sekali ditemukan masalah abrasi, kerusakan pantai dan hal ini menjadi masalah besar karena merupakan campuran antara faktor-faktor lingkungan dan faktor-faktor tindakan manusia. Terdapat berbagai hal yang menunjukkan perbedaan dalam arti abrasi yang terjadi mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, lalu terdapat suatu daerah yang abrasinya begitu tinggi sehingga merupakan desa yang akan dibandingkan dengan dengan desa yang tingkat abrasinya tidak begitu tinggi. Pada awalnya kita hanya melihat kepada masalah dimana hutan bakau yang bisa menjadi penangkal abrasi laut tersebut dijadikan tambak ikan dan udang, tetapi penjelasannya ternyata tidak bisa berhenti sampai disitu saja, dan itu merupakan gejala yang menjadi fokusnya yaitu kehidupan petani tambak, tetapi ketika kita perhatikan, gejala-gejala apa yang mendahului dan menyertai gejala ini. Pembukaan lahan mangrove/bakau ini menjadi lahan tambak diawali dengan migrasi besar-besarandari masyarakat luar desa yang menebang hutan tersebut untuk dijadikan tambak, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ternyata karena sudah ada yang mempelopori penebangan bakau tersebut di pabrik kertas Gowa, mereka yang pertama mendapat konsesi untuk menebang hutan bakau, tetapi kemudian hal tersebut diteruskan oleh pendatang-pendatang dari desa-desa lain dan kemudian konteks yang lebih jauh lagi yang menyertai gejala tersebut adalah naiknya harga udang dan ikan di pasar internasional. Jadi ini adalah salah satu gejala yang sebenarnya berada di luar tetapi langsung mempengaruhi apa yang terjadi dalam sebuah desa di pesisir Sulawesi Selatan. Apakah hanya itu yang menjadi konteks dari kejadian-kejadian ini semua? Ternyata tidak, artinya bahwa ternyata abrasinya tersebut diakibatkan oleh adanya penghancuran terumbu karang yang diambil sebagai bahan bangunan rumah dan ikan hias, kemudian semakin menhancurkan pantainya karena ombak tidak tertahan, apakah itu artinya yang diperlihatkan? Ternyata juga tidak, ternyata orang-orang yang menghancurkan terumbu karang mempergunakan teknologi-teknologi tertentu, darimana mereka mengenal teknologi penghancuran terumbu karang tersebut? Ternyata teknologi alat peledak untuk menghancurkan terumbu karang sudah mereka pelajari sejak jaman penjajahan belanda, tetapi penjelasannya bagaimana: saat itu opsir-opsir belanda yang tinggal di daerah itu selalu melakukan perjalanan-perjalanan mencari ikan, karena sedang banyak-banyaknya ikan (sedang musim), orang-orang setempat disuruh oleh opsir belanda tersebut menggunakan peledak untuk menangkap ikan. Kebiasaan itu diteruskan pada jaman penjajahan jepang hingga sampai saat ini. Bahan peledak mereka modifikasi sedemikian rupa untuk menghancurkan terumbu karang dan mengapa hal ini masih terus berlanjut, oleh karena tidak ada enforcement atau pelarangan terhadap hal-hal tersebut. Ada kondisi-kondisi yang memungkinkan aparat itu sendiri ikut terlibat dalam penghancuran terumbu karang.

Apakah hanya itu yang dilihat dalam penelitian kualitatif? Ternyata tidak juga, artinya bahwa ini semua terkait dengan berbagai hal yang berada di luar masyarakat itu sendiri, yang tidak dapat mereka kendalikan, misalnya: garis pantai dari desa yang ternyata datar, sehingga dengan kondisi seperti itu ombak akan menghantam dengan kekuatan sepenuhnya, sangat berbeda dengan garis pantai yang berbentuk teluk, yang ombaknya tidak akan seganas seperti pada garis pantai yang datar.

Apakah kita berhenti sampai disini? Ternyata juga tidak, oleh karena ternyata orang-orang disana mencoba sekali-sekali untuk menanam bakau, karena mereka pun sebenarnya sadar bahwa tiap tahun bisa 5 sampai 10 meter bahkan 50 meter tanah mereka habis karena abrasi, tetapi menjelang bakau tersebut besar, bakau tersebut sudah gelondongan-gelondangan kayu dari Sultra yang hanyut mengikuti air, sehingga hancurlah bakau yang mereka tanam. Siapa lagi yang akan memberi bibit bakau? Dan siapa yang dapat menanam pantai sebegitu luasnya dan sekaligus mengawasinya? Dan jika mereka sempat mengawasi, siapa yang akan mengerjakan tambak mereka? Kemudian, belum lagi masalahnya adalah petani-petani tambak yang ada disini ini, dalam masyarakat bugis makassar, mereka bukan pemiliknya, mereka hanya pekerja-pekerjanya, sedangkan pemiliknya/punggawa-punggawa/atau patron-patronnya berada di desa lain, dan uniknya didesa pemilik-pemilik tambak tersebut, penuh dengan hutan bakau yang masih lestari, karena mereka sadar daripada hutan bakau desa mereka sendiri hancur, maka pergilah mereka untuk membuka tambak di desa-desa lain.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa inilah yang dimaksud bahwa jika kita ingin melihat suatu masalah yaitu bagaimana masyarakat di desa itu memperhatikan masalah tambak dan hutan bakau, bagaimana konservasi lahan mereka, maka kita melihat apa sih yang terjadi sebelum-sebelumnya sehingga konservasi hutan bakai disana hancur-hancuran dan apa sih yang terjadi secara bersamaan sehingga konservasi lahan yang diusahakan itu selalu gagal?

Berikutnya, data yang rinci kita kumpulkan dari satu atau sejumlah kecil kasus. Jadi jelas hal ini berbeda atau berlawanan dengan survey. Melalui survey, data yang sangat spesifik, dalam arti sangat terbatas kita kumpulkan dari sejumlah besar responden. Sedangkan kualitatif, hal yang sebaliknya, data yang rinci dikumpulkan dari satu atau sejumlah kasus kecil saja.

Si peneliti berusaha untuk menemukan pola-pola kehidupan orang yang diteliti, pola-pola perilaku mereka, pola-pola pemaknaan mereka. Jadi walaupun kita fokuskan pada sejumlah kecil kasus, kita berharap menemukan pola-pola dari kasus-kasus tersebut. Ada satu masalah yang kerap ditanyakan orang-orang dalam menilai suatu penelitian kualitatif: penelitian kualitatif sering dikatakan sangat tergantung pada konteksnya, konteksnya berbeda maka penjelasannyapun berbeda. Masalahnya adalah jika berbeda-beda, bagaimana caranya kita membuat suatu generalisasi atau bagaimana membuat sebuah teori? Ini memang suatu kritik yang banyak dilontarkan kepada peneliti-peneliti kualitatif yang menyumbangkan datanya untuk suatu kebijakan. Penentu kebijakan melihat data, lalu kemudian peneliti mengatakan ini yang terjadi disini pak, jika disini terjadinya begini, dst. Tetapi penentu kebijakan menginginkan satu model, sesuatu yang bisa dipakai dimana-mana. Jika penelitian-penelitian kualitatif tersebut menunjukkan variasi-variasi dimana-mana, lalu teorinya dimana? Artinya generalisasinya dimana? Ini adalah gambaran atau pendapat yang agak melupakan bahwa variasi-variasi itu mutlak perlu jika kita ingin membuat teori. Kita tidak bisa berpikir secara teoritik jika tidak terdapat variasi, jika semuanya sudah sama, maka tidak akan terdapat teori. Teori itu justru muncul dari variasi. Masalahnya adalah seberapa banyak penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mencoba mendapatkan pola-pola tersebut, kadang-kadang memang terdapat kecenderungan untuk terlalu cepat mengambil kesimpulan yang dianggap bisa berlaku dimana-mana, walaupun sebenarnya kita belum mengidentifikasi konteks-konteks …

Penetapan fokus penelitian kita melalui difocussing dan memfokuskan kembali apa yang ingin kita jadikan topik penelitian kita. Pemilihan paradigma merupakan salah satu yang dicantumkan karena terdapat dalam buku creswell, dimana dia mengatakan bahwa seorang peneliti saat dia menetapkan fokus perhatiannya, dia harus menetapkan kira-kira paradigma apa atau pendekatan apa yang akan ia pakai untuk meneliti fokus, tetapi masalah yang sebenarnya adalah bahwa sesungguhnya penetapan fokus penelitiannya itu didasarkan pada pendekatan yang sudah ada pada si peneliti, jadi ini sebenarnya adalah hal kalau menurut Ezra tidak tercantum dalam bukunya creswell, artinya bahwa ketika seorang peneliti bertanya, mempermasalahkan satu hal, baik dari kerangka berpikir dia maupun dari gejala nyata, maka sebenarnya pertanyaannya itu sudah muncul dari asumsi-asumsi dia atau sipeneliti tentang haekkat realita itu sendiri. Jadi, jika kita bertanya, itu sudah menunjukkan teori-teori yang sudah kita dalami, kita bertanya, kita sudah mencerminkan apakan mempergunakan kerangka berpikir yang kualitatif atau kuantitatif atau dirumuskan dengan cara lain. jika orang yang bersangkutan sudah banyak mendalami teori-teori kualitatif, maka pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran dia ketika menetapkan fokus penelitian dia sebenarnya sudah kuantitatif dan harus dijawab dengan dengan metoda-metoda kuantitatif. Ini sebenarnya bukan pemilihan, dalam arti kita sadar misalnya kita hendak memilih kuantitatif atau kualitatif, tetapi ini adalah suatu kecenderungan yang akan sulit untuk diatasi, artinya jika seseorang sudah berpikiran kuantitatif, ya sudah, jika dia disuruh membuat penelitian kualitatif, maka mungkin hasilnya dia akan merumuskan masalah penelitiannya kembali lagi dengan menggunakan metoda kuantitatif, lagi-lagi kembali ke kuantitatif, begitu juga dengan hal yang sebaliknya, ketika diharuskan melakukan penelitian kuantitatif, ia menjadi bingung, oleh karena pada saat ia merumuskan masalah, rancangan penelitian, metoda pengumpulan data, dsb kecenderungannya selalu mengarah ke kualitatif. Jadi, dengan kata lain hal seperti ini merupakan sesuatu hal yang sudah tertanam dalam diri kita sebagai manusia, bukan merupakan hal yang mudah kita pilih: melakukan penelitian kuantitatif kah atau kualitatif kah?

Dalam melakukan penetapan format kajian, akan sedikit menghadapi permasalahan seperti di atas (point 2) walaupun tidak terlalu signifikan, artinya bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan banyak macam atau ragam penelitian: seorang fenomenolog mengaku mengadakan penelitian kualitatif, seorang kognitif mengaku melakukan penelitian kualitatif, jadi banyak ragamnya dan ragamnya ini menentukan atau berpengaruh pada format kajian mereka, apakah melakukan etnografi, grounden theory, case study atau historical comparative, ini pun mengandung permasalahnya sendiri, kapan sebenarnya kita kita sebenarnya menentukan satu format kajian.

Ke empat, sebelum kita benar-benar merumuskan masalah penelitian kita, sebelum kita benar-benar menyusun rancangan penelitian, kajian pustaka mutlak harus dilakukan dan tidak ada tawar menawar di sini, membaca secara sistematis. Hal yang harus kita ingat lagi adalah pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang tidak ada format bakunya, suatu pendekatan yang mengikuti logic in practice, bukan reconstructed logic, merupakan suatu pendekatan yang luwes, oleh karena itu yang akan dibicarakan adalah bentuk-bentuk alternatif, bukan yang harus diikuti secara mutlak, akan terdapat variasi-variasi yang tentunya dalam garis batas yang kurang lebih sama. Hal berikut adalan satu alternatif format penelitian yang dikemukakan oleh creswell, dia memulai dengan membagi dua hal utama suatu pendahuluan, dimana kita memaparkan latar belakang munculnya permasalahan, menempatkan konteks kepustakaan yang sudah ada, membahas kekurangan yang ada pada kepustakaan, menunjukkan signifikansi penelitian. Menurut Creswell, keseluruhannya ini bisa terdiri dari 6 point, sebagai berikut: rumusan permasalahan, tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, definisi, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian dan signifikansi dari penelitian, disini sebenarnya urutannya sama, tetapi apa yang terdapat pada masing-masing isinya mempunyai hakekat yang berbeda.

Bagian ke dua yang dia kemukakan, menyangkut prosedur penelitian itu sendiri, asumsi dan alasan menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan penelitian yang dipakai atau format kajian, prosedur pengumpulan data, analisis data, metoda verifikasi data, hasil penelitian yang nantinya akan dihubungkan ke teori-teori yang ada.

