PERBANDINGAN ANTARA IDEOLOGI DAN ILMU

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial yang diberikan oleh Drs. M. Iqbal Djajadi M.Si.

1. Pertama, kita dan ilmuwan sosial dari satu segi, kadang-kadang mempunyai kecenderungan sama untuk menganggap sebuah keyakinan atau teori sebagai sesuatu yang tidak perlu diamat-amati, sebagai sesuatu yang dianggap benar dengan sendirinya: manusia itu mahluk sosial, manusia itu senantiasa hidup dalam kelompok-kelompok, manusia punya kebutuhan sosial bukan hanya sekedar kebutuhan biologis;

2. Hal kedua adalah menjelaskan tentang bagaimana sesungguhnya dunia sosial itu atau seperti apa dunia sosial itu : dunia sosial itu mempunyai hukum-hukumnya—dalam terminologi Islam hukum-hukumnya itu disebut sunatullah—misalnya, dalam bentuk ekstrim kita mengambil contoh teori Karl Marx yang dianggap sebagai dasar prospektif dari teori konflik: pada dasarnya manusia itu hidup saling berkompetisi satu sama lain, yang satu selalu mengeksploitasi yang lain, artinya dalam posisi yang selalu antagonistik. Sementara penganut teori fungsional—yang berada diseberang teori konflik—mempunyai keyakinan bahwa semua itu dalam posisi yang harmonis, masalah timbul jika dalam kondisi keharmonisan tersebut terjadi gangguan, namun disisi lain mereka pun percaya bahwa suatu ketika kondisi tersebut akan kembali normal. Hal yang sama akan kita temukan juga antara ideologi dan ilmu—dalam hal ini teori sosial;

3. Ketiga, dalam ilmu atau teori ditawarkan suatu sistem konsep, yang harus kita bayangkan sebagai kumpulan dari konsep-konsep (Neumann : concepts cluster). Mungkin konsep-konsep ini kita bayangkan sebagai konsep X1, X2, X3, X4. Dan ada konsep-konsep lain, katakanlan Y1, Y2, Y3, Y4, Y5. Dalam kita melakukan pemahaman mengenai sistem konsep itu, sesungguhnya seseorang senantiasa merujuk kepada kecenderungan/preferensinya untuk memilih sejumlah konsep-konsep tertentu saja dan membuang konsep-konsep lain. Misalnya, cenderung untuk hanya mengambil konsep/unsur X, sedangkan unsur Y dibuang/dikeluarkan, baik dengan alasan karena sesuatu yang tidak relevan atau merupakan satu yang sama sekali tidak disadari. Konsep X1 sampai X4 ini ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan berhubung-hubungan melalui suatu model, misalnya seperti ini : X1 ke X2, X2 ke X3, X3 ke X4 baru X4 ke X1, tidak ada hubungan langsung antara X2 dengan X4, antara X3 dengan X1 dan sebagainya, ini yang disebut sebagai suatu sistem konsep dan sistem konsep semacam ini akan memberikan kemampuan dan mungkin sekaligus nanti juga suatu kendala untuk menafsirkan sesuatu. Dalam suatu kesempatan pertemuan di Bogor yang dihadiri juga oleh elit-elit politik tingkat tinggi, dosen-dosen. Seorang ulama mengatakan : banjir yang selalu melanda Jakarta antara lain disebabkan orang-orang Jakarta kerap “buang air” di Puncak (Bogor), dan dia mengarah kepada aspek moralitas dan yang dia pentingkan adalah suatu kesimpulan bahwa banjir itu turun dari tuhan, karena orang-orang tertentu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan sunatullah. Secara empirik, jika kita perhatikan fakta yang menyebabkan banjir di Jakarta misalnya erosi (Y4), masalah irigasi (Y5), drainase dan sebagainya, melalui formulasi seperti ini kita bisa menyimpulkan apa yang secara empirik terjadi. Ulama yang mengungkapkan tentang sebab-sebab banjir, kita bisa identifikasi/kenal melalui cetusan-cetusan keagamaan yang khas—sadar atau tidak, diinginkan atau tidak diinginkannya—karena dia hanya akan mengambilmemang khas. Oleh Peter L. Berger ini yang bukan hanya disebut atau sekedar sistem konsep, tetapi sebagai yang disebut relevan structure. Penekanan Neumann dengan sistem konsep adalah bagaimana konsep-konsep itu berhubungan dalam suatu hubungan yang khas. Jika Peter L. Berger merujuk atau menekankan sistem konsep itu kepada konteks bagaimana hubungan-hubungan tersebut bermakna. Dari segi ini kita sebenarnya sama dengan ulama, dalam pengertian bahwa kita juga punya sistem of concepts, kita punya relevan structure, bagaimana kita hubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain, dan mempunyai kecenderungan-kecenderungan/preferensi. Dan karena itu dalam konteks ideologi kita bisa bicara bahwa sama, kita menawarkan suatu sistem of concepts atau idea, atau sistem gagasan atau struktur relevan tertentu. Jika kita perhatikan, kita semua mempunyai perbendaharaan konsep yang khas, bahkan hanya dengan istilah-istilah yang kita gunakan akan terlihat, dan itu akan mencerminkan suatu gaya berpikir sendiri, dan jika diperhatikan kata pertama kita yang keluar dalam suatu kesempatan diskusi misalnya, akan terulang lagi pada pembicaraan berikutnya. Kita bisa lihat Gus Dur, Amien Rais, Megawati, masing-masing mempunyai perbendaharaan kata yang khas, Gus Dur misalnya modelnya sembarangan (auto context). Kenapa Gus Dur menurut kita merupakan seorang yang aneh, nyeleneh, eksentrik, atau apapun istilahnya kita memanggilnya? Jawabannya adalah karena ia menggunakan suatu sistem konsep yang berbeda dengan kita. Inti yang sebenarnya yang ingin kita ungkapkan disini adalah bagaimana kita mencoba untuk menempatkan diri kita juga sebagai Gus Dur atau sebagai orang awan jika kita bicara dengan tukang becak, misalnya dia hanya bisa mengatakan jika ketika bercakap-cakap dengan kita: saya nggak ngerti pak apa yang bapak omongin, kaerna omongan bapak itu terlalu tinggi. Seorang tukang bajaj ketika ditanya : “Bagaimana jika Amien Rais jadi presiden kita? Dengan santai dia menajwab: “Ah, saya sih nggak percaya dia, mulutnya aja mencong begitu!”, istilah mulutnya mencong itu adalah ungkapan khas dia untuk seseorang yang tidak loyal, terlampau ngakal-ngakali, pandangannya berubah-ubah, oleh karena dia tidak mempunyai perbendaharaan mengenai konsep itu, dia tidak mempunyai perbendaharaan konsep itu, dia hanya lihat dari posisi fisik miringnya mulut Amien Rais itu. Seperti halnya juga supir-supir, mereka juga mempunyai konsep: tancap!, cabut!, gunting! Mereka menyusun konsep mereka dengan mempergunakan kata- atau istilah yang biasa kita gunakan, tetapi dengan konsepsi yang berbeda. Cabut maksudnya segera berangkat, gunting artinya ambil penumpang-penumpang. Uniknya lagi adalah bagaimana mereka mampu membuat suatu sistem konsep yang diputar-putar dan konotasinya bisa dimain-mainkan kesana kemari melalui istilah : ganti oli, cuci busi, turun mesin, bengkel. Sehingga ketika mereka sedang melakukan tugasnya di bis, mereka mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi dengan rekan-rekan mereka, melalui ungkapan-ungkapan tersebut. sebetulnya mereka itu menggunakan untuk hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Sehingga ketika sedang melakukan penelitian, kita harus mencoba untuk menempatkan diri kita sebagai mereka, Kemudian, jika kita masuk ke instansi TNI, kita akan temukan istilah-istilah yang khas, singkatan-singkatan yang memusingkan. Jika kita masuk ke FK, mereka mempunyai istilah-istilah yang khas. Untuk selanjutnya, kita harus merincikan dan menegaskan tentang hubungan diantara konsep-konsep dan menjelaskan tentang apa menyebabkan apa. Jadi, ini merupakan spesifikasi yang lebih rinci dari apa yang disebut menawarkan suatu sistem konsep dengan cara memberikan suatu gambaran mengenai hal-hal itu.

4. Keempat, mengungkapkan suatu sistem gagasan yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam bahasa yang sangat teknis, agama sebetulnya bisa kita sebut sebagai teori, begitu juga halnya dengan ideologi yang juga merupakan suatu teori, sebabnya adalah karena mereka mempercayainya. Kenapa gunung itu meletus?, karena Tuhan sedang memberikan cobaan kepada bangsa ini. Gunung meletus adalah variabel dependen, cobaan adalah variabel independen. Dalam melihat sesuatu, kita bisa melihat bahwa sebetulnya operasi cara berpikir kita semua adalah sama, dalam kerangka yang besar. Namun demikian kita pun bisa melihat sebetulnya ada juga perbedaan-perbedaannya :

a. Yang satu sudah memastikan atau pokoknya mutlak hubungan-hubungan tersebut, sedangkan yang lain mengatakan relatif (relative context). Dan oleh karena itu jika kita melihat suatu kesimpulan penelitian yang biasanya dengan menambahkan suatu klausul “dengan syarat hal-hal lain dianggap sama, jika hal-hal lain tidak dipertimbangkan atau hal-hal lain dianggap dikontrol atau dikendalikan (other thing being equal)” misalnya bahwa IQ dipengaruhi oleh gizi, atau gizi mempengaruhi IQ, sebetulnya merupakan gejala ketidakpercayadirian atau ketidakpercayaan seorang ilmuwan bahwa hubungan itu benar ada. Hal-hal seperti itul lah yang memenunjukkan bahwa sebetulnya kita ini hanya yakin secara relatif. Disinilah sebenarnya letak kekuatan dan sekaligus kelemahan sebuah ilmu, karena jika kepada sesuatu hal atau fenomena terhadapnya kita sudah begitu yakin akan kebenarannya, maka kita bukan lagi seorang ilmuwan;

b. Ideologi cenderung memberikan jawaban terhadap semua hal. Dari satu segi seorang ilmuwan yang baik itu menjemukan, karena mereka mempunyai atau memberikan jawaban secara sepotong-sepotong, tidak lengkap atau parsial: “Wah saya belum bisa memberikan jawaban, oleh karena belum melakukan penelitian itu!” Ini merupakan kekuatan ilmu (sosial dan eksakta), oleh karena jika kita yakin bisa menjawab seluruh masalahnya, barangkali di duina ini tidak perlu lagi sosiolog, ahli kimia, dokter, karena pada dasarnya semua orang sudah mengetahui semuanya. Oleh karena jaman semakin menuntut kepada setiap orang mengerjakan hal-hal yang spesifik, maka emakin banyak orang ingin menjadi seorang profesional dengan cara melalui pendidikan keilmuan terlebih dulu, dan karena itulah sebabnya pula maka kita lihat semakin sedikit orang ingin berprofesi sebagai ulama, yang dianggap mempunyai pengetahuan disegala hal. Sejak dulu seorang ulama dituntut oleh santri dan masyarakat menjadi orang yang serba bisa, bisa menjawab apa saja. Nabi, ulama atau orang-orang suci yang kita kenal, dari satu segi menggambarkan peradaban pada waktu itu, orang yang pintar adalah orang yang pintar dalam segala bidang, semua hal. Seorang seperti Plato, ia memikirkan demokrasi, negara republik, atom, alam semesta dan pikiran-pikirannya diikuti oleh orang-orang pintar yang lain. Oleh karenanya disini kita tidak membicarakan hal-hal semacam itu.

c. Ideologi cenderung mempunyai suatu jawaban yang tetap atau dianggap tetap, paripurna, period, selesai, jangan tanya-tanya apa-apa lagi. Keyakinan-keyakinan seperti Tuhan itu satu, neraka sampai lapis ketujuh. Sementara ilmu pengetahuan sangat terbuka dan senantiasa mempertanyakan. Sehingga kita bisa melihat: teori Marx, Parson ditinjau kembali melalui terori-teori yang kita kenal sebagai neo marxis, neo fungsionalis, revisionis, dsb.;

d. Ideologi cenderung menghindarkan pengujian, menghindarkan satu kesenjangan atau pertemuan antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain. Hal inilah yang membedakannya dengan keilmuan. Makanya dari satu segi, ketika Amien Rais mengeluarkan statement: “bahwa kerusuhan adalah satu fungsi dari kesenjangan sosial” tanpa melakukan suatu penelitian, bahkan mungkin tanpa berpikir lagi dengan kritis, maka dalam hal ini ia berbicara dari sisi sebagai ideolog, bahkan—dalam bentuk yang paling ekstrim—(menurut Iqbal) dia sudah menunjukkan sebagai seorang demagog—penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata dusta untuk membangkitkan emosi rakyat.

e. Ideologi cenderung membutakan diri terhadap pembuktian-pembuktian yang berbeda, yang menihilkan atau yang menyerang, dan dia tidak mau mengatakan seperti itu. Contoh yang paling ekstrim untuk hal itu dapat dilihat dalam agama. Dari satu sisi, jika ingin diterima oleh umat kadang-kadang yang dilakukan adalah dengan cara mendompleng ilmu. Misalnya penemuan “bahwa diluar alam semesta ini ternyata ada alam semesta lain”, dikutip oleh seorang doktor ilmu sosial, bahwa hal itu ada dalam Al Quran jauh ketika pengetahuan mengenai hal itu belum ditemukan. Contoh lain, sekte dalam agama kristen yang menyertakan istilah scientific dalam nama sektenya, yang tidak lain untuk menunjukkan bahwa agama mereka adalah agama yang mengikuti prinsip-prinsip hukum ilmiah. Tetapi yang menjadi masalahnya adalah, mereka ini cenderung tidak menggunakan temuan-temuan yang lain, yang tidak mendukung atau bahkan akan menegasikan kepercayaan yang mereka anut, padahal banyak hal yang dapat dipakai untuk mempertanyakan kepercayaan atau agama mereka. Jadi, kita melihat mereka hanya akan mengambil sesuatu yang mereka anggap akan membenarkan atau memperkuat apa yang sudah dinyatakan dalam kitab suci. Ketika hindu di tahun 60-an begitu populer dan dianggap sebagai suatu bagian dari flower generation, hindu diubah menjadi sedemikian rupa sehingga penuh dengan penjelasan-penjelasan dalam bentuk jargon-jargon fisika, kimia, psikologi dan mempergunakan Beatles adalah simbol mereka. Tahun 80-an, budha dengan simbol Richard Gere. Islam dengan simbol Cat Stevens, Muhammad Ali, Mike Tyson. Namun sekali lagi, ternyata mereka hanya cenderung mengambil bagian-bagian yang mereka anggap mendukung mereka dan akan menolak sesuatu yang dianggap akan merugikan mereka. Di lain pihak, sebetulnya banyak prinsip-prinsip keilmuan yang bisa diterapkan, tetapi karena dianggap bisa menihilkan agama sehingga tidak mereka pergunakan dan dalam kenyataannya Agama dengan prinsip-prinsip seperti itu yang justru banyak penganutnya. Jadi untuk mengatasi kesulitan ini, dipergunakanlah dua koridor, yang memisahkan antara tataran ilmu dan tataran agama, agar antara ilmu dan agama tidak saling berbenturan karena memang sangat sulit dipertetemukan.

f. Dari pihak teori atau ilmu sosial, kita bisa lihat hal yang sebaliknya yaitu adanya detached, adanya jarak, mengambil posisi atau mengambil sikap. Mungkin ini gambaran langsung dari apa yang dinamakan skeptisisme—aliran atau paham yang memandang sesuatu itu selalu tidak pasti—seorang ilmuwan bertindak disconected karena tidak ingin menghubung-hubungkan sesuatu yang memang tidak berhubungan. Dari satu segi ini yang disebut sebagai strong moral stand—mempunyai pendirian yang kuat dalam hal mempertahankan prinsip-prinsip keilmuan dan ilmu pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengajarkan kepada kita untuk bersikap skeptis, dalam arti tidak menerima sesuatu dengan begitu saja;

g. Ideologi mempunyai kecenderungan untuk terpaku hanya kepada sesuatu yang merupakan kepercayaan dasar kita dan kita tidak melihat hal-hal lain, ini sangat kontras dengan ilmu dengan apa yang disebut sebagai detached, perubahan harus didasarkan kepada suatu pembuktian, sedangkan intinya adalah detached atau berjarak;

h. Ideologi memperhatikan segala sesuatu hanya dari satu sudut, jadi sangat parsial, sangat parokial, hanya dari satu sudut pandang saja. Sementara ilmu mencoba netral dan berusaha mempertimbangkan dari segala macam aspek (higly partial);

i. Ideologi sangat kontradiktif, inkonsisten, sedangkan ilmu adalah hal yang sebaliknya, yaitu berusaha untuk atau sangat memperhatikan konsistensi, logis, koherensi. Contoh ekstrim, ungkapan seorang ulama mbeling, ndableg: “Al Quran penuh dengan inkonsistensi, misalnya apakah Islam itu memperlakukan perempuan itu sejajar atau berbeda dengan pria, dalam hal warisan, dalam hal menjadi imam, semua itu menunjukkan bahwa Tuhan itu lebih mengutamakan (lebih primer kepada) laki-laki, menempatkan pria di atas wanita.” Sementara tokoh-tokoh jender yang mempergunakan Al Quran sebagai dasarnya, tetap mengatakan bahwa Al Quran memperlakukan perempuan sejajar dengan laki-laki: “Datangilah istrimu atau suamimu karena mereka adalah pakaianmu”. Jika kita melihat dengan semangat keilmuan maka kita akan menjumpai hal-hal yang inkonsistensi seperti itu. Dalam ideologi negara ”Pancasila”, ditemui juga ketidakkonsistensian dalam jabarannya yang terwujud dalam “almarhum45 butir-butir Pancasila”-nya. Sehingga jika kita perhatikan, dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan ideologi dibandingkan dengan mempergunakan ilmu atau teori-teori sosil sosial, misalnya setiap hari kita menganggap bahwa perempuan itu cenderung emosional, perempuan itu harus mengurus rumah tangga, atau perempuan dekat dengan hal yang indah-indah. Padahal dalam tataran empirik kenyataannya tidak seperti itu, misalnya kita sering melihat kenyataan bahwa seorang istri menyeleweng, sehingga menjadi jungkir balik lah semua kehidupan. Contoh penyelewengan seorang istri itu, menggambarkan betapa berubahnya struktur sosial yang ada di Indonesia saat ini, dan hal tersebut juga menggambarkan aspek perubahan dalam bidang-bidang yang kecil lain.

Kadang-kadang kita tertawa ketika memperhatikan misalnya sebuah peraturan yang tidak lagi menggambarkan struktur sosial yang nyata: “dilarang membawa tamu yang berlainan jenis yang bukan muhrimnya”. Melalui contoh ini hanya ingin ditunjukkan jika kita sebenarnya berhadapan dengan realita sosial. Kemudian, kita pun berupaya menafsirkan dan menyusun suatu sistem konsep sendiri. Jika dalam suatu penelitian, kita baru menemukan fakta satu kali, dua kali bahkan sampai tiga kali, maka sampai disini dianggap belum terjadi suatu penelitian dan kita dilrangan untuk langsung menggeneralisasi, dan tetap kita lakukan, itu artinya kita bukan seorang ilmuwan, walaupun kita telah selesai menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam S1, S2 bahkan S3 sekalipun, karena melalui tindakan-tindakan kita yang seperti itu, kita tidak mendudukan diri kita dalam kapasitas sebagai seorang peneliti sosial. Contoh yang dapat dikemukakan disini, misalnya kita tahu banyak tentang Ambon tetapi karena kita belum pernah meneliti secara langsung disana, maka kita bukan seorang expert atau seorang pengamat tentang ambon. Dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya seperti contoh di atas, ketika kita langsung mempercayai bahwa fakta dan data yang baru dan telah kita temukan itu merupakan jawabannya, maka pada saat itu kita bukan bertindak sebagai seorang ilmuwan. Dalam konteks ilmu, tidak akan pernah ditemui suatu pengetahuan atau kebenaran yang final bahkan secara ekstrim kebenaran yang hakiki itu mungkin tidak pernah akan tercapai dan justru disitulah sebenarnya kekuatan ilmu, dan sekaligus disisi lain merupakan kelemahan ilmu. Peneltian yang dilakukan, mungkin bisa menjadi sangat birokratis, ilmu iltu selalu takes time, membutuhkan waktu yang relatif banyak, padahal melalui penelitian yang dilakukan, para birokrat dan para teknokrat harus segera mengambil keputusan secara cepat. Apalagi penelitian-penelitian antropologi bisa memakan waktu hingga 2 tahun. Dalam sisi yang lain, percepatan suatu penelitian bisa menjadi berbahaya dan berimplikasi sangat luarbiasa, misalnya jika penelitian kasus ambon dilakukan ketika dalam situasi bara seperti itu, maka apa yang bisa kita harapkan dari penelitiantersebut, pada saat kita wawancara mungkin kita tidak akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya (bias), ketika misalnya mereka baru saja misalnya kehilangan anak dan istrinya, atau masih terbayang ketika orang tuanya terbakar hidup-hidup. Hal yang paling mungkin adalah penelitian dilakukan dan bisa dijelaskan setelah waktu yang relatif lama, ketika mereka sudah mulai bisa melupakan, saling memaafkan. Hal yang akan terjadi jika tetap memaksakan penelitian di saat situasi seperti itu, maka mungkin kita nantinya akan cenderung partisan, parokial dan mungkin data akan mengikuti arus subyektif kita sebagai peneliti karena walaupun bagaimana seorang ilmuwan itu seorang manusia juga, misalnya peneliti islam akan mempercayi sumber atau data dari golongan islam saja. Hal penting yang harus kita lakukan dalam hal ini adalah memenjarakan (brancketing) pikiran subyektifitas kita. Kemudian dalam melakukan peneltian, kita jangan terkesan dengan segala macam gelar atau figur seseorang, karena yang harus diperhatikan jika seorang tokoh, figur mengeluarkan statement seseorang adalah apakan mereka telah melakukan penelitian mengenai hal ini atau belum, jika belum maka semua hal tersebut masih belum merupakan hal yang benar, masih merupakan hipotesis (hipotesis pada dasarnya merupakan turunan dari teori yang dirumuskan sedemikian rupa untuk kepentingan pengujian, jadi suatu aspek yang masih menunggu, merupakan langkah berikutnya), tanpa atau belum dilakukannya penelitian dengan teknik dan metoda yang baik, maka semua hal tersebut masih merupakan hal yang belum benar.

4. Ideologi hanya berakar dalam posisi yang spesifik, maksudnya hanya mempunyai satu akar atau satu posisi saja. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan ilmu yang melampaui atau melintasi berbagai macam posisi yang ada dalam ilmu sosial. Contoh: seseorang yang berbasiskan kepada teori konflik, maka terdapat kecenderungan bahwa ia memaksakan teori konlflik itu untuk semua hal yang diketahui atau dipelajarinya, baik dalam tataran abstrak maupun empirik. Hal itu mengindikasikan pada sisi itu bahwa ia bukan seorang ilmuwan sosial. Seorang yang berbasis teori struktural fungsional, misalnya memaksakan diri bahwa semua itu pada dasarnya mempunyai fungsi yang positif, dan pada akhirnya menuju kepada suatu equilibrium. Sehingga sosiologi sebagai suatu hal yang multi paradigm jangan lagi diperdebatkan dan dibesar-besarkan, lebih baik jika kita sudah mulai mengarah kepada suatu sintesis, melalui upaya-upaya kita untuk mempertimbangkan berbagai macam pandangan termasuk pandangan yang ada dalam sosiologi itu sendiri, atau jika tidak dilakukan kita akan secara emosional menjadi seseorang yang taklid. Konsepsi Marx yang pernah populer dan dikenal dalam literatur sosiologi pembangunan dan politik sebagai paradigma dependensi, paradigma tersebut kemudian tergantikan oleh paradigma sistem dunia (Immanuel Walstein). Sebetulnya jika kita remas dan peras, esensi yang mereka kemukakan sebetulnya sangat sederhana, yaitu ekspolitasi. Dalam kerangka pemikiran Marx, eksploitasi dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas yang berada dibawah atau proletar. Sedangkan Walstein mengatakan bahwa eksploitasi terjadi oleh negara besar (pusat) kepada negara kecil atau miskin (pheriperi). Marx menggambarkan keadaan tersebut dalam skema segitiga, pada awalnya masyarakat terdiri dari banyak kelas dan akhirnya melalui proses-proses eksploitasi luar biasa yang menghasilkan powerfulization akhirnya hanya menjadi dua kelas yaitu borjuis dan proletar yang masing-masing mengelompok. Sedangkan dalam konsepsi dependensi, digambarkan terdapatnya negara pusat (adidaya) yang selalu melakukan eksploitasi terhadap negara pinggiran (pheriperi) yang jumlahnya banyak, sehingga negara-negara besar menjadi semakin kaya. Para penganjur teori dependensi (a.l. yang sekarang menjadi Presidem Brazil : Cardozo), percaya bahwa negara dunia ketiga tidak akan mungkin bisa berhasil menjadi negara maju, karena senantiasa dieskploitasi oleh negara adidaya melalui perdagangan/ekonomi. Walstein mengkritik kepercayaan ini, dengan mengatakan bahwa negara semi peripheri dan periperi ini masih mempunyai kesempatan untuk naik kelas, dan untuk itu Walstein membagi negara di dunia kedalam tiga kategori: pusat, semipheriperi dan pheriperi. Walstein mendasarkan keyakinannya ini kepada sejarah yang telah menunjukkan bagaimana peradaban suatu bangsa timbul dan tenggelam, persis sebagaimana yang digambarkan oleh sosiolog pertama di dunia Ibnu Khaldun. Teori dependensi mendominasi dunia ilmu pengetahuan sosial dalam konteks hubungan state dan society selama hampir dua dasa warsa (60-an sampai 70-an) dan mulai ditinggalkan pada tahun 80-an, esensi teori ini sangat sederhana, dibalik teori-teori rumit dalam buku-buku tebal Waltein, yaitu negara pusat mengeksploitasi negara pinggiran. Untuk menjadikan suatu negara periperi menjadi negara semi periperi bahkan menjadi negara pusat, maka langkah yang bisa dilakukan adalah melakukan revolusi dan isolasi dan jangan lagi melakukan hubungan dagang dengan negara-negara pusat, karena tanpa gerakan seperti itu negara semi periperi dan periperi tidak akan mempunyai kesempatan sama sekali untuk bisa seperti negara pusat. Jasi, teorinya hampir mirip dengan ajakan Marx “jungkirbalikkan kelas yang ada di atas”. Tampak realitas sosial menjadi sangat-sangat sederhana dan bisa menjadi sangat berbahaya, bahkan dalam dalam ilmu sosial pun kita kadang-kadang dalam posisi untuk mengambil posisi dan menganggap hal itu merupakan sesuatu yang benar, sehingga kita anggap selesai sampai disitu (apalagi jika kita mengambil dari Samuel P. Huntington “Kelas Peradaban”)

Jika ingin melakukan klarifikasi melalui kritikan terhadap teori-teori yang sudah ada, seperti yang sering kita baca melalui surat kabar, maka seyogyanya kita melakukan kritikan berdasarkan data dan tidak cukup hanya dengan melakukan nalar saja, karena misalnya Huntington melakukan penelitian dengan mempergunakan data-data (kuantitatif yang baik) yang cukup solid walaupun penyajiannya tidak hanya berdasarkan kuntitatif.

Sehingga jika kita perhatikan akhir-akhir dalam kesempatan diskusi, seminar akan kita temukan Huntingtonian, Giddenian, teori-teori mereka selalu disebut-sebut, dan inilah barangkali yang dapat menunjukkan bahwa kita pun sebenarnya sama buruknya dengan Zainuddin MZ, Qosim Nurseha.

Tanggapan atas pertanyaan:

Yang dimaksudkan ideologi disini dalam segala manifestasinya—dalam hal ini termasuk agama. Karena ilmuwan sosial pun, bisa juga menjadi ideolog, misalnya peneliti jender—khususnya penelitian mengenai pemerkosaan yang dilakukan terhadap etinis cina pada saat terjadi kerusuhan Mei ’98—mereka sepertinya telah menempatkan diri mereka sebagai ideolog-ideolog khususnya dari segi ini, karena pada dasarnya mereka sebenarnya melakukan penelitian dan menemukan hal-hal yang sama lagi, terus dan begitu terus. Sehingga dapat dikatakan bahwa peneliti-peneliti jender sebenarnya merupakan orang-orang yang paling loyal terhadap teori Marx, karena yang mereka gambarkan adalah persis ketika Iqbal Jayadi mengkritik mengenai dependensia dan sistem dunia seperti telah diungkap kan di atas. Karena intinya terjadi pengeksploitasian terhadap kaum perempuan, perempuan selalu dalam kedudukan yang rendah, selalu salah. Iqbal tidak mengatakan hal itu sesuatu yang salah, tetapi apakah realitanya memang selalu seperti itu dan berlaku di semua suku? Dalam kondisi sebenarnya, tampaknya saat ini sudah tidak relevan lagi, dan kesimpulannya adalah hal-hal yang lagi-lagi sama. Kemudian peneltian tentang cina, cina selalu menjadi korban, pada orde lama dijadikan kambing perah, pada jaman orde baru dijadikan kambing potong.

Sebagai peneliti atau ilmuwan, kadang-kadang terperangkap dalam pola pikir ideolog—mempunyai subyektifitas-subyektifitas misalnya ke-cina-an dan ke-pribumi-an—dan hanya sekedar membuktikan bahwa apa yang dipercayai itu benar dan menyampingkan aspek-aspek lain. Misalnya apakah benar etnis cina itu selalu merupakan korban? Secara khusus harus digarisbawahi (masalah-masalah aksi kekerasan politik berkaitan dengan konflik dan integrasi), bagi Iqbal apa yang terjadi dalam kerusuhan Mei ’98 sangat sulit untuk dikatakan kerusuhan, walaupun ciri-ciri kerusuhan di Indonesia itu banyak, tetapi juga ada unsur-unsur yang lain dan salah satu unsur yang menjadi pertanyaan sampai sekarang adalah : apakah benar terjadi perkosaan yang dilakukan oleh sejumlah orang-orang terhadap perempuan-perempuan cina? Sampai sekarang bukti-bukti tidak jelas, LSM tidak menemukan sumber-sumber pertama yang langsung mendengar, yang ada adalah : kata si ini, kata si itu. Dalam sisi sebagai seorang ideolog, Iqbal mempunyai kecurigaan karena jika dilihat dari rentang sejarah, etnis cina tidak pernah pernah melngalami konflik secara langsung—kecuali misalnya di tahun ’67 di Parege—cina dan dayak berkonfrontasi, katakanlah itu bagian kecil dan unsur politiknya tinggi, karena berkaitan dengan aksi PKI dan aksi ganyang malaysia. Cina memang seakan-akan dibatasi ruang lingkupnya, diberi prioritas yang rendah, tetapi dari segi ini suatu fakta sederhana, mereka hingga saat ini secara praktis hampir tidak pernah terdengar pembunuhan-pembunuhan terhadap cina, yang diserang dalam kerusuhan-kerusuhan adalah barang atau hartanya, karena dianggap simbol kecinaan adalah kekayaan, sehingga jika perkosaan itu benar, maka menurut Iqbal hal itu adalah merupakan sesuatu hal yang sama sekali baru, karena dalam rentang sejarah yang cukup panjang yang terjadi adalah perkawinan dengan etnis cina dan selama ini tidak masalah dan disisi yang lain etnis cina selalu dalam posisi kelas menengah (bersama orang-orang Arab) sejak jaman Belanda. Artinya hal-hal seperti itu kenapa tidak dilihat atau dijadikan pertimbangan seperti bagian-bagian yang lain, dalam posisi sebagai ideolog Iqbal menduga—karena belum pernah melakukan penelitian secara khusus tentang etnis cina—sehingga Iqbal menghimbau kita untuk melihat secara seksama terhadap kepercayaan kita sendiri misalnya tidak mungkin perempuan cina itu diperkosa atau dibunuh secara sistematik—yang membuat Indonesia menjadi buruk, karena jika menyangkut minoritas dan HAM orang-orang barat menjadi over sensitif dan cenderung melebih-lebihkan dalam mass media dan hebatnya ilmuwan-ilmuwan kita yang sebenarnya tidak tahu juntrungannya atau sebenarnya tahu masih mengutip media-media seperti itu. Bahkan orang seperti Salim pun kadang-kadang bisa bertindak sebagai seorang ideolog, ketika misalnya melihat sebuah gambar kanibalisme di Kalbar yang dilakukan etnis tertentu dia langsung terpancing emosinya dengan marah : kenapa bangsa kita menjadi bangsa bar-bar, biadab. Ini merupakan contoh bahwa seorang ilmuwan juga bisa bertindaksebagai seorang ideolog, karena Emil Salim tidak konteks dari segi ini, sehingga kita sentiasa harus melihat dengan hati-hati. Dalam kasus yang ditemukan oleh Parsudi Suparlan, ada benarnya ketika beliau mengatakan etnis madura dalam hal ini salah—hal yang tidak terperhatikan oleh Emil Salim.

Dalam suatu kesempatan forum ilmiah, kadang-kadang para ilmuwan bisa menjadi ribut hanya karena kesukuan, mereka lupa mereka sebenarnya merupakan seorang ilmuwan, seingga sulit dibedakan antara pembicaraan di warung kopi dengan forum-forum ilmiah seperti itu, karena acapkali terungkap hal-hal yang sebenarnya penuh dengan prasangka dan hal-hal atau keyakinan-keyakinan yang sebenarnya masih diipertanyakan. Ini diungkapkan oleh karena yang paling penting adalah bagaimana seharusnya seseorang mempunyai titik-titik patokan tertentu sebagai seorang ilmuwan.

