PERKIRAAN DAMPAK SOSIAL POSITIF DAN NEGATIF DARI RENCANA KEBIJAKSANAAN REFERENDUM

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tulisan ini merupakan suatu paper, merupakan tugas mata kuliah Analisis Dampak Sosial yang diberikan oleh Prof. Riga Adiwoso Suprapto

Jika sebuah rencana kebijaksanaan akan diimplementasikan, maka yang akan kita pertanyakan adalah apa sebab dan akibat (kausalitas) yang akan ditimbulkannya.

Dalam melakukan analisis dampak sosial (andalsos) ini seringkali dibutuhkan suatu informasi awal (feasibility study) bagi si pengambil keputusan, yang dilakukan pada pada saat kebijaksanaan tersebut baru dalam tahap pengkajian.

Misalkan ketika pemerintahan Habibie menggodok kebijaksanaan mengenai dua opsi jajak pendapat penentuan masa depan Timor Timur, maka akan terjadi perdebatan yang akan muncul yaitu kira-kira bahwa setelah dilakukannya social impact assesment atau andalsos, maka masing-masing penasihat akan memposisikan bahwa akibat itu bukan hanya melulu dari aspek sosial, tetapi juga dari aspek ekonomi, demografi, budaya, dan lain-lain.

Kecenderungan yang terjadi dalam era ini adalah bahwa dalam social impact assesment harus terjadi suatu balance antara aspek sosial, ekonomi, budaya, demografi tersebut. Di Indonesia sendiri perkembangan andalsos ini berjalan sangat lambat, sejak muncul pada era 90-an yang dipelopori Emil Salim.

Bidang demografi sosial dan ekonomi merupakan kerangka kerja andalsos, dan merupakan input penting karena data-data demografi dan ekonomi tersebut untuk dijadikan database didalam mengembangkan andalsos.

Dua pertanyaan yang perlu kita perlu pahami benar-benar dan menjadi kiat kita dalam melakukan andalsos pada sebuah rencana kebijaksanaan, adalah :

1) Bagaimana kita dapat yakin bahwa jika suatu kebijaksanan telah diimplementasikan akan menunjukkan akibat tertentu secara sosial, ekonomi, demografi dan kebudayaan?

2) Bagaimana kita dapat menunjukkan hubungan yang komprehensif antara dampak sosial, ekonomi, demografi dan kebudayaan ini?

Gambaran tersebut cukup memberikan wawasan bagi kita agar berhati-hati dalam membuat suatu hubungan sebab akibat, ternyata hubungan sebab akibat (kausalitas) itu tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan, bisa terdapat beberapa hubungan sebab-akibat yang semuanya bisa terjadi dalam menganalisis dampak sosial. Pada andalsos kemungkinan besar kita berhadapan dengan hubungan-hubungan yang irreversible, stochastic, sequential, sufficient dan substitutable.

Jika kita memahami penjelasan ini, maka jika kita berbicara mengenai dampak sosial maka yang akan kita pahami bukan hanya jalur empirik saja, namun bisa terjadi jika kita tidak mempunyai bukti empirik tetapi kita merasakan ada hubungan, maka untuk membuktikannya kita mengembangkan model struktur.

Fokus dalam andalsos diprioritaskan terlebih dulu pada dampak langsung—walaupun ada yang tidak langsung—baik positif maupun negatif, misalnya : pada implementasi rencana kebijaksanaan referendum Habibie, dampak langsung apa yang akan terjadi secara sosial atau dampak langsung dan tidak langsung yang terjadi pada masyarakat. Selanjutnya, kita memilah-milah kembali komponen-komponen tertentu dari rencana kebijaksanaan referendum, mungkin akan menyebabkan dampak langsung maupun tidak langsung, sehingga harus di breakdown lagi. Kemudian kita pilah lagi mana dampak yang positif dan negatif, walaupun secara profesional kita harus bersikap balance tentang sisi dampak positif dan negatif—dan ini yang merupakan ciri integritas profesional seorang peneliti—namun dalam kasus ini kita “terpaksa” memilih dampak negatif terlebih dulu sebagai wujud niatan kita pada aspek keberpihakan sebanyak-banyaknya pada rakyat agar dapat dijadikan sebagai suatu warning, sehingga andalsos ini bisa dijadikan semacam tolok ukur titik sentral perhatian (warning) pemerintah (dalam hal ini Habibie) untuk betul-betul memperhatikan seluruh resiko buruk yang akan terjadi dari kebijaksanaannya.