Masalah dan tujuan penelitian dimasukkan ke dalam 2 point yang sama, sebab dalam praktek penulisannya dua hal ini sangat sulit untuk dipisahkan secara tegas. Jadi dalam masalah penelitian dan tujuan penelitian kita ini atau istilah yang mewakili adalah sistematic of intent, kita ingin menunjukkan apa sebenarnya yang ingin kita teliti dan kenapa kita meneliti dan bagaimana menelitinya, semua dalam rumusan yang mungkin hanya satu atau dua alinea, sedangkan masalah penelitian itu sendiri sebenarnya apa? Masalan itu dapat kita lihat sebagai suatu hal, hal yang ada dalam suatu kepustakaan, teori atau pada kenyaataan yang kita pertanyakan kebenarannya dan harus kita cari jawabannya melalui penelitian. Jadi terdapat kerancuan dalam teori kita, terdapat ketidakcocokan antara proposisi yang satu dengan proposisi yang lain atau dalam kenyataannya terdapat sesuatu hal yang seharusnya tidak terjadi, ada hal yang tidak cocok antara teori kita dengan kenyataan yang kita amati. Sehingga penelitian itu sendiri tidak selalu merupakan satu masalah sosial. Kita membedakan antara masalah sosial sebagai sesuatu yang dianggap menganggu tertib masyarakat, harus diatanggulangi atau diatasi. Dari masalah penelitian sosial yang pengertiannya lebih kepada yang telah dikemukakan sebab masalah penelitian sosial tidak selalu merupakan masalah sosial. Tawuran adalah masalah sosial yang bisa dijadikan masalah penelitian sosial, tetapi bentuk keluarga bisa atau layak juga diteliti, tetapi tidak selalu menjadi sebuah masalah sosial atau selalu merupakan hal yang dirasakan mengganggu masyarakat, yang dirasakan harus diatasi atau ditanggulangi. Masalah penelitian itu sendiri merupakan konstruksi teoritik kita, ia bukan sesuatu yang bukan tiba-tiba saja muncul, bukan sesuatu yang kita rumuskan berdasarkan perumusan yang awam atau pemikiran yang normatif, tetapi pemikiran yang teoritik. Kita bisa melihat sesuatu hal sebagai masalah penelitian karena mempunyai teori-teori tertentu. Teori yang lain akan mempunyai masalah penelitian yang lain pula. Konflik atau kerusuhan akan dilihat oleh ahli ekonomi sebagai masalah kesenjangan ekonomi, dilihat oleh ahli sosial sebagai perbedaan antar budaya atau sosial, dari segi pembangunan atau kebijakan politik adalah dilihat dari terdapatnya kesalahan-kesalahan dari program politik pembangunan pemerintah yang tengah berkuasa. Psikologi pun bisa mempelajari kerusuhan dilihat dari kepribadian anggota-anggota masyarakatnya. Lain teori, lain juga masalah yang akan muncul walaupun hal itu dari suatu realitas yang sama. Jadi, yang harus diingat adalah bahwa hal ini merupakan konstruksi teoritik, namun masalahnya, jika kita tidak mempunyai teori, dimana kita akan merumuskan masalahnya, hampir-hampir mustahil, karena kita baru mengenal konsep-konsep kedua tanpa melihat gambaran yang menyeluruh, kita harus melihat konsekuensi teoritiknya sebenarnya apa, kita harus menempatkan kajian-kajian pusataka untuk mendapatkan kajian teoritik ini, kita harus menempatkan gejala yang kita baca dalam hubungannya dengan dengan gejala-gejala lain, tetapi sekaligus kita menempatkan teori yang kita pakai/baca, dalam hubungannya dengan teori-teori lain, contoh: meneliti tentang agama, jelas kita harus belajar atau baca dulu mengenai agama yang sudah pernah diteliti misalnya yang pernah diteliti oleh Clifford T. Geerz di Jawa. Jika kita hanya membaca apa-apa yang digambarkan oleh Clifford T. Geertz, kemudian kita langsung hendak merumuskan masalah penelitian, akan sulit karena kajian pustaka harus dilakukan dengan menempatkan sumber pustaka itu dalam konteks yang lebih luas, apa-apa yang digambarkan oleh Geertz misalnya tidak bisa diterima begitu saja tanpa membandingkannya dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Jawa lain, dan ternyata Geertz juga meneliti hal tersebut hingga ke masyarakat Maroko: bagaimana sih bentuk atau perwujudan Islam di sana. Jadi apa yang kita baca tentang agama di Jawa, harus pula dibandingkan dengan realita-realita lain. juga ternyata selain itu Geertz juga berbicara dalam kerangka berpikir tertentu. Jadi jika kita menempatkan tulisan Geertz dalam kerangka yang lebih luas, teori-teori lain yang berbicara tentang agama di Jawa, akan seperti apa jadinya. Geertz mengatakan di Jawa terjadi sinkretisme, apakah seorang ahli lain yang menggunakan teori-teori lain misalnya seseorang yang menggunakan pendekatan Durkheim dengan masalah yang sama, maka realita dan teorinya kita bandingkan, sehingga berdasarkan itu semua kita bisa menetapkan masalah penelitian dan kita bisa merumuskannya, jadi sudah merupakan kerangka, kita sudah lebih mengenal secara teoritik masalah yang akan kita kaji.

Bagian lain dari masalah penelitian ini secara lebih to the point adalah tujuan penelitiannya sendiri yang biasanya dirumuskan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Menggunakan istilah yang menunjukkan secara eksplisit, pernyataan tersebut merupakan gagasan utama penelitian, apakah memang harus diingatkan kembali atau tidak, tetapi ternyata memang ada penulis-penulis yang susah untuk menyebutkan secara eksplisit seperti ini sering gagasan utama yang mereka hendak kaji itu apa? Sebagai contoh: seorang mahasiswa yang sedang menyusun permasalahan penelitian, ia ingin melihat masalah stereotipe yang ada dalam hubungan antara masyarakat pribumi dan cina, ia lalu mencoba merumuskan masalahnya: mengapa stereotipe kelompok-kelompok tersebut di Bogor terdapat strereotipe yang bertentangan dengan yang umum ada, sehingga tidak ada stereotipe negatif masyarakat cina di daerah penelitian, tetapi dalam melakukan perumusan masalahnya si mahasiswa tersebut berbicara tentang tindakan. Sehingga ketika ia menunjukkan ia hendak mempelajari stereotipe dan ia lalu mengatakan bahwa stereotipe ini tidak ada, karena terlihat bahwa masyarakat pribumi dan masyarakat cina berinteraksi secara baik. Tidak bisa seperti itu, karena hal ini merupakan dua hal yang berbeda: strereotipe merupakan kategori pikiran, suatu gejala mental bagaimana manusia mengklasifikasi dan memberikan gambaran tentang orang-orang dimasyarakatnya, sedangkan interaksi berada pada tingkatan perilaku. Sehingga fokus penelitian mahasiswa tersebut tidak jelas berada di mana? Ketika kita merumuskan suatu masalah, sebenarnya apa yang akan kita bicarakan.

Hal kedua, kita menggunakan istilah-istilah yang menunjukkan rencana penelitian yang bersifat luwes/fleksibel dalam arti akan terdapat kemungkinan perubahan-perubahan, maksudnya, seperti kata-kata: ingin menemukan atau melakukan eksplorasi, berarti kita bisa bergerak dari satu tempat ke tampat lain tanpa terikat satu masalah tertentu, masalahnya bisa berkembang, kita tidan menutup kemungkinan bahwa dalam rancangan penelitian itu kita akan harus mengumpulkan data tentang hal-hal yang tadinya tidak kita perkirakan.

Tanggapan pertanyaan:

Fokus penelitian memang harus ada, tetapi dalam suatu penelitian kualitatif yang murni dalam arti disponsori dengan suatu jadwal ketat, walaupun kita mempunyai fokus kita tetap akan membukan kemungkinan bahwa fokus penelitian ini terkait kepada hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, jadi dia sebenaranya dia berbicara dalam konteks yang seperti apa? Misalnya penelitian yang baru-baru ini dilakukan di lampung tentang petani yang diintroduksi dengan sistem pertanian Pengendalian Hama Terpadu (PHT)—pertanian tanpa pestisida. Untuk penelitian ini yang menjadi fokusnya sebenarnya adalah transfer of knowledge, jadi bagaimana mereka memperoleh pengetahuan tentang hama dan predator banyak mati karena pestisida yang sebenarnya siklus hidup predator, sudah mencukupi, jika tanpa pestisida untuk panen yang baik. Nah, itu fokus penelitiannya sudah ada, tetapi dalam melakukan penelitian kualitatif, hal-hal yang tidak terduga oleh kita, tidak bisa kita tinggalkan begitu saja, salah satu adalah bagaimana ketika mereka menerima pengetahuan baru tersebut, dalam mempraktekkannya ternyata mereka mengkombinasikannya dengan pengetahuan atau kearifan mereka yang melakukan penanaman itu berdasarkan perhitungan bulan, namun ternyata tidak berhenti hanya disitu saja, walaupun mereka mempunyai sistem pranoto wongso ini dimana mereka harus misalnya bulan ini kedele, bulan lain padi, dst, ternyata ditempat mereka sendiri irigasi diatur. Jadi di daerah transmigrasi Lampung tersebut, mereka tidak lagi tergantung 100% pada hujan dan kondisi lingkungan, dsb, tetapi bagaimana pengurus air mengatur giliran air irigasi dari satu sawah ke sawah lain. Jadi, pengalihan pengetahuan yang tadinya menjadi fokus penelitianitu, harus kita jelaskan melalui hal-hal yang kita temukan di lapangan dan jika kita tidak mau memperhatikan masalah lingkungan misalnya atau tidak mau memperhatikan masalah-masalah irigasi yang artifisial ini, mungkin hal ini bisa dilakukan, tetapi mungkin tidak akan memberikan gambaran yang lengkap terhadap fokus kita sendiri.

Tanggapan pertanyaan:

Masalah grounded theory, teori yang membumi itu sebenarnya juga senada dengan pertanyaan: dapatkah melakukan penelitian tanpa berteori dulu? Apakah memang bisa? Jika kita tidak mempunyai teori, pertanyaannya itu muncul dari mana? Jika kita melihat kenyataan, itu juga tidak tergantung pada teori yang ada dalam pikiran kita? Apakah kita hanya melihat atau menangkap secara indrawi saja? Kita melihat gerakan orang? Kita mendengar ucapan orang? Tetapi interpretasinya berdasarkan apa?

Jika ada orang yang berjalan di depan pintu, kemudian orang-orang melihat mereka, lalu kita harus memikirkan apa yang mereka lakukan, kita memikirkan mempergunakan apa? Dengan teori bisa, norma-norma bisa. Misalnya kita lihat dua orang bergandengan, maka jika kita menggunakan kerangka berpikir normatif keagamaan: haram, tidak boleh! Tetapi jika kita melihat secara ilmu sosial, secara teoritik, psikologis: ini adalah hasil evolusi dari cara berkembang biak manusia atau mahluk-mahluk lain di dunia ini, ada isitilahnya…bersambung!

Penelitian Lapangan Dan Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Yang Sedang Melakukan Penelitian

Penelitian lapangan lebih merupakan sebuah orientasi, bukan merupakan suatu teknik atau langkah-langkah yang pasti dalam melakukan penelitian. Penelitian lapangan kerap dipakai dalam pengertian yang lebih luas, yaitu segala macam penelitian yang melibatkan kegiatan-kegiatan turun ke lapangan. Jadi dipertentangkan dengan istilah studi dokumen, sehingga pada dasarnya pada dasarnya, orang yang melakukan studi kuantitatif atau survey sekalipun mempergunakan pula istilah lapangan: dia turun ke lapangan. Tetapi disini penelitian lapangan akan kita terjemahkan secara sempit, yaitu merupakan salah satu orientasi dari penelitian kualitatif, merupakan sekumpulan kegiatan dimana berbagai teknik digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dan berbagai teknik tersebut sekaligus untuk membantu proses berpikir tentang informasi tersebut, jadi bukan sekedar bahwa kita mengumpulkan data dan kemudian mempergunakan bermacam-macam cara apakah itu wawancara mendalam, wawancara bebas, pengamatan terlibat atau studi dokumen, tetapi sekaligus juga bagaimana cara si peneliti menganalisis atau melihat data tersebut bisa beragam atau bermacam-macam. Apakah dia mencoba melihat data yang telah dia kumpulkan dengan mempergunakan teori-teori struktural, apakah dia berusaha untuk melihat data dikumpulkan dengan teori-teori pemaknaan, apakah dia berusaha melihat data tersebut dengan membandingkannya dengan analisis yang dilakukan oleh peneliti lain. jadi nampak analisispun dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, proses berpikir kita terbuka, maka kita biarkan berbagai macam alternatif dan peneliti mengikuti perspektif yang disebut social constructivist, yaitu melihat penelitian sebagai gambaran dari realitas-realitas sosial dan juga sebagai bagian dari realita tersebut. Social constructivist ini merupakan suatu pendekatan atau perspektif yang mengatakan bahwa realita itu sendiri adalah ciptaan manusia, berdasarkan definisi-definisi yang diberikan oleh manusia dan bukan sesuatu yang ada secara obyektif seperti apa yang yang dikatakan oleh kaum positivistik. Jadi social constructed tersebut adalah bahwa situasi atau obyek tergantung bagaimana kita mendefinisikannya. Contoh yang paling kongkrit adalah yang dikemukakan oleh Yaser Arafat: sebutlah seorang teroris bercermin, maka ia akan melihat pada cermin tersebut sosok seorang pejuang. Artinya, realitanya sama, tetapi konstruksi kita tentang realita tersebut atau makna yang kita berikan terhadap realita tersebut adalah krusial sifatnya. Dalam konteks atau perspektif ini, maka kita sebagai peneliti melihat kegiatan kita sendiri sebagai seorang peneliti. Penelitiannya sendiri adalah realita sosial itu sendiri. Kita tidak bisa memandang seolah-oleh seperti yang dikatakan oleh kaum positivistik:: suatu gejala masyarakat, seolah-olah kita melihatnya secara obyektif dan tidak mengganggunya seperti halnya jika kita seorang ilmuwan eksakta/alam dalam memperhatikan kehidupan binatang, asal saja kita tidak mengganggunya atau mengutak-utik tumbuh-tumbuhan seoleh-olah dia tidak mengganggunya. Kita menjauhi persepektif seperti itu, kita menyadari bahwa kita terlibat dalam proses penelitian tersebut sebagai individu dan kehadiran kita menjadi bagian dari masyarakat yang kita teliti. Penelitian lapangan ini paling tepat jika penelitian kita menyangkut upaya mempelajari, memahami atau mendeskripsikan orang yang berinteraksi, atinya kita kita tidak terbatas kepada masalah-masalah seperti sikap atau opini yang bisa dijaring melalui pertanyaan-pertanyaan tertutup dalam sebuah kuisioner, kita justru bisa memakai penelitian lapangan ini untuk melihat bagaimana manusia itu berinteraksi bukan hanya apa yang dia katakan, tetapi yang dia katakan dalam suatu sitaasi sosial bukan hanya apa yang dia katakan atau dia lakukan di depan si pewawancara tetapi apa yang sesungguhnya dia lakukan ketika dia berada dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, itu yang dilihat sebagai kelebihan dari bentuk atau orientasi penelitian lapangan ini dan tentunya istilah deskripsi disini adalah deskripsi yang mendalam terhadap sekelompok orang, bukan hanya dipermukaannya saja tetapi lebih mengikuti deskripsi yang dikatakan oleh Clifford T. Geertz sebagai deskripsi yang mendalam, yang tentunya berbeda atau dibedakan dari frame description atau gambaran yang dangkal/permukaan yang hanya melihat kepada interaksi atau perilaku manusia yang tampak, sedangkan deep description mengarah kepada makna, pengertian yang diberikan oleh orang-orang yang terlibat tentang kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan atau obyek yang mereka pakai atau mereka hadapi.