Ketika seorang peneliti ketika mempublikasikan sebuah temuan, resiko yang akan dialami adalah dihantam kiri-kanan dalam bentuk kritik dan hujatan-hujatan dan harus diperjuangkan, berbeda dengan menulis artikel yang intinya berbicara teoritik atau kepustakaan apalagi tanpa didukung oleh data-data empirik yang masih merupakan kemungkinan.

Tanggapan atas pertanyaan:

Iqbal disini berusaha agar orang memperoleh pemahaman yang obyektif, artinya berusaha untuk bracketing, karena dengan akan lebih mudah bagi seseorang untuk memenjarakan kemungkinan bias-bias (pribadi atau orang-orang yang akan diteliti) yang berasal dari dirinya, yang merupakan prasangka-prasangka yang ingin dibuktikan benar.

Seorang ilmuwan pun pada suatu ketika tanpa disadarnya menjadi ideolog-ideolog—karena ia hanya menghasilkan temuan-temuan yang hasilnya sudah bisa diduga oleh orang-orang bahwa hasilnya akan seperti itu. Jadi, bukan cuma agama yang merupakan ideologi tetapi juga dalam ilmu itu sendiri.

Tanggapan atas pertanyaan:

Pendekatan kulturalis, melihat ke atas tentang adanya common village(?), kita berbicara mengenai nilai maka kita berbicara masalah kultur, jika kita berbicara tentang orang-orangnya, kelompok-kelompoknya maka kita berbicara mengenai struktur.

Weber adalah tipe ideal, tidak berarti ilmu sepenuhnya menganggap bahwa teori sosial dengan ciri-ciri seperti ini dan tidak semua ideologi termasuk agama mempunyai ciri-ciri seperti itu—itu adalahbentuk ekstrimnya—namun dalam kerangka tertentu Iqbal ingin mengatakan bahwa seorang sosiolog—Comte—pernah percaya bahwa perkembangan peradaban bermula dari tahap religius (keagamaan) dimana kebenaran itu seluruhnya ditentukan oleh para pemimpin agama (nabi, ulama, pendeta, pastur, dsb). Misalnya dalam agama kristen kebenaran seluruhnya ditentukan oleh gereja—ketika belum terpecah sehingga menjadi katolik dan protestan—ketika seseorang, yang merupakan tonggak dari apa yang revolusi pengetahuan/munculnya ilmu seperti copernicus, galileo galilei, newton, ketika mereka mengemukakan hal-hal yang berbeda dari apa yang selama ini dipercayai agama, maka mereka menghadapi inkuisisi/pengadilan agama, yang berarti menentang agama, kebenaran, dan menghujat tuhan. Dan ternyata sejarah membuktikan dari segi ini, bahwa ilmu benar tetapi tidak selamanya ilmu benar dan disuatu saat nanti, dimasa depan Iqbal percaya mungkin seperti Comte membayangkan dari tahap religius, tahap metafisik—filsuf, yang secara deduktif menentukan kebenaran seperti ini: socrates, plato, demokritos—mereka penentu kebenaran yang bukan didasarkan wahyu, tetapi melalui reason/nalar, sehingga dengan reasonlah ditentukan kebenaran itu seperti apa. Seperti demokritos percaya bahwa benda-benda itu bisa dipecah-pecah menjadi satuan-satuan yang lebih kecil, straton itu sama sekali tidak bisa dipecah-pecah (atom), dan pada masa tertentu benar, namun pada perkembangannya hal tersebut tidak benar lagi, karena masih dapat dibelah-belah menjadi proton, positron, netron dan sekarangpun masih bisa dibelah-belah menjadi kuart, dsb. Itu membuktikan bahwa apa yang dihasilkan oleh sesuatu ilmu masih bisa tidak benar, sekaligus pada waktu metafisik ini diubah menjadi ilmu, kita membayangkan apakah tahap keilmuan atau yang menurut Comte adalah positivistik akan selesai sampai disitu? Kita mulai menjadi ragu dan bertanya-tanya, dulu ketika tahap peradaban religius, kebenaran ditentukan oleh orang-orang semacam demokritos, mereka juga membayangkan pada suatu waktu teori-teori mereka akan dipatahkan oleh orang-orang yang sebetulnya murid-murid mereka. Maka disinilah kita bisa melihat sudut kekuatan hakekat suatu keilmuan—yang menggantikan religius dan metafisik itu dalam pengertian bahwa mereka tidak lagi berpikir hanya deduktif tetapi juga induktif—dari atas ke bawah kemudian ditarik lagi ke atas, merupakan hal yang benar atau tidak—gagasan itu harus dibenturkan dengan realita empirik, dan itulah yang menjadikan peradaban kita itu maju, coba kita bayangkan jika dalam peradaban kita bahwa semua kebenaran itu hanya ditentukan hanya oleh agama, apa yang terjadi? Itulah yang dalam sejarah kita kenal dengan abad kegelapan (dark agres), apa yang terjadi jika kehidupan kita hanya ditentukan oleh seorang demokritos, socrates, plato yang muncul sebenarnya adalah sama saja yaitu munculnya otoriti-otoriti yang mengatakan bahwa kebenaran itu hanya seperti ini, figur-figur seperti plato, dsb. Akhirnya menjadi otoriti-otoriti yang seakan akan tunggal, bahkan beberapa orang mengatakan bahwa mereka ini sebetulnya aalah nabi. Yang menarik dari ilmu adalah, ilmu berkembang dengan kekuatan yang tidak ada di dalam agama dan filsafat, tetapi dari satu segi tidak pernah muncul otoriti dalam kekuatan penuh. Yang bernama ilmuwan yang berkembang seperti dalam masyarakat kita, dalam kondisi yang normal-normal saja misalnya hanya didengar dan diungkapkan di dalam ruang kelas, jika telah di luar siapa yang akan mendengarnya? Yang menentukan kebenaran-kebenaran itu akhirnya diserahkan kepada banyak pihak, ilmuwan tersebut hanya terbatas mempublikasikan dan menyerahkan hasil-hasil penelitiannya kepada birokrat, teknokrat dan pihak-pihak lain. Yang sering dialami oleh peneliti-peneliti perguruan tinggi dengan lembaga internasional, mereka meng-hire UI dan di pihak lain mereka meng-hire UGM ternyata dengan hasil yang berbeda, walaupun sama-sama sosiolog dengan penelitian yang kurang lebih sama. Hal ini menunjukkan kekuatan dan kelemahan ilmu dan juga merupakan antisipasi ke depan, mungkin juga ada jaman lain dimana penentu kebenaran bukan lagi ilmiah.

Tanggapan atas pertanyaan:

Formal teori dan substansi teori dipadankan dengan teori makro, teori mikro serta grand theory dan middle range theory. Yang paling besar kemungkinannya adalah kita ini cenderung menjadi ideolog-ideolog walapun kita tengah mengadakan penelitian yang mempergunakan metode-metode ilmiah, karena hasil penelitian cenderung untuk memuaskan apa yang dikatakan dalam teori-teori besar (grand theory). Teori substantif—teori yang langsung bisa dipergunakan, Neumann. Atau teori yang sudah dirumuskan dalam bentuk variabel kongloreman[Pen] (?), misalnya dalam bentuk penelitian : hubungan antara kapitalisme dan demokrasi, yang merupakan tonggak penolakan teori dalam penelitian-peneltian—kapitalisme itu adalah sasaran [Pen] (?) sebagai unsur demokrasi, tidak akan mungkin terwujud demokrasi dalam masyarakat yang tidak menganut kapitalisme. Peneltian-penelitian sederhana seperti ini yang sering dilakukan di manca negara oleh S1, S2 dan S3, seringkali hanya meneliti hubungan sederhana seperti itu saja, yang intinya sederhana dan inilah yang disebut sebagai teori substantif. Sementara teori formal yang diajukan mislanya oleh Parsons : bahwa masyarakat itu merupakan suatu sistem, dan suatu sistem tersebut bisa terdiri dari bermacam-macam sub sistem, dan kemudian didalamnya ada yang dikenal sebagai AGIL, hasilnya mungkin bukan merupakan sesuatu yang substantif hanya menghasilkan bagian tertentu saja setelah dikunyah dan diperas-peras, dan baru bisa dipakai untuk penelitian selanjutnya. Kebanyakan orang-orang sosiologi gagal untuk membuatu penelitian yang cepat, karena yang dipergunakan adalah teori-teori yang formal. Harus-harus dihindarkan kita menjadi taklid-taklid. Misalnya lagi yang sering dipergunakan dalam ilmu psikologi dan kependudukan: perilaku adalah fungsi dari sikap, perilaku = fungsi dari sikap, ini adalah bentuk teori yang substantif. Dengan model seperti ini kita tinggal memanipulasi dan obok-obok untuk kepentingan apa, misalnya perilaku kita rubah untuk pemiihan partai politik, perilakunya adalah pemilihan partai politik dipengaruhi oleh sikap dia terhadap politik; perilakunya dirubah lagi misalnya menjadi partisipasi dalam keluarga berencana, dipengaruhi oleh pengetahuan dia tentang keluarga berencana, tentang kependudukan, tentang demografi; bahkan sikap ini bisa kita manipulasi kembali menjadi dua : sikap dia sendiri dan sikap teman-temannya; orang akan memlih partai tertentu jika dia melihat persepsi yang baik tentang partai tersebut dan apabila sikapnya itu sesuai dengan sikap teman-temannya, hingga disini selesai dan itu adalah suatu hal yang sangat substantif.

Mengawali suatu penelitian awalnya adalah membaca (iqra), jika bisa jangan baca Marx, Weber, Durkheim; yang terbaik adalah baca skripsi, hasil penelitian dan kita melihat teori-teori apa yang dipergunakan.

Terakhir, dalam konteks ilmu sosial menurut C. Wright Mills pada umumnya terdapat dua kecenderungan : antara lain pertama, abstracted empirisism, yang bermain-main di tingkat atas, manusia seperti Marx, Parsons, Weber melakukan penelitian yang sifatnya sangat teoritik sangat dekat filsafat, kecuali Durkheim yang mempergunakan data-data kuantitatif. Penelitan-penelitian yang dilakukan sesudahnya banyak yang hanya mempetemukan : misalnya munculnya kapitalisme itu kenapa? Apa yang diyakini Durkheim pasti berbeda dengan Weber dan Marx; dan peneliti-peneliti itu menganalisis gand theory itu dengan menghasilkan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda-beda. Kedua, penelitian-penelitian yang sangat final dan menghasilkan teori-teori yang kongkrit.

Iqbal menyadari bahwa ia pun sebenarnya sangat bias ilmu—jika dibandingkan dengan agama, dari satu segi ia menempatkan ilmu diatas segala-galanya, ia kebetulan di depan kelas berbicara di gardu keilmuan (perguruan tinggi), bukan di mesjid sebagai gardu agama.

Tanggapan atas pertanyaan:

Struktur relevan atau sistem konsep bukan hanya sekedar jargon, tetapi mungkin juga kata-kata yang sama (kita orang indonesia menggunakan kosa yang sama, tetapi kita mempunyai kecenderungan untuk memilih kata-kata tertentu-yang kerap kali kita gunakan juga pada kesempatan-kesempatan lain, hal itu menunjukkan karena kita sadar atau tidak sadar mempunyai kemampuan atau kecenderungan untuk memberikan penafsiran tertentu, dalam bentuk ekstrimnya biasanya jika tidak puas dengan penggunaan bahasa yang sama itu, akan dikeluarkan istilah-istilah yang berbeda, seperti struktur sosial, itu adalah jargon yang dikeluarkan oleh orang-orang sosiologi, sebetulnya esensinya hubungan, hanya kata hubungan cuma dianggap merisaukan karena ada kecenderungan itu juga ditampilkan dalam konteks hubungan seksual atau hubungan-hubungan yang lain. Sedangkan yang dimaksudkan adalah pemahaman konteks atau indeks (sebagian sosiolog mengatakan sebagai pemahaman indektikal), jadi ketika kita mengutarakan suatu konteks, maka yang dilihat itu bukan sedekar konsep, misalnya dono warkop pada tahun 1980-an : kenapa kita ini sering menyenter perempuan dalam pakaian bikini di kolam renang, di laut atau seting-seting seperti itu dan orang tidak akan mengasosiasikannya sebagai hal yang porno, tetapi jika perempuan itu difoto berbikini di atas ranjang, maka akan lain halnya. Itulah indeks atau konteks yang menempatkan, jadi pada saat kita berhadapan dengan orang seringkali yang kita lihat disini adalah bukan sekedar konsep-konsep tetapi juga situasi yang berada dihadapan kita. Dalam hal ini kita harus melihat-lihat juga dengan siapa kita berbicara, bukan masalah kita ini berprofesi sebagai apa, tetapi bisa melihat dalam konsep, dalam konsepsi tertentu ada saatnya kita seperti merendahkan atau bahkan melecehkan agama, karena kesempatannya mengharuskan seperti itu. Dalam satu kesempatan kita berbicara mengenai konteks tertentu bisa diterima oleh masyarakat dan begitu juga sebaliknya.

Literatur Review

Intinya adalah mengkaji studi yang telah dilakukan sebelumnya atau secara umum disebut sebagai studi kepustakaan, yang secara mendasar pernah dibahas, namun mungkin belum dibahas secara khusus yang menerangkan betapa pentingnya kajian pustaka, dengan harapan:

1. dengan semangat yang sangat ilmiah, dengan kajian kepustakaan kita membuat semacam akumulasi pengetahuan, karena dalam semangat ilmu yang bersifat positivisme, maka ilmu tersebut akan terus menerus diperbarui, beberapa pengetahuan yang dianggap tidak relevan akan dibuang, sementara ilmu pengerahuan yang semakin lama semakin baik akan dikumpulkan dengan cara yang lebih terorganisasi;

2. kita menghindarkan jangan sampai kita melakukan penelitian-penelitian yang sifatnya duplikasi atau replikasi dari studi-studi yang sebetulnya telah jelas hasilnya seperti itu, diharapkan fenomena-fenomena baru akan muncul dan menghasilkan juga pengetahuan baru. Penelitian-penelitian yang bersifat eksploratif ada kecenderungan semakin lama semakin hilang karena praktis sudah tidak ada lagi yang baru dalam ilmu sosial mengenai masyarakat terasing yang bisa dilihat dan oleh akrena itu, kita harapkan studi-studi dibuat dalam fenomena-fenomena yang relatif baru, salah satu diantaranya aspek yang sangat penting adalah untuk sekian lamanya di sosiologi, pusat perhatian sosiologi khususnya Jamhur atau pakar-pakar atau tokoh-tokoh/roh-roh sosiologi yang bergentayangan itu hanya dipusatkan di aspek struktur sosial tertentu, hanya memberi perhatian pada aspek vertikal dari struktur sosial, jadi misalnya Marx hanya mempermasalahkan kelas dan kemudian diikuti oleh pendukung-pendukungnya, di Amerika dan Erapa tahun 60-an sampai dengan 80-an didominasi hanya pada studi-studi yang pada dasarnya hanya menggambarkan stratifikasi saja, didlam pengertian pertentangan kelas, tidak ada studi yang diluar pekemnya Marx. Yang kedua studi2 yang sifatnya membahas aspek horisontal dalam struktur sosial tetapi penekanannya adalah kepada division of labor atau lebih kepada pembagian pekerjaan. Penelitian tentang hubungan antar etnik atau antar kelompok boleh dikatakan sangat minim sekali dilakukan, khususnya prediksi atau penelitian-penelitian yang dilakukan oleh sosiolog-sosiolog yang ada di luar AS atau entah sengaja atau tidak sosiolog2 terkenal yang dimulai dari masa klasik: dari Comte, Marx dan terakhir Weber hingga ke tokoh kontemporer seperti Parson, Merton, dsb lebih memberikan perhatian atau lebih berasumsi bahwa seakan-akan bahwa aspek horisontal dalam struktur sosial itu adalah sesuatu yang sifatnya sifatnya tidak bertalian dengan hubungan antar etnik, karena hal tersebut berhubungan dengan masa lampau, dan saat sekarang sudah tidak lagi mengalaminya dan dunia barat menganggap tidak merasa perlu untuk mengembangkannya. Tetapi ternyata hubungan antar etnik merupakan hubungan yang sangat penting dan konteksnya itu tidak bisa disamakan dengan AS yang sangat amerikan sentris dimana hubungan-hubungan di basis itu dalam konteks satu negara, padahal dalam banyak kasus hubungan antar etnis itu bukan hanya terjadi di dunia ke tiga saja, juga ternyata juga terjadi di negara-negara yang dikualifikasikan sebagai negara yang sudah maju yang menganggap hubungan antar etnik sudah selesai dan seperti yang kita lihat Inggris dan Irlandia Utara, Kanada dengan Quebec, Spanyol dengan gerakan-gerakan Basque, Yugoslavia. Literatur-literatur sosiologi di Eropa khususnya di tahun 90-an, sudah diarahkan kembali ke masalah-masalah etnik, apa yang dulu diasumsikan sudah selesai sekarang harus dianggap harus dimulai lagi, dulu peneliti-peneliti seperti Hans Count (?), kemudian Hannah Arendt, itu adalah peneliti-peneliti tentang nasionalisme, tentang klasifikasi-klasifikasi yang paling abstrak atau hubungan antar etnik atau antar primordial, itu tidak laku, kalah pamornya dengan peneliti-peneliti lain seperti tokoh-tokok dependensia, atau tokoh-tokoh teori Parson, Merton, dsb. Dengan membaca atau melakukan kajian pustaka, kita bisa melihat dan barangkali yang lebih penting adalah kita akan melakukan penelitian apa, kita harus melakukan pemetaan yang ada yang telah diteliti selama ini oleh orang-orang, kadang-kadang terlihat kesan terajdi mode dalam sosiologi yang jika kita analogikan dengan perkembangan busana: suatu waktu penelitian tentang perkotaan dan pedesaan sangat banyak, untuk kemudian pamornya hilang, seperti di AS misalnya studi tentang wilayah urban dan rural terutama muncul di tahun 30-an kenapa? Karena bertalian pada saat Roosevelt melancarkan program New Deal yang pada dasarnya bendera putih atau menyerahnya kapitalisme dan AS bukan lagi kapitalis murni karena sudah mulai mengarah kepada sosialis, karena state mulai memberikan subsidi-subsidi pada saat terjadi resesi/depresi yang sangat luar biasa yang menuntut pemerintah atau negara melakukan intervensi-intervensi, jadi tidak diserahkan sepenuhnya kepada pasar, termasuk dunia universitas dibanjiri oleh proyek-proyek pesanan pemerintah dan oleh karena itu studi tentang perkotaan dan pedesaan sangat populer sekali dan tahun 50 sampai 60 sudah mulai mereda, dan kritikan gencar tentang perkotaan dan pedesaan dibayangi oleh utopia atau hanya seperti novel-novel yang memberikan deskripsi-deskripsi yang sangat menarik, tetapi luput dalam memberikan penjelasan, akhirnya tidak tertarik lagi, muncul model lain, meneliti tentang masalah pembangunan, awalnya yang tertarik adalah para pengikut Parson, penelitian tentang modernisasi bidang agama, ekonomi, politik, pendidikan, dsb. Seiring dengan hancurnya pengaruh Parson hilang pula penelitian tentang hal tersebut, kemudian digantikan olah studi pembangunan dengan pendekatan lain, yang dipelopori oleh orang-orang dependensia, sangat mengemuka dan populer hingga lenyap juga hingga aliran ini dikalahkan oleh aliran sistem dunia yang dipelopori oleh Emmanuel Walstein, dan sekarang studi tentang pembangunan sudah tidak begitu “in”, pada saat misalnya suatu aliran tengah trend, matakuliah-mata kuliah misalnya dilengkapi dengan embel-embel misalnya: sosiologi perkotaan, perdesaan, hubungan antar kota dan desa, sosiologi perkotaan 1, sosiologi perkotaan 2. Dalam konteks seperti itu barangkali kita perlu membaca peta tentang apa yang sedang in, karena akan banyak membawa keuntungan bagi kita, literatur banyak, dosen-dosen banyak yang tertarik tentang masalah tersebut karena mungkin sedang terlibat dalam proyek-proyek tersebut. Hal tersebut merupakan hal-hal pragmatisnya, dan sebenarnya yang intinya adalah kita bisa memperoleh pengetahuan yang relatif sudah tersedia cukup banyak dan kita bisa belajar, tetapi ini juga ada bahayanya ialah jika kita terlampau masuk ke dalam suatu tren dan sudah mulai ditinggalkan, banyak yang tidak tertarik lagi dan kita akan dituntut untuk melakukan sesuatu hal yang baru, sesuatu yang lebih tinggi tingkatannya, labih kerja keras, karena dituntut untuk menghasilkan studi-studi yang hasilnya kurang lebih sama, seperti masalah jender misalnya relatif sudah tidak bisa ditemukan lagi temuan-temuan baru kecuali bagaimana perempuan diperlakukan secara tidak adil oleh laki-laki. Masalah perkotaan misalnya migrasi disebabkan adanya daya tarik kota karena gemerlapnya kota dan daya dorong yang berasal dari pedesaan, hal-hal yang sama sekali tidak baru dan tidak orisinil lagi.

3. Kajian literatur bisa membuat kita mempunyai inspirasi/insight tentang apa yang sebaiknya kita teliti dan mana yang sebaiknya tidak kita teliti. Kita bisa melihat bagaimana kritik-kritik yang diajukan oleh sejumlah peneliti terhadap hasil penelitian dalam bidang-bidang tertentu. Pertanyaannya sekarang adalah, mana yang akan kita mulai baca dalam kajian pustaka. Suatu kebiasaan yang kurang baik dan cenderung menghambat adalah apabila kita membuat kajian litertur yang dimulai dari buku-buku teori apalagi teori abstrak (mis. Parson), tetapi yang baik adalah hasil-hasil penelitian, jurnal. Memulai dari jurnal ilmiah adalah hal yang paling baik, karena merupakan laporan penelitian, yang mengungkap peringkatan tentang hasil penelitian, kita langsung dapat melihat konfigurasi dari hasil penelitian karena sudah diringkaskan, pemaparan per-masing-masing bagian: latar belakang, permasalahan, kerangka pemikiran, metodologi dan yang paling penting adalah hasil peneltian dan temuan-temuan yang dihasilkan. Dengan jurnal kita bisa dengan mudah mengambil permasalahan, metodologi, kita tinggal mengambil replikasi-duplikasi tetapi tentu saja disesuaikan dengan obyek, lokasi penelitian kita dengan revisi atau penambahan disana-sini, sehingga jurnal akan memberikan gambaran komprehensif, yang artinya sesuai juga dengan pskologi gestalt, jika kita meliaht sesuatu biasanya kita lebih dulu melihat secara keseluruhan baru kemudian baru berkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu. Jadi kita lihat dulu secara keseluruhan, baru kita lihat ke organ-organ atau bagian-bagian kecil yang menarik perhatian kita. Seringkali kita tidak menyadari hal tersebut, jadi pada waktu melakukan proses penyusunan itu, kita biasanya banyak membuang waktu pada bagian outline/proposan, yaitu sesuatu yang akan merupakan cikal-bakal Bab I, atau membuang-buang waktu di latar belakang permasalahan. Padahal menurut Iqbal yang paling penting adalah mulailan dari permasalahan yang akan mengeksplisitkan tujuan penelitian, misalnya mendeskripsikan sikap masyarakat apakah masih mendukung atau sudah tidak lagi mendukung Gus Dur, jadi bisa dibayangkan hasil penelitian kita pada akhirnya hasilnya akan seperti apa? Dengan visualisasi tabel kah, peta kah, kita bayangkan kategori-kategori seperti apa dan kesimpulan seperti apa yang akan didapatkan nantinya. Itu hanya mungkin jika kita melakukan langkah taktis dengan membaca jurnal. Bisa tergambarkan apakah permasalahan itu menarik untuk digambarkan/dipetakan, karena dengan cara seperti itu kita langsung bisa langsung berkutat di metolologi atau kerangka teori, dengan cara seperti ini sebetulnya kita lebih awal dapat mengantisipasi bahwa misalnya temuan saya sebenarnya tidak menarik, apa yang bisa kita sumbangkan dengan hasil permasalahan seperti ini. Kita biasanya lebih banyak mengeluarkan uang cukup banyak untuk hanya mendukung latar belakang dan kerangka pemikiran dan melupakan temuan-temuan penelitian yang sebetulnya harus terkupas tuntas di bab akhir.

Langkah-langkah: pertama, kita harus memahami apa yang ingin kita teliti dan kedua hasilnya apa atau tujuan meneliti, gambaran mengenai tujuan itu seperti apa nantinya. Dan itu lah sebenarnya yang paling penting (tujuan dan gambaran dari tujuan). Bukan berarti hal-hal lain tidak penting, kita bisa misalkan, metodologi itu diibaratkan knalpot kerangka teori itu seperti busi, artinya hanya merupakan bagian dan artinya tidak terlalu vital.

Dalam jurnal tidak lagi ada kerangka teori, kajian pustaka, tetapi semuanya dringkaskan yang ditekankan adalah bagian awal dan akhir. Untuk membuat permasalahan dengan baik, tujuan dengan jelas dalam batasan-batasan tertentu dan kemudian hasil yang kaya yang bisa memberikan insight baru kepada pembaca, membuat decak kagum bagi orang-orang yang medengar atau membacanya itu adalah dengan bantuan teori dan metodologi. Penekanan metodologi pada awal perkuliahan memang ditekankan, karena hal itu untuk membedakan cara pengambilan informasi antara orang awam dan orang ilmiah. Dalam jurnal-jurnal di luar negeri, bab tentang metodologi merupakan bagian yang sangat sederhana, karena dianggap orang telah mengetahui. Karena mereka lebih mementingkan atau tertarik kepada apa sebetulnya temuan penelitiannya. Teori pun yang terpenting yang kita pergunakan adalah teori yang akan memberikan insight kepada kita tentang apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat. Apa yang kita lihat kita deskripsikan dengan sejelas-jelasnya sedemikian rupa sehingga pengukuran dari konsep-konsep yang ingin diteliti itu tepat, bagaimana konsep diturunkan jadi variabel, variabel diturunkan jadi indikator-indikator, bagaimana hubungannya antara suatu variabel dengan variabel lain. Hal terpenting dalam suatu jurnal penelitian, kita bisa melihat berbagai macam teori yang ada itu sekarang direduksikan, dirubah dari teori yang sifatnya formal/besar/grand theory menjadi …, karena jika kita misalnya mengikuti pemikiran Parson yang sebenarnya, sangat susah diukur, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa dalam suatu sistem itu ada yang dinamakan homestatis(?) atau equilibrium, bagaimana kita membuktikan bahwa didalam sistem tindakan itu terdiri dari 4 sistem, bahwa 4 sistem itu terdiri dari fungsi-fungsi tersebut, ada 4 pasal fungsional, sangat susah untuk membuktikannya. Kita harus turunkan kedalam variabel-variabel yang mungkin diukur karena konsep Parson tersebut sangat abstrak. Jika kita tertarik kepada kerangka Parson, mengapa kita tidak melihatnya melalui jurnal, mungkin ada penelitian yang mendukung teori Parson, tetapi mungkin teori Parson yang sudah direduksi, sudah sedemikian rupa sudah diturunkan, dan langkah tersebut jauh lebih taktis. Kemudian laporan penelitian yang dilakukan dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, laporan2 penelitian departemen, lembagai2 internasianal, bisa dijadikan patokan, pegangan. Disitu juga kita bisa melihat bagaimana teori dalam prokteknya diturunkan kedalam suatu format yang siap untuk diukur, kita tidak lagi mengalami proses2 kerumitan, kita tidak sedang berbicara tentang mengecilkan arti teori atau metodologi karena sekali kita memahami tentang teori dan metodologi, maka sebetulnya sudah tidak menarik lagi, terutama metodologi, tidak ada lagi hal2 baru dan akan begitu saja seterusnya. Sering kita melihat dalam skripsi, tesis yang melakukan peneltian deskriptif yang mengutip Neuman, van Leinberg menurut Iqbal tidak perlu lagi karena sudah jelas. Misalnya penelitian tentang petani yang terus beradaptasi mengahadapi lingkungan yang kerap berubah, cukup itu saja dan tidak usah menyebutkan banyak2. Tidak usah dalam metodologi kita menyebut menurut A begini, B begini, dan yang terpenting yang mana yang akan dipergunakan? Kita menjadi seorang pedantik, atau orang yang berlebih-lebihan, sok ilmiah, show off, sekuler,dll. Karena orang akan tertarik kepada temuan penelitiannya dan ini yang paling penting, kita mengharapkan tentu saja penelitian akan menjadi baik apabila kita menggunakan teori dan metodologi yang tepat.

Tanggapan pertanyaan:

Jika sudah banyak mempunyai data, kita tinggal merumuskan apa yang menjadi permasalahan dan kemudian, tujuan dan hasilnya yang diinginkan seperti apap, karena kita sudah mempunyai temuan penelitian yang tinggal diorganisasikan saja. Karena kita sudah lama berkecimpung dalam organisasi2 pemerintah, lsm, sudah banyak bergaul dengan data, jadi sebetulnya kita sedang berdiri, duduk atau sibuk dengan temuan2 penelitian, cuma mereka ini harus dirumuskan, harus diformat dalam bentuk temuan2 penelitian yang ilmiah. Iqbal misalnya bekerja mengumpulkan data dari data media massa dan kepolisian untuk mengukur integrasi nasional, data2 kerusuhan, konflik etnik, sedemikian rupa sehingga bisa dalam setiap tahunnya diukur integrasi nasional yang seperti apa yang sedang terjadi, integrasi societalnya, bisa membuat hubungan dengan geni ratio, geni koofisien.

Tanggapan pertanyaan:

Temuan adalah sesuatu yang kita sebut sebgai data. Yang disebut dengan suatu penelitian dalam kerangka positivism atau kuantitatif, kita berusaha untuk menurunkan teori atau konsep itu untuk mendekati kenyataan, jadi yang disebut sebegai data itu adalah dalam realitas empirik. Jadi jika berbicara temuan maka kita berbicara mengenai realitas empirik ini yang dibaca sebagai teori atau konsep tertentu, jadi esensi dari temuan penelitian itu adalah gambaran mengenai realitias empirik itu sendiri jadi yang disebut sebagai deduktif, dari awal kita sudah melihat mana data-data yang akan kita berikan baju (konsep) atau teori, sudah kita kenakan pakaian, dari hal itu kita kita hanya akan mencari data-data yang memang sudah dilihat dari baju tertentu, sementara dalam penelitian kualitatif yang bersifat induktif, kita biarkan data itu seperti apa adanya, dan disinilah mengapa prosesnya bisa menjadi begitu lama, untuk kemudian dicarikan konsep atau teorinya yang tepat.

Misalnya penelitian ingin menunjukkan bahwa kemiskinan itu dipengaruhi oleh pendidikan, jika ternyata ketika turun ke lapangan ternyata tidak ada hubungannya, itu juga merupakan temuan penelitian dan tidak menjadi masalah, apalagi dalam pengertian semangat kuantitatif yang akan merangsang orang bertanya kenapa, ternyata kemiskinan tidak dipengaruhi oleh pendidikan. Kalau begitu pasti ada variabel independen lain atau variabel pengganggu, atau variabel kontrolnya, ternyata yang menarik adalah hubungan kemiskinan dengan kemiskinan itu ternyata tidak berhubungan jika di desa dan ternyata di desa itu berhubungan, atau temuan2 penelitian2 lain yang menarik. Misalnya lagi penelitian keberhasilan Puskesmas dengan keberhasilan dalam program KB, ternyata adanya Puskesmas tidak mendorong keberhasilan program KB atau partisipasi KB itu berhasil, karena variabel yang mengganggu yaitu, tidak ada aliran listrik, hujan terus, rumah dekat rel kereta api-tidur tanggung, lari pagi takut disangka maling, akhirnya yang dilakukan adalah aktivitas2 monoton. Jadi, tidak sesuai dengan tujuan penelitian bukan berarti studi kita mempunyai nilai yang rendah.

Kemudian laporan penelitian dalam kuantitatif terdapat hipotesis dalam kuantitatif ada pertanyaan mengapa begini, begitu.

Kemudian, penelitian single topics dengan sintetic topics, yaitu merujuk kepada penelitian yang topiknya pada dasarnya sederhana, langsung pada fokusnya yang jelas, studi2 yang sifatnya deskriptif langsung kepada single/simbol(?) topik. Kita tidak usah pusing2 dengan topik pandangan masyarakat tentang KB, tentang wajib belajar, program IDT, yang merupakan simbol topik, tetapi jika penelitian menyangkut modernisasi di kawasan negara2 dunia ke tiga, merupakan sintesis topik, karena yang akan diukur nanti adalah berbagai macam aspek bukan hanya dalam masalah bidang budaya tetapi juga politiknya, ekonominya.

Sedangkan tahun hanya merupakan gambaran, jika bisa kita memulai dari tahun terbaru, kemudian mundur ke belakang dan jangan sebaliknya, karena buku2 terbaru akan merujuk kepada buku2 yang ada sebelumnya. Hal yang paling enak jika kita membaca dari jurnal ilmiah atau laporan penelitian, kita akan berhadapan dengan situasi dimana peneliti yang bersangkutan menyebutkan tentang masalah kemiskinan telah banyak diteliti orang, misalnya A, B, C, kita tinggal melihat catatan kaki, sumber yang mereka kutip, itu jauh lebih taktis, dan kita bisa menentukan sebaiknya mana topik yang sebaiknya kita baca habis dan mana yang tidak dan untuk membaca jurnal penelitian atau ilmiah atau laporan penelitain waktunya tidak terlampau menyita waktu dan kegunaannya langsung daripada kita membaca buku2 teori atau buku2 yang menyajikan bukan dalam bentuk laporan.

Tulisan2 yang berisi tentang sintesis-sintesis, polemik atau perdebatan tentang kapitalisme, sebetulunya kegunaannya secara langsung untuk penelitian itu tidak ada, kecuali untuk bagian khusus kerangka teori, atau untuk dipakai sebagai suatu model untuk penelitian masih jauh dan kita melihatnya hanya sebagai suatu teori juga tetapi dengan format yang lebih sederhana.