Komponen rencana kebijaksanaan referendum yang mempunyai dampak langsung dan negatif itulah yang akan difokuskan terlebih dulu. Maka jika opsi kedua—yaitu menolak otonomi luas yang dipilih mayoritas masyarakat Timor Timur, maka kemungkinan-kemungkinan yang harus diantisipasi adalah :

Pertama, maka kemungkinan akan terjadi tragedi kemanusiaan berupa pengungsian ratusan ribu pengungsi, baik mereka yang menuju ke Timor Barat (Atambua), maupun mereka yang menyembunyikan diri di bukit-bukit di wilayah Timor Timur;

Kedua, para pengungsi akan mengalami kesengsaraan lahir-batin yang sulit akan diketahui kapan akan berakhirnya;

Ketiga, ancaman maut yang diakibatkan penyakit menular, kelaparan dan tempat tinggal yang tidak memadai (tidak sehat);

Keempat, ancaman maut yang diakibatkan sweeping baik yang dilakukan oleh kelompok pro-kemerdekaan terhadap milisi pro-integrasi;

Kelima, perang saudara akan terjadi lalgi yang merupakan pembalasan dendam antara kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan;

Keenam, masa depan masyarakat Timor Timur dari kedua belah pihak, terutama generasi mudanya dihantui ketidakpastian;

Ketujuh, akan terjadi kekecewaan atau frustrasi sosial yang sangat mendalam dari kelompok pro-integrasi akibat kekalahan yang diyakininya sebagai rekayasa internasional;

Kedelapan, frustrasi sosial itu akan dimanifestasikan dalam bentuk self destruction terhadap apa saja yang dianggap akan dinikmati oleh kelompok pro-kemerdekaan;

Kesembilan, Timor Timur akan menjadi pulau mati, tidak berpemerintahan, perekonomian macet, tidak berjalannya hukum dan masyarakat hanya hidup dari bantuan lembaga-lembaga sosial baik domestik maupun internasional;

Kesepuluh, ketidakmampuan pemerintah menjamin keamanan pasca jajak pendapat serta kecurigaan terjadinya tindakan yang dapat dikategorikan crimes against humanity, menyebabkan bangsa Indonesia mengalami berbagai tekanan dan ancaman dari dunia internasional;

Kesebelas, ancaman yang dimulai dari pencabutan bantuan pendidikan militer dari pemerintah Amerika Serikat;

Kesepuluh, ancaman kemungkinan penyelidikan terhadap para pelaku yang dianggap melakukan kejahatan perang;

Kesepuluh, jika Indonesia menolak resolusi PBB mengenai crimes against humanity, maka dikuatirkan Indonesia akan dikucilkan oleh masyarakat internasional.

Sedangkan dampak kebijaksanaan referendum yang bersifat tidak langsung dan negatif, misalnya impact atau dampak dari pengungsian itu akan menyebabkan terlantarnya pendidikan anak-anak yang mengungsi ke wilayah Indonesia atau ke gunung-gunung di wilayah Timor Timur tersebut tersebut.