Sedikit tentang sejarahnya, ini merupakan suatu bentuk penelitian yang pertama sekali secara ilmiah dipakai oleh Brosinlaw Malinowski, antropolog yang mengikuti pendekatan fungsional yang meneliti di kepulauan Melanesia dan sebenarnya apa yang dilakukannya ini adalah antara sengaja dan tidak sengaja dalam arti bahwa Malinowski sebagai seorang antropolog kelahiran Polandia dan berkewarganegaraan Inggris, ketika itu berada di Kep. Melanesia untuk melakukan penelitian, tetapi pada masa itu terjadi PD I dan sebagai seorang Inggris dan keturunan Polandia yang berada di daerah yang kebetulan banyak dikuasai dan dipengaruhi oleh Jerman pada waktu itu, gerakannya menjadi terbatas, ia tidak bisa secara leluasa bolak balik dari lokasi penelitiannya ke negaranya, sehingga kesempatan itu ia pergunakan untuk tinggal bersama masyarakat yang ditelitinya dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari dan mencoba memahaminya dengan bahasa mereka sendiri. Jadi disini juga termasuk termasuk salah satu awal, dimana peneliti dituntut untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang bersangkutan dalam bahasa mereka sendiri. Jadi sebelum ini banyak penelitian-penelitian lapangan yang kebiasaannya adalah melalui perantara atau penterjemah. Malinowski dan beberapa orang lain (termasuk Sanborn) mengadvokasi penelitian lapangan yang mempergunakan bahasa masyarakat lokal, karena hanya dengan melalui bahasa lokal masyarakatnyalah kita bisa memahami apa yang mereka katakan dan rasakan dan tentunya prinisip ini sangat dipengaruhi oleh pendekatan atau teori-teori yang melihat bahwa kemampuan manusia berpikir itu dikendalai oleh bahasa yang ia kuasai. Jadi pandangan-pandangan yang sifatnya sangat terpengaruh dalam strukturalisme dalam bahasa. Bentuk penelitian ini selanjutnya dikembangkan oleh The Chicago School tahun ‘40-an sampai dengan ‘60-an dan merupakan satu mazhab dalam sosiologi yang banyak dibicarakan dalam kelas-kelas sosiologi lain dengan salah satu tokohnya adalah Robert E. Park, berkembanglah dengan apa yang dikatakan sebagai participation observation, dan disini tentunya harus diperhatikan bahwa istilah pengamatan/observation adalah dalam pengertian yang seluas-luasnya, dalam arti kita mengamati dengan berbagai macam indra kita, kita melihat, kita mencium, kita meraba, bukan sekedar pengamatan dalam pengertian secara obyektif melihat dengan mata kita. Sifat ini sebenarnya terpengaruh dari pengalaman dia sebagai seorang wartawan, dengan latar belakang jurnalistiknya, dia telah melakukan berbagai macam pelaporan untuk media massa dengan melihat kepada kerincian data, hal ini dia terapkan kedalam penelitian sosiologi atau penelitian ilmiah, ia mendorong mahasiswa-mahasiswanya pada saat itu untuk meneliti suatu masyarakat dimana masyarakat itu hidup, bukan dengan memaksakan mereka untuk masuk ke laboratorium atau masuk ke kantor-kantor untuk diajak berbincang-bincang. Malah dulunya antropolog sekalipun yang terkenal dengan pengamatan terlibatnya banyak yang melakukan dimana informan itu dipanggil ketempat si peneliti tinggal untuk wawancara. Antropolog itu sendiri tidak masuk ke dalam dunia orang yang dipelajari. Robert E. Park dengan Chicago Schoolnya ini justru ingin melihat atau mempelajari manusia pada setting alami mereka. Dia mendorong mahasiswanya untuk mencoba meneliti masyarakat miskin, yang hidup di pinggir-pinggir jalan, masyarakat buruh, guru atau apa saja profesinya. Sehingga pengamatan terlibat ini sebagai suatu metoda penelitian lapangan ini secara keseluruhan bukan saja satu metoda untuk meneliti masyarakat-masyarakat terasing, tetapi juga masyarakat-masyarakat perkotaan sekalipun dalam keluarga-keluarga pada masyarakat modern.

Prinsip berikutnya, dalam pengembangan participation observation adalah mempelajari manusia dengan interaksinya langsung, tidak melalui perantara-perantara, tidak melalui bentuk pengamatan yang sifatnya artifisial; mencari pengamatan tentang realita sosial, membuat pernyataan teoritis tentang perspektif orang yang dikaji. Jadi, penelitian lapangan ini bukan sesuatu yang melulu deskriptif, sesuatu yang hanya menggambarkan, tetapi juga sesuatu yang kita angkat menjadi suatu jenis pernyataan teoritik, sesuatu yang kita harapkan bisa berlaku dalam kasus-kasus yang serupa di tempat-tempat dan di masa-masa lain.

Terdapat peralihan dari deskripsi yang teoritik, bukan sekedar penggambaran seperti halnya artikel-artikel dalam koran atau majalah, tetapi sesuatu yang kita angkat, kita lihat, kita jadikan suatu dasar untuk sebuah pernyataan umum.

Proses negosiasi dalam merekonstruksikan makna-makna sosial, artinya pernyataan ini harus dilihat dalam konteks perkembangan atau sejarah teori-teori tentang makna, sebagai gambaran, ketika kita berbicara tentang peneliti kualitatif mencari makna, mencari pemahaman, maka apa sebenarnya yang dimaksud dengan makna (what is the meaning of meaning), pernyataan yang jawabannya dari masa ke masa cukup membingungkan ketika orang berbicara tentang makna, paling tidak ada satu aliran pemikiran yang sangat berpengaruh yaitu strukturalis, ini merupakan orang-orang yang melihat, jika kita ingin mengetahui makna dari sesuatu, kita harus melihat sesuatunya ini dalam sistem yang seperti apa? Maksudnya, misalnya jika ada suatu lambang dan lambang ini bisa lambang apa saja, misalnya huruf H, maka dalam sebuah pembahasan tentang makna, kita berusaha untuk melihat lambang ini artinya apa? Lambang ini menandakan huruf H, lambang ini hanya menandakan bunyi H jika kita tahu bahwa dia sebenarnya merupakan bagian dari sebuat sistem yang lebih besar, yaitu abjad. Sehingga jika kita tidak mengenal abjad, kita tidak akan mengenal sistemnya. Orang mungkin hanya melihat, H ini sebagai tiga garis, dia tidak bisa mengartikan atau memberi makna terhadap lambang ini seperti halnya kita. Tetapi jika sistemnya berubah, misalnya kita tidak mempergunakan sistem abjad kita, tetapi sistem abjad lain, maka misalnya ini menjadi lambang dari bunyi N seperti dalam tulisan rusia, karen sistemnya berbeda, dia menjadi anggota dari sistem abjad yang lain. jadi, dalam pandangan strukturalis, jika ingin mengerti dari sebuah lambang, coret-coretan, dsb maka kita harus melihat kepada sistem yang lebih luas. Ini adalah salah satu cara untuk melihat makna, misalnya lagi apa artinya pemilu, maka kita harus melihat dalam sistem yang lebih luas dalam pengertian pemilu dalam sistem politik yang seperti apa? Jika pemilu dalam sistem politik yang demokratis atau otoriter, maka artinya akan berbeda bagi orang yang terlibat. Selanjutnya jika melihat arti dari KB misalnya, bagi partisipannya misalnya sistem yang lebih luasnya apa? Apa KB itu dilihat sebagai salah satu dari program-program pemerintah yang yang lebih banyak atau dia dimasukkan dalam suatu sistem pengetahuan tentang kependudukan dia berada, maka masyarakat atau anggota masyarakat itu bisa mengartikannya berbeda tergantung sistemnya. Itu salah satu cara orang melihat makna, ada berbagai cara lain yang melihat makna itu bersifat referensial, jika ingin mengetahui arti dari sesuatu atau makna dari suatu obyek, tanyakan saja hal ini menggambarkan apa dalam realita, misalnya jika menanyakan, apa sih artinya bintang, bagi orang-orang ia akan mengatakan ini mengacu kepada ketuhanan, sementara orang lain akan mengatakan bahwa bintang merupakan lambang untuk menangkal setan atau kekuatan-kekuatan magis lainnya. Dalam politik, lambang bintang akan mengacu pada suatu partai, kita hanya melihat kepada acuannya, kepada referensinya.

Dua cara yang telah dikemukakan, sebagai beberapa teori tentang makna, masing-masing mempunyai kemiripan, dalam arti bahwa mereka melihat ini ada obyek, subyek ini ada maknanya. Dalam konteks tertentu, yang dimaksud dengan disini bahwa semakin terfokus pada proses negosiasi dalam merekonstruksi makna ini adalah bahwa dalam teori-teori makna yang semakin ke masa kita sekarang ini, yang diperhatikan adalah dalam berinteraksi itulah makna muncul. Jadi, terjadi negosiasi antar orang yang terlibat dan inilah yang kita amati terus-menerus dalam penelitian lapangan.

Kemudian, istilah-istilah modern penelitian lapangan itu sering dikatakan sebagai etnografi, yaitu pelukisan tentang sebuah kelompok etnis dan sering disebut juga sebagai etnometodologi. Pengertian harfiah etnografi adalah deskripsi atau gambaran tentang sebuah kebudayaan/kelompok etnik dan fungsinya aalah manusia itu selalu mencari makna, membuat inferensi atau kesimpulan tentang hal-hal yang dia amati berdasarkan pengetahuan (budaya) yang ia miliki. Jadi, jika kita melihat apapun, kita selalu mencoba mengartikan, apa sih yang sedang terjadi?, dasar kita untuk menarik kesimpulan, apa yang telah terjadi itu adalah pengetahuan budaya kita, lain kebudayaan maka lain pula penafsiran tentang apa yang akan terjadi, misalnya: menerima kado dalam masyarakat kita, biasa-biasa saja, tetapi dalam masyarakat lain, belum tentu karena etnometodologi penekanannya berbeda, karena merupakan suatu pendekatan dalam kualitatif yang bermula kira-kira pada tahun 60-an dengan salah satu tokohnya adalah Harold Garfunkel yang menekankan pada bagaimana manusia mempergunakan akal sehat atau pengetahuan sehari-hari mereka dalam memahami atau menghadapi realita, dan etnometodologi ini adalah suatu bentuk penelitian lapangan yang sebenarnya agak mencampur metode-metode kualitatif ini dengan sedikit mencoba eksperimen, mereka mencoba menempatkan orang-orang dalam kondisi-kondisi atau situasi-situasi yang tidak biasa dan mencoba mengamati dan melakukan wawancara dengan orang tersebut, bagaimana orang tersebut mengatasi situasi yang tidak biasa itu dengan akal sehat mereka, misalnya: bertemu seseorang, kemudian kita bertanya, sebelum dia menjawab kita berjalan atau misalnya kita pergi ke sebutah toko swalayan, kemudian kita bertanya kepada seorang pengunjung dan kita anggap dia sebagai pramuniaga toko tersebut dengan cara bertanya: mbak, dimana tempat sabun dan peralatan mandi? Tentu saja dia menjawab bahwa ia bukan pramuniaga, tetapi oleh karena kita ingin mengetahui bagaimana cara orang tersebut menghadapi situasi aneh yang dialaminya dengan mempergunakan akal sehat yang dimilikinya, kita tetap menganggapnya sebagai pramuniaga. Ini adalah contoh penekanan dalam etnometodologi. Jadi, ini sebenarnya hanya sekedar variasi-variasi dari penelitian dengan penekanan yang berbeda-beda. Secara umum apa yang dilakukan oleh seorang peneliti lapangan dalam menghadapi kejadian-kejadian biasa, maupun luar biasa, atau kejadian sehari-hari dalam setting alaminya. Terdapat sedikit masalah yang harus kita perhatikan. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penelitian kualitatif ini bukan penelitian yang berangkat tanpa teori, tetapi masalahnya disini adalah teori mana yang kita pergunakan, karena hal tersebut bisa mempengaruhi akhirnya penekanan mana dari kejadian ini yang akhirnya kita amat. Jika kita baca tulisan Cilfford T. Geertz dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya, dalam tulisan-tulisannya, mereka benar-benar memperhatikan kebiasaan sehari-hari masyarakat. Jadi ia mempelajari atau mendeskripsikan misalnya sabung ayam di Bali, mendeskripsikan pembicaraan tiga orang pemuda Bali, dalam artikelnya internal conclusion, dideskripsikan secara mendalam apa-apa yang mereka bicarakan dan dia analisis. Pengamatan terhadap apa sih yang dilakukan ketika orang hidup di dalam kota Pare: pergi ke mesjidnya jam berapa? Doa-doanya seperti apa?

Alasan dia melakukan hal ini adalah karena dalam pandangan teoritiknya, simbol-simbol yang ingin diketahui maknanya tersebut muncul di dalam setiap peristiwa. Geertz sendiri mengartikan simbol-simbol ini sebagai sesuatu yang bisa berupa apapun: obyek bisa, kata-kata bisa, peristiwa bisa. Jadi, karena hal tersebut ada dalam kehidupan kita sehari-hari, maka itu lah yang seharusnya kita pelajari, tetapi jika kita misalnya mempelajari buku-buku atau referensi-referensinya, katakanlah orang seperti Hector Turner ia mempunyai pandangan yang berbeda. Jika hendak mempelajari makna, simbol saatnya adalah ketika dalam masyarakat tersebut terjadi krisis atau peristiwa besar, karena menurutnya, pada saat-saat seperti itulah yang namanya simbol-simbol benar-benar diangkat ke permukaan oleh masyarakatnya. Jadi, kita benar-benar tahu arti dari simbol-simbol itu dalam peristiwa krisis ini: krisis kehidupan individu maupun sosial. Jadi yang mana yang akan kita perhatikan, kebiasaan sehari-hari atau kejadian-kejadian luar biasa, maka itu tergantung juga pada pandangan teoritik yang akhirnya kita rangkul.

Tanggapan pertanyaan:

Biasa atau tidak biasa, tergantung dari pandangan masyarakatnya dan oleh karena itulah seorang peneliti biasanya tidak akan hanya sebentar tinggal dalam suatu kelompok masyarakat. ia paling tidak harus hidup atau mengamati mereka dalam satu siklus kehidupan, sehingga bisa melihat dimana sebenarnya peristiwa-peristiwa ini. Jadi misalnya kita melihat bahwa ini ada pola-pola rutinitasnya dalam kehidupan sehari-hari yang artinya subsitensi mereka, kebiasaan rutin mereka sehari-hari saja. Tetapi jika ada peristiwa-peristiwa yang oleh mereka sendiri dianggap bisa atau punya potensi untuk mengganggu masyarakat, maka itulah krisisnya. Jika hendak melihat simbol, maka harus dilihat pada saat krisis. Kapan krisisnya terjadi? Masyarakat sendirilah yang menentukan, teorinya mengarahkan kita untuk melihat simbol-simbol itu pada saat krisis.

Kemudian, sudut pandang orang yang diteliti sekaligus mempertahankan perspektif analisis kita sebagai orang luar ini adalah berusaha sedekat mungkin dengan masyarakatnya, mempergunakan kerangka berpikir mereka, tetapi jangan sampai dilupakan kita sebagai seorang peneliti, karena hal-hal ini tidak mustahil terjadi, dalam literatur ilmu sosial keadaan ini disebut sebagai going native (menjadi pribumi), sebegitu dekatnya ia dengan orang yang diteliti, begitu terperangahnya dia dengan kebiasaan-kebiasaan mereka, akhirnya ia mengambil itu sebagai bagian dari kehidupannya sendiri, hingga ia lupa sama sekali bahwa ia seorang peneliti, menjadi tidak peduli dengan sponsor atau keluarga dan akhirnya tinggal secara permanen dengan mereka. Orang-orang seperti ini akhirnya beralih menjadi orang yang mengadvokasi masyarakat tersebut. Jika setelah penelitian selesai kemudian membuat laporan dan kembali lagi ke lokasi penelitian, maka hal seperti ini tidak masalah, tetapi jika sampai kehilangan perspektif sebagai seorang ilmuwan, maka hal-hal yang seperti ini lah yang harus dihindari.