Berikutnya, buku ilmiah, yang terdiri dari seperti yang telah diungkapkan di atas terdiri dari bermacam-macam, mulailah dari jurnal. Buku ilmiah yang diprioritaskan juga adalah monograf, pada dasarnya berada diantara working (paper) dan buku, monografi mengulas secara panjang lebar dan biasanya juga merupakan suatu laporan penelitain dan tetapi belum siap untuk jadi buku, jadi merupakan manuscript yang masih tanggung, di AS mulai membuat buku mulai dari seperti itu, working paper misalnya 5-6 halaman, mereka bekerja sistematik, tiap hari mereka mengetik, yang berbeda dengan orang2 kita yang menunggu mood, santai. Dan kadang2 mungkin pada lembaran yang ke 100 itu yang merupakan isi dari karya mereka, dan penelitian mereka semakin lama semakin tajam. Monografi seringkali juga dalam bentuk laporan2 yang sifatnya deskriptif jadi bukan dalam pengertian seperti buku yang langsung lekat, tetapi khusus tentang buku, buku apa, karena juga ada buku yang isinya merupakan laporan penelitian, seperti buku Debi Paramita “Strukur Organisasi-organisasi di Indonesia” itu dijdikan buku yang diterbitkan oleh FE-UI, yang sebenarnya merupakan disertasi, atau buku “sektor informal” yang merupakan disertasi dosen fisip ui atau the religion of java, yang merupakan disertasi Clifford T. Gertz. Jika buku kumpulan artikel2 di koran, tidak ada nilainya, yang seringkali hanya merupakan cetusan2 pemikiran atau ide2 sesaat yang seringkali tidak ada pertalian satu sama lain, karena itu hanya untuk memancing ide dan formatnya biasanya sangat longgar.

Pengukuran

Selama ini kita berbicara tentang penelitian, tetapi yang menjadi pertanyaan dasar bagi kita adalah apa sebetulnya hakekat penelitian? Ketika kita sedang melakukan suatu penelitian sebebnarnya kita sedang melakukan apa, apakah penelitian itu adalah suatu upaya untuk menguji hipotesis? Ya, dalam batas-batas tertentu bisa juga dikatakan demikian, tetapi itu bukanlah hakekatnya, apakah penelitian itu pada dasarnya kita turun ke lapangan?, ya, memang tidak salah jika ada orang yang berpendapat seperti itu. Yang kemudian harus diperhatikan disini adalah hakekat dari suatu penelitian itu sendiri. Hakekat penelitian berdasarkan kajian yang kritis kita bisa melihat hakekat penelitian itu adalah pada dasarnya penelitian sama dengan pengukuran, atau penelitian itu pada dasarnya pengukuran, meneliti sama artinya dengan mengukur, ketika kita memutuskan untuk meneliti tentang misalnya konflik etnik yang terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini, sebetulnya yang sedang kita lakukan adalah mengukur konflik etnik, atau penelitian tentang efektivitas program IDT, kita sebetulnya sedang mengukur efektivitas program IDT, penelitian tentang sejauh mana pengaruh status sosial ekonomi (SSE) terhadap sikap politik seseorang, maka itu berarti kita sedang mengukur seberapa jauh hubungan diantara dua variabel, antara yang kita sebut sebagai SSE dengan sikap. Jadi jika kita lihat, kita sebetulnya sedang melakukan suatu pengukuran apa pun istilahnya, apapun definisi yang diberikan tentang penelitian, yang harus dicamkan disini adalah apa yang dimaksudkan sebagai penelitian itu pada hakekatnya adalah suatu pengukuran. Pertanyaan berikutnya adalah, pengukuran itu sendiri itu sebetunya apa? Jika kita sedang melakukan pengukuran, sebetunya kita sedang melakukan proses apa? Jika kita sedang melakukan penelitian bahwa kita ingin mengetahui sikap politik seseorang, hal itu berarti sedang mengukur, tetapi mengukur itu sendiri apa pengertiannya? Mengukur efetivitas, aktivitas politik seseorang, konflik etnik. Apa yang disebut mengukur? Pengukuran pada dasarnya adalah membandingkan. Pengukuran adalah memberikan nilai. Jadi pengukuran sebetulnya adalah membandingkan atau mendekatkan, mengintimkan. Mengukur selalu menghubungkan antara konsep dengan kenyataan. Jadi kita sebetulnya berusaha untuk membandingkan atau mendekatkan antara konsep dengan kenyataan, konsep kita berusaha turunkan, nanti ekspresinya seperti yang telah diungkapkan diatas adalah nilai. Konsep itu mempunyai nilai-nilai tertentu. Hanya itu. Tidak ada hakekat lain yang lebih tinggi selain daripada bahwa pengukuran adalah sebetulnya mengadakan pendekatan anatara konsep dengan kenyataan. Pertanyaan yang timbul adalah kenapa definisinya sedemikian rupa sehingga kita berbicara mengenai pengukuran seolah-olah hanya sederhana sekali? Mendekatkan konsep, kata atau sesuatu yang sifatnya abstrak diungkapkan secara verbal atau tulisan dan kita dekatkan dengan kenyataan, kenapa? Seakan-akan harus ada diskrepansi atau kesenjangan antara konsep dengan kenyataan, sehingga pertanyaan filosofis atau ontologisnya adalah mengapa kita mencoba mendekatkan antara kata dengan kenyataan, antara kata dengan perbuatan, antara lidah dengan tindakan, antara tulisan dengan realitas dengan yang kita lihat sehari-hari, kenapa kita melakukan penelitian, kenapa kita melakukan pengukuran, kenapa kita mendekatkan konsep dengan kenyataan, apakah memang konsep dengan kenyataan itu dengan sendirinya memang terbentang suatu jarak yang memang sangat jauh? Pertannyaannya adalah mengapa kita melakukan hal tersebut? Apa yang terjadi antara konsep dengan kenyataan. Karena kita memang bisa melihat antara konsep dan kenyataan memang terbentang jarak yang bisa sangat jauh, suatu fakta antara konsep dan kenyataan tidak ekivalen, tidak sinonim, tidak sama dengan. Suatu contoh yang sangat mudah untuk memahami ini adalah misalnya apakah negara ini demokrasi, apakah negara-negara di dunia ini lebih banyak negara demokrasi atau tidak, konsepnya demokrasi, kenyataannya? Ketika Iqbal menawarkan sebaiknya demokrasi ini diubah saja, karena jarak antara konsep dengan kenyataan itu tidak pernah dekat. Orang Indonesia itu pada dasarnya ramah tamah sebagai konsep, kenyataan yang ada? Bahkan seringkali kita melihat bahwa konsep mendefinisikan kenyataan, seakan-akan kenyataannya adalah seperti itu, konsep seakan-akan mendistorsikan kenyataan, konsep seakan-akan sudah menutupi kenyataan, orang hanya melihat berdasarkan konsep itu. Orang tidak bisa lain melihat kecuali melalui konsep. Kenyataan itu tidak bisa dilihat. Betapa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita berjalan begitu banyak kenyataan yang kita lihat dan begitu sedikit yang kita perhatikan melalui kenyataan itu sendiri. Alih-alih kita menggunakan istilah konsep, kita melihat dan menggunakan dengan kacamata konsep. Ini yang kita harus perhatikan dan karena itu lah, kita perlu mengadakan penelitian atau pengukuran. Pikiran yang kritis mungkin langsung bertanya, jika kenyataan selalu bebeda dengan konsep, lalu mengapa kita tidak berbicara di tingkat kenyataan saja? Tidak usah lagi menceritakan tentang konsep-konsep. Pada tingkatan yang paling umum kita bisa melihat bahwa kenyataan dan konsep itu yang kita anggap dalam kehidupan sehari-hari sesuatu yang sangat dekat, kita bisa membayangkan ada konsep lain yang lebih kecil, dan ada konsep lain yang lebih dekat dengan kenyataan, sehingga seperti tidak terdapat diskrepansi, walaupun tetap bahwa tidak akan pernah ada konsep yang sama dengan kenyataan. Contoh yang paling gampang yang dapat diungkap adalah konsep itu adalah harimau. Dari kata harimau yang terdiri dari kata h, a, dst, kita tidak akan membayangkan kumisnya, cakarnya, belangnya, dst, namun demikian demi memudahkan kerangka berpikir kita, konsep harimau seringkali kita terima begitu saja, dan dalam konteks ini kita membayangkan orang untuk menjelaskan konsep tersebut cukup merujuk kepada fenomenanya, pada kenyataannya, apa sih harimau? Jika kita sudah menjelaskan dengan berbagai cara dan tetap tidak mengerti maka kita langsung saja kita mengantarkannya ke kandang harimau. Dan ini adalah penjelasan yang paling intuitif yang bisa kita lakukan. Itu adalah menunjukkan konsep dan kenyataan sangat dekat, sehingga kita cukup dengan menunjukkan apa yang kita maksudkan dengan fenomenanya langsung. Dalam kenyataan sosial kita melihat dalam konsep-konsep itu banyak sekali yang abstrak, banyak sekali yang berada nun jauh disana, yang paling paling gampang sebagai contoh adalah Tuhan, apakah tuhan bisa dirujuk? Konsep demokrasi, kemiskinan struktural: miskin bukan karena mentalitas, tetapi karena strukturnya yang membuat mereka memang miskin, bagaimana menjelaskan kemiskinan struktural, apakah akan kita bawa daerah senen, daerah tanah tinggi, yang akan kita temui rumah-rumah dengan orang-orang yang memakai baju seadanya, tetapi apakah itu memang yang disebut miskin? Ketika kita harus membedakan antara konflik etnik dengan konflik primordial yang lainnya, kita mungkin harus mempergunakan berbagai macam cara untuk memperkenalkan apa yang kita maksud dengan konsep ini. Pada saat kita membicarakan tentang demokrasi, bagaimana kita menjelaskan apakah kita ajak orang itu untuk ke DPR/MPR, kita ajak melihat mahasiswa-mahasiwa demo dan itu akan tergambar konsep demokrasi? Tidak. Dalam ilmu sosial kita dihadapkan pada konsep-konsep yang sangat abstrak, ada konsep yang concreta (yang paling dekat dengan kenyataan), ada yang abstracta (yang masih sangat abstrak) dan lebih tinggi lagi ada konsep yang ilata (konsep yang sangat-sangat abstrak). Tujuan kita melakukan penelitian adalah pada dasarnya adalah upaya bagi kita untuk mendekatkan konsep dan kenyataan, mencoba memberikan makna apa yang ktia maksud dengan konsep ini. Ketika kita sedang memberikan makna tentang konsep ini maka sebetulnya kita sedang melakukan apa yang disebut sedang mendekati konsep dengan kenyataan. Mengapa kita mencoba mendekatkan konsep dengan kenyataan? Karena kita ingin memberikan suatu pengertian yang precise yang definitif yang tidak merupakan pengamatan sambil lalu, tidak ingin membingungkan orang-orang yang mendengar atau yang dihadapkan pada konsep tersebut. Ini alasan yang lain. tadi alasan pertama adalah konsep-konsep ilmu sosial pada dasarnya abstrak dan oleh karena itu kita ingin mendekatkan konsep itu dengan kenyataan, karena dengan cara seperti itulah kita sebetulnya melakukan proses pemaknaan yang nanti implikasinya universal yang bisa dimengerti oleh semua orang, yang kedua, adalah alasan untuk akurasi, kita ingin mempunyai presisi pada waktu menjelaskan. Jadi, terlihat betapa simpel, tetapi banyak orang lupa hakekat mengenai ini. Misalnya ketika orang mengadakan penelitian apakah Indonesia diambang disintegrasi? Dari a sampai z, kita melihat hasil-hasil penelitian dari orang-orang yang sebetulnya kualifaid, tidak ada jawaban bagaimana sebenarnya kondisi disintegrasi Indonesia itu. Penelitian tentang kenakalan remaja, juvenal delikuens misalnya, orang otomatis membayangkan juvala delikuens di Indonesia itu bagaimana, di jakarta itu bagaimana di kelurahan tanah tinggi itu bagaimana: tinggi, sedang, rendah; tipe a tipe b. dan inilah yang sebetulnya yang kita inginkanatau kita ketahui dan itulah sebetulnya yang dimaksudkan dengan mendekatkan konsep dengan kenyataan, ketika kita mengukur tentang efektivitas program studi, orang-orang ingin mengetahui apakah efektif, tidak efektif, kurang efektif, tidak relevan. Orang ingin memperoleh dan disini kita berkenalan dengan nilai, presisi itu ingin tkita tunjukkan dalam pemberian kategori atau tipologi. Hasil dari suatu penelitian yang pada pada hakekatnya menggambarkan pengukuran itu adalah harus menghasilkan tipologi, atau kategori. Kita akan menggunakan istilah tipologi untuk variabel yang nomonal, sedangkan kategori untu ordinal ke atas. Misalnya kita berbicara tinggi, sedang, rendah, sangat efektif, kurang efektif, dst, maka kita berbicara tentang ordinal apalagi jika kita berbicara tentang suhu 37 derajat C, tingkat kemiskinannya 40% persen hanya menerima 10% dari penghasilan rata-rata penduduk, itu sudah merupakan interval dan dapat kita namakan kategori. Dengan hanya penelitian satu variabel saja maka kita harus sampai pada pengukuran yang sifatatau hasilnya adalah kategori, harus tergambar disitu, oleh karena disitulah esensi pengukuran akan terlihat. Seperti tipologi yang dikemukakan oleh Geertz, bahwa orientasi kebudayaan orang jawa, terdiri dari tiga: santri, priyai dan abangan, ada juga yang mengatakan bahwa tipologinya a, b dan c, cukup dengan notasi matematik seperti itu, peneltian yang membandingkan konflik etnik di Kalimantan Barat dan Poso dengan Maluku, dengan membuat tipologi tipe gunung merapi dan tipe krakatau, Merapi itu dikatakan terus menerus mengeluarkan laharnya dari tahun ke tahun tetapi skalanya relatif kecil, bisa diprediksi kapan dia meletus, itu adalah fenomena konflik etnik yang terjadi di Kalbar, sementara yang terjadi di Maluku dikatakan adalah tipe Krakatau, tidak tahu aktivitasnya, tetapi tiba-tiba meletus sangat besar dan kerusakannya luar biasa, sekali tetapi dengan akibat yang sangat fatal dan itu adalah contoh dari tipologi. Pada dasarnya studi yang kita lakukan dalam paper, tesis, disertasi pada dasarnya harus menghasilkan tipologi dan kategori. Mungkin ada pertanyaan itu kan kuantitatif, bagaimana halnya dengan penelitian kualitatif? Ya sama saja, prosesnya mungkin berbeda, karena kualitatif berangkat dari kenyataan sedangkan kuantitatif berangkat dari konsep, tetapi keduanya kembalinya harus kepada kategori dan tipologi. Ketika Geertz mengeluarkan tipologi santri,abangan dan priyayi atau mengeluarkan istilah involusi pertanian, itu sebetulnya mereka mengeluarkan tipologi atau kategori, bahwa demokrasi Indonesia tinggi, demokrasi Indonesia rendah, masih memprihatinkan, jauh dari kemajuan, itu seluruhnya adalah tipologi dan kategori dan itu hakekat dari pengukuran. Entah itu tipologi ataupun kategori itu harus ada. Hasil utama dari penelitian, paling tidak dalam pengertian univariat atau satu variabel, kita harus menggambarkan tipologi dan kategori tersebut.

Tanggapan pertanyaan:

Ada berbagai macam konsep yang oleh si penelitinya dianggap bahwa dia sudah mendekatkan konsep kepada kenyataan, tetapi ternyata tidak dan itu menarik untuk didiskusikan, apakah studi itu berhasil dengan baik atau tidak adalah pada tingkat bagaimana dia dapat menurunkan konsep tersebut menjadi kenyataan, jika dia berhasil mendekatkannya akan terlihat dari kesimpulannya sama dan banyak orang yang setuju, katakannlah 70% orang yang menghadiri presentasi penelitiannya menyatakan persetujuannya. Persetujuan itu didapatkan tentu saja dari civitas academika atau komunitas ilmiah. Ketika kita mengatakan bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang didasarkan pada adanya pada pemilihan umum dan pers bebas, maka itu berarti kita sudah mendekatkan pada sesuatu yang langsung bisa diukur, dan ini yang menunjukkan sesuatu yang dekat dengan kenyataan, ingin menunjukkan dinamika atau masalah dasar dalam penelitian ilmu sosial. Konsep-konsep dalam ilmu sosial relatif sangat abstrak, sangat sedikit yang tidak abstrak dan itu memang ilmuwan-ilmuwan sosial sengaja untuk menciptakan konsep-konsep yang tidak sama dengan kenyataan, kenapa? Karena mereka ingin mempunyai presisi, coba kita perhatikan ilmuwan biologi menggunakan istilah bahasa mati yaitu latin, karena mereka tidak ingin dikacaukan dengan istilah-istilah yang biasanya dilakukan oleh orang awam, mengapa orang awam, karena orang awam itu biasanya tidak precise, orang awam itu mempergunakan istilah yang sakarepe dewe, tidak ada presisi. Ketika kita memasuki kebun raya, bagi kita itu semua adalah pohon, misalnya pohon palem, yang disebut paus itu adalah ikan, dan itu tidak precise, tidak berdasarkan suatu klasifikasi-klasifikasi tertentu dan oleh karena itu ilmuwan sosial mengikuti cara seperti itu dengan mencoba menggunakan sejumlah konsep-konsep yang dianggap tidak terlampau crwowded dan tidak sering digunakan oleh orang-orang awam dan dengan cara seperti itu mereka bisa mempertahankan suatu presisi. Sekarang orang dengan enak bicara ini lah reformasi, konsep reformasi juga digunakan oleh orang awam: supir taksi, tukang bajaj, beca, begitu jalan macet: wah reformasi, begitu orang ditebas kepalanya, wah ini lah akibat reformasi, reformasi dikait-kaitkan dengan segala macam hal, sehingga pengertian reformasi tersebut tidak jelas lagi dan apa yang dimaksud dengan pengertian reformasi yang sebenarnya. Kadang-kadang orang awam memgunakan istilah reformasi untuk pembaruan sostem pemerintahan, dilain kesempatan reformasi ditunjukkan untuk akibat yang dilakukan, kadang kadang kata sifat untuk pengertian kebablasan. Coba kita bayangkan jika kita mengadakan penelitian tentang reformasi, apakah kita akan menggunakan istilah yang ada pada orang awam tersebut, pada hal istilah reformasi itu sendiri sebetulnya digunakan untuk menunjuk kepada suatu gejala yang memang diharapkan sampai kepada masyarakat awam dan tidak dikacaukan pengertiannya oleh masyarakat awam.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya sekarang agar konsep bisa menjadi kenyataan, apa teknik-teknik atau standar yang bisa mengubah sebuah konsep menjadi kenyataan, yang hasilnya akan menhasilkan tipologi dan kategori. Peneltian tentang apa yang terjadi pada saat pemerintahan Sultan Agung, maka kita tidak membicarakan tentang realitas Sultan Agung sekarang, tetapi kita membayangkan realitas yang terjadi pada masa Sultan Agung dan yang sering menjadi perdebatan disini adalah seseorang sejarawan mengemukakan bahwa realitas sosialnya adalah seperti ini dan sementara sejarawan yang lain mengatakan bahwa realitasnya tidak seperti itu, itu juga yang terjadi tentang peristiwa G30S/PKI atau serangan umum.

Jadi melakukan penelitan dalam ilmu sosial bukan merupaka hal yang sia-sia, oleh karena pada dasarnya ilmuwan sosial itu subject to defined atau redefined, mengkonstruksikan, medekonstruksikan dan rekonstruksikan kembali karena definisi tentang kenyataannya sangat berbeda.

Contoh tentang arkeologi, yang menurut Iqbal merupakan ilmu detektif dan sangat mengagumkan, karena hanya dengan menemukan sepotong tembikar, yang memperkirakan dibuat pada masa seperti apa dan kira-kira teknologi pada masa seperti itu apa, apakah orang pada masa itu khususnya hanya membuat tembikar, dan makannya dari mana? Paling tidak dia harus melakukan barter dengan kebutuhan-kebutuhan mereka, sehingga disimpulkan paling tidak sudah ada sistem perdagangan barter, apakah sudah ada mata uang pada saat itu? Jadi dengan hanya menemukan sekeping tembikar, seorang arkeolog bisa mendefinisikan, mendeskripsikan pertalian-pertalian yang paling mungkin dari yang terlihat atau paling tidak secara konseptual itu dipandang logis, jadi seperti detektif, dan realitas seperti itu mungkin tepat atau mungkin pula tidak tepat dan apa gunanya bagi kita dengan menemukan hal tersebut dimasa lampau? Kita bisa melihat bagaimana perubahan masyarakat dari satu masa ke masa yang lain, karena realitas sosial senantiasa berubah dan dalam sosiologi kita pelajari dengan apa yang disebut sebagai perubahan sosial.

Jadi, kembali ke pertanyaan: apakah tidak sebaiknya kita meneliti tentang realitas sosial yang ada sekarang dan merupakan hal yang sia-sia jika kita meneliti sesuatu konsep dalam kenyataannya. Jawabannya bukan merupakan hal yang sia-sia. Artinya boleh-boleh saja melakukan penelitian sosial kenyataan saat ini, namun realitas sosial masa lampau tidak boleh dikecilkan artinya, karena tidak ada suatu pun yang bisa mengatakan bahwa realitas seperti ini lah yang benar, apakah benar bahwa Gajah Mada yang mendorong-dorong Hayam Wuruk agar Diah Pitaloka yang datang kepadanya, apakah benar bahwa Gajah Mada itu seseorang yang ambisius bahwa dia adalah seorang yang berada dibelakang layar Hayam Wuruk, itu bisa kita definisikan, ilmu sosial pada dasarnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya terus menerus meredefiniskan tentang realitas yang dimaksud, suatu saat Einstein benar, tetapi pada suatu saat ilmuwan lain yang menggantikannya, demikian pula Morgan dalam antropologi dianggap benar, tetapi sekarang orang mungkin akan melihat kepada Sys Spradley, hal tersebut dikarenakan adanya realitas sosial yang berbeda. Parson melihat bahwa realitas sosial itu adalah suatu hal yang stabil atau dalam posisi yang equilibrium dan hal itu tidak salah oleh karena yang dilihat oleh Parsons adalah dalam satu segi adalah masyarakat Amerika, dan para pengkritiknnya kebanyakan melihat kondisi yang berbeda yaitu di Asia dan Afrika atau Amerika Latin, tetapi kemudian mereka bertempur tentang redefinisi realitas sosial mana yang paling benar, apakah yang dikemukakan oleh Parsons, Dahrendorf, Coser. Tetapi intinya tetap tidak berubah, bahwa apa yang dilakukan oleh Parsons, Dahrendorf, Coser adalah upaya mendekatkan konsep terhadap realita. Pemahaman yang sederhana ini jangan sampai lepas, oleh karena pada dasarnya esensi pada saat kita membuat suatu tesis, disertasi atau apapun pada dasarnya kita mengukur yang pertama dalam pengertian univariat, yaitu satu konsep didekatkan dengan kenyataan.

Bagaimana merancang pengukuran terhadap suatu konsep dengan kenyataan? Dalam pemahaman kuantitatif upaya mendekatkan konsep dengan kenyataan melalui suatu proses yang disebut sebagai: (1) menentukan definisi konseptual (2) menentukan dimensi konsep, (3) menentukan definisi operasional (4) menghasilkan tipologi dan kategori, tergantung dari jenis variabel (5) menentukan indikator-indikator. Proses dari 1 s.d. 4 secara umum disebut sebagai operasionalisasi konsep. Dan keseluruhan proses ini yang disebut pengukuran, yaitu upaya mendekatkan konsep kepada kenyataan. Kita mencoba menghubungkan konsep tersebut melalui proses operasionalisasi konsep, itulah makanya disebut sebagai definisi konseptual. Apa yang dimaksud dengan demokrasi, ini bertalian dengan definisi konseptual.

Definisi konseptual merujuk kepada upaya menghadirkan konsep yang lebih rendah abstraksinya, upaya memberikan pengertian tentang apa yang kita maksud dengan menghadirkan konsep-konsep yang penting, misalnya konsep-konsep yang ingin kita katakan tentang demokrasi, yang belum dekat dengan kenyataan, mungkin konsep tentang demokrasi itu mengatakan bahwa suatu sistem politik yang bla..bla; yang dimaksud dengan dimensi konsep adalah memberikan batasan, ruang lingkup pengertian yang ingin kita ambil. Misalnya definisi konseptual dari demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan, sedangkan dimensi konsepnya adalah dua saja, misalnya: pemilihan umum dan division of labor, yang lain mengatakan dimensi konsep saya tentang demokrasi adalah bukan saja mencakup kekuasaan eksekutif, lelgislatif dan yudikatif tetapi mencakup juga bagaimana pemilihan eksekutif dan legislatif itu, sehingga bagi peneliti-penelti dimensi konsepnya berbeda-beda: misalnya dimasukannya unsur adanya pers bebas atau unsur ditegakkannya HAM. Hal itu disebabkan konsep seringkali merupakan pengertian yang sangat abstrak. Untuk menetapkan pada ruang lingkup mana atau pada domain mana kita ingin memberlakukan konsep itu, diluar itu kita bisa menetapkan semacam asumsi ceteris paribus, hal-hal lain tidak diperhitungkan, hal-hal lain dianggap tetap. Jika ada penelitian yang mengatakan bahwa Indonesia demokrasinya sangat tinggi, maka kita kita tidak usah terkejut, kita tinggal melihat definisi dan dimensi konseptualnya. Seringkali yang menjadi sumber polemik pada ilmu sosial adalah karena definisi konseptual mereka tidak jelas, apalagi dimensi konsepnya. Oleh karena kita ingin mempunyai presisi maka salah salah satu syaratnya adalah bahwa definisi konsep dan dimensi konsep kita harus jelas, dan kita tidak usah terkaget-kaget jika mendengar tinggi atau rendah penilaian terhadap sesuatu yang kita teliti karena definisi konsep dan dimensi konsepnya jelas.

Dalam psikologi, konsep didefinisikan sebagai suatu predisposisi atau kecenderungan seseorang terhadap suatu obyek, dengan dimensi konsepnya yang paling terkenal ada tiga: kognitif, bertalian dengan tata ruang, afektif, bertalian dengan masalah perasaan atau evaluasi, dan psikomotorik. Jadi sebetulnya sama. Pertama tentukan definisi konseptualnya, kemudian tetapkan pula dimensi konsepnya, khususnya bagi mereka yang hendak melakukan penelitian kuantitatif. Jadi sekali lagi proses ini adalah upaya untuk mendekatkan konsep kepada kenyataan. Konsep itu merupakan simbol dan bukan merupakan kenyataan yang sebenarnya. Namun, kehebatan manusia adalah bagaimana menghadirkan realita tanpa kita hadir dalam realita itu sendiri, misalnya ketakutan kita terhadap macan hanya digambarkan melalui sebuah konsep tentang macan, tanpa perlu menarik-narik dan menghadirkan macan tersebut dalam ruang kelas ini, tanpa batasan ruang dan waktu kita dapat menghadirkan sesuatu dalam konsep. Kemudian, banyak juga yang mengatakan bahwa konsep itu indikan dari kenyataan. Jadi kehebatan budaya manusia sebetulnya inti terdiri dari kata-kata. Kita dapat memperhatikan dan membayangkan bagaimana realitas sosial seakan-akan dibentuk melalui konsep-konsep ilmu sosial, ini menunjukkan kehebatan manusia, manusia dibeda-bedakan: kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. (brahmana, ksatria, weisya, sudra). Melalui konsep-konsep tersebut manusia yang sebetulnya tidak ada perbedaan satu sama lain, melalui konsep tipologi manusia itu, realitas sosial dipagar sedemikian rupa.

Tanggapan ?-an: cara yang paling mudah untuk menentukan suatu hasil penelitian ilmiah itu baik atau tidak adalah dengan melihat secara langsung, apa yang dihasilkan dari penelitian itu atau menghasilkan pengukuran apa, jika tidak diketemukan pengukuran atau hasil pengukurannya maka hasil penelitian ilmiah tersebut tidak baik. Kedua, harus ditemukan definisi konseptual, dimensi konseptual. Klaim-klaim tentang demokrasi di Indonesia, yang berisi begini dan begitu kita tidak dibawa kepada atas dasar apa seseorang bisa mengatakan seperti itu, bukunya boleh tebal dan panjang lebar tetapi didalamnya kita tidak menemukan apa-apa saja yang sebenarnya yang sedang diukur oleh penulis tertentu.

Geertz merupakan contoh tipikal dari penelitian yang sifatnya kualitatif, jadi prosesnya deduktif. Pengukuran adalah proses menurunkan konsep-konsep lain yang dekat dengan kenyataan, betapapun kecil jaraknya, tidak pernah konsep itu sama dengan kenyataan. Menurut Iqbal, Geertz tidak langsung sampai kepada santri, abangan dan priyayi tetapi dia mengelompokan dulu, kemudian dicari ciri-ciri atau indikator-indikatornya. Dia memulai dari kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan, melalui pendekatan dulkonah.

Iqbal mengatakan bahwa pendekatan kuantitatif dari satu segi umumnya mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pendekatan kualitatif, yaitu ia mempunyai sistematika yang jelas, bagaimana caranya melihat, mengontrol dan segala macam ada rumus-rumusnya sedemikian rupa sehingga mempunyai pegangan, pedoman yang relatif lebih pasti. Kita bayangkan seorang peneliti kualitatif yang mempunyai pengalaman kuantitatif sebelumnya itu seringkali akan lebih baik. Jadi bisa dikatakan bahwa penelitian kualitatif itu sebetulnya adalah tingkatan lanjutan setelah penelitian kuantitatif. Pendekatan kualitatif, karena tidak mempunyai kerangka yang jelas, untuk orang-orang yang tertentu seringkali menjerumuskan kita. Iqbal mengatakan bahwa kehebatan pendekatan kualitatif adalah bagaimana mereka berangkat dari kenyataan dan kemudian sampai pada suatu konsep yang bahkan seringkali menghantam konsep-konsep yang telah ada sebelumnya dan menghasilkan konsep yang sama sekali baru, contohnya Geertz, yang hingga kini dalam ilmu sosial konsep Geertz dianggap belum ada padanannya.

Suatu penelitian dalam semangat kualitatif akan menghasilkan konsep-konsep, sedangkan dalam semangat kuantitatif akan melipat atau membersihkan atau mempresisikan tentang apa yang dimaksud dengan konsep-konsep itu, membuat konsep itu semakin standar, semakin jelas.

Istilah pendekatan hanya tepat untuk pendekatan kuantitatif dalam semangat kualitatif tidak tepat, yang lebih tepat adalah konseptualisasi, membuat kenyataan menjadi konsep.

Tanggapan pertanyaan:

Batasan deduksi dan induksi itu lebih menunjukkan kepada proses yang umum. Sebetulnya sebuah penelitian entah itu kuantitatif maupun kualitatif akan mengandung dua unsur tadi yaitu deduksi dan induksi, dalam kuantitatif deduksi terjadi yang paling terlihat jelas itu pada saat kita berangkat dari proposal: permasalahan yang sudah disudutkan, dari kerangka teori yang sudah disudutkan, dibuat model analisis sedemikian rupa sehingga terjadi segitiga terbalik; jadi proses deduksi dan induksi adalah proses berpikir secara umum, tetapi dalam pengertian khusus pendekatan kualitatif dan kuantitatif tidak usah dicampurbaur, lebih baik menggunakan satu pendekatan saja, bukannya tidak bisa tetapi seringkali akan memperumit permasalahan dan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang tidak baik, hasilnya tidak jelas, menjadi bahan kontroversi, menimbulkan mudarat daripada manfaat.

Apakah dari penelitian kuantitatif bisa mengambil segi kualitatifnya, menurut Iqbal hal seperti ini bisa, ini merupakan gabungan yang justru diharapkan, karena ada semacam anggapan bahwa penelitian kuantitatif hanya dianggap sebagai testing hipotesis, hanya akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sebenarnya orang sudah tahu banyak, kesimpulan-kesimpulan yang hanya ingin menegaskan tentang kebenaran yang memang sudah diketahui, dengan kata lain steril, tidak inovatif, tidak ada hal-hal baru dan cenderung membosankan karena temuannya hanya seperti itu-itu saja. Dari penelitian kualitatif itu yang diharapkan muncul daya yang inovatif, inspiratif, menghasilkan sesuatu hal-hal baru yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan, misalnya ketika antropolog2 mendefinisikan tentang kemiskinan yang sangat berbeda dengan definisi yang lebih kepada aspek ekonomi: berapa kali makan, rumahnya kondisinya seperti apa, pakaiannya dan seterusnya. Sedangkan menurut antropologi, kemiskinan itu adalah kondisi budaya, bukan kondisi fisik, mereka punya budaya seperti itu lah maka disebut sebagai miskin dengan ciri-ciri yang kemudian terlihat juga pada aspek fisiknya. Menurut Iqbal dengan semangat menggabungkan dua pendekatan tetapi dalam pengertian yang paling praktis dan implikasinya akan sangat luar biasa, sehingga penelitian kuantitatif dapat saja menggunakan tipologi yang dihasilkan oleh Geertz atau tipologi kualitatif lain mengenai orang jawa (Nit Mulder), gabungan tipologi kualitatif ini bisa kita uji dengan semangantkuantitatif.

Iqbal ingin agar penelitian kuantitatif pun berangkat dari pengertian kualitatif datang dari realita empirik, datanglah ke palangkaraya atau sampit langsung, karena kebanyakan yang disebut kesimpulan atau pengamatan oleh wartawan atau ilmuwan sosial itu dinyatakan dalam bentuk konsep dan konsep itu sudah ada disan dan bukan sesuatu yang datang dari kenyataan empiriknya, banyak yang mengulas tentang konflik etnik tersebut bahkan belum pernah sama sekali ke sana. Jadi, dengan kata lain ia sudah mempunyai konsep, yaitu gambarab tentang orang madura, dan dayak, konflik etnik sudah ada dan ketika peristiwa tersebut muncul, maka tinggal mengaplikasikan konsep itu saja tanpa mempedulikan apakah konsep itu sesuai atau tidak dengan kenyataan.