Komponen rencana kebijaksanaan referendum yang mempunyai dampak langsung dan positif, jika opsi kedua—yaitu menolak otonomi luas yang dipilih mayoritas masyarakat Timor Timur, menurut penulis adalah tidak ada, oleh karena :

Pertama, opsi kedua sebenarnya bukan tawaran pilihan bagi masyarakat Timor Timur, melainkan cara yang dipergunakan Habibie untuk melepaskan Timor Timur;

Kedua, dengan memberikan pilihan itu, ia mengharapkan pujian dari dunia internasional sehingga dengan demikian akan mendongkrak popularitasnya di dalam negeri yang sangat diperlukan dalam pemilihan presiden, oleh karena Habibie tidak mempunyai basis lejitimasi politik yang mendukung kedudukannya sebagai presiden.

Kebijakan Yang Harus Diambil untuk Menangani Masalah Kependudukan yaitu Adanya Pengungsi Baik di Timor Timur maupun NTT?

Masalah ini berkaitan dengan migrasi. Salah satu upaya untuk mendekati masalah ini adalah melalui hipotesis push-pull. Dengan hipotesis ini dibayangkan bahwa migrasi yang dilakukan pengungsi disebabkan oleh ketimpangan sosial, ekonomi dan keamanan antar daerah. Faktor-faktor tertentu mendorong (push) orang pergi dari daerah asal dan faktor lain menariknya (pull) ke daerah tujuan.

Pada dasarnya setiap individu dalam masyarakat mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, yang meliputi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya (termasuk keamanan). Tidak semua kebutuhan itu bisa dipenuhi, jika sebagian besar terpenuhi masyarakat cenderung mengambil keputusan untuk tidak pindah. Jika sebagian besar kebutuhannya tidak terpenuhi kelompok masyarakat akan mengalami tekanan atau stress, baik itu tekanan ekonomi, sosial, budaya dan keamanan. Kemudian, di dalam sistem kognisi masyarakat tersebut terjadi suatu proses sehubungan dengan pengambilan keputusan untuk memecahkan stress yang dihadapi. Di dalam sistem kognisi terjadi pengumpulan informasi—dalam hal ini informasi mengenai baik buruknya daerah asal dan baik buruknya daerah tujuan serta penghalang antara—melalui proses hubungan dan komunikasi dengan sumber-sumber informasi yang dapat dijangkaunya, misalnya saudara, tetangga, radio dan media komunikasi lainnya. Pada taraf selanjutnya, orang tersebut akan mempertimbangkan segala informasi yang dikuasainya berdasarkan daya yang dimilikinya. Baru setelah itu, dia lalu mengambil keputusan. Keputusan yang diambil bisa bermacam-macam, antara lain tetap tinggal berarti melakukan penyesuaian-penyesuaian, melakukan mobilitas tidak permanen di sekitar desa atau antar desa dan kota, atau melakukan mobilitas permanen dengan berimigrasi ke tempat lain misalnya ikut mengungsi.

Sama seperti analisis rencana implementasi kebijaksanaan di atas, jika sebuah rencana kebijaksanaan akan diimplementasikan, maka yang akan kita pertanyakan adalah apa sebab dan akibat (kausalitas) yang akan ditimbulkannya.Dalam melakukan analisis dampak sosial (andalsos) ini seringkali dibutuhkan suatu informasi awal (feasibility study) bagi si pengambil keputusan, yang dilakukan pada pada saat kebijaksanaan tersebut baru dalam tahap pengkajian—seperti yang telah penulis kemukakan pada saat sekelompok orang atau masyarakat mempertimbangkan kebaikan dan keburukannya pindah.

Sehingga dalam menetapkan kebijaksanaan yang harus diambil untuk menangani masalah kependudukan ini yang berdampak langsung dan yang dikuatirkan akan mempunyai akibat negatif , antara lain :

Pertama, harus diadakan proses registrasi para pengungsi Timor Timur yang bermukim baik di NTT maupun di hutan-hutan di wilayah Timor Timur, dengan menerapkan cara-cara seperti yang telah saya kemukakan di atas secara persuasif. Sehingga dari pertimbangan-pertimbangan kolektif masyarakat tersebut kita dapat secara arif, bijaksana, adil dan obyektif menentukan secara tepat berapa warga pengungsi yang ingin tetap di wilayah Indonesia atau memilih kembali ke Timor Timur—tanpa unsur-unsur paksaan;