Selanjutnya, mempergunakan berbagai ketrampilan sosial secara luwes sesuai tuntutan situasi. Jadi bukan soal metode pengumpulan datanya, tetapi bagaimana kita bisa berbasa-basi, bisa memberikan forma yang layak di dalam masyarakat yang kita teliti, bagaimana kita bisa berinteraksi dengan mereka.

Kemudian, menghimpun data dalam bentuk catatan rinci, bagan, peta maupun gambar-gambar untuk keperluan deskripsi.

Pada dasarnya, yang dilakukan oleh peneliti kualitatif (termasuk kuantitatif) ketika mereka turun ke lapangan, maka hal pertama yang mereka lakukan adalah pemetaan, yang bukan hanya merupakan deskripsi, tetapi juga untuk membantu si peneliti dalam proses pengumpulan datanya nanti. Jadi bukan menggambarkan peta-peta yang ada di kantor desa. Tentunya peta-peta itu disusun untuk keperluan-keperluan lain dan bukan untuk keperluan si peneliti. Kita menyusun peta-peta ini sekaligus memikirkan apa-apa yang kita butuhkan, kita menandakan hal-hal yang penting bagi kita sebagai peneliti dan juga sekaligus berkenalan dengan masyarakat setempat dan menghimpun data dalam bentuk catatan-catatan rinci yang merupakan suatu ciri khas dalam penelitian lapangan kualitatif. Bahwa data itu akhirnya akan bertumpuk-tumpuk karena catatan tersebut benar-benar rinci, tetapi dengan tetap berpegangan pada prinsip-prinsip:

Pertama, bahwa catatan kita harus kongkrit dalam pengertian ketika kita menyusun penelitian lapangan, kita terhindar sejauh mungkin menarik kesimpulan-kesimpulan yang terlalu cepat, sebab jika kita menyimpulkan data pada saat kita juga mengumpulkannya, berarti kita sudah terlalu memaksakan kerangka berpikir kita dan hal ini bisa membahayakan analisis kita dikemudian hari, misalnya kita masuk ke suatu desa, kemudian di desa tersebut kita melihat rumah yang menurut kita kumuh, dan kemudian kita dengan gampangnya menyebut bahwa desa tersebut dalam kategori desa kumuh. Masalahnya adalah jika nanti kita menganalisis data kita, kategori kumuh disini standar siapa? Yang jelas pasti telah digunakan standar si peneliti sendiri. Menyusun catatan kongkrit dalam arti bahwa kita mengambarkan sebuah situasi agar orang yang membaca catatan lapangan kita benar-benar bisa menempatkan dirinya membayangkan apa yang dilihat oleh si peneliti sendiri: rumah yang berdempet-dempetan, terbuat dari ½ bata dan ½ gedek, cat dinding yang sudah mulai mengelupas, daun-daun pintu yang lepas dan seperti inilah catatan-catatan kongkrit tersebut dan hal-hal seperti ini lah yang harus ada dalam catatan lapangan kita. Jika kita misalnya mengatakan rumah itu kumuh, maka hal-hal seperti ini tidak akan menggambarkan apa-apa.

Kegunaan catatan rinci ini apa? Hal ini berguna pada saat selesai survey, dengan menganaisis data ini kita berusaha menemukan pola-pola, data ini sebenarnya berbicara tentang apa? Kita tidak bisa menarik kesimpulan, misalnya orang ini marah: ketika seorang peneliti suku Jawa tiba-tiba harus meneliti di tanah Batak dimana dalam berbicara selalu keras dan tegas. Seharusnya catatan lapangan si peneliti berbunyi seperti ini: yang diteliti berbicara dengan nada yang keras hingga terdengar sampai ke tetangga sebelah, dst, sehingga si peneliti bisa melihat pola-polanya dengan lebih obyektif.

Prinsip lain selain kongkrit adalah verbatim, atau kata demi kata. Untuk ini kita bisa mempergunakan alat bantu, misalnya jika seseorang berbicara dalam bahasa Jawa, kita coba rekam dalam bahasa jawanya, jika orang berbicara dengan logat atau istilah yang aneh-aneh, kita pergunakan istilah aneh tersebut. Jangan kita ganti dengan kata-kata lain, karena sudah tidak akan mencerminkan apa yang menjadi realitanya dan disini alat rekam membang sangat membantu.

Selanjutnya salah satu ciri dari catatan lapangan yang baik adalah bahwa si peneliti iut bukan hanya menggambarkan apa yang hendak ia kaji, tetapi juga menggambarkan kedudukannya dalam proses pengumpulan datanya, dia mencatat bukan saja jawaban-jawaban informan, tetapi juga pertanyaan-pertanyaannya sendiri, bagaimana ia menanyakannya, dia harus ada terus, jika ada peneliti yang sudah capek kemudian ia bertanya kepada seorang informan, maka ia harus sadar bahwa kelelahannya itu mungkin menyebabkan ia bertanya dengan cara yang kurang baik, sehingga informannya itu akan menjawa dengan ala kadarnya, misalnya pertanyaan kepada seorang petani: bagaimana jika kemudian PT nya datang, terus kemudian menawarkan pupuk? Jika pertanyaan itu diajukan sebagai pertanyaan datar, mungkin akan membawa reaksi mungkin yang seolah-olah bahwa PT tersebut kurang baik, seolah-oleh pendapat tentang PT tersebut mengajak konspirasi dengan si petani, seolah-olah kita sudah memihak kepada si petani: tentunya kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda jika kita menanyakan dengan cara yang lebih baik.

Oleh karena itu, selain harus kongkrit dan verbatim, maka peneliti harus menggambarkan kondisi wawancaranya, jadi bukan informasi yang diperoleh saja, tetapi kondisi si peneliti juga, pengamatan-pengamatan dia ketika berinteraksi atau wawancara. Biasanya seorang peneliti akan menjadikan sebuah halaman catatan lapangan dengan membuat satu atau dua kolom dan kemudian berisi pula catatan-catatan umum, tanggal wawancara, siapa-siapa saja yang diwawancarai, lokasi wawancara, topik yang dibicarakan, dst. Apa-apa yang terdaftar tergantung relevansinya dengan masalah penelitiannya. Jadi, jika kita meneliti tentang petani, maka perlu dicatat pada saat itu tengah musim apa? Kering atau hujan. Jika kita meneliti anak-anak jalanan, musim mungkin tidak penting, tetapi mungkin lebih penting kondisi cuaca pada saat kita wawancara: panas, hujan, mendung. Pada saat-saat seperti itu bagaimana kehidupan mereka?

Jadi pada pokoknya kondisi-kondisi obyektifnya dan ter masuk juga siapa yang hadir: pewawancara dan informan, isi jalannya wawancara, semua catatan yang verbatim dan kongkrit, termasuk pertanyaan-pertanyaan si peneliti, juga pengamatan-pengamatan si peneliti pda kejadian-kejadian wawancara-wawancaranya, misalnya ketikan wawancara dengan aparat desa: bagaimana pak kondisi disini?, ketika sedang wawancara tiba-tiba Kades masuk ke ruangan dan suara yang diwawancarai mulai pelan dan berbisik-bisik. Apakah ia takut di dengan Kadesnya? Sehingga hal-hal seperti ini harus dicatat untuk nantinya ketika kita baca kembali, timbul pertanyaan dalam hati: ini orang kenapa ketika Kadesnya masuk, bicaranya menjadi pelan dan berbisik-bisik dibandingkan ketika pertama wawancara keras dan lantang: apakah karena ia menaruh hormat yang sangat dalam atau justru sebaliknya karena takut kepada Kadesnya, karena menginformasikan sesuatu kepada si peneliti? Segera si peneliti seharusnya mencari apa yang sebenarnya terjadi, tentunya ini berarti bahwa kita akan memecah perhatian kita mengenai apa yang diomongkan orang dan apa yang terjadi disekitarnya, tetapi hal-hal seperti itu lah yang harus dilakukan dalam suatu penelitian lapangan.

Biasanya juga kolom-kolom catatan lapangan dipergunakan untuk komentar-komentar si peneliti dalam arti boleh berisi komentar-komentar yang sifatnya pribadi, maupun mengingatkan si peneliti tentang masalah-masalah teoritik, misalnya: ketika ia baca, seketika itu ia ingat: ini mengingatkan saya pada teori seorang pakar A, misalnya lagi, pada kejadian kemarin ketika wawancara dengan informan. Semua catatan-catatan yang tidak langsung berkenaan dengan datanya, akan kita pisahkan, agar pada saat melakukan analisis kita pada saat yang terakhir kali, kita benar-benar tahu mana yang merupakan ucapan informan, mana kejadian di lapangan, mana ucapan kita dan mana hasil kesimpulan kita, jangan dikacaubalaukan mana yang merupakan dugaan-dugaan dan mana yang merupakan data kongkrit.

Ini hanya merupakan salah satu alternatif, artinya jika kita mempunyai sistem lain boleh-boleh saja, tetapi yang terpenting adalah memisahkan kejadian atau data kongkrit/nyata yang terkumpul dengan komentar-komentar kesimpulan kita. Dengan cara lain misalnya dengan tanda kutip, huruf miring, dsb dan yang penting kita konsisten dengan itu.

Selanjutnya, yang dilakukan peneliti itu juga adalah memandang suatu gejala secara holistik maupun individual dalam konteks budaya masing-masing, dalam arti bahwa kita melihat secara keseluruhan keterkaitan antar sekian banyak unsur yang mungkin terkait sehingga yang tidak terkait jangan dipaksakan.

Kemudian, mengembangkan empati dengan orang yang diteliti, mencoba merasakan apa yang mereka rasakan, memperhatikan aspek-aspek budaya baik yang eksplisit maupun yang implisit: aspek-aspek budaya yang tampak, yang terdengar, yang mudah diungkapkan oleh masyarakatnya sendiri maupun passive knowledge, covert dan … adalah aspek-aspek yang sebenarnya diikuti oleh masyarakat, tetapi sulit untuk mereka ungkapkan, kita harus menggalinya terus atau kita harus benar-benar mencari ahlinya seperti misalnya ahli tata bahasa. Jika kita selalu berbicara bahasa Indonesia diantara kita, maka itu disebabkan karena kita mengaku mengetahui tata bahasa Indonesia, tetapi sekalinya seseorang datang dan meminta kita menjelaskan tentang tata bahasa Indonesia, kita akan kelabakan atau paling banyak hanya 1/3 nya yang dapat menjelaskan mengenai hal itu: bahwa tata bahasa Indonesia seperti ini, seperti itu, kenapa digunakan hukum DM dan bukan MD, misalnya istilah mantan khusus untuk manusia dan bukan bekas saja. Tata bahasa Indonesia adalah aturan berbahasa yang kita pergunakan sehari-hari, hanya sangat sulit bagi kita untuk mengungkapkannya. Jadi, si peneliti harus pandai-pandai untuk mengungkapkan hal-hal yang eksplisit dan yang implisit seperti itu.

Aturan selanjutnya adalah, kita tidak memaksakan sudut pandang kita sebagai orang luar. Ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam penelitian kualitatif (transedental sebagai lawan pendekatan kuantitatif yang technocratic).

Kemudian mampu menghadapi stress, rasa ketidakpastian, masalah-masalah etis. Banyak orang yang mengalami stress dalam melakukan penelitian lapangan, misalnya mengadakan penelitian yang di tempat yang sama sekali asing bagi peneliti, sehingga kebiasaan-kebiasaan yang biasa dinikmatinya tidak diperoleh ditempat itu atau ia tidak mampu mengumpulkan data yang sebenarnya ia butuhkan, padahal misalnya pada situasi yang ia kenal baik, kemampuan untuk melihat dan menemukan data tidak dipunyainya, sehingga peneliti menjadi uring-uringan, pada saat wawancara dia tidak bisa menemukan pola-polanya seperti apa. Stress seperti ini biasanya disebabkan kerangka teorinya tidak beres, oleh karenanya dari awal kerangka teori dan permasalahannya tidak fokus, sehingga pada saat turun ke lapangan, ia tidak tahu data apa yang harus ia kumpulkan, akhirnya penelitian terbengkalai. Sehingga hal seperti itu merupakan masalah-masalah yang sangat tergantung dari kemampuan individu peneliti untuk mengatasinya.

Kemudian, langkah selanjutnya (tidak mutlak harus berurutan), sekali lagi mengkaji bahan pustaka dan melakukan difocussing adalah seleksi…

Karenanya adalah integritas dari si peneliti sendiri, kerena tergantung dari kepercayaan kita, maksudnya kita sebagai calon pembaca pelaporannya nanti terhadap si peneliti itu sendiri, jika giliran kita yang meneliti, maka harus bisa memunculkan atau menumbuhkan kepepercayaan terhadap diri kita sendiri sebagai peneliti. Bagaimana caranya?, yaitu dengan menyajikan laporan dan data yang memang bisa dipertanggungjawabkan (valid dan andal atau reliable). Kita harus selalu melakukan cross check terhadap data yang kita kumpulkan, dengan cara: membandingkan data yang ada dengan dar yang diperoleh dari sumber lain, salah satu bentuk dari triangulasi, data yang diperoleh dari salah seorang informan dibandingkan dengan apa yang diceritakan oleh informan lain, data berdasarkan wawancara kita bandingkan dengan data berdasarkan pengamatan, lalu dari data yang sudah kita miliki, kita lihat, kita uji konsistensi internal data tersebut. Konsistensi internal adalah dari kumpulan data tidak ada lagi hal-hal yang bertentangan dengan bagian-bagian data yang lain, misalnya melakukan penelitian tentang kemiskinan lalu kemudian berdasarkan pengamatan kita terhadap seseorang informan yang katakanlah mempergunakan sesuatu yang kita anggap mahal yang tidak pada tempatnya dalam kehidupan mereka, maka disini terdapat inkonsistensi dalam data kita, maka kita harus kembali lagi ke bagian pertama dan kita harus cross check kembali dengan sumber-sumber lain.