Akan selalu terjadi suatu diskusi yang tidak akan ada habisnya oleh karena realitas sosial itu seringkali didefinisikan atau dikonseptualisasikan berbeda dan disitulah terjadi dinamika, ada yang mengatakan bukan demokrasi yang ada tetapi poliarki, oleh karena kenyataannya demokrasi itu sebetulnya tidak ada dalam kenyataan, sehingga istilah demokrasi agar ditinggalkan dan istilah yang lebih tepat ternyata poliarki. Ada yang menyatakan ini adalah kerusuhan rakyat dan yang lain mengatakan bahwa ini adalah konflik etnik, kita akan selalu diskusi ribut di tingkat yang paling abstrak atau kita melihatnya mereka ribut soal konsep. Sebetulnya dalam kenyataan mereka meributkan soal bagaiman kita melihat kenyataan.

Untuk bivariat atau multivariat, hal yang dilakukan adalah sama, yaitu menurunkan konsep menjadi kenyataan. Langkah berikutnya barulah kita mendefinisikan hubungan-hubungan ini. Maka jika kita akan menghubungkan antara SSE dengan sikap, maka kita harus terlebih dahulu mendefinisikan konseptual tentang sikap itu apa, dimensi konsepnya apa, definisi opersionalnya apa, tipologi dan kategorinya apa, jangan langsung dihubungkan, demikian juga dengan SSE, prosesnya sama, apa definisi konseptualnya, dimensi konsepnya, dst. Jadi, kita harus waspada terutama bagi kita yang akan melakukan penelitian yang menghubungkan variabel, paling tidak pengukuran itu harus menghasilkan: (1) dari variabel dependennya (2) dari variabel independennya (3) dari hasil pengukurannya dan nanti akan diperoleh sikap positif atau negatif, SSE tinggi atau rendah, kita mempunyai dua hal 1 tipologi dan 1 kategori, hubungannya antara tipologi dan kategori yang dihasilkan dalam penelitian: misalnya semakin tinggi SSE sikapnya semakin negatif (kategori ke tiga), pengukuran selanjutnya adalah hubungan variabel.

Salemba, 2001


[ ]ragu-ragu

PENELITIAN KUALITATIF

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial yang diberikan oleh Drs. Ezra M. Choesin, M.A

Jika kita berbicara mengenai penelitian kualitatif, istilah kualitatifnya itu sendiri katakanlah merupakan istilah payung yang dipakai untuk berbagai macam pengertian, rangkuman pengertian kualitatif dari beberapa sumber, sehingga kita bisa melihat penelitian kualitatif mempunyai nuansa perbedaan atau silang pendapat diantara para ilmuwan. Prinsip-prinsip umum yang bisa dikatakan disepakati oleh orang-orang kualitatif. Walaupun kesepakatan tersebut masih bertanda kutip, artinya masih tetap terdapat perbedaan-perbedaan kecil.

Kita berbicara terlebih dulu mengenai orientasi dalam penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang didasarkan pada pendekatan interpretatif (interpretive). Diantara ilmuwan-ilmuwan penelitian kualitatif sendiri sebenarnya masih terdapat masalah, karena pendekatan kualitatif atau kritis ini bisa ditelusuri asalnya dari akar filsafat yang berbeda-beda, misalnya filsafat hermeneutika, atau strukturalisme perancis atau dari filsafat-filsafat lain yang berkaitan dengan kuliah-kuliah teori yang sudah diberikan. Namun, pada dasarnya pendekatan interpretive atau kritis ini mempunyai beberapa ciri yaitu bahwa ia memfokuskan diri pada makna, definisi, metafor atau simbol yang sifatnya subyektif serta pada deskripsi kasus-kasus khusus. Yang dimaksudkan subyektif disini dimaksudkan sebagai subyektif pada diri orang yang diteliti atau pihak-pihak yang kita teliti. Kemudian, masalah makna, definisi, metafor, tergantung sekali dari teori-teori atau filsafat yang kita andalkan, apakah makna itu merupakan respon, apakah makna tersebut merupakan kedudukan dalam suatu sistem, apakah makna itu kita artikan sebagai suatu post modern. Hal-hal ini merupakan bahan-bahan perdebatan dalam pengertian kualitatif itu sendiri.

Yang kedua, ciri yang ada adalah bahwa pendekatan interpretatif atau kritis ini memperhatikan aspek-aspek kehidupan sosial yang sulit diukur secara tepat dengan angka, karena kita berbicara tentang emosi, tentang pandangan, tentang sikap dan tentang makna, misalnya: arti suatu peristiwa bagi orang yang kita teliti, apakah makna suatu interaksi bagi orang yang kita teliti. Inilah hal-hal yang sangat sulit diukur dengan indikator-indikator yang kita tentukan dari luar.

Yang ketiga adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan penelitian kita bersumber dari sudut pandang orang yang kita teliti. Kita melihat mereka sebagai orang-orang yang kreatif, kita tidak melihat mereka sebagai suatu obyek yang hanya sekedar kita ambil datanya saja dari mereka, kita melihat mereka sebagai agen-agen yang mempunyai keinginan bebas (free will).

Kembali ke ontologinya, ke kuliah-kuliah yang telah diberikan, kita melihat bahwa manusia itu sebagai mahluk yang menciptakan realita dia sendiri. Jadi segala macam realita itu tergantung dari bagaimana manusia itu mendefinisikannya. Ini semua kita lihat sebagai pandangan atau perspektif transenden, artinya kita tidak menganggap kita atau ilmu kita sebagai sesuatu yang perlu diunggulkan dibandingkan dengan pengetahuan atau perspektif masyarakat yang kita teliti. Kita berusaha untuk melampaui (men-transenden) berbagai-bagai macam perbedaan diantara kita dan mereka untuk mengatasi atau melihat masalah-masalah sosial yang ada. Sebagai lawan dari transenden perspektif, biasanya disebut technocratic perspective, yang cenderung kita kaitkan dengan pendekatan kuantitatif atau positivisme yang cenderung mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus dibuat lebih tinggi dari akal sehat (common sense) masyarakat yang diteliti.

Sedangkan pada pandangan kualitatif, akal sehat atau common sense dari masyarakat yang kita teliti adalah sebagai suatu yang kita lihat sebagai teori-teori awam, teori masyarakat, bagaimana mereka mengatasi masalah yang mereka hadapi dan sebagai common sense atau teori awam ini layak untuk dianggap sejajar dengan pengetahuan kita sendiri, pengetahuan kita sebagai ilmuwan. Berikutnya, orientasi dalam penelitian kualitatif ini, kita melihat bahwa ia mengikuti logika bagaimana sebuah penelitian dilakukan dalam kenyataannya (logic in practice, lawannya adalah reconstructed logis/logika yang berkonstruksi atau logika yang baku atau formal: adalah ciri khas dari pendekatan positivistik/kuantitatif, dimana segala sesuatu memiliki urutan-urutan yang teratur atau tetap) sementara yang logic in practice itu adalah bagaimana dalam praktek keseharian kita, kita menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Jadi, logic in practice ini terkait pada kasus-kasus khusus, ia berorientasi pada penyelesaian praktis masalah-masalah yang kita temukan di lapangan, sebagai contoh: langkah-langkah dalam penelitian kuantitatif yang sifatnya reconstructed logic/tetap/harus mengikuti langkah-langkah tertentu tidak memungkinkan si peneliti untuk menyelesaikan masalah-masalah di lapangan di luar apa yang telah digariskan dalam prosedur penelitian kuantitatif itu sendiri. Jadi seandainya ia melakukan sebuah survei, ia telah merancang sebuah instrumen penelitian dalam bentuk kuisioner, disebarluaskan kuisioner tersebut, maka terdapat sesuatu hal, maka yang diutak-utik adalah kuisionernya, tetapi dia tidak bisa seperti halnya pada sebuah penelitian kualitatif mencoba mencari cara-cara lain untuk menyelesaikan masalah pengumpulan datanya itu sendiri. Dalam sebuah penelitian kualitatif, logic in practice, penyelesaian praktis suatu kegiatan dalam penelitian lapangannya dilakukan nanti, saat dia macet wawancara, maka ia bisa berputar kemana-mana, dia bisa mengumpulkan data dari sumber lain, dari pengamatan, ia bisa mengubah bentuk wawancaranya yang tadinya formal/berstruktur, ia bisa mengubah wawancara mendalamnya dengan obrolan sehari-hari dulu, ini adalah demi menyelesaikan masalah lapangan dalam pengumpulan datanya.

Lalu, logic in practice ini lebih merupakan perangkat aturan informal yang bersumber dari pengalaman-pengalaman si peneliti, yang dalam tradisi penelitian kualitatif, si peneliti itu mendapat sense bagaimana melakukan sebuah penelitian melalui obrolan-obrolan dengan senior-seniornya, menjadi asisten lapangan dengan leader seorang dosen atau peneliti senior, mencoba-coba. Jadi ini menggambarkan bagaimana sebuah proses dalam penelitian kualitatif itu terajarkan dalam sosok seorang peneliti, bukan diperoleh melulu dari buku-buku yang memuat ketetapan atau langkah-langkah yang pasti, lebih banyak cara-caranya daripada pendekatan kuantitatif.

Hal ketiga dari orientasi ini, dia bersifat non linier, si peneliti dapat mengulang langkah-langkah yang telah dia ambil sebelumnya dan bukan sekedar dapat mengulang, tetapi memang akan ia ulang. Ini menyangkut dengan masalah bagaimana data tersebut dikumpulkan sekaligus dianalisis dalam sebuah penelitian kuantitatif, lalu ia dapat mencoba langkah-langkah baru dalam pengumpulan atau analisis data. Analisis data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan datanya sendiri. Jadi, sebenarnya daripada melakukan langkah-langkah yang pasti seperti yang dilakukan pada penelitian kuantitatif (perumusan masalah, rancangan penelitian, hipotesis, penarikan populasi dan sampel, pengumpulan data, penyederhanaan data, analisis data, penulisan laporan dan laporan menjadi sumber perumusan masalah lebih lanjut. Maka dalam penelitian kualitatif, hal-hal ini lebih bersifat non-linier-tidak segaris: setelah perumusan masalah, lalu kita masuk dalam lingkaran pengumpulan data itu sendiri, disini kita mulai bertanya-tanya, mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kita, kita mulai menganalisis data kita, mulai mencoba membuat laporan laporan-laporan penelitian atau laporan lapangan kita, mulai masuk ke laporan akhirnya. Jika kita lihat dan kita nilai ternyata kurang memadai, kita bisa masuk kembali kedalam lingkaran sebelumnya: jadi kembali bertanya-tanya, kembali menganalisis sampai akhirnya sebagai peneliti, kita merasa telah cukup mengumpulkan data kita dan kembali kedalam lingkaran sesudahnya dan menyusun laporan akhir kita. Jadi berbeda dengan penelitian kuantitatif, jika kita sudah mengumpulkan data, kita tidak lagi kembali menyusun perumusan masalah, tidak kembali melihat hipotesis kita. Dalam penelitian kualitatif, data yang kita temukan itu akan menentukan apakah kita perlu mengubah pertanyan-pertanyaan penelitian kita. Jadi ini pun tidak final bentuknya.

Dalam buku Neuman, dalam suatu penelitian kuantitatif, tahap pengumpulan data dan tahap analisis data terbagi dua secara tegas: si peneliti mengumpulkan data, dengan kuisioner atau alat ukur lain, lalu kemudian setelah semua terkumpul, baru kemudian dilakukan analisis data tersebut. Setelah penelitian, bawa pulang semua kuisionernya, lokasi penelitiannya dia tinggalkan sama sekali. Berbeda dengan penelitian kualitiatif lebih kepada: ketika ia sedang mengumpulkan data, pada saat yang bersamaan, ia mulai menganalisis data tersebut, lalu berdasarkan analisis di lapangan, berdasarkan jawaban-jawaban informan pertama, ia menentukan apa yang akan ditanyakan kepada informan kedua atau besok kita akan tanya apa kepada informan yang baru saja kita wawancarai, kembali lagi kumpulkan data, analisis lagi malamnya, besoknya tanya lagi dan kemudian analisis lagi malamnya, ini bisa menimbulkan perubahan-perubahan dalam permasalahan penelitian itu sendiri, apakah permasalahan bisa lebih terfokus atau permasalahan itu sebaliknya bisa lebih mencakup berbagai macam hal yang tadinya secara teoritik tidak terpikirkan oleh si peneliti, sehingga disitulah ia menemukan konsep dari apa yang sedang terjadi. Tentunya pada suatu saat nanti dalam proses penelitian, akan sampai pada suatu titik dan merasa sudah cukup dan berhenti dalam pengumpulan data. Dan ini memang suatu titik, dimana pada penelitian yang benar-benar murni itu ditentukan oleh intelektualitas si peneliti, tetapi secara praktis, juga ditentukan dari hal-hal misalnya: dananya masih ada atau tidak untuk melanjutkan penelitian lapangan, sponsornya sudah menunggu atau belum, itu menentukan kapan kita berhenti dalam pengumpulan data (ini yang dapat diperoleh dari Neuman, tentang apa-apa saja ciri dari penelitian kualitatif).

Tanggapan Pertanyaan:

Dalam hal data kita tidak diperoleh dari informan secara tidak langsung (narasumber), maka ini sekali lagi ada kaitannya dengan teori yang akan kita pergunakan. Mengapa? Karena dalam melihat makna, dalam memahami situasi sosialnya, maka akan terdapat perbedaan tentang apa yang diungkapkan seseorang melalui ekspresi-ekspresi yang berbeda, maksudnya ketika kita berbicara dengan informan/narasumber, maka sebagai manusia (bukan sebagai obyek) dia berhadapan dengans seorang peneliti, dia sedang berinteraksi sosial. Dalam interaksi sosial tersebut, ia berperan atau dia dan kita memainkan suatu peran, terjadi negosiasi, dia menentukan berdasarkan pemahaman dia tentang diri kita, apa yang mau ia ungkapkan,dan kita pun demikian berdasarkan perkiraan-perkiraan kita tentang apa yang bisa disampaikan oleh si informan, kita bertanya, tetapi sumber-sumber lain berupa tulisan yang nota bene tulisan dari si informan itu sendiri adalah bentuk ungkapan yan audiencenya tidak jelas atau audiencenya belum tentu si peneliti. Jadi seorang mengatakan kepada kita sesuatu, itu jelas dia ingin mengatakan kepada kita, tetapi seseorang menulis sesuatu, audience tulisan itu belum tentu kita sebagai peneliti. Jadi, ungkapan tersebut ditemukan dalam konteks yang berbeda, ini akan menjadi masalah jika kita berpegang pada pendekatan atau teori tentang makna yang membedakan ungkapan-ungkapan seperti itu.

Konteks bisa bermacam-macam sifatnya (menyimpang sedikit dari topik pembicaraan). Yang sekarang banyak dipergunakan oleh peneliti-peneliti dan kebanyakan lagi oleh market research, itu adalah Focus Group Discussion (FGD) 8-10 orang dari latar belakang yang berbeda-beda dikumpulkan dalam suatu ruangan dan kemudian dipancing untuk mendiskusikan suatu produk atau masalah dan kemudian ungkapan-ungkapan mereka semua direkam dengan fasilitator dari peneliti. FGD dalam banyak buku itu dikelompokkan menjadi suatu metode penelitian kualitatif, tetapi masalahnya adalah penelitian seperti ini melupakan konteks sosial ini, artinya bahwa 10-12 informan ini sebenarnya direnggut dari konteks kehidupan mereka sehari-hari untuk berbicara tentang suatu masalah disebuah ruangan tertutup. Dari pandangan kualitatif yang murni, FGD itu sebenarnya bukan merupakan metoda atau pendekatan kualitatif,datanya adalah kualitatif dalam pengertian data nominal, data yang tidak berupa angka, tetapi berupa laporan-laporan lisan; tetapi jika dilihat dari pendekatan dia bukan penelitian kualitatif, karena penelitian kualitatif harus melihat manusia dalam konteks kehidupan sehari-hari yang gejalanya itu sendiri konteksnya seperti apa?, misalnya: dalam sebuah FGD biasanya akan terlihat siapa yang dominan berbicara dan siapa yang hanya nunut saja. Tetapi masalahnya adalah jika orang berada dalam sebuah ruangan dibandingkan jika dia berada di luar, sikap atau dominasinya belum tentu sama. Jika ia berada dalam konteks kehidupan sehari-hari, mungkin ia tidak dominan, jika dalam ruangan dan dia lihat orang-orang lain dalam ruangan itu lebih rendah daripada dia, mungkin ia bisa dominan atau dalam penelitian FGD masalah lain adalah jika ada orang yang selalu dominan berbicara, biasanya mediator atau fasilitatornya harus memberikan kesempatan kepada yang lain untuk berbicara, agar dominasi orang tadi berhenti. Sehingga ini adalah sesuatu yang konteksnya berbeda, FGD mengukur atau melihat interaksi orang di dalam lingkungan yang tertutup dan terkendali, tetapi jika penelitian kualitatif yang benar, kita melihatnya dalam konteks kehidupan mereka yang sesungguhnya.

Tanggapan Pertanyaan:

Saat sekarang memang ada suatu masalah baru dalam penelitian untuk dapatnya seseorang memberikan data melalui e-mail atau media elektronik lain, ini juga sebenarnya menjadi masalah, apakah data tersebut bisa disamakan obyektivitasnya dengan data yang dikumpulkan langsung oleh seorang peneliti? Sebenarnya yang terjadi adalah pengumpulan dua macam data: yang tatap muka adalah data yang sifatnya ungkapan-ungkapan langsung dari informan yang berada dalam konteks pertemuan dengan lapangan lain. e-mail, surat menyurat atau sejenisnya itu adalah suatu bentuk ungkapan yang disusun oleh orang yang mengungkapkan tanpa dia langsung mendapat feed back dari orang yang dihadapi, jadi lebih banyak pikiran untuk menuangkannya dan tulisan merupakan ungkapan yang berbeda, karena audiencenya tidak selalu orang yang dihadapi secara tatap muka, artinya bahwa kita sebenarnya telah menggali informasi tentang satu hal yang lain ketimbang wawancara langsung. Contoh: kenapa misalnya Ezra atau pengajar lain ketika berada dalam kelas ini, ketika berada di depan berbicara saya-bapak/ibu, tetapi sekalinya keluar dari pintu kelas berbicara menjadi gue dan elu. Hal itu disebabkan karena konteksnya sudah berbeda. Dalam setiap konteks kita menempatkan diri pada konteks atau posisi tertentu dan kita menempatkan orang lain pada posisi tertentu juga. Bukan hanya ruang dalam pengertian fisik, tetapi juga ruang dalam pengertian abstrak, yaitu tatap muka secara fisik atau tidak, maka bentuk ungkapan kita akan berbeda: jika kita menulis surat terdapat beberapa kesulitan, misalnya biasanya berbicara dengan teman-teman kuliah: gua, elu, dst. Tetapi sekalinya kita harus menulis surat, tulisan elu itu sebenarnya gimana sih? Ada yang menulis loe, elu, lu, loh, dst. Ini sebenarnya bagaimana kita ingin mengungkapkan diri, tetapi kita terperangkap pada tulisan. Jadi, ungkapan dari satu konteks ke konteks lain bisa berbeda-beda.

Tanggapan Pertanyaan:

Bagaimana mengadakan wawancara dengan orang/pejabat yang terlalu sibuk? Dalam satu wawancara dalam konteks formal dan ketika wawancara dilakukan dirumah pejabat tersebut, ternyata dia berbicara lain lagi. Hal ini bukan bias, ini kembali kepada masalah bahwa dia mengungkapkan dirinya, memahami dirinya dalam peran yang berbeda-beda dari satu konteks atau dari suatu situasi dke situasi lain yang berbeda. Jadi, ketika ia sebagai seorang pejabat, dia melihat dirinya sebagai seorang pejabat. Harus kita ingat bahwa dalam penelitian kualitatif, manusia adalah sebagai orang yang mempunyai free will, mempunyai kemampuan untuk menentukan posisinya. Jadi, dia melihat bahwa dalam konteks ini seseorang bertindak sebagai seorang pejabat, sehingga harus begini, begitu bicaranya. Percaya atau tidak, tetapi ia menampilkan dirinya seperti itu, tetapi jika dalam konsteks yang lain, maka dia harus menempatkan posisi pejabatnya itu, kemudian mengambil identitas lain. Jadi bukan bias, dia sedang memainkan peran yang berbeda,dalam konteks yang berbeda. Jika kita ingin meneliti, misalnya apakah pandangan dari pejabat-pejabat atau siapapun terhadap suatu masalah, maka yang terpenting adalah kita mau melihatnya dari segi apanya? Jika kita ingin melihat dari segi efeknya misalnya, maka apa yang dia biacarakan dengan kita di rumah, tentu tidak akan terbawa ke dalam satu tindakan, karena posisinyas sebagai seorang pribadi tidak memungkinkan dia untuk membuat sebuah tindakan, tetapi misalnya kita ingin melihat dia berbicara sebagai seorang pejabat, maka pembicaraan dia sebagai pejabat itu kita ikuti, s sebab dalam posisi dia sebagai pejabat itu ia mempunyai kemungkinan untuk bertindak. Masalahnya adalah yang mana yang hendak kita teliti.

Tanggapan Pertanyaan:

Checking dan triangulasi, artinya bahwa sekalipun kita mempunyai sumber data, baik itu lisan maupun tulisan, terdapat prosedur-prosedur yang diikuti untuk menetapkan konsistensi data-data tersebut dengan data-data lain, dan ini yang nanti akan dibicarakan dalam kritik intern dan ekstern dari data tersebut, apakah terdapat konsistensi dalam datanya sendiri? Atau terdapat konsistensi antar data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, atau yang dikumpulkan dari berbagai konteks atau tahap? Jika memang hendak meneliti sesuatu berdasarkan tulisan melulu (catatan-catatan, arsip, dst) hal itu dimungkinkan. Misalnya: penelitian-penelitian yang bersifat sejarah (historical atau documents study), memang seperti itu adanya, tetapi yang perlu diingat disini adalah bahwa studi dokumen dan studi yang langsung meneliti gejala suatu masyarakat, sebenarnya berangkat dari asumsi-asumsi yang berbeda. Jadi, jika misalnya kita melakukan studi dokumen, kita melakukan studi tentang pelaporan suatu peristiwa dan kita menginterpretasikan atau sudah interpretasi pada tingkat yang kedua, artinya jika kita melakukan penelitian kualitatif, dan seperti yang telah dikemukakan adalah untuk melihat makna atau definisi atau simbol-simbol yang dipakai dalam suatu masyarakat, artinya bagaimana masyarakat tersebut memahami situasi mereka. Maka hal yang perlu diingat dalam interpretasi adalah bahwa kita sebagai peneliti tidak bisa memahami suatu masalah sama dengan orang yang kita teliti. Gejalanya bisa apa saja: apakah gejala sosial, tawuran, apakah kehidupan pribadinya, pemilu, otonomi daerah, dst bisa apa saja. Yang hendak kita ketahui dalam penelitian kualitatif adalah bagaimana orang atau masyarakat itu memahami hal-hal ini. Apakah arti kejadian ini bagi mereka? Dia sebenarnya menafsirkan situasi yang dia hadapi, si peneliti atau kita tidak menafsirkan ini, kita menafsirkan dia…

Orang-orang yang ekstrim mengatakan: bahwa dalam melakukan penelitian kualitatif, kita benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang kita teliti, kita merasakan apa yang mereka rasakan. Untuk hal seperti ini, kita tidak boleh mempercayainya, karena kita sesungguhnya tidak berniat untuk merasakan apa yang mereka rasakan, kita tidak bisa tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui, walaupun kita mau enam atau satu tahun tinggal bersama petani. Oleh karena masalahnya adalah, ketika kita sudah capek, lelah dan jemu meneliti, kita bisa pulang ke Jakarta dan menemukan kasur yang nyaman, mandi air hangat, sementara si petani atau gelandangan yang sedang kita teliti, tidak mampu melakukan hal-hal seperti itu. Jadi jika kita katakan bahwa kita sudah pernah hidup merana, karena sudah pernah mengadakan penelitian diantara gelandangan-gelandangan, pernah merasakan kemiskinan mereka. Tetapi sebenarnya adalah bagaimana kita bisa merasakan hal-hal yang mereka rasakan, ketika pada saat kita lapar, capek, lelah kita bisa pulang dulu. Artinya walaupun bagaimana tetap kita tidak bisa sepenuhnya merasakan apa yang mereka rasakan. Masalahnya adalah sebenarnya si petani, si gelandangan meneliti atau memahami dunianya sendiri, dan kita disini hanya sekedar mencoba memahami atau menginterpretasikan bagaiman dia menginterpretasikan dunianya.

Kembali ke pertanyaan: jika sekarang ada kaitannya dengan sumber data yang sudah tersedia, artinya bahwa ada sumber-sumber informasi pilihan. Kemudian, kita sebagai peneliti, karena mungkin ini tidak terjangkau atau tidak mungkin kita lakukan, kita mengarah ke …, masalahnya adalah ini dulu disiapkan oleh siapa dan ini dulu disiapkan untuk apa, hal-hal seperti ini harus masuk kedalam interpretasi kita juga.

Jika kita kembali kepda studi dokumen, sebenarnya dari dokumen-dokumen tersebut banyak hal yang perlu diperhatikan, misalnya sejarah Indonesia yang ingin kita ketahui sebenarnya adalah bukan sejarah Indonesia, tetapi sejarah raja-raja atau keluarga bangsawan, karena sejarah rakyat-rakyat kecilnya hampir-hampir tidak ada. Sehingga dalam penelitian dokumen/sejarah saat sekarang sudah mulai ada perhatian ke arah tersebut. Bagaimana menggali sejarah dari masyarakat yang tidak bersuara ketika mereka hidup, tidak bisa mengungkapkan diri mereka saat itu, tidak bisa menghasilkan tulisan. Jadi hal penting yang perlu diingat adalah bahwa studi dokumen memang dimungkinkan, tetapi terdapat kendala-kendala yang tidak bisa disamakan dengan apa yang kita lihat pada saat kita langsung bertemu dengan mereka.

Kembali ke topik pokok, bahwa makna dari suatu gejala sosial tergantung pada konteks sosial gejala tersebut, mungkin pernyataan ini sudah agak jelas melalui contoh-cotoh di atas, adalah bagaimana seseorang memberi makna pada situasi yang dia hadapi tergantung dari berbagai macam konteks di luar dan disekelilingnya. Jadi, misalnya saja KB. Jika kita ingin mengetahui bagaimana masyarakat sebuah desa mengartikan KB, maka jika program KB tersebut datang dengan paksa, maka mereka akan memberi makna yang negatif, tetapi jika program tersebut didatangkan dengan cara yang lunak, maka mungkin mereka akan lebih positif memandangnya. Konteks munculnya gejala tersebut berbeda, maknanya sendiri berbeda-beda. Apa sih artinya seseorang datang ke sebuah klinik atau mengikuti program KB, jika dia dilihat atau tidak dilihat oleh Kadesnya: jika misalnya ia terlihat oleh Kadesnya pergi ke klinik atau ke pos lingkaran biru, maka mungkin motivasinya bukan karena Kbnya sendiri, tetapi agar ia mendapatkan fasilitas dari Kadesnya. Dan itulah maknanya, karena konteksnya berbeda-beda. Dalam kaitannya dengan itu, si peneliti memperhatikan gejala-gejala yang mendahului dan menyertai gejala-gejala yang hendak ia teliti. Jadi dalam konteks yang lebih luas.

Seberapa luas konteks yang harus kita perhatikan? Misalnya: penelitian tentang kerusakan lingkungan di Sulawesi Selatan. Dalam masyarakat pesisir indonesia, banyak sekali ditemukan masalah abrasi, kerusakan pantai dan hal ini menjadi masalah besar karena merupakan campuran antara faktor-faktor lingkungan dan faktor-faktor tindakan manusia. Terdapat berbagai hal yang menunjukkan perbedaan dalam arti abrasi yang terjadi mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, lalu terdapat suatu daerah yang abrasinya begitu tinggi sehingga merupakan desa yang akan dibandingkan dengan dengan desa yang tingkat abrasinya tidak begitu tinggi. Pada awalnya kita hanya melihat kepada masalah dimana hutan bakau yang bisa menjadi penangkal abrasi laut tersebut dijadikan tambak ikan dan udang, tetapi penjelasannya ternyata tidak bisa berhenti sampai disitu saja, dan itu merupakan gejala yang menjadi fokusnya yaitu kehidupan petani tambak, tetapi ketika kita perhatikan, gejala-gejala apa yang mendahului dan menyertai gejala ini. Pembukaan lahan mangrove/bakau ini menjadi lahan tambak diawali dengan migrasi besar-besarandari masyarakat luar desa yang menebang hutan tersebut untuk dijadikan tambak, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ternyata karena sudah ada yang mempelopori penebangan bakau tersebut di pabrik kertas Gowa, mereka yang pertama mendapat konsesi untuk menebang hutan bakau, tetapi kemudian hal tersebut diteruskan oleh pendatang-pendatang dari desa-desa lain dan kemudian konteks yang lebih jauh lagi yang menyertai gejala tersebut adalah naiknya harga udang dan ikan di pasar internasional. Jadi ini adalah salah satu gejala yang sebenarnya berada di luar tetapi langsung mempengaruhi apa yang terjadi dalam sebuah desa di pesisir Sulawesi Selatan. Apakah hanya itu yang menjadi konteks dari kejadian-kejadian ini semua? Ternyata tidak, artinya bahwa ternyata abrasinya tersebut diakibatkan oleh adanya penghancuran terumbu karang yang diambil sebagai bahan bangunan rumah dan ikan hias, kemudian semakin menhancurkan pantainya karena ombak tidak tertahan, apakah itu artinya yang diperlihatkan? Ternyata juga tidak, ternyata orang-orang yang menghancurkan terumbu karang mempergunakan teknologi-teknologi tertentu, darimana mereka mengenal teknologi penghancuran terumbu karang tersebut? Ternyata teknologi alat peledak untuk menghancurkan terumbu karang sudah mereka pelajari sejak jaman penjajahan belanda, tetapi penjelasannya bagaimana: saat itu opsir-opsir belanda yang tinggal di daerah itu selalu melakukan perjalanan-perjalanan mencari ikan, karena sedang banyak-banyaknya ikan (sedang musim), orang-orang setempat disuruh oleh opsir belanda tersebut menggunakan peledak untuk menangkap ikan. Kebiasaan itu diteruskan pada jaman penjajahan jepang hingga sampai saat ini. Bahan peledak mereka modifikasi sedemikian rupa untuk menghancurkan terumbu karang dan mengapa hal ini masih terus berlanjut, oleh karena tidak ada enforcement atau pelarangan terhadap hal-hal tersebut. Ada kondisi-kondisi yang memungkinkan aparat itu sendiri ikut terlibat dalam penghancuran terumbu karang.

Apakah hanya itu yang dilihat dalam penelitian kualitatif? Ternyata tidak juga, artinya bahwa ini semua terkait dengan berbagai hal yang berada di luar masyarakat itu sendiri, yang tidak dapat mereka kendalikan, misalnya: garis pantai dari desa yang ternyata datar, sehingga dengan kondisi seperti itu ombak akan menghantam dengan kekuatan sepenuhnya, sangat berbeda dengan garis pantai yang berbentuk teluk, yang ombaknya tidak akan seganas seperti pada garis pantai yang datar.

Apakah kita berhenti sampai disini? Ternyata juga tidak, oleh karena ternyata orang-orang disana mencoba sekali-sekali untuk menanam bakau, karena mereka pun sebenarnya sadar bahwa tiap tahun bisa 5 sampai 10 meter bahkan 50 meter tanah mereka habis karena abrasi, tetapi menjelang bakau tersebut besar, bakau tersebut sudah gelondongan-gelondangan kayu dari Sultra yang hanyut mengikuti air, sehingga hancurlah bakau yang mereka tanam. Siapa lagi yang akan memberi bibit bakau? Dan siapa yang dapat menanam pantai sebegitu luasnya dan sekaligus mengawasinya? Dan jika mereka sempat mengawasi, siapa yang akan mengerjakan tambak mereka? Kemudian, belum lagi masalahnya adalah petani-petani tambak yang ada disini ini, dalam masyarakat bugis makassar, mereka bukan pemiliknya, mereka hanya pekerja-pekerjanya, sedangkan pemiliknya/punggawa-punggawa/atau patron-patronnya berada di desa lain, dan uniknya didesa pemilik-pemilik tambak tersebut, penuh dengan hutan bakau yang masih lestari, karena mereka sadar daripada hutan bakau desa mereka sendiri hancur, maka pergilah mereka untuk membuka tambak di desa-desa lain.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa inilah yang dimaksud bahwa jika kita ingin melihat suatu masalah yaitu bagaimana masyarakat di desa itu memperhatikan masalah tambak dan hutan bakau, bagaimana konservasi lahan mereka, maka kita melihat apa sih yang terjadi sebelum-sebelumnya sehingga konservasi hutan bakai disana hancur-hancuran dan apa sih yang terjadi secara bersamaan sehingga konservasi lahan yang diusahakan itu selalu gagal?

Berikutnya, data yang rinci kita kumpulkan dari satu atau sejumlah kecil kasus. Jadi jelas hal ini berbeda atau berlawanan dengan survey. Melalui survey, data yang sangat spesifik, dalam arti sangat terbatas kita kumpulkan dari sejumlah besar responden. Sedangkan kualitatif, hal yang sebaliknya, data yang rinci dikumpulkan dari satu atau sejumlah kasus kecil saja.