Kedua, melakukan pemberian bahan makanan dan obat-obatan;

Ketiga, memproses rencana repatriasi dan pemukiman kembali (resettlement);

Keempat, rekonsiliasi, yang harus berangkat dari keinginan yang baik dari pihak Dewan Nasional Perlawanan Timor-Timur (CNRT), bahwa para pengungsi Timor Timur mempunyai hak politik yang sama. Untuk itu, jika para pengungsi memilih kembali ke Timor Timur, harus ada jaminan keamanan dan keselamatan bagi mereka.

Dalam kaitannya dalam mendeteksi dampak yang sifatnya langsung, metode yang sering digunakan antara lain adalah comparatif study, yaitu mengadakan kajian dengan benchmarking atau perbandingan-perbandingan terhadap perkiraan dampak langsung yang terjadi dengan setting yang kurang lebih sama dengan setting yang kita kaji. Jadi dari pengalaman atau hasil riset (jadi sumber referensinya bisa dari hasil penelitian orang lain, bisa juga kita mengadakan perbandingan yang dilakukan sendiri), tetapi tetap persyaratannya adalah kondisi setting yang relatif sama.

Dalam mendeteksi dampak langsung maupun tidak langsung secara komprehensif, maka analis sosial secara kreatif harus mampu mengembangkan apa yang disebut dengan model kausal, yang sering kita sering sebut sebagai structure analysis model.

Bagaimana kita membuat model tersebut? Landasan tidak hanya pemahaman terhadap masalah-masalah yang mungkin terjadi di masyarakat, tetapi juga landasan keilmuan, termasuk juga antara lain landasan substansif people centered development.

Menurut Riga Adiwoso, ada 6 (enam) aspek utama dalam andalsos, yaitu : komponen proyek, komponen demografi, ekonomi, lingkungan alam, lingkungan binaan, komponen sosial budaya.

Fokus kita dalam andalsos lebih berorientasi kepada komponen demografi, komponen ekonomi dan komponen sosial budaya.

Bagi kita, adanya identifikasi setiap komponen akan sangat membantu untuk mengarahkan wawasan berpikir kita termasuk nanti mengembangkan model struktur. Misalnya, komponen sosial budaya itu adalah cara hidup sehari-hari, pranata sosial, nilai, perspektif, ada distribusi kekuasaan, stratifikasi sosial, ada peranan dalam masyarakat, ada hubungan antar daerah (termasuk spatial), aspek-aspek perubahan sosial, aspek kemungkinan terjadinya masalah sosial; kesehatan lingkungan, sumberdaya dan juga komponen kependudukan.

Pada demografi, kita bisa melihat berbagai macam struktur demografinya, aspek-aspek atau indikator dari komponen demografi seperti masalah mortalitas, kelahiran, migrasi, kita bisa angkat lebih jauh (walaupun tidak begitu tajam mengidentifikasikannya), tetapi bagi unsur-unsur jumlah penduduk, kepadatan penduduk, keanekaragaman penduduk, pola perubahan penduduk bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kita.

Komponen ekonomi, seperti pendapatan, daya serap, perpajakan, ini semuanya masih perlu kita uji, karena apakah komponen ini pada waktu itu disusun berwawasan kepada people centered development—jika kira-kira kita mau menggunakan pendekatan ini.

Bogor, 5 Maret 2001

About these ads

One thought on “PERKIRAAN DAMPAK SOSIAL POSITIF DAN NEGATIF DARI RENCANA KEBIJAKSANAAN REFERENDUM

  1. salam kenal ,
    mohon bantuannya , sya sedang munyusun ta dan butuh babtuan penjelasan tentang
    fenomena sosial apa saja yang berpengaruh terhadap kemajuan studi , tolong bantu referensinya juga . ( kalau tidak keberatan tolong kirim juga ke emeil saya )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s