Pemeriksaan ulang oleh subyek penelitian maupun peneliti lain, merupakan hal yang diperbolehkan, kita berulangkali bertanya kepada informan kita, bahkan sampai laporan terakhir pun kita masih bisa bertanya kepada informan, benarkah laporan ini kira-kira menggambarkan desa bapak? Hal ini memang sesuatu yang lazim dilakukan. Sehingga kita tidak menganggap diri kita sebagai pengumpul data yang begitu mahir, sehingga kita menganggap tidak akan pernah terjadi kesalahan-kesalahan dan juga kita harus memberikan data kita tersebut untuk diperiksa atau dicek oleh peneliti lain, kita harus membiarkan secara terbuka data-data lapangan kita. Peneliti dalam penelitian kualitatif harus menyadari benar mungkin terdapat bias pribadinya, nilai-nilai pribadinya, asumsi-asumsi pribadinya dan itu sebenarnya masuk ke dalam interpretasi dia dan ini harus dinyatakan secara eksplisit dalam laporan penelitian. Jangan berpura-pura atau berpretensi bahwa kita begitu obyektifnya sebagai seorang peneliti. Bedanya kita wawancara dengan seseorang pada saat dia sedang kepanasan dan ketika saat ia sedang nyaman, bedanya kita sedang wawancara dengan informan yang ternyata mempunyai preferensi-preferensi yang tidak sesuai dengan preferensi kita sendiri, apakah preferensi seksual, gaya hidup. Artinya seseorang peneliti yang pada akhirnya bertemu dengan informan yang sebenarnya tidak ia sukai, karena informan tersebut mewakili partai atau aliran kepercayaan terentu atau di media diekspos sebagai orang yang kerap melakukan KKN misalnya, maka bias-bias seperti itu masuk ke dalam hasil wawancaranya dan itu harus kita ungkapkan dalam laporan penelitian kita sejauh kita menyadarinya. Misalnya lagi, jika informan mengatakan A kemarin, B hari ini dan C keesokannya, maka justru hal seperti inilah yang menjadi masalah penelitian kita, inkonsistensi dia atau mungkin saja hal tersebut merupakan strategi dia atau itu mungkin karena kekurangan informasi dari pihak-pihak lain, mungkin berdasarkan cara berpikir yang memang berbeda, tetapi itu lah realitanya.

Tanggapan pertanyaan:

Ketika kita membuat laporan penelitian, ketika kita bertanya kembali: apakah memang bapak berbicara seperti ini? Dan kemudian ia menolak bahwa ia telah mengatakan hal seperti itu. Hal-hal seperti ini kemungkinan terjadi, bukan hanya berbicara berganti-ganti seperti Gus Dur, tetapi bahkan dengan informan sehari-hari pun bisa terjadi. Tetapi masalahnya adalah kondisi-kondisi yang terjadi pada saat melakukan pengumpulan data, kondisi-kondisi pda saat kita memunculkan kembali laporan kita saat penelitian selesai, itu bisa berbeda, misalnya pada saat melakukan wawancara dia ngomongnya begini..begini, kemudian kita membuat laporan, misalnya pada saat itu Kadesnya sudah bukan lagi Kades, akhirnya ia ungkapkan bahwa sebenarnya ia sangat tidak puas dengan Kadesnya, artinya ia menentang pendapatnya sendiri, karena memang dari dulu berbohong kepada kita, ada kepentingan-kepentingan politis yang dimiliki informan ketika ia berhadapan dengan kita sebagai peneliti dan kepentingan itu bisa dia coba wujudkan pada saat pertemuan pertama dengan wawancara atau belakangan, sehingga kita tidak bisa mengandalkan hanya satu informan saja, dengan mewawancarai informan-informan lain dan ini harus kita perhatikan juga.

Tanggapan pertanyaan:

Dalam penelitian kualitatif, juga harus tetap menggunakan literatur-literatur dengan pengertian bahwa masalah penelitian yang kita rumuskan itu adalah masalah yang merupakan konstruksi teoritik kita. Geertz sekalipun tetap menggunakan literatur-literatur, dalam merumuskan permasalahannya ternyata Geertz berpijak pada pemikiran yang Weberian sifatnya, artinya dalam merumuskan masalah penelitiannya, dalam merumuskan bagaimana kehidupan masyarakat Jawa, ia sebenarnya mengacu kepada sistem pemaknaan yang dibicarakan Weber. Bagaimana Geertz berbicara apa yang dikatakan oleh Robert Redvil(?) tentang masyarakat pedesaan?

Dalam laporan, misalnya kita bisa menyusun gambaran suatu masyarakat yang deskriptif sifatnya, yang diambil dari data kita sendiri, sehingga dalam tahap ini kebutuhan akan literatur akan kurang, tetapi ketika kita menyusun rencana penelitian itu sendiri jika kita tidak mengacu kepada literatur-literatur, maka kita tidak mempunyai konsep atau teori, kita tidak akan mempunyai masalah penelitian, oleh karena masalah peneltian itu merupakan konstruksi teoritik kita, bagaimana kita meneliti kemiskinan jika kita tidak mempunyai bayangan apa itu miskin, sehingga apapun bentuknya kita harus memilikinya terlebih dulu, apapun bentuknya, seberapapun sederhananya, pengertian kemiskinan itu harus sudah ada terlebih dulu dalam pikiran kita, jika tidak kita tidak tahu harus mewawancarai siapa, harus pergi ke mana. Alih-alih kita hendak meneliti kemiskinan, karena tidak mempunyai bayangan sama sekali dengan apa pengertian kemiskinan itu, misalnya dicarilah informan di Pondok Indah. Jika kita sudah mempunyai bayangan, apa sih sebenarnya yang dimaksudkan sebagai kemiskinan, maka barulah kita bisa melakukan penelitian. Pertanyaannya adalah darimana diperoleh bayangan-bayangan itu? Tentu kita akan memperolehnya dari kajian pustaka. Bedanya dengan penelitian kuantitatif adalah, bahwa apa yang kita baca itu (dalam kualitatif) tidak menjadi patokan, tetapi hanya sekedar menjadi sebuah panduan, sehingga kita tidak terpaku. Sedangkan pada kuantitatif, konsep kemiskinan misalnya sudah memiliki kriteria-kriteria tertentu, kita turunkan ke kuisioner, kita tanya kepada masyarakat, siapa yang tergolong miskin. Bagi kualitatif, hal ini hanya panduan saja, panduan langkah awal, kemudian mencari informan-informan, informan-informan itu akan mengarahkan kita kepada informan-informan lain dan mungkin jika kita sudah berkenalan dengan mereka, kita sudah mendapatkan gambaran/pemahaman yang lengkap tentang apa arti kemiskinan bagi mereka, misalnya ketika dalam penelitian kita temukan sebuah penyataan bahwa masyarakat mereka bukan masyarakat miskin, padahal jika melihat kriteria pemerintah, mereka tergolong miskin, maka penelitian kualitatif berusaha untuk mengungkap hal-hal seperti ini.

Grounded theory, merupakan suatu istilah yang kerap muncul dalam pembahasan penelitian kualitatif, tetapi kerap pula membingungkan dan kadang-kadang disalahartikan. Teori dikembangkan selama proses pengumpulan data, analisis data dan pengumpulan data berjalan bersamaan. Jadi dalam sebenarnya dalam menyusun data agar terlihat polanya dan kemudian kita usahakan hal ini naik menjadi sebuah teori dan peneliti menemukan teori melalui perbandingan.

Gambaran perbedaan antara kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuantitatif, si peneliti ingin menguji sebuah teori, menurunkan teori tersebut menjadi hipotesisnya, kemudian ia membuat operasionalisasi konsepnya atau variabel-variabelnya dan ia menggunakan kuisioner atau insrumen penelitian lain untuk mengukur variabel tersebut. Jadi, teori berada di atas dan kemudian menjadi patokan-patokan untuk mengumpulkan data.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengumpulkan informasi terlebih dulu, tetapi tentunya seperti yang sudah disinggung dimuka, harus sudah mempunyai teorinya terlibih dulu walaupun hanya sekedar panduan saja, selanjutnya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dari itu semua ia kemudian menemukan kategori data, artinya data tersebut bisa dipilah-pilah berdasarkan tema yang ia temukan di lapangan, kemudian dicari polanya, apa yang terkait dengan apa: apakah ini terkait dengan itu, dst? Jika dia berhasil menemukan teori, kemudian ia bandingkan dengan teori-teori lain, tetapi yang namanya teori cakupannya bisa berbeda-beda, ada teori yang besar sekali cakupannya, ruang lingkupnya, ada yang ruang lingkupnya sempit, sehingga sebenarnya untuk terori-teori yang sempit ruang lingkupnya, proses ini bisa terjadi sebagai bagian dari keseluruhan penelitian dia. Jadi ini bisa terjadi beberapa kali, dia banding-bandingkan lagi melalui teori dst sampai akhirnya mendapatkan yang terakhir.

Tanggapan pertanyaan:

Yang terpenting adalah teori yang ada dalam kuantitatif itu sifatnya, peran atau fungsinya itu adalah pada awal penelitian untuk kita deduksi darinya. Kita mereduksi darinya.

Sedangkan pada penelitian kualitatif kita sebenarnya melakukan induksi, dalam suatu penelitian kualitatif sebenarnya bisa terjadi jika ruang lingkupnya sempit dalam satu level saja, ia sebetulnya sudah menemukan teori yang ia inginkan atau ia sudah bisa sampai kepada tingkat ini. Jadi ini sebenarnya lebih kepada fungsi teori di dalam sebuah penelitian kuantitatif kualitatif tetapi bukan kepada level analisisnya.

Fungsi level analisis sebenarnya dari data itu sendiri sampai kepada pengabstraksian yang paling tinggi, itu terjadi jenjang-jenjangnya, artinya misalnya ada kumpulan data, kemudian kita analisis, kita menemukan sebuah pola tetapi kemudian pola ini bisa dijadikan dasar untuk pertanyaan-pertanyaan selanjutnya sehingga akhirnya kita mendapatkan informasi baru bedasarkan pola-pola yang sudah didapat sebelumnya. Ini kemudian kita analisis lagi, sebenarnya hal tersebut tergambar dalam sikap (?) ini tadi. Terletak dari bagaimana kita menggambarkannya: apakah dalam lingkaran seperti ini, atau gambar seperti ini yang terjadi di dalam kedua proses ini adalah…

Jadi, kumpulkan informasi, kemudian menemukan kategori data, kemudian mencari polanya, pola ini sebenarnya kembali lagi (tetapi tidak harus seperti ini). Jadi, bagan ini maksudnya hanya untuk menggambarkan fungsi teori itu, bagaimana dalam kaitannya dengan data. Bahwa ini nanti akan melingkar atau berulang, maka sebenarnya itu menunjukkan segi-segi kualitatifnya.

Etika Dalam Penelitian Sosial

Bagaimana cara kita mengeliminasi masalah-masalah yang ada dilapangan adalah lebih kepada bagaimana kita berinteraksi dengan peneliti-peneliti senior, bukan sesuatu yang ada dalam text book. Nilai-nilai dalam komunitas ilmiah mendukung terbentuknya etika dalam diri si peneliti itu sendiri, artinya kalau si peneliti ini seseorang yang cenderung tidak melibatkan diri dalam komunitasnya, maka segala yang dia lakukan dalam penelitian, dalam keputusan-keputusan etis yang diambilnya itu tidak terlihat dalam komunitasnya sendiri, dia mendapat dukungan jika ia mengikuti etika dan ia mendapat sanksi jika ia melanggar. Oleh karena itu pembentukan etika dalam peneliti sangat tergantung dari umpan balik antara dia dengan komunitas ilmiahnya. Secara lebih spesifik yang menyangkut masalah ini, si peneliti itu harus menghindari sesuatu yang disebut sebagai scientific misconduct atau penyimpangan dalam tindakan-tindakan keilmiahan kita.

Pertama, apa yang disebut sebagai research false atau pemalsuan, ini bisa menyangkut pemalsuan data, berkaitan dengan substansi penelitian itu sendiri atau berkaitan dengan fokus penelitiannya, yaitu apa yang terjadi dilapangan. Jadi jika pemalsuan data: seharusnya melakukan pengumpulan data dari responden, hanya dapat 900 responden dan misalnya yang 100 dibuat-buat. Dalam penelitian sosial ini disebut dengan istilah penelitian DPR (dibawah pohon rindang). Tentunya ini menyangkut juga peran seorang supervisor dalam sebuah penelitian lapangan, terdapat cara-cara untuk mengontrol ini semua, apalagi dalam marketing research yang sangat teliti terhadap masalah-masalah seperti ini. Jika dalam sebuah survey, seseorang diberi jatah untuk mengambil data di lima rumah, maka setalah dia melakukan wawancara dan mengambil kuisionernya, maka supervisor keesokan harinya akan datang ke lima rumah tersebut dan menanyakan kebenaran bahwa ia telah diwawancara dan berbagai teknik-teknik pengecekan lain yang dilakukan oleh supervisor.

Juga terdapat laporan tentang bagaimana proses penelitian itu dilakukan,jadi bukan substansi datanya yang dipermasalahkan, tetapi keputusan-keputusan yang diambil sipeneliti pada saat ia turun lapangan, misalnya seorang peneliti yang memperoleh data dengan cara menyogok orang, tetapi dalam laporannya ia tidak menyebutkan itu dan ia mengatakan bahwa ia mendapatkan langsung dari responden atau informan yang secara sukarela memberikan informasi tersebut, jadi hal tersebut sebenarnya adalah menyangkut pemalsuan.

Scientific misconduct yang lain adalah sesuatu yang seringkali masuk kedalam pemberitaan adalahplagiat/plagiarism/penjiplakan yang sering terlewatkan oleh orang-orang adalah bahwa penjiplakan itu bukan hanya mengambil tulisan orang tanpa memberikan sumbernya, tetapi juga ide atau gagasan orang. Jadi, walaupun hal itu belum masuk kedalam publikasi, walaupun belum pernah dicetak atau ditulis dimana-mana, maka jika ide itu datang dari orang lain, sebagai ilmuwan kita harus mengakui atau mencatat sumber ide tersebut, misalnya ketika kita sedang melakukan penelitian, tiba-tiba salah seorang dari peneliti mengatakan: kalau begitu kita harus lihat dari sisi ini dan teorinya begini-begini atau seorang peneliti memberikan kepada kita semacam dugaan terhadap suatu masalah, maka jika kita mempergunakan ide tersebut, walaupun ia belum menulis tentangnya, maka saya harus memberikan sumbernya, makanya ketika kita sedang membaca sebuah buku, kadang-kadang ada didalam kurung tulisan personal communication atau komunikasi pribadi, artinya si penulis telah berbicara dengan peneliti atau ilmuwan lain, tetapi hanya sebatas obrolan.

Berikutnya adalah hal-hal tentang etika dan subyek penelitian. Ini pada dasarnya adalah perlindungan terhadap subyek yang dulu muncul akibat banyaknya pelanggaran-pelanggaran hak asasi terhadap masyarakat yang diteliti. Khususnya ini terjadi pada bidang-bidang ilmu kedokteran, yang tejadi pada jaman nazisme pada saat PD II, dimana terdapat eksperimen-eksperimen dalam laboratorium medis jerman yang menggunakan manusian sebagai kelinci-kelinci percobaan untuk eskperimen-eksperimen medis. Dari sejak itulah muncul berbagai macam perdebatan mengenai hak asasi dari orang-orang yang dijadikan subyek penelitian dan sejak itu berlaku juga untuk ilmu-ilmu sosial, karena ternyata penelitian sosial pun mempunyai dampak terhadap orang yang diteliti atau potensi dampak terhadap orang yang kita teliti dan harus mendapat perlindungan-perlindungan yang tertentu. Mengapa? Selain masalah ini, yang harus kita ingat adalah: pertama, subyek itu tidak bisa dipaksa untuk terlibat dalam penelitian kita, kita tidak bisa menyuruh orang menjawab suatu pertanyaan jika orang tersebut tidak mau, kita tidak bisa memaksa agar kita dapat mengamati dia. Dia sebagai seorang subyek pada umumnya tidak minta diteliti, jadi dia sebenarnya sedang melakukan suatu kemudahan bagi kita, jika dia memperbolehkan kita untuk meneliti. Jadi merupakan suatu hak yang melekat pada dia dan bagi kita hal tersebut merupakan suatu privilege (hak istimewa) jika kita boleh meneliti suatu masyarakat tertentu oleh masyarakatnya sendiri.