Si peneliti berusaha untuk menemukan pola-pola kehidupan orang yang diteliti, pola-pola perilaku mereka, pola-pola pemaknaan mereka. Jadi walaupun kita fokuskan pada sejumlah kecil kasus, kita berharap menemukan pola-pola dari kasus-kasus tersebut. Ada satu masalah yang kerap ditanyakan orang-orang dalam menilai suatu penelitian kualitatif: penelitian kualitatif sering dikatakan sangat tergantung pada konteksnya, konteksnya berbeda maka penjelasannyapun berbeda. Masalahnya adalah jika berbeda-beda, bagaimana caranya kita membuat suatu generalisasi atau bagaimana membuat sebuah teori? Ini memang suatu kritik yang banyak dilontarkan kepada peneliti-peneliti kualitatif yang menyumbangkan datanya untuk suatu kebijakan. Penentu kebijakan melihat data, lalu kemudian peneliti mengatakan ini yang terjadi disini pak, jika disini terjadinya begini, dst. Tetapi penentu kebijakan menginginkan satu model, sesuatu yang bisa dipakai dimana-mana. Jika penelitian-penelitian kualitatif tersebut menunjukkan variasi-variasi dimana-mana, lalu teorinya dimana? Artinya generalisasinya dimana? Ini adalah gambaran atau pendapat yang agak melupakan bahwa variasi-variasi itu mutlak perlu jika kita ingin membuat teori. Kita tidak bisa berpikir secara teoritik jika tidak terdapat variasi, jika semuanya sudah sama, maka tidak akan terdapat teori. Teori itu justru muncul dari variasi. Masalahnya adalah seberapa banyak penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mencoba mendapatkan pola-pola tersebut, kadang-kadang memang terdapat kecenderungan untuk terlalu cepat mengambil kesimpulan yang dianggap bisa berlaku dimana-mana, walaupun sebenarnya kita belum mengidentifikasi konteks-konteks …

Penetapan fokus penelitian kita melalui difocussing dan memfokuskan kembali apa yang ingin kita jadikan topik penelitian kita. Pemilihan paradigma merupakan salah satu yang dicantumkan karena terdapat dalam buku creswell, dimana dia mengatakan bahwa seorang peneliti saat dia menetapkan fokus perhatiannya, dia harus menetapkan kira-kira paradigma apa atau pendekatan apa yang akan ia pakai untuk meneliti fokus, tetapi masalah yang sebenarnya adalah bahwa sesungguhnya penetapan fokus penelitiannya itu didasarkan pada pendekatan yang sudah ada pada si peneliti, jadi ini sebenarnya adalah hal kalau menurut Ezra tidak tercantum dalam bukunya creswell, artinya bahwa ketika seorang peneliti bertanya, mempermasalahkan satu hal, baik dari kerangka berpikir dia maupun dari gejala nyata, maka sebenarnya pertanyaannya itu sudah muncul dari asumsi-asumsi dia atau sipeneliti tentang haekkat realita itu sendiri. Jadi, jika kita bertanya, itu sudah menunjukkan teori-teori yang sudah kita dalami, kita bertanya, kita sudah mencerminkan apakan mempergunakan kerangka berpikir yang kualitatif atau kuantitatif atau dirumuskan dengan cara lain. jika orang yang bersangkutan sudah banyak mendalami teori-teori kualitatif, maka pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran dia ketika menetapkan fokus penelitian dia sebenarnya sudah kuantitatif dan harus dijawab dengan dengan metoda-metoda kuantitatif. Ini sebenarnya bukan pemilihan, dalam arti kita sadar misalnya kita hendak memilih kuantitatif atau kualitatif, tetapi ini adalah suatu kecenderungan yang akan sulit untuk diatasi, artinya jika seseorang sudah berpikiran kuantitatif, ya sudah, jika dia disuruh membuat penelitian kualitatif, maka mungkin hasilnya dia akan merumuskan masalah penelitiannya kembali lagi dengan menggunakan metoda kuantitatif, lagi-lagi kembali ke kuantitatif, begitu juga dengan hal yang sebaliknya, ketika diharuskan melakukan penelitian kuantitatif, ia menjadi bingung, oleh karena pada saat ia merumuskan masalah, rancangan penelitian, metoda pengumpulan data, dsb kecenderungannya selalu mengarah ke kualitatif. Jadi, dengan kata lain hal seperti ini merupakan sesuatu hal yang sudah tertanam dalam diri kita sebagai manusia, bukan merupakan hal yang mudah kita pilih: melakukan penelitian kuantitatif kah atau kualitatif kah?

Dalam melakukan penetapan format kajian, akan sedikit menghadapi permasalahan seperti di atas (point 2) walaupun tidak terlalu signifikan, artinya bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan banyak macam atau ragam penelitian: seorang fenomenolog mengaku mengadakan penelitian kualitatif, seorang kognitif mengaku melakukan penelitian kualitatif, jadi banyak ragamnya dan ragamnya ini menentukan atau berpengaruh pada format kajian mereka, apakah melakukan etnografi, grounden theory, case study atau historical comparative, ini pun mengandung permasalahnya sendiri, kapan sebenarnya kita kita sebenarnya menentukan satu format kajian.

Ke empat, sebelum kita benar-benar merumuskan masalah penelitian kita, sebelum kita benar-benar menyusun rancangan penelitian, kajian pustaka mutlak harus dilakukan dan tidak ada tawar menawar di sini, membaca secara sistematis. Hal yang harus kita ingat lagi adalah pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang tidak ada format bakunya, suatu pendekatan yang mengikuti logic in practice, bukan reconstructed logic, merupakan suatu pendekatan yang luwes, oleh karena itu yang akan dibicarakan adalah bentuk-bentuk alternatif, bukan yang harus diikuti secara mutlak, akan terdapat variasi-variasi yang tentunya dalam garis batas yang kurang lebih sama. Hal berikut adalan satu alternatif format penelitian yang dikemukakan oleh creswell, dia memulai dengan membagi dua hal utama suatu pendahuluan, dimana kita memaparkan latar belakang munculnya permasalahan, menempatkan konteks kepustakaan yang sudah ada, membahas kekurangan yang ada pada kepustakaan, menunjukkan signifikansi penelitian. Menurut Creswell, keseluruhannya ini bisa terdiri dari 6 point, sebagai berikut: rumusan permasalahan, tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, definisi, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian dan signifikansi dari penelitian, disini sebenarnya urutannya sama, tetapi apa yang terdapat pada masing-masing isinya mempunyai hakekat yang berbeda.

Bagian ke dua yang dia kemukakan, menyangkut prosedur penelitian itu sendiri, asumsi dan alasan menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan penelitian yang dipakai atau format kajian, prosedur pengumpulan data, analisis data, metoda verifikasi data, hasil penelitian yang nantinya akan dihubungkan ke teori-teori yang ada.

Masalah dan tujuan penelitian dimasukkan ke dalam 2 point yang sama, sebab dalam praktek penulisannya dua hal ini sangat sulit untuk dipisahkan secara tegas. Jadi dalam masalah penelitian dan tujuan penelitian kita ini atau istilah yang mewakili adalah sistematic of intent, kita ingin menunjukkan apa sebenarnya yang ingin kita teliti dan kenapa kita meneliti dan bagaimana menelitinya, semua dalam rumusan yang mungkin hanya satu atau dua alinea, sedangkan masalah penelitian itu sendiri sebenarnya apa? Masalan itu dapat kita lihat sebagai suatu hal, hal yang ada dalam suatu kepustakaan, teori atau pada kenyaataan yang kita pertanyakan kebenarannya dan harus kita cari jawabannya melalui penelitian. Jadi terdapat kerancuan dalam teori kita, terdapat ketidakcocokan antara proposisi yang satu dengan proposisi yang lain atau dalam kenyataannya terdapat sesuatu hal yang seharusnya tidak terjadi, ada hal yang tidak cocok antara teori kita dengan kenyataan yang kita amati. Sehingga penelitian itu sendiri tidak selalu merupakan satu masalah sosial. Kita membedakan antara masalah sosial sebagai sesuatu yang dianggap menganggu tertib masyarakat, harus diatanggulangi atau diatasi. Dari masalah penelitian sosial yang pengertiannya lebih kepada yang telah dikemukakan sebab masalah penelitian sosial tidak selalu merupakan masalah sosial. Tawuran adalah masalah sosial yang bisa dijadikan masalah penelitian sosial, tetapi bentuk keluarga bisa atau layak juga diteliti, tetapi tidak selalu menjadi sebuah masalah sosial atau selalu merupakan hal yang dirasakan mengganggu masyarakat, yang dirasakan harus diatasi atau ditanggulangi. Masalah penelitian itu sendiri merupakan konstruksi teoritik kita, ia bukan sesuatu yang bukan tiba-tiba saja muncul, bukan sesuatu yang kita rumuskan berdasarkan perumusan yang awam atau pemikiran yang normatif, tetapi pemikiran yang teoritik. Kita bisa melihat sesuatu hal sebagai masalah penelitian karena mempunyai teori-teori tertentu. Teori yang lain akan mempunyai masalah penelitian yang lain pula. Konflik atau kerusuhan akan dilihat oleh ahli ekonomi sebagai masalah kesenjangan ekonomi, dilihat oleh ahli sosial sebagai perbedaan antar budaya atau sosial, dari segi pembangunan atau kebijakan politik adalah dilihat dari terdapatnya kesalahan-kesalahan dari program politik pembangunan pemerintah yang tengah berkuasa. Psikologi pun bisa mempelajari kerusuhan dilihat dari kepribadian anggota-anggota masyarakatnya. Lain teori, lain juga masalah yang akan muncul walaupun hal itu dari suatu realitas yang sama. Jadi, yang harus diingat adalah bahwa hal ini merupakan konstruksi teoritik, namun masalahnya, jika kita tidak mempunyai teori, dimana kita akan merumuskan masalahnya, hampir-hampir mustahil, karena kita baru mengenal konsep-konsep kedua tanpa melihat gambaran yang menyeluruh, kita harus melihat konsekuensi teoritiknya sebenarnya apa, kita harus menempatkan kajian-kajian pusataka untuk mendapatkan kajian teoritik ini, kita harus menempatkan gejala yang kita baca dalam hubungannya dengan dengan gejala-gejala lain, tetapi sekaligus kita menempatkan teori yang kita pakai/baca, dalam hubungannya dengan teori-teori lain, contoh: meneliti tentang agama, jelas kita harus belajar atau baca dulu mengenai agama yang sudah pernah diteliti misalnya yang pernah diteliti oleh Clifford T. Geerz di Jawa. Jika kita hanya membaca apa-apa yang digambarkan oleh Clifford T. Geertz, kemudian kita langsung hendak merumuskan masalah penelitian, akan sulit karena kajian pustaka harus dilakukan dengan menempatkan sumber pustaka itu dalam konteks yang lebih luas, apa-apa yang digambarkan oleh Geertz misalnya tidak bisa diterima begitu saja tanpa membandingkannya dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Jawa lain, dan ternyata Geertz juga meneliti hal tersebut hingga ke masyarakat Maroko: bagaimana sih bentuk atau perwujudan Islam di sana. Jadi apa yang kita baca tentang agama di Jawa, harus pula dibandingkan dengan realita-realita lain. juga ternyata selain itu Geertz juga berbicara dalam kerangka berpikir tertentu. Jadi jika kita menempatkan tulisan Geertz dalam kerangka yang lebih luas, teori-teori lain yang berbicara tentang agama di Jawa, akan seperti apa jadinya. Geertz mengatakan di Jawa terjadi sinkretisme, apakah seorang ahli lain yang menggunakan teori-teori lain misalnya seseorang yang menggunakan pendekatan Durkheim dengan masalah yang sama, maka realita dan teorinya kita bandingkan, sehingga berdasarkan itu semua kita bisa menetapkan masalah penelitian dan kita bisa merumuskannya, jadi sudah merupakan kerangka, kita sudah lebih mengenal secara teoritik masalah yang akan kita kaji.

Bagian lain dari masalah penelitian ini secara lebih to the point adalah tujuan penelitiannya sendiri yang biasanya dirumuskan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Menggunakan istilah yang menunjukkan secara eksplisit, pernyataan tersebut merupakan gagasan utama penelitian, apakah memang harus diingatkan kembali atau tidak, tetapi ternyata memang ada penulis-penulis yang susah untuk menyebutkan secara eksplisit seperti ini sering gagasan utama yang mereka hendak kaji itu apa? Sebagai contoh: seorang mahasiswa yang sedang menyusun permasalahan penelitian, ia ingin melihat masalah stereotipe yang ada dalam hubungan antara masyarakat pribumi dan cina, ia lalu mencoba merumuskan masalahnya: mengapa stereotipe kelompok-kelompok tersebut di Bogor terdapat strereotipe yang bertentangan dengan yang umum ada, sehingga tidak ada stereotipe negatif masyarakat cina di daerah penelitian, tetapi dalam melakukan perumusan masalahnya si mahasiswa tersebut berbicara tentang tindakan. Sehingga ketika ia menunjukkan ia hendak mempelajari stereotipe dan ia lalu mengatakan bahwa stereotipe ini tidak ada, karena terlihat bahwa masyarakat pribumi dan masyarakat cina berinteraksi secara baik. Tidak bisa seperti itu, karena hal ini merupakan dua hal yang berbeda: strereotipe merupakan kategori pikiran, suatu gejala mental bagaimana manusia mengklasifikasi dan memberikan gambaran tentang orang-orang dimasyarakatnya, sedangkan interaksi berada pada tingkatan perilaku. Sehingga fokus penelitian mahasiswa tersebut tidak jelas berada di mana? Ketika kita merumuskan suatu masalah, sebenarnya apa yang akan kita bicarakan.

Hal kedua, kita menggunakan istilah-istilah yang menunjukkan rencana penelitian yang bersifat luwes/fleksibel dalam arti akan terdapat kemungkinan perubahan-perubahan, maksudnya, seperti kata-kata: ingin menemukan atau melakukan eksplorasi, berarti kita bisa bergerak dari satu tempat ke tampat lain tanpa terikat satu masalah tertentu, masalahnya bisa berkembang, kita tidan menutup kemungkinan bahwa dalam rancangan penelitian itu kita akan harus mengumpulkan data tentang hal-hal yang tadinya tidak kita perkirakan.

Tanggapan pertanyaan:

Fokus penelitian memang harus ada, tetapi dalam suatu penelitian kualitatif yang murni dalam arti disponsori dengan suatu jadwal ketat, walaupun kita mempunyai fokus kita tetap akan membukan kemungkinan bahwa fokus penelitian ini terkait kepada hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, jadi dia sebenaranya dia berbicara dalam konteks yang seperti apa? Misalnya penelitian yang baru-baru ini dilakukan di lampung tentang petani yang diintroduksi dengan sistem pertanian Pengendalian Hama Terpadu (PHT)—pertanian tanpa pestisida. Untuk penelitian ini yang menjadi fokusnya sebenarnya adalah transfer of knowledge, jadi bagaimana mereka memperoleh pengetahuan tentang hama dan predator banyak mati karena pestisida yang sebenarnya siklus hidup predator, sudah mencukupi, jika tanpa pestisida untuk panen yang baik. Nah, itu fokus penelitiannya sudah ada, tetapi dalam melakukan penelitian kualitatif, hal-hal yang tidak terduga oleh kita, tidak bisa kita tinggalkan begitu saja, salah satu adalah bagaimana ketika mereka menerima pengetahuan baru tersebut, dalam mempraktekkannya ternyata mereka mengkombinasikannya dengan pengetahuan atau kearifan mereka yang melakukan penanaman itu berdasarkan perhitungan bulan, namun ternyata tidak berhenti hanya disitu saja, walaupun mereka mempunyai sistem pranoto wongso ini dimana mereka harus misalnya bulan ini kedele, bulan lain padi, dst, ternyata ditempat mereka sendiri irigasi diatur. Jadi di daerah transmigrasi Lampung tersebut, mereka tidak lagi tergantung 100% pada hujan dan kondisi lingkungan, dsb, tetapi bagaimana pengurus air mengatur giliran air irigasi dari satu sawah ke sawah lain. Jadi, pengalihan pengetahuan yang tadinya menjadi fokus penelitianitu, harus kita jelaskan melalui hal-hal yang kita temukan di lapangan dan jika kita tidak mau memperhatikan masalah lingkungan misalnya atau tidak mau memperhatikan masalah-masalah irigasi yang artifisial ini, mungkin hal ini bisa dilakukan, tetapi mungkin tidak akan memberikan gambaran yang lengkap terhadap fokus kita sendiri.

Tanggapan pertanyaan:

Masalah grounded theory, teori yang membumi itu sebenarnya juga senada dengan pertanyaan: dapatkah melakukan penelitian tanpa berteori dulu? Apakah memang bisa? Jika kita tidak mempunyai teori, pertanyaannya itu muncul dari mana? Jika kita melihat kenyataan, itu juga tidak tergantung pada teori yang ada dalam pikiran kita? Apakah kita hanya melihat atau menangkap secara indrawi saja? Kita melihat gerakan orang? Kita mendengar ucapan orang? Tetapi interpretasinya berdasarkan apa?

Jika ada orang yang berjalan di depan pintu, kemudian orang-orang melihat mereka, lalu kita harus memikirkan apa yang mereka lakukan, kita memikirkan mempergunakan apa? Dengan teori bisa, norma-norma bisa. Misalnya kita lihat dua orang bergandengan, maka jika kita menggunakan kerangka berpikir normatif keagamaan: haram, tidak boleh! Tetapi jika kita melihat secara ilmu sosial, secara teoritik, psikologis: ini adalah hasil evolusi dari cara berkembang biak manusia atau mahluk-mahluk lain di dunia ini, ada isitilahnya…bersambung!

Penelitian Lapangan Dan Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Yang Sedang Melakukan Penelitian

Penelitian lapangan lebih merupakan sebuah orientasi, bukan merupakan suatu teknik atau langkah-langkah yang pasti dalam melakukan penelitian. Penelitian lapangan kerap dipakai dalam pengertian yang lebih luas, yaitu segala macam penelitian yang melibatkan kegiatan-kegiatan turun ke lapangan. Jadi dipertentangkan dengan istilah studi dokumen, sehingga pada dasarnya pada dasarnya, orang yang melakukan studi kuantitatif atau survey sekalipun mempergunakan pula istilah lapangan: dia turun ke lapangan. Tetapi disini penelitian lapangan akan kita terjemahkan secara sempit, yaitu merupakan salah satu orientasi dari penelitian kualitatif, merupakan sekumpulan kegiatan dimana berbagai teknik digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dan berbagai teknik tersebut sekaligus untuk membantu proses berpikir tentang informasi tersebut, jadi bukan sekedar bahwa kita mengumpulkan data dan kemudian mempergunakan bermacam-macam cara apakah itu wawancara mendalam, wawancara bebas, pengamatan terlibat atau studi dokumen, tetapi sekaligus juga bagaimana cara si peneliti menganalisis atau melihat data tersebut bisa beragam atau bermacam-macam. Apakah dia mencoba melihat data yang telah dia kumpulkan dengan mempergunakan teori-teori struktural, apakah dia berusaha untuk melihat data dikumpulkan dengan teori-teori pemaknaan, apakah dia berusaha melihat data tersebut dengan membandingkannya dengan analisis yang dilakukan oleh peneliti lain. jadi nampak analisispun dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, proses berpikir kita terbuka, maka kita biarkan berbagai macam alternatif dan peneliti mengikuti perspektif yang disebut social constructivist, yaitu melihat penelitian sebagai gambaran dari realitas-realitas sosial dan juga sebagai bagian dari realita tersebut. Social constructivist ini merupakan suatu pendekatan atau perspektif yang mengatakan bahwa realita itu sendiri adalah ciptaan manusia, berdasarkan definisi-definisi yang diberikan oleh manusia dan bukan sesuatu yang ada secara obyektif seperti apa yang yang dikatakan oleh kaum positivistik. Jadi social constructed tersebut adalah bahwa situasi atau obyek tergantung bagaimana kita mendefinisikannya. Contoh yang paling kongkrit adalah yang dikemukakan oleh Yaser Arafat: sebutlah seorang teroris bercermin, maka ia akan melihat pada cermin tersebut sosok seorang pejuang. Artinya, realitanya sama, tetapi konstruksi kita tentang realita tersebut atau makna yang kita berikan terhadap realita tersebut adalah krusial sifatnya. Dalam konteks atau perspektif ini, maka kita sebagai peneliti melihat kegiatan kita sendiri sebagai seorang peneliti. Penelitiannya sendiri adalah realita sosial itu sendiri. Kita tidak bisa memandang seolah-oleh seperti yang dikatakan oleh kaum positivistik:: suatu gejala masyarakat, seolah-olah kita melihatnya secara obyektif dan tidak mengganggunya seperti halnya jika kita seorang ilmuwan eksakta/alam dalam memperhatikan kehidupan binatang, asal saja kita tidak mengganggunya atau mengutak-utik tumbuh-tumbuhan seoleh-olah dia tidak mengganggunya. Kita menjauhi persepektif seperti itu, kita menyadari bahwa kita terlibat dalam proses penelitian tersebut sebagai individu dan kehadiran kita menjadi bagian dari masyarakat yang kita teliti. Penelitian lapangan ini paling tepat jika penelitian kita menyangkut upaya mempelajari, memahami atau mendeskripsikan orang yang berinteraksi, atinya kita kita tidak terbatas kepada masalah-masalah seperti sikap atau opini yang bisa dijaring melalui pertanyaan-pertanyaan tertutup dalam sebuah kuisioner, kita justru bisa memakai penelitian lapangan ini untuk melihat bagaimana manusia itu berinteraksi bukan hanya apa yang dia katakan, tetapi yang dia katakan dalam suatu sitaasi sosial bukan hanya apa yang dia katakan atau dia lakukan di depan si pewawancara tetapi apa yang sesungguhnya dia lakukan ketika dia berada dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, itu yang dilihat sebagai kelebihan dari bentuk atau orientasi penelitian lapangan ini dan tentunya istilah deskripsi disini adalah deskripsi yang mendalam terhadap sekelompok orang, bukan hanya dipermukaannya saja tetapi lebih mengikuti deskripsi yang dikatakan oleh Clifford T. Geertz sebagai deskripsi yang mendalam, yang tentunya berbeda atau dibedakan dari frame description atau gambaran yang dangkal/permukaan yang hanya melihat kepada interaksi atau perilaku manusia yang tampak, sedangkan deep description mengarah kepada makna, pengertian yang diberikan oleh orang-orang yang terlibat tentang kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan atau obyek yang mereka pakai atau mereka hadapi.

Sedikit tentang sejarahnya, ini merupakan suatu bentuk penelitian yang pertama sekali secara ilmiah dipakai oleh Brosinlaw Malinowski, antropolog yang mengikuti pendekatan fungsional yang meneliti di kepulauan Melanesia dan sebenarnya apa yang dilakukannya ini adalah antara sengaja dan tidak sengaja dalam arti bahwa Malinowski sebagai seorang antropolog kelahiran Polandia dan berkewarganegaraan Inggris, ketika itu berada di Kep. Melanesia untuk melakukan penelitian, tetapi pada masa itu terjadi PD I dan sebagai seorang Inggris dan keturunan Polandia yang berada di daerah yang kebetulan banyak dikuasai dan dipengaruhi oleh Jerman pada waktu itu, gerakannya menjadi terbatas, ia tidak bisa secara leluasa bolak balik dari lokasi penelitiannya ke negaranya, sehingga kesempatan itu ia pergunakan untuk tinggal bersama masyarakat yang ditelitinya dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari dan mencoba memahaminya dengan bahasa mereka sendiri. Jadi disini juga termasuk termasuk salah satu awal, dimana peneliti dituntut untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang bersangkutan dalam bahasa mereka sendiri. Jadi sebelum ini banyak penelitian-penelitian lapangan yang kebiasaannya adalah melalui perantara atau penterjemah. Malinowski dan beberapa orang lain (termasuk Sanborn) mengadvokasi penelitian lapangan yang mempergunakan bahasa masyarakat lokal, karena hanya dengan melalui bahasa lokal masyarakatnyalah kita bisa memahami apa yang mereka katakan dan rasakan dan tentunya prinisip ini sangat dipengaruhi oleh pendekatan atau teori-teori yang melihat bahwa kemampuan manusia berpikir itu dikendalai oleh bahasa yang ia kuasai. Jadi pandangan-pandangan yang sifatnya sangat terpengaruh dalam strukturalisme dalam bahasa. Bentuk penelitian ini selanjutnya dikembangkan oleh The Chicago School tahun ‘40-an sampai dengan ‘60-an dan merupakan satu mazhab dalam sosiologi yang banyak dibicarakan dalam kelas-kelas sosiologi lain dengan salah satu tokohnya adalah Robert E. Park, berkembanglah dengan apa yang dikatakan sebagai participation observation, dan disini tentunya harus diperhatikan bahwa istilah pengamatan/observation adalah dalam pengertian yang seluas-luasnya, dalam arti kita mengamati dengan berbagai macam indra kita, kita melihat, kita mencium, kita meraba, bukan sekedar pengamatan dalam pengertian secara obyektif melihat dengan mata kita. Sifat ini sebenarnya terpengaruh dari pengalaman dia sebagai seorang wartawan, dengan latar belakang jurnalistiknya, dia telah melakukan berbagai macam pelaporan untuk media massa dengan melihat kepada kerincian data, hal ini dia terapkan kedalam penelitian sosiologi atau penelitian ilmiah, ia mendorong mahasiswa-mahasiswanya pada saat itu untuk meneliti suatu masyarakat dimana masyarakat itu hidup, bukan dengan memaksakan mereka untuk masuk ke laboratorium atau masuk ke kantor-kantor untuk diajak berbincang-bincang. Malah dulunya antropolog sekalipun yang terkenal dengan pengamatan terlibatnya banyak yang melakukan dimana informan itu dipanggil ketempat si peneliti tinggal untuk wawancara. Antropolog itu sendiri tidak masuk ke dalam dunia orang yang dipelajari. Robert E. Park dengan Chicago Schoolnya ini justru ingin melihat atau mempelajari manusia pada setting alami mereka. Dia mendorong mahasiswanya untuk mencoba meneliti masyarakat miskin, yang hidup di pinggir-pinggir jalan, masyarakat buruh, guru atau apa saja profesinya. Sehingga pengamatan terlibat ini sebagai suatu metoda penelitian lapangan ini secara keseluruhan bukan saja satu metoda untuk meneliti masyarakat-masyarakat terasing, tetapi juga masyarakat-masyarakat perkotaan sekalipun dalam keluarga-keluarga pada masyarakat modern.

Prinsip berikutnya, dalam pengembangan participation observation adalah mempelajari manusia dengan interaksinya langsung, tidak melalui perantara-perantara, tidak melalui bentuk pengamatan yang sifatnya artifisial; mencari pengamatan tentang realita sosial, membuat pernyataan teoritis tentang perspektif orang yang dikaji. Jadi, penelitian lapangan ini bukan sesuatu yang melulu deskriptif, sesuatu yang hanya menggambarkan, tetapi juga sesuatu yang kita angkat menjadi suatu jenis pernyataan teoritik, sesuatu yang kita harapkan bisa berlaku dalam kasus-kasus yang serupa di tempat-tempat dan di masa-masa lain.

Terdapat peralihan dari deskripsi yang teoritik, bukan sekedar penggambaran seperti halnya artikel-artikel dalam koran atau majalah, tetapi sesuatu yang kita angkat, kita lihat, kita jadikan suatu dasar untuk sebuah pernyataan umum.

Proses negosiasi dalam merekonstruksikan makna-makna sosial, artinya pernyataan ini harus dilihat dalam konteks perkembangan atau sejarah teori-teori tentang makna, sebagai gambaran, ketika kita berbicara tentang peneliti kualitatif mencari makna, mencari pemahaman, maka apa sebenarnya yang dimaksud dengan makna (what is the meaning of meaning), pernyataan yang jawabannya dari masa ke masa cukup membingungkan ketika orang berbicara tentang makna, paling tidak ada satu aliran pemikiran yang sangat berpengaruh yaitu strukturalis, ini merupakan orang-orang yang melihat, jika kita ingin mengetahui makna dari sesuatu, kita harus melihat sesuatunya ini dalam sistem yang seperti apa? Maksudnya, misalnya jika ada suatu lambang dan lambang ini bisa lambang apa saja, misalnya huruf H, maka dalam sebuah pembahasan tentang makna, kita berusaha untuk melihat lambang ini artinya apa? Lambang ini menandakan huruf H, lambang ini hanya menandakan bunyi H jika kita tahu bahwa dia sebenarnya merupakan bagian dari sebuat sistem yang lebih besar, yaitu abjad. Sehingga jika kita tidak mengenal abjad, kita tidak akan mengenal sistemnya. Orang mungkin hanya melihat, H ini sebagai tiga garis, dia tidak bisa mengartikan atau memberi makna terhadap lambang ini seperti halnya kita. Tetapi jika sistemnya berubah, misalnya kita tidak mempergunakan sistem abjad kita, tetapi sistem abjad lain, maka misalnya ini menjadi lambang dari bunyi N seperti dalam tulisan rusia, karen sistemnya berbeda, dia menjadi anggota dari sistem abjad yang lain. jadi, dalam pandangan strukturalis, jika ingin mengerti dari sebuah lambang, coret-coretan, dsb maka kita harus melihat kepada sistem yang lebih luas. Ini adalah salah satu cara untuk melihat makna, misalnya lagi apa artinya pemilu, maka kita harus melihat dalam sistem yang lebih luas dalam pengertian pemilu dalam sistem politik yang seperti apa? Jika pemilu dalam sistem politik yang demokratis atau otoriter, maka artinya akan berbeda bagi orang yang terlibat. Selanjutnya jika melihat arti dari KB misalnya, bagi partisipannya misalnya sistem yang lebih luasnya apa? Apa KB itu dilihat sebagai salah satu dari program-program pemerintah yang yang lebih banyak atau dia dimasukkan dalam suatu sistem pengetahuan tentang kependudukan dia berada, maka masyarakat atau anggota masyarakat itu bisa mengartikannya berbeda tergantung sistemnya. Itu salah satu cara orang melihat makna, ada berbagai cara lain yang melihat makna itu bersifat referensial, jika ingin mengetahui arti dari sesuatu atau makna dari suatu obyek, tanyakan saja hal ini menggambarkan apa dalam realita, misalnya jika menanyakan, apa sih artinya bintang, bagi orang-orang ia akan mengatakan ini mengacu kepada ketuhanan, sementara orang lain akan mengatakan bahwa bintang merupakan lambang untuk menangkal setan atau kekuatan-kekuatan magis lainnya. Dalam politik, lambang bintang akan mengacu pada suatu partai, kita hanya melihat kepada acuannya, kepada referensinya.

Dua cara yang telah dikemukakan, sebagai beberapa teori tentang makna, masing-masing mempunyai kemiripan, dalam arti bahwa mereka melihat ini ada obyek, subyek ini ada maknanya. Dalam konteks tertentu, yang dimaksud dengan disini bahwa semakin terfokus pada proses negosiasi dalam merekonstruksi makna ini adalah bahwa dalam teori-teori makna yang semakin ke masa kita sekarang ini, yang diperhatikan adalah dalam berinteraksi itulah makna muncul. Jadi, terjadi negosiasi antar orang yang terlibat dan inilah yang kita amati terus-menerus dalam penelitian lapangan.

Kemudian, istilah-istilah modern penelitian lapangan itu sering dikatakan sebagai etnografi, yaitu pelukisan tentang sebuah kelompok etnis dan sering disebut juga sebagai etnometodologi. Pengertian harfiah etnografi adalah deskripsi atau gambaran tentang sebuah kebudayaan/kelompok etnik dan fungsinya aalah manusia itu selalu mencari makna, membuat inferensi atau kesimpulan tentang hal-hal yang dia amati berdasarkan pengetahuan (budaya) yang ia miliki. Jadi, jika kita melihat apapun, kita selalu mencoba mengartikan, apa sih yang sedang terjadi?, dasar kita untuk menarik kesimpulan, apa yang telah terjadi itu adalah pengetahuan budaya kita, lain kebudayaan maka lain pula penafsiran tentang apa yang akan terjadi, misalnya: menerima kado dalam masyarakat kita, biasa-biasa saja, tetapi dalam masyarakat lain, belum tentu karena etnometodologi penekanannya berbeda, karena merupakan suatu pendekatan dalam kualitatif yang bermula kira-kira pada tahun 60-an dengan salah satu tokohnya adalah Harold Garfunkel yang menekankan pada bagaimana manusia mempergunakan akal sehat atau pengetahuan sehari-hari mereka dalam memahami atau menghadapi realita, dan etnometodologi ini adalah suatu bentuk penelitian lapangan yang sebenarnya agak mencampur metode-metode kualitatif ini dengan sedikit mencoba eksperimen, mereka mencoba menempatkan orang-orang dalam kondisi-kondisi atau situasi-situasi yang tidak biasa dan mencoba mengamati dan melakukan wawancara dengan orang tersebut, bagaimana orang tersebut mengatasi situasi yang tidak biasa itu dengan akal sehat mereka, misalnya: bertemu seseorang, kemudian kita bertanya, sebelum dia menjawab kita berjalan atau misalnya kita pergi ke sebutah toko swalayan, kemudian kita bertanya kepada seorang pengunjung dan kita anggap dia sebagai pramuniaga toko tersebut dengan cara bertanya: mbak, dimana tempat sabun dan peralatan mandi? Tentu saja dia menjawab bahwa ia bukan pramuniaga, tetapi oleh karena kita ingin mengetahui bagaimana cara orang tersebut menghadapi situasi aneh yang dialaminya dengan mempergunakan akal sehat yang dimilikinya, kita tetap menganggapnya sebagai pramuniaga. Ini adalah contoh penekanan dalam etnometodologi. Jadi, ini sebenarnya hanya sekedar variasi-variasi dari penelitian dengan penekanan yang berbeda-beda. Secara umum apa yang dilakukan oleh seorang peneliti lapangan dalam menghadapi kejadian-kejadian biasa, maupun luar biasa, atau kejadian sehari-hari dalam setting alaminya. Terdapat sedikit masalah yang harus kita perhatikan. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penelitian kualitatif ini bukan penelitian yang berangkat tanpa teori, tetapi masalahnya disini adalah teori mana yang kita pergunakan, karena hal tersebut bisa mempengaruhi akhirnya penekanan mana dari kejadian ini yang akhirnya kita amat. Jika kita baca tulisan Cilfford T. Geertz dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya, dalam tulisan-tulisannya, mereka benar-benar memperhatikan kebiasaan sehari-hari masyarakat. Jadi ia mempelajari atau mendeskripsikan misalnya sabung ayam di Bali, mendeskripsikan pembicaraan tiga orang pemuda Bali, dalam artikelnya internal conclusion, dideskripsikan secara mendalam apa-apa yang mereka bicarakan dan dia analisis. Pengamatan terhadap apa sih yang dilakukan ketika orang hidup di dalam kota Pare: pergi ke mesjidnya jam berapa? Doa-doanya seperti apa?

Alasan dia melakukan hal ini adalah karena dalam pandangan teoritiknya, simbol-simbol yang ingin diketahui maknanya tersebut muncul di dalam setiap peristiwa. Geertz sendiri mengartikan simbol-simbol ini sebagai sesuatu yang bisa berupa apapun: obyek bisa, kata-kata bisa, peristiwa bisa. Jadi, karena hal tersebut ada dalam kehidupan kita sehari-hari, maka itu lah yang seharusnya kita pelajari, tetapi jika kita misalnya mempelajari buku-buku atau referensi-referensinya, katakanlah orang seperti Hector Turner ia mempunyai pandangan yang berbeda. Jika hendak mempelajari makna, simbol saatnya adalah ketika dalam masyarakat tersebut terjadi krisis atau peristiwa besar, karena menurutnya, pada saat-saat seperti itulah yang namanya simbol-simbol benar-benar diangkat ke permukaan oleh masyarakatnya. Jadi, kita benar-benar tahu arti dari simbol-simbol itu dalam peristiwa krisis ini: krisis kehidupan individu maupun sosial. Jadi yang mana yang akan kita perhatikan, kebiasaan sehari-hari atau kejadian-kejadian luar biasa, maka itu tergantung juga pada pandangan teoritik yang akhirnya kita rangkul.

Tanggapan pertanyaan:

Biasa atau tidak biasa, tergantung dari pandangan masyarakatnya dan oleh karena itulah seorang peneliti biasanya tidak akan hanya sebentar tinggal dalam suatu kelompok masyarakat. ia paling tidak harus hidup atau mengamati mereka dalam satu siklus kehidupan, sehingga bisa melihat dimana sebenarnya peristiwa-peristiwa ini. Jadi misalnya kita melihat bahwa ini ada pola-pola rutinitasnya dalam kehidupan sehari-hari yang artinya subsitensi mereka, kebiasaan rutin mereka sehari-hari saja. Tetapi jika ada peristiwa-peristiwa yang oleh mereka sendiri dianggap bisa atau punya potensi untuk mengganggu masyarakat, maka itulah krisisnya. Jika hendak melihat simbol, maka harus dilihat pada saat krisis. Kapan krisisnya terjadi? Masyarakat sendirilah yang menentukan, teorinya mengarahkan kita untuk melihat simbol-simbol itu pada saat krisis.

Kemudian, sudut pandang orang yang diteliti sekaligus mempertahankan perspektif analisis kita sebagai orang luar ini adalah berusaha sedekat mungkin dengan masyarakatnya, mempergunakan kerangka berpikir mereka, tetapi jangan sampai dilupakan kita sebagai seorang peneliti, karena hal-hal ini tidak mustahil terjadi, dalam literatur ilmu sosial keadaan ini disebut sebagai going native (menjadi pribumi), sebegitu dekatnya ia dengan orang yang diteliti, begitu terperangahnya dia dengan kebiasaan-kebiasaan mereka, akhirnya ia mengambil itu sebagai bagian dari kehidupannya sendiri, hingga ia lupa sama sekali bahwa ia seorang peneliti, menjadi tidak peduli dengan sponsor atau keluarga dan akhirnya tinggal secara permanen dengan mereka. Orang-orang seperti ini akhirnya beralih menjadi orang yang mengadvokasi masyarakat tersebut. Jika setelah penelitian selesai kemudian membuat laporan dan kembali lagi ke lokasi penelitian, maka hal seperti ini tidak masalah, tetapi jika sampai kehilangan perspektif sebagai seorang ilmuwan, maka hal-hal yang seperti ini lah yang harus dihindari.

Selanjutnya, mempergunakan berbagai ketrampilan sosial secara luwes sesuai tuntutan situasi. Jadi bukan soal metode pengumpulan datanya, tetapi bagaimana kita bisa berbasa-basi, bisa memberikan forma yang layak di dalam masyarakat yang kita teliti, bagaimana kita bisa berinteraksi dengan mereka.

Kemudian, menghimpun data dalam bentuk catatan rinci, bagan, peta maupun gambar-gambar untuk keperluan deskripsi.

Pada dasarnya, yang dilakukan oleh peneliti kualitatif (termasuk kuantitatif) ketika mereka turun ke lapangan, maka hal pertama yang mereka lakukan adalah pemetaan, yang bukan hanya merupakan deskripsi, tetapi juga untuk membantu si peneliti dalam proses pengumpulan datanya nanti. Jadi bukan menggambarkan peta-peta yang ada di kantor desa. Tentunya peta-peta itu disusun untuk keperluan-keperluan lain dan bukan untuk keperluan si peneliti. Kita menyusun peta-peta ini sekaligus memikirkan apa-apa yang kita butuhkan, kita menandakan hal-hal yang penting bagi kita sebagai peneliti dan juga sekaligus berkenalan dengan masyarakat setempat dan menghimpun data dalam bentuk catatan-catatan rinci yang merupakan suatu ciri khas dalam penelitian lapangan kualitatif. Bahwa data itu akhirnya akan bertumpuk-tumpuk karena catatan tersebut benar-benar rinci, tetapi dengan tetap berpegangan pada prinsip-prinsip:

Pertama, bahwa catatan kita harus kongkrit dalam pengertian ketika kita menyusun penelitian lapangan, kita terhindar sejauh mungkin menarik kesimpulan-kesimpulan yang terlalu cepat, sebab jika kita menyimpulkan data pada saat kita juga mengumpulkannya, berarti kita sudah terlalu memaksakan kerangka berpikir kita dan hal ini bisa membahayakan analisis kita dikemudian hari, misalnya kita masuk ke suatu desa, kemudian di desa tersebut kita melihat rumah yang menurut kita kumuh, dan kemudian kita dengan gampangnya menyebut bahwa desa tersebut dalam kategori desa kumuh. Masalahnya adalah jika nanti kita menganalisis data kita, kategori kumuh disini standar siapa? Yang jelas pasti telah digunakan standar si peneliti sendiri. Menyusun catatan kongkrit dalam arti bahwa kita mengambarkan sebuah situasi agar orang yang membaca catatan lapangan kita benar-benar bisa menempatkan dirinya membayangkan apa yang dilihat oleh si peneliti sendiri: rumah yang berdempet-dempetan, terbuat dari ½ bata dan ½ gedek, cat dinding yang sudah mulai mengelupas, daun-daun pintu yang lepas dan seperti inilah catatan-catatan kongkrit tersebut dan hal-hal seperti ini lah yang harus ada dalam catatan lapangan kita. Jika kita misalnya mengatakan rumah itu kumuh, maka hal-hal seperti ini tidak akan menggambarkan apa-apa.

Kegunaan catatan rinci ini apa? Hal ini berguna pada saat selesai survey, dengan menganaisis data ini kita berusaha menemukan pola-pola, data ini sebenarnya berbicara tentang apa? Kita tidak bisa menarik kesimpulan, misalnya orang ini marah: ketika seorang peneliti suku Jawa tiba-tiba harus meneliti di tanah Batak dimana dalam berbicara selalu keras dan tegas. Seharusnya catatan lapangan si peneliti berbunyi seperti ini: yang diteliti berbicara dengan nada yang keras hingga terdengar sampai ke tetangga sebelah, dst, sehingga si peneliti bisa melihat pola-polanya dengan lebih obyektif.

Prinsip lain selain kongkrit adalah verbatim, atau kata demi kata. Untuk ini kita bisa mempergunakan alat bantu, misalnya jika seseorang berbicara dalam bahasa Jawa, kita coba rekam dalam bahasa jawanya, jika orang berbicara dengan logat atau istilah yang aneh-aneh, kita pergunakan istilah aneh tersebut. Jangan kita ganti dengan kata-kata lain, karena sudah tidak akan mencerminkan apa yang menjadi realitanya dan disini alat rekam membang sangat membantu.

Selanjutnya salah satu ciri dari catatan lapangan yang baik adalah bahwa si peneliti iut bukan hanya menggambarkan apa yang hendak ia kaji, tetapi juga menggambarkan kedudukannya dalam proses pengumpulan datanya, dia mencatat bukan saja jawaban-jawaban informan, tetapi juga pertanyaan-pertanyaannya sendiri, bagaimana ia menanyakannya, dia harus ada terus, jika ada peneliti yang sudah capek kemudian ia bertanya kepada seorang informan, maka ia harus sadar bahwa kelelahannya itu mungkin menyebabkan ia bertanya dengan cara yang kurang baik, sehingga informannya itu akan menjawa dengan ala kadarnya, misalnya pertanyaan kepada seorang petani: bagaimana jika kemudian PT nya datang, terus kemudian menawarkan pupuk? Jika pertanyaan itu diajukan sebagai pertanyaan datar, mungkin akan membawa reaksi mungkin yang seolah-olah bahwa PT tersebut kurang baik, seolah-oleh pendapat tentang PT tersebut mengajak konspirasi dengan si petani, seolah-olah kita sudah memihak kepada si petani: tentunya kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda jika kita menanyakan dengan cara yang lebih baik.

Oleh karena itu, selain harus kongkrit dan verbatim, maka peneliti harus menggambarkan kondisi wawancaranya, jadi bukan informasi yang diperoleh saja, tetapi kondisi si peneliti juga, pengamatan-pengamatan dia ketika berinteraksi atau wawancara. Biasanya seorang peneliti akan menjadikan sebuah halaman catatan lapangan dengan membuat satu atau dua kolom dan kemudian berisi pula catatan-catatan umum, tanggal wawancara, siapa-siapa saja yang diwawancarai, lokasi wawancara, topik yang dibicarakan, dst. Apa-apa yang terdaftar tergantung relevansinya dengan masalah penelitiannya. Jadi, jika kita meneliti tentang petani, maka perlu dicatat pada saat itu tengah musim apa? Kering atau hujan. Jika kita meneliti anak-anak jalanan, musim mungkin tidak penting, tetapi mungkin lebih penting kondisi cuaca pada saat kita wawancara: panas, hujan, mendung. Pada saat-saat seperti itu bagaimana kehidupan mereka?

Jadi pada pokoknya kondisi-kondisi obyektifnya dan ter masuk juga siapa yang hadir: pewawancara dan informan, isi jalannya wawancara, semua catatan yang verbatim dan kongkrit, termasuk pertanyaan-pertanyaan si peneliti, juga pengamatan-pengamatan si peneliti pda kejadian-kejadian wawancara-wawancaranya, misalnya ketikan wawancara dengan aparat desa: bagaimana pak kondisi disini?, ketika sedang wawancara tiba-tiba Kades masuk ke ruangan dan suara yang diwawancarai mulai pelan dan berbisik-bisik. Apakah ia takut di dengan Kadesnya? Sehingga hal-hal seperti ini harus dicatat untuk nantinya ketika kita baca kembali, timbul pertanyaan dalam hati: ini orang kenapa ketika Kadesnya masuk, bicaranya menjadi pelan dan berbisik-bisik dibandingkan ketika pertama wawancara keras dan lantang: apakah karena ia menaruh hormat yang sangat dalam atau justru sebaliknya karena takut kepada Kadesnya, karena menginformasikan sesuatu kepada si peneliti? Segera si peneliti seharusnya mencari apa yang sebenarnya terjadi, tentunya ini berarti bahwa kita akan memecah perhatian kita mengenai apa yang diomongkan orang dan apa yang terjadi disekitarnya, tetapi hal-hal seperti itu lah yang harus dilakukan dalam suatu penelitian lapangan.

Biasanya juga kolom-kolom catatan lapangan dipergunakan untuk komentar-komentar si peneliti dalam arti boleh berisi komentar-komentar yang sifatnya pribadi, maupun mengingatkan si peneliti tentang masalah-masalah teoritik, misalnya: ketika ia baca, seketika itu ia ingat: ini mengingatkan saya pada teori seorang pakar A, misalnya lagi, pada kejadian kemarin ketika wawancara dengan informan. Semua catatan-catatan yang tidak langsung berkenaan dengan datanya, akan kita pisahkan, agar pada saat melakukan analisis kita pada saat yang terakhir kali, kita benar-benar tahu mana yang merupakan ucapan informan, mana kejadian di lapangan, mana ucapan kita dan mana hasil kesimpulan kita, jangan dikacaubalaukan mana yang merupakan dugaan-dugaan dan mana yang merupakan data kongkrit.

Ini hanya merupakan salah satu alternatif, artinya jika kita mempunyai sistem lain boleh-boleh saja, tetapi yang terpenting adalah memisahkan kejadian atau data kongkrit/nyata yang terkumpul dengan komentar-komentar kesimpulan kita. Dengan cara lain misalnya dengan tanda kutip, huruf miring, dsb dan yang penting kita konsisten dengan itu.

Selanjutnya, yang dilakukan peneliti itu juga adalah memandang suatu gejala secara holistik maupun individual dalam konteks budaya masing-masing, dalam arti bahwa kita melihat secara keseluruhan keterkaitan antar sekian banyak unsur yang mungkin terkait sehingga yang tidak terkait jangan dipaksakan.

Kemudian, mengembangkan empati dengan orang yang diteliti, mencoba merasakan apa yang mereka rasakan, memperhatikan aspek-aspek budaya baik yang eksplisit maupun yang implisit: aspek-aspek budaya yang tampak, yang terdengar, yang mudah diungkapkan oleh masyarakatnya sendiri maupun passive knowledge, covert dan … adalah aspek-aspek yang sebenarnya diikuti oleh masyarakat, tetapi sulit untuk mereka ungkapkan, kita harus menggalinya terus atau kita harus benar-benar mencari ahlinya seperti misalnya ahli tata bahasa. Jika kita selalu berbicara bahasa Indonesia diantara kita, maka itu disebabkan karena kita mengaku mengetahui tata bahasa Indonesia, tetapi sekalinya seseorang datang dan meminta kita menjelaskan tentang tata bahasa Indonesia, kita akan kelabakan atau paling banyak hanya 1/3 nya yang dapat menjelaskan mengenai hal itu: bahwa tata bahasa Indonesia seperti ini, seperti itu, kenapa digunakan hukum DM dan bukan MD, misalnya istilah mantan khusus untuk manusia dan bukan bekas saja. Tata bahasa Indonesia adalah aturan berbahasa yang kita pergunakan sehari-hari, hanya sangat sulit bagi kita untuk mengungkapkannya. Jadi, si peneliti harus pandai-pandai untuk mengungkapkan hal-hal yang eksplisit dan yang implisit seperti itu.

Aturan selanjutnya adalah, kita tidak memaksakan sudut pandang kita sebagai orang luar. Ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam penelitian kualitatif (transedental sebagai lawan pendekatan kuantitatif yang technocratic).

Kemudian mampu menghadapi stress, rasa ketidakpastian, masalah-masalah etis. Banyak orang yang mengalami stress dalam melakukan penelitian lapangan, misalnya mengadakan penelitian yang di tempat yang sama sekali asing bagi peneliti, sehingga kebiasaan-kebiasaan yang biasa dinikmatinya tidak diperoleh ditempat itu atau ia tidak mampu mengumpulkan data yang sebenarnya ia butuhkan, padahal misalnya pada situasi yang ia kenal baik, kemampuan untuk melihat dan menemukan data tidak dipunyainya, sehingga peneliti menjadi uring-uringan, pada saat wawancara dia tidak bisa menemukan pola-polanya seperti apa. Stress seperti ini biasanya disebabkan kerangka teorinya tidak beres, oleh karenanya dari awal kerangka teori dan permasalahannya tidak fokus, sehingga pada saat turun ke lapangan, ia tidak tahu data apa yang harus ia kumpulkan, akhirnya penelitian terbengkalai. Sehingga hal seperti itu merupakan masalah-masalah yang sangat tergantung dari kemampuan individu peneliti untuk mengatasinya.

Kemudian, langkah selanjutnya (tidak mutlak harus berurutan), sekali lagi mengkaji bahan pustaka dan melakukan difocussing adalah seleksi…

Karenanya adalah integritas dari si peneliti sendiri, kerena tergantung dari kepercayaan kita, maksudnya kita sebagai calon pembaca pelaporannya nanti terhadap si peneliti itu sendiri, jika giliran kita yang meneliti, maka harus bisa memunculkan atau menumbuhkan kepepercayaan terhadap diri kita sendiri sebagai peneliti. Bagaimana caranya?, yaitu dengan menyajikan laporan dan data yang memang bisa dipertanggungjawabkan (valid dan andal atau reliable). Kita harus selalu melakukan cross check terhadap data yang kita kumpulkan, dengan cara: membandingkan data yang ada dengan dar yang diperoleh dari sumber lain, salah satu bentuk dari triangulasi, data yang diperoleh dari salah seorang informan dibandingkan dengan apa yang diceritakan oleh informan lain, data berdasarkan wawancara kita bandingkan dengan data berdasarkan pengamatan, lalu dari data yang sudah kita miliki, kita lihat, kita uji konsistensi internal data tersebut. Konsistensi internal adalah dari kumpulan data tidak ada lagi hal-hal yang bertentangan dengan bagian-bagian data yang lain, misalnya melakukan penelitian tentang kemiskinan lalu kemudian berdasarkan pengamatan kita terhadap seseorang informan yang katakanlah mempergunakan sesuatu yang kita anggap mahal yang tidak pada tempatnya dalam kehidupan mereka, maka disini terdapat inkonsistensi dalam data kita, maka kita harus kembali lagi ke bagian pertama dan kita harus cross check kembali dengan sumber-sumber lain.

Pemeriksaan ulang oleh subyek penelitian maupun peneliti lain, merupakan hal yang diperbolehkan, kita berulangkali bertanya kepada informan kita, bahkan sampai laporan terakhir pun kita masih bisa bertanya kepada informan, benarkah laporan ini kira-kira menggambarkan desa bapak? Hal ini memang sesuatu yang lazim dilakukan. Sehingga kita tidak menganggap diri kita sebagai pengumpul data yang begitu mahir, sehingga kita menganggap tidak akan pernah terjadi kesalahan-kesalahan dan juga kita harus memberikan data kita tersebut untuk diperiksa atau dicek oleh peneliti lain, kita harus membiarkan secara terbuka data-data lapangan kita. Peneliti dalam penelitian kualitatif harus menyadari benar mungkin terdapat bias pribadinya, nilai-nilai pribadinya, asumsi-asumsi pribadinya dan itu sebenarnya masuk ke dalam interpretasi dia dan ini harus dinyatakan secara eksplisit dalam laporan penelitian. Jangan berpura-pura atau berpretensi bahwa kita begitu obyektifnya sebagai seorang peneliti. Bedanya kita wawancara dengan seseorang pada saat dia sedang kepanasan dan ketika saat ia sedang nyaman, bedanya kita sedang wawancara dengan informan yang ternyata mempunyai preferensi-preferensi yang tidak sesuai dengan preferensi kita sendiri, apakah preferensi seksual, gaya hidup. Artinya seseorang peneliti yang pada akhirnya bertemu dengan informan yang sebenarnya tidak ia sukai, karena informan tersebut mewakili partai atau aliran kepercayaan terentu atau di media diekspos sebagai orang yang kerap melakukan KKN misalnya, maka bias-bias seperti itu masuk ke dalam hasil wawancaranya dan itu harus kita ungkapkan dalam laporan penelitian kita sejauh kita menyadarinya. Misalnya lagi, jika informan mengatakan A kemarin, B hari ini dan C keesokannya, maka justru hal seperti inilah yang menjadi masalah penelitian kita, inkonsistensi dia atau mungkin saja hal tersebut merupakan strategi dia atau itu mungkin karena kekurangan informasi dari pihak-pihak lain, mungkin berdasarkan cara berpikir yang memang berbeda, tetapi itu lah realitanya.

Tanggapan pertanyaan:

Ketika kita membuat laporan penelitian, ketika kita bertanya kembali: apakah memang bapak berbicara seperti ini? Dan kemudian ia menolak bahwa ia telah mengatakan hal seperti itu. Hal-hal seperti ini kemungkinan terjadi, bukan hanya berbicara berganti-ganti seperti Gus Dur, tetapi bahkan dengan informan sehari-hari pun bisa terjadi. Tetapi masalahnya adalah kondisi-kondisi yang terjadi pada saat melakukan pengumpulan data, kondisi-kondisi pda saat kita memunculkan kembali laporan kita saat penelitian selesai, itu bisa berbeda, misalnya pada saat melakukan wawancara dia ngomongnya begini..begini, kemudian kita membuat laporan, misalnya pada saat itu Kadesnya sudah bukan lagi Kades, akhirnya ia ungkapkan bahwa sebenarnya ia sangat tidak puas dengan Kadesnya, artinya ia menentang pendapatnya sendiri, karena memang dari dulu berbohong kepada kita, ada kepentingan-kepentingan politis yang dimiliki informan ketika ia berhadapan dengan kita sebagai peneliti dan kepentingan itu bisa dia coba wujudkan pada saat pertemuan pertama dengan wawancara atau belakangan, sehingga kita tidak bisa mengandalkan hanya satu informan saja, dengan mewawancarai informan-informan lain dan ini harus kita perhatikan juga.

Tanggapan pertanyaan:

Dalam penelitian kualitatif, juga harus tetap menggunakan literatur-literatur dengan pengertian bahwa masalah penelitian yang kita rumuskan itu adalah masalah yang merupakan konstruksi teoritik kita. Geertz sekalipun tetap menggunakan literatur-literatur, dalam merumuskan permasalahannya ternyata Geertz berpijak pada pemikiran yang Weberian sifatnya, artinya dalam merumuskan masalah penelitiannya, dalam merumuskan bagaimana kehidupan masyarakat Jawa, ia sebenarnya mengacu kepada sistem pemaknaan yang dibicarakan Weber. Bagaimana Geertz berbicara apa yang dikatakan oleh Robert Redvil(?) tentang masyarakat pedesaan?

Dalam laporan, misalnya kita bisa menyusun gambaran suatu masyarakat yang deskriptif sifatnya, yang diambil dari data kita sendiri, sehingga dalam tahap ini kebutuhan akan literatur akan kurang, tetapi ketika kita menyusun rencana penelitian itu sendiri jika kita tidak mengacu kepada literatur-literatur, maka kita tidak mempunyai konsep atau teori, kita tidak akan mempunyai masalah penelitian, oleh karena masalah peneltian itu merupakan konstruksi teoritik kita, bagaimana kita meneliti kemiskinan jika kita tidak mempunyai bayangan apa itu miskin, sehingga apapun bentuknya kita harus memilikinya terlebih dulu, apapun bentuknya, seberapapun sederhananya, pengertian kemiskinan itu harus sudah ada terlebih dulu dalam pikiran kita, jika tidak kita tidak tahu harus mewawancarai siapa, harus pergi ke mana. Alih-alih kita hendak meneliti kemiskinan, karena tidak mempunyai bayangan sama sekali dengan apa pengertian kemiskinan itu, misalnya dicarilah informan di Pondok Indah. Jika kita sudah mempunyai bayangan, apa sih sebenarnya yang dimaksudkan sebagai kemiskinan, maka barulah kita bisa melakukan penelitian. Pertanyaannya adalah darimana diperoleh bayangan-bayangan itu? Tentu kita akan memperolehnya dari kajian pustaka. Bedanya dengan penelitian kuantitatif adalah, bahwa apa yang kita baca itu (dalam kualitatif) tidak menjadi patokan, tetapi hanya sekedar menjadi sebuah panduan, sehingga kita tidak terpaku. Sedangkan pada kuantitatif, konsep kemiskinan misalnya sudah memiliki kriteria-kriteria tertentu, kita turunkan ke kuisioner, kita tanya kepada masyarakat, siapa yang tergolong miskin. Bagi kualitatif, hal ini hanya panduan saja, panduan langkah awal, kemudian mencari informan-informan, informan-informan itu akan mengarahkan kita kepada informan-informan lain dan mungkin jika kita sudah berkenalan dengan mereka, kita sudah mendapatkan gambaran/pemahaman yang lengkap tentang apa arti kemiskinan bagi mereka, misalnya ketika dalam penelitian kita temukan sebuah penyataan bahwa masyarakat mereka bukan masyarakat miskin, padahal jika melihat kriteria pemerintah, mereka tergolong miskin, maka penelitian kualitatif berusaha untuk mengungkap hal-hal seperti ini.

Grounded theory, merupakan suatu istilah yang kerap muncul dalam pembahasan penelitian kualitatif, tetapi kerap pula membingungkan dan kadang-kadang disalahartikan. Teori dikembangkan selama proses pengumpulan data, analisis data dan pengumpulan data berjalan bersamaan. Jadi dalam sebenarnya dalam menyusun data agar terlihat polanya dan kemudian kita usahakan hal ini naik menjadi sebuah teori dan peneliti menemukan teori melalui perbandingan.

Gambaran perbedaan antara kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuantitatif, si peneliti ingin menguji sebuah teori, menurunkan teori tersebut menjadi hipotesisnya, kemudian ia membuat operasionalisasi konsepnya atau variabel-variabelnya dan ia menggunakan kuisioner atau insrumen penelitian lain untuk mengukur variabel tersebut. Jadi, teori berada di atas dan kemudian menjadi patokan-patokan untuk mengumpulkan data.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengumpulkan informasi terlebih dulu, tetapi tentunya seperti yang sudah disinggung dimuka, harus sudah mempunyai teorinya terlibih dulu walaupun hanya sekedar panduan saja, selanjutnya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dari itu semua ia kemudian menemukan kategori data, artinya data tersebut bisa dipilah-pilah berdasarkan tema yang ia temukan di lapangan, kemudian dicari polanya, apa yang terkait dengan apa: apakah ini terkait dengan itu, dst? Jika dia berhasil menemukan teori, kemudian ia bandingkan dengan teori-teori lain, tetapi yang namanya teori cakupannya bisa berbeda-beda, ada teori yang besar sekali cakupannya, ruang lingkupnya, ada yang ruang lingkupnya sempit, sehingga sebenarnya untuk terori-teori yang sempit ruang lingkupnya, proses ini bisa terjadi sebagai bagian dari keseluruhan penelitian dia. Jadi ini bisa terjadi beberapa kali, dia banding-bandingkan lagi melalui teori dst sampai akhirnya mendapatkan yang terakhir.

Tanggapan pertanyaan:

Yang terpenting adalah teori yang ada dalam kuantitatif itu sifatnya, peran atau fungsinya itu adalah pada awal penelitian untuk kita deduksi darinya. Kita mereduksi darinya.

Sedangkan pada penelitian kualitatif kita sebenarnya melakukan induksi, dalam suatu penelitian kualitatif sebenarnya bisa terjadi jika ruang lingkupnya sempit dalam satu level saja, ia sebetulnya sudah menemukan teori yang ia inginkan atau ia sudah bisa sampai kepada tingkat ini. Jadi ini sebenarnya lebih kepada fungsi teori di dalam sebuah penelitian kuantitatif kualitatif tetapi bukan kepada level analisisnya.

Fungsi level analisis sebenarnya dari data itu sendiri sampai kepada pengabstraksian yang paling tinggi, itu terjadi jenjang-jenjangnya, artinya misalnya ada kumpulan data, kemudian kita analisis, kita menemukan sebuah pola tetapi kemudian pola ini bisa dijadikan dasar untuk pertanyaan-pertanyaan selanjutnya sehingga akhirnya kita mendapatkan informasi baru bedasarkan pola-pola yang sudah didapat sebelumnya. Ini kemudian kita analisis lagi, sebenarnya hal tersebut tergambar dalam sikap (?) ini tadi. Terletak dari bagaimana kita menggambarkannya: apakah dalam lingkaran seperti ini, atau gambar seperti ini yang terjadi di dalam kedua proses ini adalah…

Jadi, kumpulkan informasi, kemudian menemukan kategori data, kemudian mencari polanya, pola ini sebenarnya kembali lagi (tetapi tidak harus seperti ini). Jadi, bagan ini maksudnya hanya untuk menggambarkan fungsi teori itu, bagaimana dalam kaitannya dengan data. Bahwa ini nanti akan melingkar atau berulang, maka sebenarnya itu menunjukkan segi-segi kualitatifnya.

Etika Dalam Penelitian Sosial

Bagaimana cara kita mengeliminasi masalah-masalah yang ada dilapangan adalah lebih kepada bagaimana kita berinteraksi dengan peneliti-peneliti senior, bukan sesuatu yang ada dalam text book. Nilai-nilai dalam komunitas ilmiah mendukung terbentuknya etika dalam diri si peneliti itu sendiri, artinya kalau si peneliti ini seseorang yang cenderung tidak melibatkan diri dalam komunitasnya, maka segala yang dia lakukan dalam penelitian, dalam keputusan-keputusan etis yang diambilnya itu tidak terlihat dalam komunitasnya sendiri, dia mendapat dukungan jika ia mengikuti etika dan ia mendapat sanksi jika ia melanggar. Oleh karena itu pembentukan etika dalam peneliti sangat tergantung dari umpan balik antara dia dengan komunitas ilmiahnya. Secara lebih spesifik yang menyangkut masalah ini, si peneliti itu harus menghindari sesuatu yang disebut sebagai scientific misconduct atau penyimpangan dalam tindakan-tindakan keilmiahan kita.

Pertama, apa yang disebut sebagai research false atau pemalsuan, ini bisa menyangkut pemalsuan data, berkaitan dengan substansi penelitian itu sendiri atau berkaitan dengan fokus penelitiannya, yaitu apa yang terjadi dilapangan. Jadi jika pemalsuan data: seharusnya melakukan pengumpulan data dari responden, hanya dapat 900 responden dan misalnya yang 100 dibuat-buat. Dalam penelitian sosial ini disebut dengan istilah penelitian DPR (dibawah pohon rindang). Tentunya ini menyangkut juga peran seorang supervisor dalam sebuah penelitian lapangan, terdapat cara-cara untuk mengontrol ini semua, apalagi dalam marketing research yang sangat teliti terhadap masalah-masalah seperti ini. Jika dalam sebuah survey, seseorang diberi jatah untuk mengambil data di lima rumah, maka setalah dia melakukan wawancara dan mengambil kuisionernya, maka supervisor keesokan harinya akan datang ke lima rumah tersebut dan menanyakan kebenaran bahwa ia telah diwawancara dan berbagai teknik-teknik pengecekan lain yang dilakukan oleh supervisor.

Juga terdapat laporan tentang bagaimana proses penelitian itu dilakukan,jadi bukan substansi datanya yang dipermasalahkan, tetapi keputusan-keputusan yang diambil sipeneliti pada saat ia turun lapangan, misalnya seorang peneliti yang memperoleh data dengan cara menyogok orang, tetapi dalam laporannya ia tidak menyebutkan itu dan ia mengatakan bahwa ia mendapatkan langsung dari responden atau informan yang secara sukarela memberikan informasi tersebut, jadi hal tersebut sebenarnya adalah menyangkut pemalsuan.

Scientific misconduct yang lain adalah sesuatu yang seringkali masuk kedalam pemberitaan adalahplagiat/plagiarism/penjiplakan yang sering terlewatkan oleh orang-orang adalah bahwa penjiplakan itu bukan hanya mengambil tulisan orang tanpa memberikan sumbernya, tetapi juga ide atau gagasan orang. Jadi, walaupun hal itu belum masuk kedalam publikasi, walaupun belum pernah dicetak atau ditulis dimana-mana, maka jika ide itu datang dari orang lain, sebagai ilmuwan kita harus mengakui atau mencatat sumber ide tersebut, misalnya ketika kita sedang melakukan penelitian, tiba-tiba salah seorang dari peneliti mengatakan: kalau begitu kita harus lihat dari sisi ini dan teorinya begini-begini atau seorang peneliti memberikan kepada kita semacam dugaan terhadap suatu masalah, maka jika kita mempergunakan ide tersebut, walaupun ia belum menulis tentangnya, maka saya harus memberikan sumbernya, makanya ketika kita sedang membaca sebuah buku, kadang-kadang ada didalam kurung tulisan personal communication atau komunikasi pribadi, artinya si penulis telah berbicara dengan peneliti atau ilmuwan lain, tetapi hanya sebatas obrolan.

Berikutnya adalah hal-hal tentang etika dan subyek penelitian. Ini pada dasarnya adalah perlindungan terhadap subyek yang dulu muncul akibat banyaknya pelanggaran-pelanggaran hak asasi terhadap masyarakat yang diteliti. Khususnya ini terjadi pada bidang-bidang ilmu kedokteran, yang tejadi pada jaman nazisme pada saat PD II, dimana terdapat eksperimen-eksperimen dalam laboratorium medis jerman yang menggunakan manusian sebagai kelinci-kelinci percobaan untuk eskperimen-eksperimen medis. Dari sejak itulah muncul berbagai macam perdebatan mengenai hak asasi dari orang-orang yang dijadikan subyek penelitian dan sejak itu berlaku juga untuk ilmu-ilmu sosial, karena ternyata penelitian sosial pun mempunyai dampak terhadap orang yang diteliti atau potensi dampak terhadap orang yang kita teliti dan harus mendapat perlindungan-perlindungan yang tertentu. Mengapa? Selain masalah ini, yang harus kita ingat adalah: pertama, subyek itu tidak bisa dipaksa untuk terlibat dalam penelitian kita, kita tidak bisa menyuruh orang menjawab suatu pertanyaan jika orang tersebut tidak mau, kita tidak bisa memaksa agar kita dapat mengamati dia. Dia sebagai seorang subyek pada umumnya tidak minta diteliti, jadi dia sebenarnya sedang melakukan suatu kemudahan bagi kita, jika dia memperbolehkan kita untuk meneliti. Jadi merupakan suatu hak yang melekat pada dia dan bagi kita hal tersebut merupakan suatu privilege (hak istimewa) jika kita boleh meneliti suatu masyarakat tertentu oleh masyarakatnya sendiri.