Yang harus kita ingat adalah, pada dasarnya jika kita melakukan sebuah penelitian, si responden atau informan ini akan memberikan kita informasi, sementara kebanyakan kita tidak memberikan informasi tentang diri kita. Jadi, ini menyangkut masalah kepercayaan (trust) dari orang yang diteliti terhadap orang yang meneliti. Dia mempercayai kita dengan cara memberikan informasi kepada kita. Ini adalah suatu hak yang harus kita hormati dan oleh karena itu kita harus memberikan dia perlindungan yang layak, dalam bentuk: pertama, kita tidak boleh merugikan subyek baik secara materi atau fisik, psikologis, hukum maupun sosial. Salah satu kasus yang sangat terkenal didalam ilmu sosial adalah penelitian yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang psikolog sosial yang meneliti tentang bagaimana seseorang itu cenderung untuk mentaati tokoh-tokoh atau orang-orang yang berada dalam posisi otoritas atau posisi kewenangan. Jadi seandainya kita masuk kedalam sebuah rumah sakit, kita tahu yang berwenang disana adalah dokter dan kita cenderung untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter. Jika kita memasuki sebuah toko, kita tahu yang berwenang disana adalah manager dan pelayan-pelayan tokonya dan kita cenderung untuk mengikuti apa-apa yang mereka katakan. Kecenderungan ini dipelajari oleh Stanley Millgram dengan cara eksperimen, yaitu dengan mengambil sekelompok orang dan dia bagi dua: kelompok yang pertama disuruh untuk memainkan peran sebagai seorang guru, dan kelompok yang kedua menjadi murid. Tes yang diberikan kepada murid sangat gampang: bagaimana kemampuan individu untuk menghafal daftar-daftar istilah. Jadi Milgrum tidak memberitahu kepada orang-orang yang diteliti tentang tujuan utama dari penelitiannya. Dia hanya mengatakan bahwa dia hendak meneliti kemampuan orang untuk mengingat daftar kata-kata istilah-istilah dalam kombinasi-kombinasi tertentu. Kelompok murid ini disuruh menghafal beberapa istilah dan nantinya si guru disuruh minta si murid untuk mengulang kata-kata itu, jika misalnya si murid ini salah maka ia harus dihukum dan si guru yang harus memberikan hukumannya. Kemudian, cara dia melakukan tes ini tidak dengan berhadap-hadapan: tetapi berada pada dua ruangan yang berbeda dan simurid sebenarnya suadah diajak sekongkol, artinya Milllgrum mengatakan, nanti jika siguru memberi hukuman kepada kamu, kamu harus pura-pura sakit. Siguru berada di ruangan lain dan tidak lihat muridnya dan cara dia menanyakannya: kamu hafal nggak, daftar istilah-istilah ini, tiap kali murid salah cara menghukumnya adalah disetrum, jadi di depan si guru ini diberikan semacam tombol (bohongan) tapi tombol ini dikatakan mengatur aliran listrik. Jadi jika salah satu kali disetrum sedikit, setiap kesalahan berikutnya voltase dinaikkan sampai kepada voltase yang bisa mematikan. Dan si murid setiap kali salah disuruh untuk pura-pura teriak, dst. Kebanyakan dari mereka yang menjadi guru ketika mereka harus menaikkan voltasenya, terlihat mulai ragu-ragu, tetapi dibelakang mereka, selalu berdiri orang yang mengawasi yang mempergunakan baju dokter/perawat dan berpenampilan seolah-olah orang yang mempunyai otoritas kedokteran, terus sikapnya acuh tak acuh dengan membawa clipboard dan mencatat-catat tanpa perasaan, tetapi tiap kali si guru ragu-ragu, orang yang berbaju putih ini selalu mengatakan: teruskan saja! Dst sampai akhirnya pada suatu voltase dimana, si murid tidak kelihatan lagi dan si guru bingung apakah sudah pingsan atau bagaimana. Dari hasil penelitiannya Millgrum hipotesanya benar, dugaannya benar bahwa ternyata seorang individu itu kalau terus ditekan oleh seseorang yang mempunyai otoritas, dia akan cenderung untuk mengikuti walaupun dia tahu bahwa itu bisa membahayakan orang lain. Masalah etikanya disini adalah: bahwa pertama ia tidak memberitahukan tujuan utama penelitiannya, kedua terdapat kerugian psikologis dari subyek yang ia teliti. Jadi yang harus menjadi guru tadi, akhirnya secara mental benar-benar stress: masa sih saya bisa jadi tega seperti itu? Jadi ketika kita melakukan penelitian, maka yang harus kita perhatikan secara psikologis adalah hal-hal yang seperti ini. Memang kondisi-kondisi seperti ini jarang terjadi di lapangan, tetapi bukan juga sesuatu yang mustahil terjadi. Kita berhadapan dengan responden, tetapi karena kita terlalu dekat dengan mereka maka ketika mereka harus berhadapan dengan anggota masyarakat yang lain, maka akhirnya identitas mereka lebih banyak ditentukan oleh kehadiran kita sebagai peneliti ketimbang diri mereka sendiri, artinya gengsi mereka dalam masyarakat itu tergantung kepada kita sebagai peneliti, sehingga manakala kita tinggalkan karena misalnya penelitian selesai, unsur psikologis mereka pun terganggu.

Penelitian tentang kecenderungan membayar pajak, lalu kita mengumpulkan data dari sekian banyak responden yang setelah itu kita buat laporannya, ternyata setelah pemerintah daerah membaca laporannya: didaerah ini kok pajak yang terkumpul relatif rendah dibandingkan dengan daerah lain. Sehingga pada akhirnya daerah tersebut dijadikan sasaran utama peningkatan pajak daerah dan orang-orang yang diteliti akhirnya yang terkena kebijakan-kebijakan baru. Penelitian terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan menyimpang dalam masyarakat: penelitian tentang penyelundupan TV TV besar, siapa yang membeli dan siapa yang menjual, sampai-sampai dia diberi kesempatan oleh subyek penelitian untuk ikut dagang, masalahnya adalah apa yang harus dia lakukan: dia tahu bahwa itu adalah pelanggaran hukum, apakah dia harus melapor ke polisi atau dia diam saja atau dia menghentikan saja penelitian dia: ini adalah masalah-masalah yang harus diselesaikan dalam etika penelitian: dan seperti yang sering dikatakan bahwa ini adalab bukan suatu masalah yang gampang untuk dicarikan jawabannya, jika misalnya kita melakukan penelitian seperti itu dan kita mengamati suatu tindakan pelanggaran hukum, maka bisa kita diam saja dan kita menanggung konsekuensinya yaitu secara mental mungkin kita akan terganggu/depresi, kita menolak untuk ikut artinya penelitiannya berhenti saja dan kita berdiam diri atau kita melapor ke polisi dengan akibat hilangnya kelompok yang kita teliti dan dampak-dampak yang belum terlihat. Artinya kita sudah terlalu jauh dan kita sudah menghilangkan perimbangan antara perngembangan ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan orang lain. maksudnya, jika kita tidak mendapatkan data tentang pelanggaran hukum tersebut, maka kita tidak bisa membangun teori tentang pelanggaran hukum dan kita tidak bisa menggunakan teori-teori itu untuk mengawasi dan mengendalikan pelanggaran hukum di kasus-kasus yang lain.

Kita juga harus menghindarkan data yang memungkinkan identitas tertentu itu diketahui atau disimpulkan (invert identity). Jika misalnya kita meneliti dan misalnya kita membuat tabel tentang jenis-jenis pekerjaan di satu desa, dan kemudian di desa itu misalnya hanya ada satu orang dokter, lalu dalam laporan penelitian kita menulis tentang pernyataan-pernyataan dokter yang berbicara tentang ini, ini, ini, maka orang yang membaca mungkin bahwa dokter yang dimaksud adalah dokter X, siapa lagi kalau bukan dia, walaupun kita tidak menyebut nama, orang akan tahu siapa yang menjadi sumber informasinya. Jadi kita jangan menarik pembaca untuk berkesimpulan tentang identitas orang-orang tertentu dalam laporan kita. Karena kita harus menjaga kerahasiaan dari responden atau informan itu sendiri, kita harus menjaga siapa sebenarnya yang berbicara tentang sesuatu. Sebenarnya dalam hubungan antara peneliti dengan subyek penelitiannya, maka si sunyek telah memberi kepercayaan terhadap si peneliti bahwa ia akan memberikan informasi dan kepercayaan itu adalah sesuatu yang harus kita hormati. Jika ia mengatakan tidak menjadi masalah jika namanya tercantum dalam laporang penelitian, tidak masalah, tetapi misalnya dia meminta dari awal jika dapat tidak disebutkan namanya, maka harus kita hormati. Juga, jika masalahnya itu juga menyangkut survey maka sebenarnya survey itu juga tidak be rbicara pada tingkat individu, tetapi sudah berbicara pada tingkat populasi dan oleh karenanya relevansi identitas sudah hilang.

Salemba, 2001

2 thoughts on “PENELITIAN KUALITATIF

  1. PENELITIAN GROUNDED THEORY

    Pendahuluan
    Penelitian Grounded Theory (GT) adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis yang diarahkan untuk mengembangkan teori berorientasi tindakan, interaksi, atau proses dengan berlandaskan data yang diperoleh dari kancah penelitian. Metode penelitian ini masih tergolong baru dan pada awalnya digunakan dalam sosiologi. Namun metode ini berkembang pesat dan telah digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Makalah ini membahas konsep-konsep pokok tentang Penelitian GT, yang diawali dengan mengemukakan latar belakang, perkembangan dan pengertian tentang penelitian GT sebagai pengantar. Setelah itu, pembahasan dilanjutkan dengan pemaparan tentang ciri-ciri pokok metode GT dan prosedur pelaksanaan sebuah penelitian GT. Pembahasan ditutup dengan menarik beberapa kesimpulan yang didasarkan pada pemaparan pada bagian-bagian sebelumnya.

    Latar Belakang GT

    Penelitian GT dikembangkan pertama kali pada tahun 1960s oleh dua sosiologis, Barney Glaser and Anselm Strauss berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada pasien-pasien berpenyakit akut di Rumah Sakit Universitas California, San francisco. Catatan-catatan dan metode penelitian yang digunakan dipublikasikan dan menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya. Sebagai respon, Glaser dan Strauss menerbitkan The Discovery of Grounded Theory (1967), buku yang menjelaskan prosedur metode GT secara terperinci. Hingga saat ini, buku ini diterima sebagai peletetak konsep-konsep mendasar GT. Dalam buku ini, Glaser dan Strauss mengkritisi pendekatan-pendekatan penelitian sosiologi yang menekankan verifikasi dan pengujian teori-teori. Menurut mereka, penelitian seharusnya memunculkan konsep-konsep (variabel) dan hipotesis berdasarkan data-data nyata yang ada di lapangan: “de-emphasis on the prior step of discovering what concepts and hypotheses are relevant for the area one wished to research. …In social research generating theory goes hand in hand with verifying it; but many sociologists have diverted from this truism in their zeal to test either existing theories or a theory that they have barely started to generate” (Glaser & Strauss, 1967: 1-2). Sebuah teori yang ditemukan selama penjaringan data akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi. Jadi, teori yang dibangun oleh GT sangat kontras dengan teori yang diturunkan secara deduktif dari grand theory, tanpa bantuan data dan sering kali tidak pas dengan data manapun.

    Ide-ide yang terkandung dalam The Discovery of Grounded Theory merefleksikan latar belakang keahlian kedua pengarang yang cukup berbeda. Glaser merupakan lulusan Columbia University yang berafiliasi pada penelitian quantitatif, khususnya pengembangan teori secara induktif berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif. Pengaruh perspektif induktif terlihat pada penekanan perumusan teori berdasarkan perspektif parisipan yang diteliti. Strauss merupakan lulusan Universitas Chicago yang terkenal dengan tradisi penelitian lapangan kualitaif. Latar belakang ini terungkap pada penekanan Strauss terhadap peneltian lapangan yang dilakukan dengan cara menemui dan secara seksama mendegarkan penuturan individu-individu yang diteliti.
    Setelah penerbitan The Discovery of Grounded Theory, baik Glaser maupun Strauss menulis berbagai buku masing-masing untuk mengembangkan metode GT. Bekerjasama dengan Juliet Corbin, pada tahun 1990 dan 1998 Strauss mengembangkan prosedur dan teknik GT yang kemudian dikenal dengan desain sistematik, dengan bentuk yang lebih preskriptif, dengan kategori-kategori yang telah ditentukan dan penekanan pada validitas dan reliabilitas data. Desain sistematik ini menekankan penggunaan tiga fase analisis data yang dimulai dengan pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif (selective coding) dan pengembangan suatu paradigma logis atau gambaran visual dari teori yang diturunkan.

    Meskipun desain sistematik diadopsi oleh para peneliti kualitatif, beberapa poin dalam pendekatan ini mendapat kritikan. Glaser menyoroti penekanan yang berlebihan terhadap aturan dan prosedur, kerangka kerja yang kaku, dan kecenderungan verifikasi teori (bukan penyusunan teori) yang terdapat dalam desain tersebut. Menurut Glaser, tujuan utama peneliti GT adalah untuk menjelaskan “proses sosial dasar” dengan cara memunculkan teori dari data, bukan hanya sekedar menggunakan kategori-kategori yang telah ditentukan seperti tergambar pada desain sistematik, terutama pada langkah pengodean poros. Sebagai alternatif, Glaser mengajukan desain emerging yang menekankan penggunaan teknik pembandingan berkesinambungan (constant comparative) antara kejadian dengan kejadian, kejadian dengan kategori, dan kategori dengan kategori sebagai inti analisis data. Bagi Glaser, fokus utama GT adalah menghubungkan kategori-kategori dan memunculkan teori, bukan hanya sekedar menggambarkan teori.pada tahap akhir, peneliti membangun dan mendiskusikan hubungan antar seluruh kategori tanpa menghubungkannya dengan diagram atau gambar (Creswel, 2008: 438)

    Pengembang metode GT yang lain, Charmaz (dalam Creswel, 2008: 439), menyatakan bahwa desain yang disusun Straus dan Glaser terlalu kaku dengan prosedur pengumpulan fakta dan penjelasan tindakan sehingga makna yang dinyatakan oleh partisipan dalam penelitian bisa terabaikan. Menurut Charmaz, peneliti GT perlu menggunakan strategi-strategi yang lebih fleksibel dalam rangka ‘menangkap’ dan menjelaskan pandangan, nilai-nilai, kepercayaan, perasaan, asumsi, dan ideologi individu sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena atau proses. Berdasarkan pandangan-pandangannya itu, Charmaz menyusun desain konstruktivis yang memberi penekanan pada makna yang diungkapkan oleh partisipan dalam penelitian. Desain ini dilakukan dengan cara menjelaskan perasaan-perasaan masing-masing partisipan sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena. Desain ini juga menjelaskan keyakian dan nilai-nilai peneliti tapi mencegah kategori-kategorinyang telah ditentukan, sebagaimana halnya terjadi dalam desain sistematik. Laporan penelitian ditulis terutama dalam bentuk penjelasan yang logis serta, secara mendalam, mengupas asumsi-asumsi dan makna yang diungkapkan masing-masing partisipan yang diteliti.

    Pengertian GT

    GT merupakan metodologi penelitian kualitatif yang berakar pada kontruktivisme, atau paradigma keilmuan yang mencoba mengkontruksi atau merekontruksi teori atas suatu fakta yang terjadi di lapangan berdasarkan pada data empirik. Kontruksi atau rekontruksi teori itu diperoleh melalui analisis induktif atas seperangkat data emik berbentuk korpus yang diperoleh berdasarkan pengamatan lapangan. Hal ini didukung Borgatti (1990) dengan menjelaskan bahwa frasa “grounded theory”, nama yang diberikan kepada GT, merujuk pada “theory that is developed inductively from a corpus of data”. Data-data yang dianalisis merupakan emik karena data-data itu diperoleh berdasarkan penuturan, tindakan, dan pengalaman para partisipan. Data-data itu kemudian diidentifikasi, diberi kode, dikategorikan, dan secara konstan dibandingkan satu dengan yang lain. Jika analisis dilakukan dengan baik, teori yang diperoleh akan sangat sesuai dengan fenomena yang diteliti (atau dijadikan sebagai sumber data). Dengan kata lain, ide pokok pendekatan GT adalah analisis kualitatif data lapangan yang dilakukan dengan membaca seperangkat teks (catatan lapangan, transkrip wawancara, atau dokumen-dokumen yang relevan) secara seksama (bila perlu berulang-ulang) untuk menemukan konsep-konsep atau kategori-kategori dan hubungan antar konsep maupun kategori tersebut.
    Teori yang dihasilkan melalui GT merupakan teori substantif, bukan teori formal. Teori substansi adalah teori yang dibangun dari data berdasarkan wilayah substansi penelitian. Sedangkan teori formal menjangkau berbagai subtansi penelitian. Meskipun demikian, penelitian GT bisa saja menghasilkan teori formal, tapi prosesnya dilakukan bertahap dan membutuhkan analisis yang cermat. Jika suatu teori telah berlaku secara valid pada suatu substansi, teori itu bisa dikembangkan pada substansi yang lebih luas atau substansi lain, sampai menghasilkan teori formal.

    Tujuan penelitian GT adalah merekonstruksi teori-teori yang digunakan untuk memahami fenomena. Elliott dan Lazenbatt (2005) mengatakan: “With its origins in sociology, grounded theory emphasises the importance of developing an understanding of human behaviour through a process of discovery and induction rather than from the more traditional quantitative research process of hypothesi testing and deduction.” Oleh karena itu, GT sesuai digunakan dalam rangka menjelaskan fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Haig (1995) mengatakan bahwa meskipun GT pada awalnya diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi, metode ini dapat dan telah digunakan dengan baik di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi. Khusus di bidang pendidikan, Creswell (2008: 432) mengatakan bahwa GT sangat sesuai digunakan untuk meneliti proses pengembangan kemampuan menulis di kalangan siswa atau proses pengembangan karir di kalangan wanita Amerika-Afrika dan Kaukasia yang berprestatsi tinggi. GT juga sesuai digunakan untuk meneliti tindakan manusia, seperti proses keikutsertaan para peserta yang mengikuti kelas-kelas pendidikan orang dewasa, atau untuk meneliti interaksi antar individu, seperti dukungan yang diberikan para pejabat sebuah jurusan kepada para peneliti fakultas.

    Ciri-Ciri Utama Penelitian Grounded Theory

    Seperti terungkap dari paparan latar belakang di atas, penggunaan dan pengembangan di berbagai disiplin ilmu membuat GT terbagi dalam tiga pendekatan. Meskipun demikian, ketiga pendekatan itu, dan juga desain-desain yang diterapkan secara khusus dalam berbagai bidang ilmu, tetap menggunakan konsep dasar dalam The Discovery of Grounded Theory sebagai titik tolak (Goulding, 1999). Oleh sebab itu, untuk memahami GT secara lebih komprehensif, elemen-elemen yang terkandung dalam setiap pendekatan perlu dikaji secara seksama. Menurut Creswell (2008: 440), enam karakteristik berikut merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam berbagai pendekatan GT, termasuk desain sistematik, ‘emerging’ dan ‘kostruktivis’.

    1. Pendekatan Proses

    Meskipun para peneliti GT dapat mengarahkan studi mereka pada sebuah ide, seperti keahlian menerjemahkan novel atau kemahiran berpidato, mereka lebih mengarahkan penelitian terhadap proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantif. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa setiap fenomena sosial merupakan hasil proses tindakan atau interaksi antar individu. Dalam penelitian GT, proses merujuk pada urutan tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan sebuah topik, seperti pengalihbahsaan novel Animal Farm ke dalam bahasa Indonesia. Dalam topik seperti ini, berdasarkan transkrip wawancara atau catatan pengamatan yang dilakukan pada partisipan, peneliti GT dapat mengidentifikasi dan mengisolasi tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia, seperti interaksi antara penerbit dan penterjemah pada saat negoisasi, tindakan-tindakan yang dilakukan penterjemah selama proses pengalihbahasaan, dan sebagainya. Aspek-paspek yang diisolasi ini disebut kategori-kategori, yang digunakan sebagai tema-tema informasi dasar dalam rangka memahami suatu proses. Borgatti (1990) menekankan pemusatan perhatian GT terhadap dengan mengatakan “…process is vital….” karena GT berhubungan dengan penggambaran dan pengodean hal-hal yang dinamis—sedang berubah, sedang bergerak, dan sedang berlangsung di kancah penelitian.

    Dalam penelitian GT, kategori-kategori atau tema-tema diberi label dalam bentuk kode in vivo, yaitu label dari kategori-kategori yang diungkapkan dengan menggunakan kata-kata asli partisipan bukan dalam bentuk ungkapan peneliti atau terminologi ilmiah yang baku. Kata-kata itu diidentifikasi peneliti dengan mengkaji transkrip-transkrip wawancara atau catatan lapangan dalam rangka melokalisir ungkapan partisipan yang berhubungan dengan kategori yang dimaksud. Sebagai contoh, untuk menungkapkan bahwa buku hasil terjemahannya sangat laris, partisipan mungkin menggunakan istilah ‘meledak di pasaran’. Dengan menggunakan kode in vivo, peneliti akan menggunakan label “meledak di pasaran” untuk kategori tersebut.

    2. Penyampelan Teoritik

    Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, instrumen pengumpul data penelitian GT adalah peneliti sendiri. Data-data yang dikumpulkan dapat berbentuk transkrip wawancara, percakapan, catatan wawancara, dokumen-dokumen publik, buku harian dan jurnal responden, dan catatan reflektif peneliti (Charmaz, dalam Creswell, 2008: 442) . Proses pengumpulan data itu dilaksaakan dengan mengunakan ada dua metode secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth interview). Bentuk data yang paling sering digunakan berbagai peneliti adalah hasil wawancara karena data seperti ini lebih mampumengungkapkan pengalaman responden dalam kata-kata mereka sendiri. Hal inilah yang mendorong Borgatti (1990) menyimpulkan bahwa GT sangat dipengaruhi dan menekankan pemahaman dunia secara emik. Dia menyatakan: ”… grounded theorists are concerned with or largely influenced by emic understandings of the world: they use categories drawn from respondents themselves and tend to focus on making implicit belief systems explicit.”

    Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian GT dari pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak, pada GT sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan “Mengapa suatu kondisi terjadi?”, “Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?”, dan “Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?”
    Dalam GT, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyampelan teoritik, yaitu penyampelan yang dilakukan “… in order to discover categories and their properties, and to suggest their interrelationship into a theory” (Glaser and Strauss, 1980: 62). Dengan kata lain, penyampelan teoritik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan peneliti dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian. Sebagai contoh, jika peneliti sedang meneliti “tingginya kecenderungan penerbitan novel-novel horror terjemahan”, penikmat (pembaca) novel-novel horor merupakan kandidat yang paling sesuai untuk diwawancarai. Penterjemah, penerbit, dan kritisi sastra memang dapat dijadikan sumber informasi yang relevan, namun peran mereka tidakbegitu sentral karena penerbitan bahan bacaan sangat ditentukanoleh konsumen (pembaca).

    Paparan ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya yang di sampel dalampenelitian GT bukan obyek formal penelitian (orang atau benda-benda), melainkan obyek material yang berupa fenomena-fenomena yang sudah dikonsepkan. Akan tetapi, karena fenomena itu melekat dengan subyek (orang atau benda), maka dengan sendirinya obyek formal juga ikut disampel dalam peroses pengumpulan atau penggalian fenomena.
    Berkenaan dengan proposisi terakhir, pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih itulah yang dicari atau digali oleh peneliti selama mengumpulkan data. Karena fenomena itu melekat dengan subyek yang diteliti, maka jumlah subyek pun terus bertambah sampai tidak ditemukan lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa subyek yang terakhir. Itulah sebabnya, penentuan sampel subyek dalam penelitian GT, seperti halnya penelitian kualitatif pada umumnya, tidak dapat direncanakan dari awal. Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan, kaetika pengumpulan data berlangsung. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling.

    Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam GT diarahkan dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga pola penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data; (a) penyampelan terbuka, (b) penyampelan relasional dan variasional, serta (c) penyampelan pembeda. Penyampelan ini bersifat kumulatif (penyampelan terdahulu menjadi dasar bagi penyampelan berikutnya) dan semakin mengerucut sejalan dengan tingkat kedalaman fokus penelitian. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang ketiga penyampelan tersebut.

    (a) Penyampelan terbuka bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik, maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga masih belum dibatasi. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka.

    (b) Penyampelan relasional dan variasional berfokus pada pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan antara kategori dengan kategori dan kategori dengan sub-subkategorinya. Pada kedua penyampelan ini diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti utama penyampelan di sini adalah memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.

    (c) Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Oleh karena itu tujuan penyampelan pembeda adalah menetapkan subyek yang diduga dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antarkategori.

    Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian GT berlangsung secara bertahap dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan. Ketentuan umum dalam GT adalah melakukan penyampelan hingga pemenuhan teoritik bagi setiap kategori tercapai. Maksudnya, penyampelan dihentikan apabila; (a) tidak ada lagi data baru yang relevan, (b) penyusunan kategorinya telah terpenuhi; dan (c) hubungan antarkategori sudah ditetapkan dan dibuktikan.

    Berdasarkan paparan tentang prinsip penyampelan di atas, jelaslah bahwa pengambilan kesimpulan dalam penelitian GT tidak didasarkan pada generalisasi, melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari pola penalaran ini, penelitian GT bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu. Jadi, rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.

    3. Analisis Data Perbandingan Konstan

    Dalam penelitian GT, peneliti terlibat dalam roses pengumpulan data, pengelompokan data ke dalam kategori-kategori, pengumpulan data tambahan, dan pembandingan informasi yang baru itu dengan kategori-kategori yang muncul. Proses pengembangan kategori-kategori informasi yang berlangsung secara perlahan-lahan ini dinamai prosedur perbandingan konstan (constant comparative procedure). Perbandingan konstan ini merupakan prosedur analisis data induktif yang digunakan untuk memunculkan dan menghubungkan kategori-kategori dengan cara membandingkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, satu peristiwa dengan satu kategori, dan satu kategori dengan kategori lainnya.

    Dalam tahap pelaksanaan (Dick, 2005) menggambarkan analisis data perbandingan konstan, dalam langkah-langkah berikut. Pada wawancara pertama, peneliti hanya bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sedang berlangsung?”, “Situasi apakah ini?”, “Bagaimana partisipan ini menangani situasi tersebut? “, “Lalu, kategori-kategori apa yang terungkap melalui pernyataan-pernyataan ini?” Setelah itu, peneliti mengodekan hasil-hasil wawancara pertama dan kedua ke dalam kategori-kategori, seluruh kategori (termasuk yang diperoleh dari sumber data lainnya) dibandingkan satu dengan yang lain. Setelah itu, seluruh kategori dihubungkan dengan teori yang muncul dipikiran penulis selama melakukan perbandingan. Secara singkat, analisis data perbandingan konstan adalah ”… initially comparing data set to data set; later comparing data set to theory.” Ilustrasi prosedur analisis data perbandingan konstan dapat dilihat pada gambar berikut.

    4. Kategori Inti

    Dari seluruh kategori utama yang diperoleh dari data, peneliti memilih satu kategori sebagai inti fenomena dalam rangka merumuskan teori. Setelah mengidentifikasi beberapa kategori (misalnya, 8 hingga 10—tergantung pada besarnya database), peneliti memilih satu kategori inti sebagai basis penulisan teori (lihat gambar 2 sebagai visualisasi proses ini). Berikut ini adalah enam kriteria untuk menentukan kategori inti (Strauss and Corbin, dalam Creswell, 2008: 444).

    (a) Kategori tersebut harus merupakan sentral, dalam artian kategori-kategori utama lainnya dapat dihbungkan padanya.

    (b) Kategori tersebut sering muncul dalam data, dengan pengertian bahwa dalam semua kasus terdapat indikator-indikator yang merujuk pada kategori inti tersebut.
    (c) Penjelasan-penjelasan yang menghubungkan kategori-kategori berfifat logis, konsisten dan tidak dipaksakan.

    (d) Istilah atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan kategori inti harus abstrak.
    (e) Seiring dengan penyempurnaan konsep, teori berkembang dalam aspek kedalaman dan kemampuan menjelaskan

    (f) Meskipun kondisi bervariasi, kategori inti masih mampu menjelaskan seara akurat.

    Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa memilih kategori inti terlalu awal adalah sangat riskan. Akan tetapi, bila terlihat bahwa salah satu kategori mucul dengan frekuensi tinggi dan terhubung dengan jelas pada kategori-kategori lain, kategori itu dapat dipilih sebagai kategori inti.