Yang harus kita ingat adalah, pada dasarnya jika kita melakukan sebuah penelitian, si responden atau informan ini akan memberikan kita informasi, sementara kebanyakan kita tidak memberikan informasi tentang diri kita. Jadi, ini menyangkut masalah kepercayaan (trust) dari orang yang diteliti terhadap orang yang meneliti. Dia mempercayai kita dengan cara memberikan informasi kepada kita. Ini adalah suatu hak yang harus kita hormati dan oleh karena itu kita harus memberikan dia perlindungan yang layak, dalam bentuk: pertama, kita tidak boleh merugikan subyek baik secara materi atau fisik, psikologis, hukum maupun sosial. Salah satu kasus yang sangat terkenal didalam ilmu sosial adalah penelitian yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang psikolog sosial yang meneliti tentang bagaimana seseorang itu cenderung untuk mentaati tokoh-tokoh atau orang-orang yang berada dalam posisi otoritas atau posisi kewenangan. Jadi seandainya kita masuk kedalam sebuah rumah sakit, kita tahu yang berwenang disana adalah dokter dan kita cenderung untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter. Jika kita memasuki sebuah toko, kita tahu yang berwenang disana adalah manager dan pelayan-pelayan tokonya dan kita cenderung untuk mengikuti apa-apa yang mereka katakan. Kecenderungan ini dipelajari oleh Stanley Millgram dengan cara eksperimen, yaitu dengan mengambil sekelompok orang dan dia bagi dua: kelompok yang pertama disuruh untuk memainkan peran sebagai seorang guru, dan kelompok yang kedua menjadi murid. Tes yang diberikan kepada murid sangat gampang: bagaimana kemampuan individu untuk menghafal daftar-daftar istilah. Jadi Milgrum tidak memberitahu kepada orang-orang yang diteliti tentang tujuan utama dari penelitiannya. Dia hanya mengatakan bahwa dia hendak meneliti kemampuan orang untuk mengingat daftar kata-kata istilah-istilah dalam kombinasi-kombinasi tertentu. Kelompok murid ini disuruh menghafal beberapa istilah dan nantinya si guru disuruh minta si murid untuk mengulang kata-kata itu, jika misalnya si murid ini salah maka ia harus dihukum dan si guru yang harus memberikan hukumannya. Kemudian, cara dia melakukan tes ini tidak dengan berhadap-hadapan: tetapi berada pada dua ruangan yang berbeda dan simurid sebenarnya suadah diajak sekongkol, artinya Milllgrum mengatakan, nanti jika siguru memberi hukuman kepada kamu, kamu harus pura-pura sakit. Siguru berada di ruangan lain dan tidak lihat muridnya dan cara dia menanyakannya: kamu hafal nggak, daftar istilah-istilah ini, tiap kali murid salah cara menghukumnya adalah disetrum, jadi di depan si guru ini diberikan semacam tombol (bohongan) tapi tombol ini dikatakan mengatur aliran listrik. Jadi jika salah satu kali disetrum sedikit, setiap kesalahan berikutnya voltase dinaikkan sampai kepada voltase yang bisa mematikan. Dan si murid setiap kali salah disuruh untuk pura-pura teriak, dst. Kebanyakan dari mereka yang menjadi guru ketika mereka harus menaikkan voltasenya, terlihat mulai ragu-ragu, tetapi dibelakang mereka, selalu berdiri orang yang mengawasi yang mempergunakan baju dokter/perawat dan berpenampilan seolah-olah orang yang mempunyai otoritas kedokteran, terus sikapnya acuh tak acuh dengan membawa clipboard dan mencatat-catat tanpa perasaan, tetapi tiap kali si guru ragu-ragu, orang yang berbaju putih ini selalu mengatakan: teruskan saja! Dst sampai akhirnya pada suatu voltase dimana, si murid tidak kelihatan lagi dan si guru bingung apakah sudah pingsan atau bagaimana. Dari hasil penelitiannya Millgrum hipotesanya benar, dugaannya benar bahwa ternyata seorang individu itu kalau terus ditekan oleh seseorang yang mempunyai otoritas, dia akan cenderung untuk mengikuti walaupun dia tahu bahwa itu bisa membahayakan orang lain. Masalah etikanya disini adalah: bahwa pertama ia tidak memberitahukan tujuan utama penelitiannya, kedua terdapat kerugian psikologis dari subyek yang ia teliti. Jadi yang harus menjadi guru tadi, akhirnya secara mental benar-benar stress: masa sih saya bisa jadi tega seperti itu? Jadi ketika kita melakukan penelitian, maka yang harus kita perhatikan secara psikologis adalah hal-hal yang seperti ini. Memang kondisi-kondisi seperti ini jarang terjadi di lapangan, tetapi bukan juga sesuatu yang mustahil terjadi. Kita berhadapan dengan responden, tetapi karena kita terlalu dekat dengan mereka maka ketika mereka harus berhadapan dengan anggota masyarakat yang lain, maka akhirnya identitas mereka lebih banyak ditentukan oleh kehadiran kita sebagai peneliti ketimbang diri mereka sendiri, artinya gengsi mereka dalam masyarakat itu tergantung kepada kita sebagai peneliti, sehingga manakala kita tinggalkan karena misalnya penelitian selesai, unsur psikologis mereka pun terganggu.

Penelitian tentang kecenderungan membayar pajak, lalu kita mengumpulkan data dari sekian banyak responden yang setelah itu kita buat laporannya, ternyata setelah pemerintah daerah membaca laporannya: didaerah ini kok pajak yang terkumpul relatif rendah dibandingkan dengan daerah lain. Sehingga pada akhirnya daerah tersebut dijadikan sasaran utama peningkatan pajak daerah dan orang-orang yang diteliti akhirnya yang terkena kebijakan-kebijakan baru. Penelitian terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan menyimpang dalam masyarakat: penelitian tentang penyelundupan TV TV besar, siapa yang membeli dan siapa yang menjual, sampai-sampai dia diberi kesempatan oleh subyek penelitian untuk ikut dagang, masalahnya adalah apa yang harus dia lakukan: dia tahu bahwa itu adalah pelanggaran hukum, apakah dia harus melapor ke polisi atau dia diam saja atau dia menghentikan saja penelitian dia: ini adalah masalah-masalah yang harus diselesaikan dalam etika penelitian: dan seperti yang sering dikatakan bahwa ini adalab bukan suatu masalah yang gampang untuk dicarikan jawabannya, jika misalnya kita melakukan penelitian seperti itu dan kita mengamati suatu tindakan pelanggaran hukum, maka bisa kita diam saja dan kita menanggung konsekuensinya yaitu secara mental mungkin kita akan terganggu/depresi, kita menolak untuk ikut artinya penelitiannya berhenti saja dan kita berdiam diri atau kita melapor ke polisi dengan akibat hilangnya kelompok yang kita teliti dan dampak-dampak yang belum terlihat. Artinya kita sudah terlalu jauh dan kita sudah menghilangkan perimbangan antara perngembangan ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan orang lain. maksudnya, jika kita tidak mendapatkan data tentang pelanggaran hukum tersebut, maka kita tidak bisa membangun teori tentang pelanggaran hukum dan kita tidak bisa menggunakan teori-teori itu untuk mengawasi dan mengendalikan pelanggaran hukum di kasus-kasus yang lain.

Kita juga harus menghindarkan data yang memungkinkan identitas tertentu itu diketahui atau disimpulkan (invert identity). Jika misalnya kita meneliti dan misalnya kita membuat tabel tentang jenis-jenis pekerjaan di satu desa, dan kemudian di desa itu misalnya hanya ada satu orang dokter, lalu dalam laporan penelitian kita menulis tentang pernyataan-pernyataan dokter yang berbicara tentang ini, ini, ini, maka orang yang membaca mungkin bahwa dokter yang dimaksud adalah dokter X, siapa lagi kalau bukan dia, walaupun kita tidak menyebut nama, orang akan tahu siapa yang menjadi sumber informasinya. Jadi kita jangan menarik pembaca untuk berkesimpulan tentang identitas orang-orang tertentu dalam laporan kita. Karena kita harus menjaga kerahasiaan dari responden atau informan itu sendiri, kita harus menjaga siapa sebenarnya yang berbicara tentang sesuatu. Sebenarnya dalam hubungan antara peneliti dengan subyek penelitiannya, maka si sunyek telah memberi kepercayaan terhadap si peneliti bahwa ia akan memberikan informasi dan kepercayaan itu adalah sesuatu yang harus kita hormati. Jika ia mengatakan tidak menjadi masalah jika namanya tercantum dalam laporang penelitian, tidak masalah, tetapi misalnya dia meminta dari awal jika dapat tidak disebutkan namanya, maka harus kita hormati. Juga, jika masalahnya itu juga menyangkut survey maka sebenarnya survey itu juga tidak be rbicara pada tingkat individu, tetapi sudah berbicara pada tingkat populasi dan oleh karenanya relevansi identitas sudah hilang.

Salemba, 2001

TEORI SOSIOLOGI

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Kuliah Teori Sosial Modern yang diberikan oleh Dr. Imam B. Prasodjo

Sosiologi muncul setelah terjadi ancaman terhadap dunia yang dianggap nyata; sosiologi muncul setelah terjadi perubahan mendasar dan berjangka panjang di Eropa seperti industrialisasi, urbanisasi, rasionalisasi. Untuk menjelaskan proses-proses tersebut para ahli sosiologi berteori.

Jonathan H. Turner merumuskan teori sebagai … a mental activity … a process of developing ideas that can allow the scientists to explain (menjelaskan mengapa) why events should occur (melalui kegiatan berteori, seorang ilmuwan dapat menjelaskan mengapa peristiwa-peristiwa tertentu terjadi).

Perumusan lain menurut William Kornblum … a set of interrelated concepts that seeks to explain (menjelaskan sebab-sebab) the causes of an observable phenomenon … (yang menekankan penjelasan sebab terjadinya suatu gejala yang diamati).

Apa yang dipelajari Sosiologi ?

Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu lain, maka sosiologi pun mempunyai teorinya sendiri; mempunyai konsep, hipotesa, proposisi dan variabelnya sendiri. Suatu ciri yang dipunyai sosiologi sebagai suatu bidang ilmu ialah bahwa sosiologi mempunyai banyak teori dan dalam hal ini George Ritzer (1980) menyebutkan sosiologi mempunyai banyak paradigma (a multiple paradigm science) karena memiliki 3 (tiga) paradigma :

1. Paradigma fakta sosial;

2. Paradigma definisi sosial;

3. Paradigma perilaku sosial.

Paradigma fakta sosial, hakekat pokok permasalahannya dipecahkan hampir sama dengan pendekatan yang dilakukan oleh ilmu-ilmu alam yaitu sebagai obyek, teori yang dipergunakan adalah teori fungsionalisme struktural, metoda penelitian kuisioner dan karya ilmiah yang relevan dengan pendekatan fakta sosial adalah Penelitian Bunuh Diri oleh Emile Durkheim.

Emile Durkheim dalam bukunya The Rules of Sociological Method (1965) mengemukakan bahwa fakta sosial dapat dijelaskan dengan mempelajari fungsinya, menurutnya mencari fungsi suatu fakta sosial berarti “… determine whether there is a correspondence between the fact under consideration and the general needs of the social organism …” Contoh yang diberikan Durkheim adalah hukuman yang berfungsi untuk tetap memelihara intensitas sentimen kolektif yang ditimbulkan oleh kejahatan. Tanpa suatu hukuman maka sentimen kolektif akan segera lenyap.

Tokoh fungsionalisme klasik : Emile Durkheim, Auguste Comte, Herbert Spencer, A.R. Radcliffe Brown.

Ralf Dahrendorf mengemukakan gambarannya mengenai pokok-pokok teori fungsionalisme, sebagai berikut :

1. Setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil;

2. Mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik;

3. Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem;

4. Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya.

Paradigma definisi sosial, hakekat pokok permasalahannya dipecahkan sebagai obyek, teori yang dipergunakan adalah teori interaksionisme simbolik, metoda penelitian pengamatan dan karya ilmiah yang relevan dengan definisi sosial adalah tindakan sosial dari Max Weber.

Tokoh interaksionis simbolis klasik :

Georg Simmel berpendapat bahwa muncul dan berkembangnya kepribadian seseorang tergantung pada jaringan hubungan sosial (web of group affiliation).

Max weber memperkenalkan interaksionisme dengan menyatakan bahwa sosiologi ialah ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial dan mendefinisikan serta membahas konsep-konsep dasar yang menyangkut interaksi seperti tindakan-tindakan sosial dan tindakan non-sosial serta hubungan sosial. Sumbangan penting lain bagi teori sosiologi terletak pada konsep pemahaman (verstehen) dan konsep makna subyektif individu. Pemahaman terhadap tindakan sosial dilakukan dengan meneliti makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakannya, karena manusia bertindak atas dasar makna yang diberikannya pada tindakan tersebut.

Para penganut teori interaksionisme simbolik menyepakati beberapa hal :

1. Terdapat kesepakatan bahwa manusia merupakan mahluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol;

2. Bahwa manusia memakai simbol untuk saling berkomunikasi;

3. Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (role taking);

4. Masyarakat tercipta, bertahan dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan renungan dan untuk melakukan evaluasi.

Salemba, 2 Maret 2000

RATIONAL CHOICE THEORY DAN SIMBOLIK INTERAKSIONISME

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan Catatan Kuliah Teori Sosial Modern yang diberikan oleh Dr. Imam B. Prasodjo

Rational Choice Theory

Sociological explanation : berupaya untuk mengungkap/menembus hal-hal yang biasanya dilakukan oleh umum, misalnya dalam kasus penembakan yang dilakukan secara tidak sengaja seorang anak 13 tahun oleh bapaknya di Amerika Serikat, pada saat penembakan sang anak yang memasuki rumahnya secara mengendap-endap dikira ayahnya adalah seorang pencuri. Jika masyarakat umum hanya mempertanyakan sebatas kenapa si anak mati, maka sociological explanation akan mengungkap lebih dari sekedar itu.

Menjelaskan fenomena sosiologi bukan menilai salah dan benar, tetapi dengan mempergunakan paradigma-paradigma sosiologi (lihat George Ritzer, Sosiologi Paradigma Ganda-Ritzer, G. 1975 Sociology: a Multi-paradigm Science. Boston: Allyn and Bacon)

.Bagaimana menjelaskan mengapa seseorang berperilaku, misalnya mencoblos tanda gambar pada saat pemilu? Jika pertanyaan itu mikro, maka penjelasannya adalah person to person interaction, bagaimana seseorang bertindak terhadap orang lain : mengapa saya melihat Imam Prasodjo?, dll. Sedangkan tindakan-tindakan sosial dalam tingkat makro (macro sociology) : integrasi, konflik, perubahan sosial.

Dalam teori sosiologi mikro yang dibahas adalah : action, agent, agency; sedangkan dalam teori sosiologi makro yang dibahas adalah: structure.

Action : paham yang memfokuskan action itu kepada individu/agent itu sendiri, yang mengamati bagaimana actor bertindak.

Sructure : misalnya begitu kita lahir, kita diajari berbicara dalam bahasa ibu, dalam bentuk bahasa yang sudah established (terkotak-kotak dalam aturan, misalnya harus dengan komposisi ini ibu saya, bukan ini saya ibu), jadi ada struktur-struktur yaitu dalam hal ini bahasa. Contoh lain : alasan mengapa seseorang ikut kuliah di S2?, misalnya ada yang mengatakan untuk mendapatkan ilmu, sehingga apakah orang tersebut tidak memerlukan ijazah?, jawaban orang tersebut keberadaan ijazah ternyata tetap diperlukan. Ini berarti seseorang tetap terikat pada struktur lagi. Sehingga terdapat seorang ahli yang mengemukakan bahwa sekolah adalah tindakan pengkotak-kotakan (ilmu membuat seseorang terpenjara-Pierre, Brasil), dimana orang yang menimba ilmu tersebut belum tentu menyukainya karena terikat pada strukutur-struktur tersebut.

Dalam kehidupan kita senantiasa terikat dan terkait dengan struktur dan norma-norma yang sudah ada dan kita dibentuk oleh struktur dan norma-norma yang sudaha ada tersebut, misalnya gaya rambut, cara berpakaian, dll.

Seseorang biasanya baru sadar terhadapa keberadaan struktur tersebut, apabila terjadi pelanggaran terhadap struktur tersebut.

Rational choice theory :

Ø Seluruh tindakan didasarkan kepada suatu kalkulasi (untung-rugi);

Ø Untung rugi tersebut didasarkan pada informasi, misalnya yangdilakukan seorang bujangan dalam memilih pasangan hidupnya, si A dan B sama-sama cantik, A berumur 30, S1, sehat, nakal dan B, berumur 17, SMP, ayan, baik.

Dalam rational choice theory, kita dalam bertindak selalu didasarkan pada pilihan-pilihan rasional, informasi yang masuk ke otak kita ditentukan oleh pilihan-pilihan, misalnya kenapa kita masuk ke UI ? karena bagus/terbagus ? belum tentu, oleh karena anggapan seperti itu bisa jadi hanya merupakan mitos.

Terdapatnya mekanisme/pertimbangan untung rugi menjadikan rational choice theory dominan dalam aplikasinya, misalnya : mengapa migrasi orang minang kebanyakan terjadi ke Jakarta, tidak ke Ambon, oleh karena ke Jakarta merupakan pilihan yang paling rasional, contoh lain pilihan untuk berumahtangga dan sekolah seperti yang telah dikemukakan di atas tadi.

Kelemahan-kelemahan rational choice theory:

Ø Kadang-kadang informasi yang diterima tidak merata antara satu orang dengan orang yang lainnya;

Ø Rasionalitas yang terjadi dalam kenyataan adalah berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya, Benjamin White pernah melakukan penelitian tentang fertilitas masyarakat petani, ia menyimpulkan bahwa petani mempunyai kecenderungan untuk memiliki anak banyak, dengan suatu alasan yang rasional menurut petani tersebut, misalnya dengan alasan : untuk cadangan bila anak yang lain meninggal (seperti kita ketahui tingkat kematian balita di desa-desa Indonesia sangat tinggi) dan alasan lain adalah untuk membantu bapaknya bekerja di sawah apabila kelak anaknya mulai beranjak dewasa. Suatu alasan yang menurut masyarakat kota tidak rasional. Sehingga contoh ini dapat menjelaskan bahwa rasionalitas tiap-tiap orang atau masyarakat berbeda-beda;

Ø Tidak semua action manusia dapat dijelaskan melalui rational choice theory ini, misalnya jika kita dihadapkan kepada aturan budaya (culture tidak sama dengan kebiasaan) maka kita cenderung untuk ikut saja : upacara nujuh bulanan, larangan seorang anak gadis berdiri di pintu, ketentuan-ketentuan agama, instink seorang bayi untuk minta netek pada ibunya, kisah cinta remaja yang mempunyai anggapan jika cinta sudah melekat, maka tai ayam sekalipun akan terasa coklat. RCT tidak memperhatikan nurani, instink, emosional, hal-hal yang irrasional, misalnya perempuan yang senantiasa marah-marah pada saat haid.

Jadi rational choice theory, didasarkan atas falsafah utilitiarianisme, untung rugi, sangat kapitalistik, misalnya : perjanjian/kontrak sebelum melakukan pernikahan, adanya separated account (kebalikannya adalah joint account), sehingga kehidupan disetting dalam take and give dan dikalkulasi, membuat orang menjadi tidak begitu antusias menjaga lembaga perkawinan tersebut, oleh karena jikapun terjadi perceraian sudah dicover oleh sistem yang well organized.

Imam B. Prasodjo tidak begitu menyetujui teori rational choice theory ini.

Simbolik Interaksionisme

Tindakan-tindakan kita sangat ditentukan oleh bagaimana kita menafsirkan tentang sesuatu, misalnya seorang masinis yang segera menarik rem KA manakala ia melihat seseorang mengibar-ngibarkan bendera merah di jalur kereta api yang dikemudikannya, oleh karena bendera warna merah dalam dunia perkeretaapian merupakan simbol bahaya (simbol diinterpretasikan bahaya), sehingga mekanismenya adalah stimulus-mediasi-respons.

Contoh lain adalah: makna yang terdapat disetiap orang pada masyarakat Muslim Ambon, adalah common enemies misalnya orang Kristen jahat, pembunuh, oleh karena simbol-simbol yang ada ditafsirkan oleh kelompok Muslim sebagai jahat.

Herbert Mead mengemukakan konsep self indication, yaitu pada saat kita berbicara tentang interaksi maka kita berbicara pula tentang self (diri).

Dalam diri manusia terdapat I (yang mengacu kepada subyek) dan Me (yang mengacu kepada obyek) dimana keduanya bisa berkomunikasi (mengobrol), terdapat adanya self evaluation, misalnya ketika kita masih remaja, sangat susah untuk menyatakan cinta, padahal pada saat tersebut kesempatan ada, lidah terasa sangat kelu; kemudian pada saat kita pulang kerumah, kita menyesali diri kita sendiri dengan seolah-oleh mengobrol dengan diri kita yang lain : lu goblok banget sih, kesempatan ada, padahal waktu dan tempat sangat mendukung, jadi kapan lagi lu bisa mendapatkan kesempatan seperti itu lagi!?

Looking Glass Self, adalah cermin-cermin sosial yang akan mengendalikan interaksi-interaksi sosial kita.

Dalam interaksionisme simbolik, apa yang kita lakukan sebetulnya merupakan respon yang terjadi melalui suatu proses pemberian makna. Simbol yang terjadi karena seseorang membuat simbol tersebut dan orang lain memaknai simbol-simbol tersebut, misalnya : seseorang yang menerima tamu dengan hanya memakai sarung (sarungan) disimbolkan oleh si tamu bahwa tuan rumah tidak menghargai tamu tersebut, contoh lain : banser NU dengan mempergunakan atribut-atribut militer (baju loreng, sepatu lars, pisau belati) maka akan terjadi pemaknaan simbol-simbol yang bermacam-macam di masyarakat, sehingga pada contoh-contoh tersebut akan terjadi proses peresponan terlebih dulu terhadap simbol-simbol yang dipergunakan tuan rumah atau banser tersebut.

Herbert Mead : merinci bagaimana proses penafsiran makna tersebut terjadi dan bagaimana “self” bertindak dengan merespon tindakannya.

Menurut Mead, ternyata dalam “self” kita terdapat 2 dimensi : sebagai subyek (I) dan obyek (me), contoh : kita menyesali diri mengapa kita pada saat berbicara didepan publik tadi tidak begitu tepat, dan disadari oleh kita pada saat telah terjadi.

Salemba, 19 Mei 1999

KERANGKA TEORI TALCOTT PARSONS UNTUK MEMAHAMI INTEGRASI SOSIAL

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Teori Sosial Klasik yang diberikan oleh Dr. Robert M.Z. Lawang

I. Latar Belakang

Pada Tahun 1971 di Lhok Seumawe, Aceh, mulai di rintis pembangunan proyek gas alam cair (LNG), didahului dengan kegiatan pembebasan tanah-tanah milik penduduk. Kegiatan pembebasan tanah berlangsung hingga tahun 1975 yang diwarnai adanya ketegangan-ketegangan. Ketegangan itu misalnya, dalam bentuk penduduk tidak bersedia menyerahkan tanah miliknya walaupun telah disediakan uang pengganti kerugian, karena beranggapan bahwa tanah pusaka peninggalan orang tua tidak boleh dijual atau diserahkan kepada orang lain.

Pengukuran tanah berikut pembayarannya berlangsung selama tahun 1974, dan tahun 1975 telah dimulai pembangunan komplek perumahan, sampai akhirnya pada tahun 1977 telah siap untuk ditempati. Komplek perumahan tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga membuat kesan terjadinya isolasi yang kian memperlebar jarak sosial. Hingga terjadi ketegangan yang kedua, dalam wujud terjadinya perbedaan yang mencolok antara pola kehidupan kedua kelompok masyarakat tersebut, terutama dalam status sosial ekonominya.

Melalui makalah ini, saya berusaha memahami peristiwa kesenjangan sosial dan ekonomi antara penduduk sekitar pabrik dengan karyawan pabrik yang bertempat tinggal disekitar pabrik, yang terjadi saat dibangunnya proyek raksasa gas alam cair pertama di awal masa orde baru, yaitu PT. Arun, Lhok Seumawe, Aceh.

Peristiwa ini saya anggap menarik oleh karena terjadi di saat-saat awal rezim orde baru mulai menancapkan kuku-kuku kekuasaannya diseluruh bumi pertiwi, dan menariknya lagi bahwa peristiwa ini terjadi di Aceh, suatu daerah yang begitu rentan untuk bergolak hingga pada titik tertentu pemerintah dianggap telah melalaikan kewajibannya atas Aceh, mereka menuntut kemerdekaan. Boleh dikatakan disini bahwa peristiwa ini adalah babak pertama dari salah urusnya pemerintah dalam melakukan pembinaan terhadap pemerintah-pemerintah daerah, sehingga boleh dikatakan bahwa pembangunan pabrik gas arun merupakan test case bagi rezim orde baru dalam rangkaian melakukan perkeliruan-perkeliruan ditempat dan pada saat lain.

II. Pokok Permasalahan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka akan dipergunakan kerangka Talcott Parsons untuk memahami integrasi sosial di antara masyarakat desa sekitar pabrik LNG dengan karyawan PT. Arun, penggunaan hubungan sistem-sistem level, kejelasan hubungan antara energy dan informational system dalam AGIL dan pada akhirnya akan terjawab pertanyaan adakah sistem sosial yang berlaku umum di Indonesia?

III. Teori Talcott Parsons

Empat persyaratan fungsional fundamantal yang digambarkan dalam skema AGIL menurut Parson merupakan kerangka untuk menganalisis gerakan-gerakan tahap (phase movements) yang dapat diramalkan. Keempat persyararatan ini berlaku untuk setiap sistem tindakan apa saja.

Urutannya dimulai dengan munculnya suatu tipe ketegangan, yang merupakan kondisi ketidaksesuaian antara keadaan suatu sistem sekarang ini dan suatu keadaan yang diinginkan. Ketegangan ini merangsang penyesuaian (adaptation) dari suatu tujuan tertentu (goal maintenance) serta menggiatkan semangat dorong yang diarahkan kepada pencapaian tujuan itu. Pencapaian tujuan itu memberikan kepuasan yang dengan demikian mengatasi ketegangan atau menguranginya.

Tetapi, sebelum suatu tujuan dapat tercapai, maka harus ada suatu tahap penyesuaian terhadap keadaan genting dari situasi dimana tenaga harus dikerahkan dan alat yang perlu untuk mencapai tujuan itu harus disiapkan. Selama tahap ini, pemuasan harus ditunda.

Dalam kasus suatu sistem sosial harus paling kurang ada suatu tingkat solidaritas minimal diantara para anggota sehingga sistem itu dapat bergerak sebagai satu satuan menuju tercapainya tujuan itu.

Jadi tahap pencapaian tujuan secara khas diikuti oleh suatu tekanan pada integrasi (integration) dimana solidaritas keseluruhan diperkuat, terlepas dari usaha apa saja untuk tercapainya tugas instrumental.

Akhirnya, tahap ini akan diikuti oleh tahap mempertahankan pola tanpa interaksi atau bersifat laten (laten pattern maintenance).

Sistem sosial sebagai suatu keseluruhan juga terlibat dalam saling tukar dengan lingkungannya. Lingkungan sistem sosial itu terdiri dari lingkungan fisik, sistem kepribadian, sistem budaya dan organisme perilaku.

Sistem tindakan ini dilihat sebagai berada dalam suatu hubungan hirarki dan bersifat tumpang tindih. Sistem budaya merupakan orientasi nilai dasar dan pola normatif yang dilembagakan dalam sistem sosial dan diinternalisasikan dalam struktur kepribadian para anggotanya. Norma diwujudkan melalui peran-peran tertentu dalam sistem sosial yang juga disatukan dalam struktur kepribadian anggota sistem tersebut. Organisasi perilaku merupakan energi dasar yang dinyatakan dalam pelaksanaan peran dalam sistem sosial.

Parsons melihat hubungan antara pelbagai sistem tindakan ini berdasarkan kontrol sibernatik (cybernetic control) yang didasarkan pada arus informasi dari sistem budaya ke sistem sosial, ke sistem kepribadian dan ke organisasi perilaku.

Energi yang muncul dalam arus tindakan adalah dari arah yang sebaliknya, yang bermula dari organisme perilaku.

Hubungan antara sistem-sistem tindakan umumnya dan persyaratan-persyaratan fungsional adalah sebagai berikut :

Sistem Tindakan

Persyaratan Fungsional

Sistem budaya

Sistem sosial

Sistem kepribadian

Organisme perilaku

Pemeliharaan pola-pola yang laten

Integrasi

Pencapaian tujuan

Adaptasi

Pemeliharan pola-pola yang laten (laten pattern maintenance) dihubungkan dengan sistem budaya, karena fungsi ini menekankan nilai dan norma budaya yang dilembagakan dalam sistem sosial.

Masalah integrasi berhubungan dengan interelasi antara pelbagai satuan dalam sistem sosial.

Pencapaian tujuan dihubungkan dengan sistem kepribadian dalam arti bahwa tujuan sistem-sistem sosial mencerminkan titik temu dari tujuan-tujuan individu dan memberikan mereka arah sesuai dengan orientasi nilai bersama. Hubungan antara pencapaian tujuan dengan sistem kepribadian ini mencerminkan perspektif Parsons bahwa tindakan selalu diarahkan pada tujuannya.

Kemudian, sifat dari masalah penyesuaian ditentukan sebagian besar oleh sifat-sifat biologis individu sebagai organisme yang berperilaku dengan persyaratan biologis dasar tertentu yang harus dipenuhi oleh mereka agar tetap hidup.

IV. Analisis Masalah

Parsons dan teman-temannya pada tahun 1950-an secara bertahap menyusun strategi untuk analisis fungsional hubungan duaan, kelompok kecil, keluarga, organisasi kompleks dan juga masyarakat keseluruhan.

Penyempurnaan yang dihasilkan sebagian dari kerjasama Parsons dengan Robert F. Bales.

Dari hasil analisis proses-proses kelompok kecil diketahui bahwa kelompok yang diamatinya tersebut selalu melewati serangkaian tahap yang dapat diramalkan.

Masing-masing tipe tindakan dilihat ada hubungannya dengan masalah-masalah tertentu yang dihadapi kelompok pada waktu itu : masalah orientasi, evaluasi, pengawasan, keputusan, peredaan ketegangan dan integrasi.

Pelbagai tahap yang dilalui kelompok-kelompok itu selama suatu pertemuan nampaknya menghasilkan semacam keseimbangan begitu kelompok itu secara berturut-turut membahas setiap masalah yang dihadapi itu. Jadi, misalnya, pada permulaan suatu pertemuan para anggota perlu mengembangkan suatu orientasi bersama terhadap satu sama lain.

Didalam negara yang masyarakatnya bercorak plural society, seperti Indonesia, pengetahuan tentang interaksi sosial yang terjadi antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya sangatlah penting. Dengan mengetahui dan memahami perihal kondisi yang dapat menimbulkan serta mempengaruhi bentuk interaksi sosial tertentu, maka pengetahuan tersebut dapat disumbangkan bagi usaha pembinaan bangsa dan masyarakat[1].

Menurut Young, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa itu tak ada kehidupan sosial[2] .

Dalam kedudukannya sebagai mahluk sosial, manusia cenderung untuk selalu berhubungan dengan lingkungannya. Terjadinya interaksi sosial selalu didahului oleh suatu kontrak sosial dan komunikasi[3]

Pada tahun 1973. Di Lhok Seumawe, Aceh Utara, mulai dibangun proyek pencairan gas alam LNG (Liquid Natural Gas), yang dimulai dioperasikan pada tahun 1978 oleh PT. Arun LNG & Co.

Sebagai bagian dari proyek ini, dibangun pula sebuah komplek perumahan karyawan di atas tanah kurang lebih seluas 400 Ha, dalam kondisi yang kontras dengan lingkungan masyarakat sekitarnya dengan struktur dan kebudayaannya yang masih relatif sederhana. Komplek perumahan ini berbentuk kampus (housing colony). Mereka yang tinggal di komplek perumahan tersebut, berasal dari berbagai golongan agama, suku bangsa dan daerah dengan tingkat pengetahuan dan kehidupan yang relatif lebih maju, dibandingkan dengan penduduk setempat.

Beberapa penelitian yang telah pernah dilakukan berkesimpulan bahwa kehidupan dan sistem budaya orang desa disekitar komplek perumahan tersebut tidak sejalan dengan kondisi kehidupan baru dari pendatang, mereka terpaksa harus menyesuaikan diri dengan situasi baru terutama dalam hal lapangan pekerjaan, karena untuk meneruskan pekerjaan lama (bertani, tambak ikan atau nelayan), dirasakan sudah tidak memungkinkan lagi[4]

Perumahan yang berbentuk colony, selain membuat kesan adanya isolasi, juga menyebabkan terjadinya jarak sosial. Jadi jelasnya, terdapat perbedaan yang mencolok antara pola kehidupan kedua kelompok masyarakat tersebut, terutama dalam status sosial ekonominya. Dalam hubungan dengan perbedaan tersebut, timbul pertanyaan apakah ada, dalam bentuk apa dan faktor apa saja yang mempengaruhi interaksi sosial antara penduduk komplek perumahan PT. Arun dan penduduk asli di desa sekitarnya.

Pembahasan makalah ini dibatasi dalam mempelajari bentuk interaksi sosial yang terjalin antara masyarakat komplek perumahan karyawan PT. Arun dan penduduk asli di desa sekitarnya, serta faktor yang mempengaruhinya.

Interaksi sosial dalam artian umum dimaksudkan sebagai hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar perorangan, antar kelompok, dan antara perorangan dengan kelompok manusia[5].