    5. Perumusan Teori

    Dalam penelitian GT, yang dimaksud dengan teori adalah penjelasan atau pemahaman yang abstrak tentang suatu proses mengenai sebuah topik substantif yang didasarkan pada data. Teori ini disusun oleh peneliti sewaktu mengidentifikasi kategori inti dan kategori-kategori proses yang menjelaskannya. Karena teori ini dilandaskan pada fenomena yang spesifik, teori ini tidak dapat diaplikasikan digeneralisasikan secara meluas pada fenomena lain. Oleh karena itu, Charmaz (dalam Creswell, 2008: 446) mengatakan teori ini berfifat “middle range”, ditarik dari beberapa individual atau sumber data dan memberi penjelasan yang akurat hanya pada sebuah topik yang substantif.

    6. Penulisan Memo

    Dalam penelitian GT, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat peneliti untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan yang dibuat peneliti bagi dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis tentang sebuah kategori, kususnya tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang ditemukan. Menurut Dick (2005), penulisan memo harus harus diberikan prioritas utama karena ide tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori bisa muncul kapan saja dan peneliti harus segera mencatatnya. Dalam penelitiannya, Dick biasa menggunakan memo dengan sistem kartu-kartu berukuran 125 mm x 75 mm yang tersedia dikantongnya kapan saja dia perlu membuat memo. Kartu-kartu memo itu dibuat dengan format seperti pada gambar 2.

    Gambar 2: Memo Grounded Theory

    Tahapan Pelaksanaan Penelitan GT

    Penelitian GT diawali dengan pemusatan perhatian pada suatu wilayah kajian dan diikuti oleh pengumpulan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik, khususnya wawancara dan obserrvasi lapangan (field observation). Setelah terhimpun, data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik ‘coding’ dan prosedur penyampelan teoritis. Tahap berikutnya adalah menyusun teori (yang menjelaskan fenomena yang diteliti) dengan menggunakan teknik interpretasi. Pada tahap akhir, hasil penelitian disusun secara sistematis. Selaras dengan itu, Creswell (2008: 432) menjelaskan GT dilakukan melalui sebuah prosedur penjaringan data yang sistematis, pengidentifikasian kategori-kategori (tema-tema), penghubungan kategori-kategori tersebut, dan pembentukan teori yang menjelaskan proses tersebut. Dengan demikian teori-teori yang dihasilkan merupakan teori ‘proses’ yang menjelaskan fenomena (tahapan-tahapan proses, tindakan, atau interaksi yang terjadi di kancah penelitian selama penelitian terjadi).
    Gambaran di atas hanyalah gambaran prosedur secara umum, sedangkan prosedur yang spesifik sulit digambarkan mengingat bahwa penelitian GT diaplikasikan dalam berbagai disiplin ilmu. Selain itu, terdapat paling tidak tiga desain yang lazim digunakan cukup beragam, dengan disain yang teratur (sistematik dan emerging) maupun fleksibel (konstruktivis). Prosedur yang diuraikan di bawah ini merupakan tahapan desain sistematis, mengingat langkah-langkahnya yang mudah diidentifikasi.

    1. Perumusan Masalah Penelitian

    Sebagai penelitian berparadigma kualitatif, GT mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Asumsi ini dipertegas dalam GT, dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Oleh sebab itu, tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik–seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe hubungan antarvariabelnya. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan GT masih bersifat umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat.

    Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan masalah dalam GT disusun secara bertahap. Pada tahap awal–sebelum pengumpulan data, dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka), yang kemudian nanti–setelah data yang bersifat umum dikumpulkan—rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Intinya adalah, bahwa rumusan masalah dalam GT disusun lebih dari satu kali. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan sebagai panduan dalam mengumpul data, sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori. Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian.

    Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam GT adalah; (a) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan. Contoh rumusan masalah awal pada GT; “Bagaimanakah novel detektif Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?” Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk; (a) mengenali secara tepat dan mendalam proses penerjemahan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia, (b) obyek formal penelitian adalah penterjemah yang sedang menerjemahkan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia; sedangkan obyek materialnya adalah metode yang dilakukan oleh penterjemah itu dalam menyelesaikan penerjemahan novel dimaksud, dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan dan teknik-teknik penterjemahan yang dipilih.
    Sebagai sebuah penelitian kualitatif, penelitian GT tidak bermaksud untuk menguji teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan GT dimulai dengan teori atau variabel yang telah ada, karena akan menghambat pengembangan rumusan teori baru. Oleh sebab itu, penelitian GT tidak perlu terlalu terpangaruh oleh literatur karena akan menutupi kreativitas dalam mengumpul, memahami dan menganalisis data. Inilah yang dimaksudkan dalam pendekatan GT, bahwa sesungguhnya peneliti belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, termasuk jenis data dan kategori-kategori yang mungkin ditemukan.

    Dalam pendekatan GT, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan, yaitu untuk menemukan teori dari dasar. Namun, jika peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah, membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara, maka konsep-konsep yang digunakan oleh teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah.

    Terdapat lima kemungkinan perlakuan peneliti terhadap teori yang sudah ada. Pertama, jika penelitian dengan GT menemukan teori yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal, maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu. Kedua, jika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, maka ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut, tetapi bukan untuk mengikutinya. Penelitian yang bermaksud memperluas teori. Ketiga, jika penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada, maka penelitian dapat dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi. Keempat, jika penelitian sekarang bertolak dari teori yang sudah ada, maka teori tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan /wawancara untuk mengumpul data awal. Kelima, jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.

    2. Penjaringan Data

    Seperti telah dijelaskan sebelumnya, data utama dalam penelitian GT digali dari fenomena atau perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik yang digunakan adalah penyampelan teoritik, atau penyampelan yang dilakukan dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian.

    3. Analisis Data

    Pada dasarnya, kegiatan penjaringan dan analisis data dalam GT adalah proses yang saling berkaitan erat, dan harus dilakukan secara bergantian (siklus), bahkan simultan. Karena itu kegiatan analisis telah dikerjakan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung.
    Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengodean (coding), yakni proses penguraian data, pengonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru. Tujuan pengkodean dalam penelitian GT adalah untuk; (a) menyusun teori, (b) memberikan ketepatan proses penelitian, (c) membantu peneliti mengatasi bias dan asumsi yang keliru, dan (d) memberikan landasan, memberikan kepadatan makna, dan mengembangkan kepekaan untuk menghasilkan teori.

    Terdapat dua prosedur analisis dasar dalam proses pengodean, yaitu; (a) pembuatan perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis); dan (b) pengajuan pertanyaan. Dalam konteks penelitian GT, hal-hal yang diperbandingkan itu cukup beragam, yang intinya berada pada sekitar; (i) relevansi fenomena atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian, dan (ii) posisi dari setiap fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu tingkatan garis kontinum. Analisis data itu sendiri, seperti telah dijelaskan sebelumnya, dilaksaakan dalam tiga langkah: pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif (selective coding). Setelah menganalisis data, peneliti menyusun suatu paradigma logis atau gambaran visual dari teori yang diturunkan.

    Tiga Tahap Analisis Data

    (a) Pada tahap pertama, pengodean terbuka (open coding), peneliti membentuk kategori-kategori awal informasi tentang fenomena yang diteliti dengan memilah-milah data (diperoleh dari wawancara, observasi, maupun catatan-catatan dan memo) ke dalam jenis-jenis yang relevan. Jika fenomena yang diteliti adalah proses penterjemahan novel-novel klasik di sebuah penerbitan, misalnya, informasi yang diperoleh melalui pengamatan tentang proses pemberian ‘job’ oleh penerbit kepada sekelompok penterjemah dapat dikelompokkan kepada tahapan-tahapan pemberian kerja, pembuatan perjanjian kerja, sistem pembayaran upah, dan hal lain yang berhubungan dengan proses tersebut. Sedangkan iformasi yang diperoleh melalui wawancara terhadap para penterjemah dapat dipilah-pilah ke dalam kelompok pengalaman, keahlian, latar-belakang pendidikan, usia, dan lain-lain. Kategori-kategori yang telah ada bisa saja berkembang sesuai dengan penambahan data yang diperoleh, dan pada saat yang sama, sebagian atau seluruh kategori akan diperkaya dengan properties (sub-subkategori), yaitu data yang berfungsi sebagai detil pendukung kategori yang ada.
    (b) Di tahap kedua, pengodean poros (axial coding), peneliti memilih salah satu dari kategori yang ada dan memposisikannya sebagai inti fenomena yang sedang diteliti. Seluruh kategori lainnya dihubungkan pada inti fenomena ini berdasarkan korelasi apa adanya, seperti faktor-faktor penyebab (faktor-faktor yang memengaruhi inti), strategi (tindakan yang diambil sebagai respon terhadap inti), kondisi yang memengaruhi dan kontekstual (faktor-faktor situasional umum atau khusus yang memengaruhi strategi, dan konsekuensi (dampak dari penggunaan strategi). Tahapan ini melibatkan pembuatan sebuah diagram yang disebut pengkodean paradigma (coding paradigm), yang menggambarkan kesalingterkaitan antara penyebab, strategi, kondisi yang memengaruhi dan kontekstual, dan konsekuensi. Sebagai ilustrasi untuk proses ini, lihat gambar 1 berikut.

    (c) Di tahap ketiga, pengodean selektif (selective coding), peneliti menulis sebuah teori dari kesalingterkaitan seluruh kategori dalam tahap axial coding. Pada aras dasar, teori ini merupakan penjelasan abstrak atas proses yang diteliti Jadi, pengodean selektif merupakan proses penyatuan dan penyempurnaan teori melalui tahapan penulisan alur cerita yang membuat seluruh kategori saling terkait dan memilih melaui memo pribadi tentang ide-ide teoritis. Di sepanjang alur cerita, peneliti bisa saja mengamati bagaimana faktor tertentu memengaruhi fenomena yang membuat digunakannya strategi tertentu dengan dampak tertentu.

    Dilihat dari jumlah aktivitas pengodean yang dilakukan, terlihat adanya pengurangan dari tahap pengodean terbuka ke tahap penggolongan kategori-kategori, dan demikian halnya dari tahap penggolongan kategori-kategori ke tahap pengodean poros. Aktivitas paling minimal terdapat pada tahap penyusunan teori dari kategori-kategori yang sudah dijenuhkan.

    4. Penyusunan Teori

    Seperti dijelaskan di atas, teori dalam GT disusun pada saat melaksanakan pengodean selektif (selective coding). Proses ini mencakup analisis atas kesalingterkaitan seluruh kategori yang ditemukan. Perumusan teori juga bisa mencakup penyempurnaan paradigma yang terdapat pada axial coding dan menyajikannya sebagai sebuah modelatau teori bagi proses yang diteliti. Teori bisa disajikan sebagai proposisi-proposisi atau sub-sub proposisi yang dapat digunakan sebagai ide-ide yang dapat diuji pada penelitian lanjutan. Teori juga bisa dituliskan dalambentuk narasi yang menggambarkan kesalingterkaitan seluruh kategori (Creswell, 2008: 450).

    5. Validasi Teori

    Dalam GT, validasi teori merupakan bagian aktif dari proses penelitian. Sebagai contoh, sewaktu melakukan perbandingan konstan dalam tahap pengodean terbuka, peneliti melakukan pemeriksaan silang keabsahan hubungan antara data dan kategori-kategori yang muncul melalui proses triangulasi. Proses pemeriksaan data seperti itu juga dilakukan pada tahapan pengodean poros. Setelah teori dirumuskan, peneliti memvalidasi proses penyusunannya dengan membandingkannya dengan proses–proses sejenis yang ada di dalamkepustakaan. Bahkan penilai luar, seperti partisipan, juga bisa diminta untuk memeriksa keabsahan teori maupun validitas dan kredibilitas data (Creswell, 2008: 450).

    6. Penulisan Laporan Penelitian

    Sturuktur laporan penelitian GT sangat tergantung pada desain yang digunakan. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan sistematik, laporan penelitian relatif mirip dengan struktur laporan penelitian kuantitatif, yang mencakup bagian-bagian perumusan masalah, metode penelitian, analisis dan diskusi, dan hasil penelitian. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan ’emerging’ atau ’konstruktivis’, struktur laporan penelitian bersifat fleksibel (Creswell, 2008: 450).

    Kesimpulan
    Desain penelitian GT merupakan seperangkat prosedur yang digunakan untuk menyusun sebuah teori yang menjelaskan sebuah proses mengenai sebuah topik substantif. Penelitian GT cocok digunakan dalam rangka menjelaskan fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Pada awalnya, penelitian GT diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi. Namun saat ini GT juga banyak digunakan di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi.

    Meskipun penelitian GT terdiri dari tiga bentuk desain—sistematik, ’emerging’ dan ’konstruktivis’—secara umum, metode ini memiliki enam karakteristik kunci. Pertama, fokus penelitian diarahkan pada proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantif. Kedua, penjaringan data (yang dilakukan secara simultan denagn analisis data) dilakukan dengan menggunakan penyampelan teoritis. Ketiga, analisis data dilakukan dalam tiga tahap—pengodean terbuka, pengodean poros, dan pengodean selektif—sambil melaksanakan perbandingan konstan dan membuat pertanyaan tentang data-data yang diperoleh. Keempat, sewaktu menganalisis data untuk memunculkan kategori-kategori, sebuah kategori inti diidentifikasi. Keenam, kategori inti yang diidentifikasi kemudian dikembangkan dan dirumuskan menjadi teori. Selama melakukan penelitian, peneliti membuat catatan-catatan (memo) untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang dikodekan.

    Prosedur pelaksanaan penelitian GT yang komprehensif sulit dilakukan mengingat desain GT yang cukup beragam. Meskipun demikian, sebagai gambaran, langkah-langkah penelitian desain sistematis, dapat diurutkan dalam enam langkah: perumusan masalah, penjaringan data, analisis data, penyusunan teori, validasi teori, dan penulisan laporan.

    Daftar Pustaka

    Borgatti, Steve. “Introduction to Grounded Theory”. Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2008 http://www.analytictech.com/mb870/introtoGT.htm

    Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qulitative Research. New Jersey: Prentice Hall.
    Dick, Bob. 2005. “Grounded theory: a thumbnail sketch”. Diunduh pada tanggal 10 September 2008 dari http://www.scu.edu.au/schools/gcm/ar/arp/grounded.html
    Elliott, Naomi and Lazenbatt, Anne. 2005. “How to Recognise a ‘Quality’ Grounded Theory Research Study” A scholarly paper, published in Australian Journal of Advanced Nursing Volume 22 Number 3, 2005

    Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.

    Glaser, B. & Straus A. 1980. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

    Goulding, Christina. 1999. “Grounded Theory: Some Reflections on Paradigm, Procedures, and Misconceptions” A Working Paper Series at Wolverhampton Business School.

    Haig, Brian D. 1995. “GT as Scientific Method” in Philosophy of Education Society. Diunduh pada tanggal 12 November 2008 dari http://www.GT as Scientific Method.htm
    Introduction to coding terminology qrtips.com/faq/Coding%20Level%20Pyramid.jp

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s