Salemba, 29 Maret 1999

[1]Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru, CV. Rajawali, Jakarta, 1982, hal. 54

[2] Ibid, hal. 54

[3] Susanto, Astrid S., Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bina Cipta, Bandung, 1979

[4] Paulus Tanglindintin, Perubahan Sosial Akibat Proyek Pembangunan (Kasus Studi Lhok Seumawe), PLPIIS, Aceh, 1975

[5] Soerjono Soekanto, Op.cit, hal. 55

PENYERAHAN URUSAN PEMERINTAHAN KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Metode Penelitian Sosial yang diberikan oleh Drs. Ezra M. Choesin, M.A

1. Latar Belakang Penelitian

Tuntutan kebebasan berpolitik di Indonesia dewasa ini semakin tampak. Hal ini merupakan konsekuensi logis suatu revolusi informasi dan arus globalisasi yang sudah mempengaruhi semua aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat. Keterbukaan membuat kesadaran warga masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara juga semakin meningkat.

Sehubungan dengan hal tersebut Naisbitt [1] dalam bukunya “Global Paradox” mengemukakan bahwa “Trend-trend dunia secara luar biasa menuju ke arah kebebasan politik dan pemerintahan sendiri pada satu pihak dan pembentukan aliansi ekonomi pada pihak lain”. Kebebasan politik dan pemerintahan sendiri dapat diartikan sebagai kecenderungan membentuk negara, negara bagian ataupun daerah otonom baru.

Dalam konteksnya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pendapat yang dikemukakan oleh Naisbitt di atas, dapat diartikan sebagai kemungkinan pembentukan daerah otonom baru baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Implikasi dari adanya perkembangan kebebasan politik dan pemerintahan, ditandai dengan keadaan masyarakat yang tidak cukup puas berpartisipasi pasif sebagai pelaksana kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, melainkan menginginkan partisipasi yang lebih aktif dalam merumuskan berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan mereka. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat seperti ini, perlu disiapkan aparatur pemerintah yang tanggap dan dekat dengan masyarakat, yaitu melalui pembentukan pemerintah daerah yang otonom.

Sejalan dengan pembentukan aparatur pemerintah yang mempunyai kinerja sesuai dengan tuntutan masyarakatnya, IULA (International Union of Local Authorities) mengemukakan bahwa pemerintah daerah dapat bertindak sebagai penggerak pembangunan sosial dan ekonomi di daerahnya.[2]Selanjutnya Maddick mengatakan bahwa pemerintah daerah dapat menyediakan : [3]

1) Komunikasi dan ketertiban dengan masyarakat setempat dan pemimpinnya untuk mempertemukan masalah-masalah sosial dan perorangan yang timbul akibat adanya perubahan teknologi dan masyarakat yang terganggu;

2) Inisiatif, semangat dan konsentrasi kekuatan untuk menerima dan memperkaya kebijakan nasional dan membuat rencana pembangunan menjadi lebih realistik bagi masyarakat setempat dan lebih cocok pada kebutuhan-kebutuhan lokal dan keadaan setempat;

3) Koordinasi dan perencanaan yang komprehensif yang mengintegrasikan berbagai kegiatan yang saling berkaitan pada kebijakan lokal dan tindakan-tindakan lanjutannya;

4) Profesionalisme untuk meningkatkan efisiensi teknikal dan nasehat serta kebijakan, serta memadukannya dengan pandangan yang mendamaikan;

5) Akuntabilitas dari perwakilan pemilih dan menghubungkannya dengan pejabat-pejabat pemerintah untuk meningkatkan kejujuran dan kepekaan mereka.

Sesuai dengan pendapat Maddick di atas, Rondinelli and Cheema mengemukakan pendapat bahwa meningkatnya keinginan desentralisasi kewenangan didorong oleh tiga kekuatan, yaitu : [4]

1) Kekecewaan terhadap hasil perencanaan dan pengendalian pembangunan secara terpusat;

2) Penerimaan secara implisit cara baru untuk mengelola program dan proyek pembangunan yang telah terjalin di dalam strategi pertumbuhan dan keadilan;

3) Munculnya kenyataan bahwa masyarakat menjadi semakin kompleks dan kegiatan pemerintah mulai melebar. Hal ini mulai menimbulkan kesulitan untuk merencanakan dan mengatur semua kegiatan pembangunan secara efektif dan efisien dari pusat.

Dalam konteks perkembangan masyarakat sebagaimana pendapat di atas, Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah secara tegas mengatur tentang pelaksanaan titik berat otonomi di Kabupaten/Kota melalui penyerahan sebagian urusan pemerintah pusat. Dalam penjelasan Undang-undang 22 Tahun 1999 disebutkan bahwa tujuan pemberian otonomi kepada Kabupaten/Kota adalah untuk meningkatkan dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan pemerintah daerah, terutama dalam rangka pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat untuk meningkatkan pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa. Melalui penyerahan urusan-urusan pemerintah pusat diharapkan masyarakat akan mendapat pelayanan yang cepat tanpa harus menunggu keputusan dari pemerintah propinsi atau pusat. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat dapat lebih ditekan dan pada gilirannya akan mendorong kreativitas dan partisipasi masyarakat.

Dalam upaya memperlancar penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah Propinsi dan Pusat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, pemerintah saat ini tengah menyusun rancangan Peraturan Pemerintah yang berisi kriteria urusan-urusan yang akan diserahkan kepada kabupaten/kota sebagai berikut :

1) Urusan-urusan yang sifatnya telah membaku di daerah. Membaku menunjukkan pengertian sesuatu yang telah mengalami perkembangan tertentu, telah menjadi hal yang pokok atau sebenarnya nyata terdapat (eksis). Dari pengertian ini, maka dapat diberikan penafsiran bahwa urusan yang telah lama ada dan nyata-nyata ada yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Oleh karena itu, terhadap urusan-urusan demikian seharusnya diberikan landasan dalam bentuk legal formal sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk menjadi urusan rumah tangga kabupaten/kota yang bersangkutan;

2) Urusan-urusan yang menyangkut kepentingan langsung dari masyarakat,dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan suatu daerah. Hal ini mengandung pengertian bahwa sesuatu urusan yang akan diserahkan bertolak dari kebutuhan yang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan mengandung makna kebutuhan yang khas dan mengharuskan pemerintah untuk memberikan pelayanan, sehingga diperlukan pertimbangan untuk menyerahkan urusan ini kepada pemerintah setempat;

3) Urusan-urusan yang dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat atau menurut sifatnya merupakan tanggung-jawab masyarakat. Urusan ini dapat diidentifikasi merupakan suatu urusan yang berada pada suatu kontinum, dimana pemerintah dan masyarakat merupakan pelaku dan penanggungjawab. Pada satu sisi, pemerintah sebagai pelaku utama dan penanggungjawab memerlukan masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai bentuk dan tingkat untuk melaksanakannya. Pada sisi yang lain, pemerintah mengambil posisi sebagai fasilitator, membimbing dengan mendorong agar masyarakat mengambil posisi sebagai penanggungjawab yang lebih besar;

4) Urusan-urusan yang dalam pelaksanaannya banyak mempergunakan sumber daya manusia. Dalam hal ini dapat diberikan penafsiran bahwa dalam penyelenggaraan urusan-urusan yang memerlukan tenaga manusia (urusan yang bersifat padat karya), maka urusan tersebut dipertimbangkan untuk diserahkan kepada kabupaten/kota;

5) Urusan-urusan yang memberikan penghasilan bafi kabupaten/kota dan potensial untuk dikembangkan dalam rangka penggalian sumber-sumber pendapatan asli yang baru bagi daerah yang bersangkutan. Hal ini mengandung pengertian bahwa sumber pendapatan yang nyata dapat dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota dan masih mengandung potensi untuk dapat dikembangkan bagi perolehan pendapatan asli kabupaten/kota, sehingga dapat memperkuat kemampuan kabupaten/kota dari segi pendapatan;

6) Urusan-urusan yang didalam penyelenggaraannya memerlukan penanganan dan pengambilan keputusan segera. Dalam hal ini memberikan petunjuk terhadap dimensi waktu, dimana apabila terjadi penundaan akan mengakibatkan hal-hal yang fatal dan tidak menguntungkan bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Oleh karena itu perlu untuk diserahkan dan menjadi urusan dari pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan.

Untuk dapat melaksanakan urusan pemerintah yang sebaiknya diserahkan kepada kabupaten/kota berdasarkan enam kriteria di atas, maka diperlukan unit pemerintahan yang bersifat operasional atau unit lini bagi pemerintah kabupaten/kota yang tidak lain berwujud dalam dinas-dinas kabupaten/kota. Dengan demikian, keberhasilan kebijakan politik yang meletakkan titik berat otonomi pada kabupaten/kota akan sangat ditentukan oleh kinerja dinas-dinas kabupaten/kota bersangkutan. Hal semacam itulah yang menjadi alasan mengapa penelitian ini dilakukan.

Permasalahan

2.1. Identifikasi Masalah

Dilihat dari sistem pemerintahan negara Indonesia, pemerintah kabupaten/kota merupakan sub-sistem dari pemerintahan otonom yang terdepan dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Dalam menjalankan otonominya, pemerintah kabupaten/kota menghadapi berbagai permasalahan yang terstruktur dan kompleks. Berbagai masalah yang dihadapi organisasi pemerintah kabupaten/kota dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1) Meskipun pembagian tugas, wewenang, hak dan kewajiban antara unsur staf (Sekretariat Daerah) dan unsur lini (Dinas Daerah) pada pemerintah kabupaten/kota telah dibakukan di dalam peraturan perundangan yang berlaku, akan tetapi dalam pelaksanaannya masih terjadi tumpang tindih aktivitas maupun alokasi pendelegasian wewenang yang kurang tepat. Berbagai aktivitas operasional yang seharusnya dilaksanakan oleh unsur lini tenyata dilaksanakan oleh unsur staf;

2) Dinas Daerah sebagai organisasi lini yang menjalankan tugasnya melayani masyarakat secara langsung belum dapat tampil secara optimal karena keterbatasan dana. Kewenangan maupun kurangnya dukungan aparatur yang berkualitas teknis sesuai bidang tugas dinas-dinas bersangkutan;

3) Manajemen organisasi Dinas Daerah Kabupaten/Kota sebagai unsur lini yang bersifat teknis masih dijalankan secara birokratis, sama seperti menjalankan unsur staf. Pengisian formasi jabatan, pengembangan karier pegawai ataupun pengembangan keahlian di bidan teknis bersangkutan masih tertinggal dibandingkan unsur staf;

4) Karena keterbatasan aparat yang berkualitas teknis maupun keterbatasan dukungan anggaran, Dinas Daerah Kabupaten/Kota belum mampu memberikan pelayanan secara menyeluruh dan meluas kepada masyarakat melalui Cabang-cabang Dinasnya yang ada di tingkat Kewedanaan/Kecamatan;

5) Budaya kerja pada Dinas yang terlampau berorientasi vertikal serta kurangnya semangat kewirausahaan menyebabkan unsur lini ini tidak mampu mengembangkan kreativitas bagi aparatnya, menyebabkan Dinas Daerah seringkali tertinggal selangkah dibandingkan kemajuan dan perubahan yang terjadi pada masyarakat.

Permasalahan yang dikemukakan di atas, secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kinerja organisasi pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan perannya sebagai penyelenggara pemerintahan dan pembangunan. Karena perubahan sosial dan perkembangan masyarakat tidak mungkin terhenti, maka peningkatan kinerja organisasi pemerintah kabupaten/kota khususnya Dinas-dinas Daerah sebagai unsur lini dan langsung berhadapan dengan masyarakat merupakan jalan yang terbaik dalam memantapkan pelaksanaan otonomi luas pada daerah kabupaten/kota sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

2.2. Perumusan dan Pembatasan Penelitian

Permasalahan yang menyangkut organisasi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana yang dikemukakan di atas cukup kompleks, dengan demikian masalahnya perlu dirumuskan dan dibatasi sedemikian rupa sehingga terkelola secara baik. Perumusan dan pembatasan masalahnya ditetapkan sebagai berikut :

1) Sampai sejauh manakah pembagian tugas, wewenang, hak dan kewajiban antara unsur staf (Sekretariat Daerah) dengan unsur lini (Dinas Daerah) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor dilaksanakan sesuani peraturan perundangan yang berlaku ?

2) Bagaimanakah kinerja Dinas Daerah Kabupaten Bogor pada situasi dan kondisi yang ada sekarang ini ?

3) Bagaimanakah kemungkinan pengembangan organisasi Dinas Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor, agar kinerjanya dapat lebih optimal sehingga mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara efektif dan efisien ?

Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dilaksanakannya penelitian adalah untuk :

1) Memperoleh gambaran mengenai keadaan Dinas Daerah yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor;

2) Mengetahui kinerja Dinas Daerah Kabupaten Bogor serta kemungkinan peningkatannya;

3) Memberikan gambaran tentang kemungkinan menyusun tipologi Dinas Daerah Kabupaten Bogor berdasarkan karakteristik aktivitas pokoknya serta kemungkinan pengembangan organisasinya.

4. Kegunaan Penelitian

Secara praktis, kajian tentang Kinerja Dinas Daerah ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota umumnya dan Pemerintah Kabupaten Bogor khususnya dalam rangka meningkatkan kinerja Dinas-dinas Daerahnya agar mampu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan kinerja organisasi pemerintahan.

Salemba, 15 April 2000


[1] Naissbitt, John, Global Paradox-Semakin Besar Ekonomi Dunia, Semakin Kuat Perusahaan Kecil, Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1994, hal. 3

[2] International Union of Local Authorities (IULA), Local Government as Promotor of Economic and Social Development, The Hague, Netherland, 1971, hal. 28

[3] Ibid, hal. 39

[4] Cheema, G. Shabbir and Dennis A. Rondinelli, editors, Decentralization and Development – Policy Implementations in Developing Countries, Sage Publications, Beverly Hills, London, 1983, hal. 10

BANTUAN HUKUM: ARTI DAN PERANANNYA

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III,              NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Hukum dan Pembangunan yang diberikan oleh Mulyana W. Kusumah

Bagi negara berkembang, konsepsi dan peranan dari suatu lembaga bantuan hukum hampir dapat dipastikan tidak sama dengan konsepsi dan peranan lembaga bantuan hukum di negara-negara maju, tempat lembaga ini lahir dan dibesarkan. Juga kadar campur tangan dari pemerintah terhadap eksistensi lembaga ini akan jelas sekali perbedaannya, suatu hal yang erat hubungannya dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pertumbuhan masyarakat setempat. Jika hal ini benar, maka timbul pertanyaan : sampai sejauh mana sistem kekuasaan di negara berkembang memungkinkan berkembangnya ide bantuan hukum ? Sampai dimana masyarakat setempat membutuhkan bantuan hukum ? Dalam tulisan ini, kami akan memulai pembahasan dari pertanyaan yang terakhir sepanjang menyangkut peranan bantuan hukum dan pada akhirnya menuju kepada pertanyaan pertama.


Baca lebih lanjut

PENYALAHGUNAAN DISKRESI PADA KEBIJAKAN MOBIL NASIONAL

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Hukum dan Pembangunan yang diberikan oleh Dr. Harkristuti Harkrisnowo

A. Pendahuluan

Kajian mengenai topik ini dikategorikan kedalam lingkup hukum administrasi negara, yaitu salah satu bidang hukum yang mengatur mengenai kedudukan, tugas dan fungsi pemerintah sebagai administrator negara. Pemerintah adalah “pengurus harian” negara yang terdiri dari keseluruhan jabatan/pejabat publik yang mempunyai tugas dan wewenang politik negara serta pemerintahan.

Dalam artian yang luas, hukum administrasi negara adalah hukum mengenai penyelenggaraan segala sesuatu yang mengandung aspek policy pemerintah dan hukum publik.

Apa yang dijalankan oleh pemerintah beserta aparaturnya adalah tugas-tugas pemerintah, yaitu tugas-tugas negara yang dilimpahkan atau dibebankan kepada pemerintah. Sedangkan tugas-tugas lainnya dibebankan kepada MPR (badan konstitutif), presiden dan DPR (badan legislatif), DPR (badan pengawas politik), DPA (badan konsultasi) dan BPK (badan pengawas finansial).

Pembahasan akan kami fokuskan kepada aspek tugas-tugas pemerintah, oleh karena pemerintah yang memiliki tugas dan tanggung jawab terbanyak dan kompleks pada hampir semua bidang tugas-tugas serta diprediksikan memiliki tingkat penyalahgunaan diskresi (detournement de pouvoir) tertinggi bila dibandingkan tugas-tugas yang dibebankan kepada lembaga negara lainnya.

Diskresi (freies ermessen) adalah kebebasan bertindak atau mengambil keputusan pada pejabat publik yang berwenang berdasarkan pendapat sendiri. Diskresi diperlukan sebagai pelengkap asas legalitas, yaitu asas hukum yang menyatakan bahwa setiap tindak atau perbuatan administrasi negara harus berdasarkan ketentuan undang-undang, akan tetapi tidak mungkin bagi undang-undang untuk mengatur segala macam hal dalam praktek kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu diperlukan adanya kebebasan atau diskresi pada pejabat publik dalam melaksanakan tugas, fungsi dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Baca lebih lanjut

KONSEP STRATIFIKASI MASYARAKAT

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Teori Sosial Klasik yang diberikan oleh Dr. Kamanto Sunarto

Dibawah ini akan dikemukakan terlebih dulu gambaran dua orang ahli sosiologi mengenai stratifikasi (kelas dan status), sebelum masuk kepada jawaban terhadap pertanyaan mengenai alasan-alasan yang melandasi pandangan saya mengenai konsep yang paling mampu menjelaskan stratifikasi dalam masyarakat kita yang sedang mengalami berbagai perubahan.

KARL MARX

Kita melihat bahwa perubahan sosial secara mendasar dan menyeluruh yang melanda masyarakat Eropa telah mewujudkan pembagian kerja semakin terinci dalam masyarakat. Pembagian kerja tersebut telah membawa diferensiasi sosial yang tidak hanya berarti peningkatan perbedaan status secara horisontal tetapi juga secara vertikal.

Pandangan mengenai stratifikasi yang sangat menonjol dalam sosiologi ialah pandangan mengenai kelas yang dikemukakan oleh Karl Marx. Menurut Marx kehancuran feodalisme serta lahir dan berkembangnya kapitalisme dan industri modern telah mengakibatkan terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang saling bermusuhan, yaitu kelas borjuis (bourgeoisie) yang memiliki alat produksi dan kelas proletar (proletariat) yang tidak memiliki alat produksi. Dengan makin berkembangnya industri para pemilik alat produksi, semakin banyak menerapkan pembagian kerja dan memakai mesin sebagai pengganti buruh sehingga persaingan mendapat pekerjaan di kalangan buruh semakin meningkat dan upah buruh makin menurun. Karena kaum proletar semakin dieksploitasi mereka mulai mempunyai kesadaran kelas (class consciousness) dan semakin bersatu melawan kaum borjuis. Marx meramalkan bahwa bahwa pada suatu saat buruh yang semakin bersatu dan melalui suatu perjuangan kelas (class struggle) akan berhasil merebut alat produksi dari kaum borjuis dan kemudian mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas (classless society) karena pemilikan pribadi atas alat produksi telah dihapuskan.

Jadi, konsep kelas sosial berdasarkan teori Karl Marx dikaitkan dengan pemilikan alat produksi dan terkait pula dengan posisi seseorang dalam masyarakat berdasarkan kriteria ekonomi.

Marx berpendapat bahwa stratifikasi timbul karena dalam masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan dan prestise yang jumlahnya sangat terbatas sehingga sejumlah besar anggota masyarakat bersaing dan bahkan terlibat dalam konflik untuk memilikinya. Anggota masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan, kekayaan atau prestise berusaha memperolehnya, sedangkan anggota masyarakat yang memilikinya berusaha untuk mempertahankannya bahkan memperluasnya.

Menurut Marx, kelas-kelas akan timbul apabila hubungan-hubungan produksi melibatkan suatu pembagian tenaga kerja yang beraneka ragam, yang memungkinkan terjadinya penumpukan surplus produksi, sehingga merupakan pola hubungan memeras terhadap massa para pemroduksi.

Persamaan yang bagaimanakah yang dikehendaki masyarakat ? berdasarkan konsepsi Marx dikatakan bahwa asas pemerataan berarti pemerataan pendapatan, seseorang diharapkan menyumbangkan tenaganya pada masyarakat sesuai dengan kemampuannya tetapi akan memperoleh imbalan sesuai dengan kebutuhannya.

MAX WEBER

Pembahasan Max Weber mengenai kelas, status dan partai merupakan tiga dimensi tingkatan yang terpisah satu sama lainnya serta pada satu tingkat empiris tertentu, tiap dimensi itu bisa saling mempengaruhi.

Konsepsi kelas Weber bertolak dari analisisnya tentang liberalisasi kegiatan-kegiatan ekonomi berdasarkan ekonomi pasar. Yang dimaksudkan kegiatan ekonomi oleh Weber adalah upaya penguasaan kebutuhan utama manusia (berupa barang maupun jasa), yang didasarkan atas keadilan dan kompetisi secara sehat.

Kelas-kelas hanya bisa muncul apabila pasar itu telah ada, dan pada gilirannya dapat membentuk suatu ekonomi uang dan akan memainkan suatu peran yang penting dalam struktur ekonomi.

Weber membedakan kelas dan status (standische lage). Status seseorang, bertalian dengan penilaian yang dibuat orang lain kepada diri atau posisi sosialnya, sehingga menghubungkan dia dengan sesuatu bentuk martabat sosial atau penghargaan (positif dan negatif). Kelompok status adalah sejumlah orang yang mempunyai status yang sama. Kelompok-kelompok status (tidak seperti kelas-kelas) hampir sepenuhnya menyadari posisi bersama mereka.

Kasta merupakan contoh yang sangat jelas dari status, perbedaan sifat kelompok status dipegang teguh agar tetap berpedoman pada faktor-faktor kesukuan, serta biasanya pemberlakuannya dipaksakan melalui ketentuan-ketentuan agama dan/atau sanksi-sanksi hukum konvensional.

Keanggotaan kelompok kelas maupun keanggotaan kelompok status, dapat merupakan landasan bagi kekuasaan sosial; akan tetapi pembentukan partai-partai politik merupakan suatu pengaruh lanjut dan secara analisis bebas atas pembagian kekuasaan.

Suatu partai yang mempunyai kaitan dengan suatu yayasan amal sekalipun, dapat saja mempunyai tujuan agar dapat menerapkan kebijakan-kebijakan tertentu partai menyangkut yayasan tersebut. Artinya, partai-partai bisa masuk kedalam bentuk organisasi apa saja misalnya dimulai dari perkumpulan olahraga sampai ke organisasi pengacara tingkat nasional.

Landasan untuk mendirikan partai-partai sangat beraneka ragam, misalnya kesamaan kelas atau status bisa saja menjadi dasar satu-satunya bagi penerimaan anggota suatu partai politik.

TANGGAPAN :

Berdasarkan gambaran-gambaran yang telah dikemukakan oleh dua orang ilmuwan sosiologi tersebut di atas, maka saya berpendapat bahwa pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Max Weber adalah yang paling mampu menjelaskan stratifikasi dalam masyarakat kita yang sedang mengalami berbagai perubahan seperti berkembangya industrialisasi, urbanisasi, demokratisasi, modernisasi dan kapitalisme.

Alasan-alasan tersebut didasarkan atas hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa konsep Weber mengenai kelas dan status sangat relevan dengan konsep liberalisasi ekonomi yang memberikan keleluasaan kepada para pelaku pasar untuk berkompetisi secara sehat, dan pemerintah dalam hal ini hanya bertindak sebagai pengatur (steering) hal-hal yang pokok, dan kondisi ini sesuai dengan kecenderungan ekonomi dunia yang mengarah kepada perdagangan bebas;

2. Bahwa kekhawatiran Marx terhadap pembagian atau spesialisasi pekerjaan akan menyebabkan terjadinya kelas borjuis dan kelas proletar sangat tidak beralasan, oleh karena justru karena individu mempunyai pekerjaan atau kegiatan yang berbeda-beda dalam masyarakat, maka mereka menjadi tergantung atau terikat satu sama lain. Sehingga hipotesa yang menetapkan bahwa pembagian kerja adalah salah satu syarat hidupnya suatu masyarakat (menuju modern seperti Indonesia) dapat dibenarkan;

3. Weber menerima konsep Marx bahwa bentuk modern masyarakat merupakan suatu masyarakat kelas, namun ia mengungkapkan fakta bahwa perjuangan kelas sudah tidak cocok lagi dengan kondisi saat ini (termasuk di Indonesia). Yang membedakan bentuk masyarakat modern dari jenis-jenis tradisional bukan lagi dari sifat kelas, tetapi dari pembagian profesi yang dilakukan secara kooperatif;

4. Terhadap pendapat Marx yang mengatakan bahwa seorang buruh jika belum mempunyai kesadaran kelas berarti kesadaran, pemikiran dan nalar yang meliputi benak si buruh tersebut merupakan kesadaran palsu (false consciousness). Padahal bukan suatu masalah apabila si buruh menyetujui tindakan atau kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh majikannya.

Salemba, 24 November 1999

PARADOKS ALIENASI TERHADAP SOLIDARITAS SOSIAL

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan paper dan merupakan tugas mata kuliah Teori Sosial Klasik yang diberikan oleh Dr. Robert M.Z. Lawang

PENDAHULUAN

Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendirian tanpa orang lain. Manusia selalu membutuhkan kehadiran sesama agar dia bisa bertahan hidup. Kenyataan ini melahirkan ikatan moral dan sosial berupa solidaritas di antara satu manusia dengan manusia lain. Solidaritas itu kemudian dilihat sebagai suatu perekat, lem, semen sekaligus fundamen yang mengikat dan menunjang kehidupan bersama manusia dalam masyarakat.

Solidaritas ini terungkap dalam bentuk kepedulian, komitmen dan tanggung-jawab akan hidup dan nasib orang lain sebagai sesama. Solidaritas inilah yang membuat manusia merasa satu dan senasib dengan sesama. Karena itu, ia terdorong secara moral untuk mengulurkan tangan membantu sesama. Demikian pula, ia merasa sedih dengan sesama yang sedang berduka dan merasa sakit dengan sesama yang tengah menderita.

Adam Smith merumuskan solidaritas ini sebagai simpati, yang tidak hanya berarti kita ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Lebih dari itu, berarti kita coba menempatkan diri secara imajinatif dalam posisi orang lain untuk memahami secara moral apa yang dialami orang lain. Dari sana kita terdorong untuk ikut membantu mengatasi masalah yang dia hadapi atau memahami mengapa ia melakukan tindakan tertentu.

Dalam arti ini, solidaritas sosial menjadi semacam keharusan moral bagi keberadaan suatu masyarakat atau ikatan sosial. Tanpa solidaritas tidak hanya masyarakat atau kelompok sosial tidak bisa bertahan. Lebih dari itu, individu tidak bisa berkembang secara penuh sebagai manusia.

Solidaritas tersebut akan sangat kuat dirasakan dan muncul secara spontan terutama dalam masyarakat komunal, yang di antara anggota masyarakat itu punya ikatan kekerabatan dan emosional sangat kuat. Setiap anggota komunal saling mengenal satu sama lain. Karena itu, sampai tingkat tertentu berkembang identifikasi sosial yang cukup intens dan emosional dalam lingkungan komunal tadi dengan mudah disalaharahkan untuk sekedar asal solider.

Ketika orang sekedar asal solider, asal ikut merasakan apa dirasakan oleh anggota lain, sekedar tidak mau menerima apa yang dialami oleh anggota yang lain, orang mudah terbawa emosi dan hanyut dalam tindakan-tindakan membabi buta.

Artinya, solidaritas itu sendiri adalah suatu nilai moral yang sangat luhur. Tetapi sebagai suatu nilai moral, hal itu punya batas-batas tertentu. Apalagi dalam kehidupan masyarakat yang lebih plural yang melibatkan ikatan-ikatan komunal dan kelompok sosial yang banyak. Batas itu adalah bahwa solidaritas tersebut benar dan dibenarkan hanya sejauh demi tujuan yang baik, demi mewujudkan nilai moral tertentu, demi memperjuangkan suatu kebenaran dan keadilan secara rasional.

Sehingga, ketika solidaritas cenderung mengarah kepada tindakan yang menghancurkan kehidupan orang perorangan, ikatan komunitas dan barang milik orang/komunitas, termasuk kelompok lain, solidaritas seperti itu tidak bisa lagi dibenarkan. Secara singkat, ketika perasaan solider menjurus kepada tindakan jahat yang bertentangan dengan moralitas dan nurani kita sebagai orang baik, kita perlu mengendalikan perasaan solider tersebut agar tidak salah arah. Kita perlu mengurungkan niat solidaritas kita tersebut.

Contoh paling jelas dari solidaritas yang salah arah adalah amok massa yang menjurus kepada tindakan brutal berupa pembakaran, pengrusakan dan pembunuhan dan lain-lain yang sejenis. Hanya karena solider dan simpati dengan perlakukan tidak adil, bahkan karena menjadi korban kesalahan sindiri, kita bisa serta merta menggalang kekuatan massa cukup besar untuk menyerang kelompok lain. Lebih susah lagi, solidaritas ini terjadi pada level yang sangat emosional tanpa pertimbangan rasional soal benar atau salah, adil dan tidak adil. Solidaritas model ini juga tidak peduli lagi dengan soal cara melakukan pembalasan.

Lebih repot lagi, kalau perlakuan yang tidak adil atau perkelahian antar anggota dari kelompok berbeda, telah dikait-kaitkan dengan eksistensi dan harga diri kelompok secara keseluruhan. Dalam situasi seperti itu, tanpa sadar solidaritas dianggap bernilai lebih tinggi daripada nyawa manusia, misalnya. Orang tidak peduli membunuh orang lain hanya karena perasaan solider yang salah arah tadi. Solidaritas seakan membenarkan kita untuk melakukan apa saja demi solidaritas dengan anggota kelompok. Bahkan membunuhpun seakan-sakan dihalalkan. Pembunuhan massal seperti di Ambon dan Sambas adalah contoh paling nyata dari solidaritas tanpa batas dan salah arah tadi.

Solidaritas yang salah arah ini akan jauh lebih sering terjadi di tengah masyarakat kita, karena kecenderungan kolektivitas dan ikatan kelompok primordial yang sangat kental dalam masyarakat kita. Kelompok sosial, khususnya primordial, lebih kita anggap sebagai identitas kita dan sebagai benteng perlindungan. Itu berarti, apa yang dialami oleh seorang anggota dialami pula oleh anggota lain. Semua anggota mempunyai kewajiban melindungi setiap anggota. Ada semacam pola utang budi pula, karena berkembang prinsip hari ini saya solider membantu membela dia, tidak peduli apakah ia salah atau benar. Karena besok, saya akan juga dibela kalau diserang oleh kelompok lain. Solidaritas kita adalah solidaritas primitif.

Perilaku main hakim sendiri adalah juga wujud lain lagi dari solidaritas kelompok yang salah arah tadi. Kita tidak menyelesaikan persoalan melalui jalur formal seperti pengadilan. Tetapi, kita menjadi hakim yang membalas perlakuan tertentu terhadap seorang anggota kelompok kita dengan ramai-ramai membalas perlakuan tersebut secara masal.

Bahwa kita perlu solider satu sama lain, tentu sangat baik. Tetapi, itu tidak berarti kita harus hanyut dalam solidaritas buta sampai ikut-ikutan emosi dan hanyut dalam tindakan brutal tertentu yang merusak ikatan sosial dengan sesama dari kelompok yang lain. Tidak berarti kira hanyut dalam tindakan membabi buta yang membahayakan sesama manusia, hanya karena solider dengan sesama anggota/ simpatisan partai politik.

Ikatan-ikatan sosial ditengah masyarakat kita sekarang ini sedang goyah dan sangat rentan. Karena itu, janganlah kita memperparah dengan solidaritas yang salah arah. Sebaliknya, kita pererat ikatan sosial itu dengan berpikir tenang, untuk tetap prihatin dan peduli dengan nasib sesama kita, termasuk sesama anggota/simpatisan partai lain, tetapi dalam arah yang benar, dengan tetap menghargai harkat dan martabat siapa saja sebagai manusia beserta hak-hak mereka, bukannya merusak harkat dan martabat serta hak-hak mereka. Karena, bagaimanapun kita tetap sesama manusia ciptaan Tuhan dan sesama anak bangsa yang berhak hidup rukun dan damai di negeri ini.

Dari uraian tersebut di atas tampak dalam masyarakat komunal solidaritas sosial akan sangat kuat dirasakan dan muncul secara spontan, yang di antara anggota masyarakat itu punya ikatan kekerabatan dan emosional sangat kuat. Setiap anggota komunal saling mengenal satu sama lain. Namun, sampai tingkat tertentu berkembang identifikasi sosial yang cukup intens dan emosional dalam lingkungan komunal tadi dengan mudah disalaharahkan atau cenderung teralienasi dari kelompok lain.

Hingga disini telah dapat dibuktikan suatu hipotesis bahwa semakin kuat kekerabatan suatu masyarakat, maka kecenderungan teralienasinya suatu kelompok terhadap kelompok yang lain semakin besar, sehingga dapat dikatakan bahwa gejala teralienasinya suatu kelompok merupakan paradoks dari suatu keadaan integrasi sosial.

Dalam kaitannya dengan ‘The Sacred’, solidaritas sosial bagi masyarakat tertentu dianggap sebagai sesuatu yang disucikan, ia dianggap sebagai sesuatu yang suci dan memberi perlindungan terhadap kelompok sosial tersebut. Solidaritas sosial menjadi fakta sosial pada masyarakat tersebut, ia menjadi suatu yang sudah terjadi yang bisa dilihat dan tidak terbantahkan oleh siapapun juga, sehingga mempunyai sifat memaksa, sifat umum dan eksternal (karena ia independen terhadap individu).

Salemba, 20 Oktober 1999