KARL MANNHEIM ON IDEOLOGY

(Sebuah Paper)

Zuryawan Isvandiar Zoebir, Mahasiswa Magister Pembangunan Sosial Universitas Indonesia, Angkatan III, NPM. 8399040304

Tesis dasar Mannheim mengenai ideologi hampir sama dengan Marx. Mannheim berpendapat bahwa seluruh pengetahuan yang dimiliki manusia telah terkondisikan secara sosial. Ia mengungkapkan sejumlah fakta bahwa pada setiap tahapan sejarah manusia terdapat ide-ide representatif : ide-ide yang memperlihatkan iklim sosial yang berlaku. Kita semua terikat pada situasi dan kondisi lingkungan kita dan tidak dapat menghindarinya. Situasi ini mirip dengan keadaan yang digambarkan oleh filsuf Hegel dalam tulisannya Philosophy of Right yang menyatakan bahwa setiap individu merupakan anak dari zamannya dan kita tidak dapat melompat di luar waktu kita seeprti kita melompati Rhodes (sebuah pepatah dari zaman Yunani).

Pandangan teori ideologi Mannheim dipengaruhi oleh cara pandang sejarah Hegel terhadap kesadaran manusia (dalam tulisan Hegel Phenomenology of Spirit and Encyclopaedia of Philosophical Sciences). Mannheim memperluas pendekatan sejarah ini kedalam pandangan relativist, yang melihat pemikiran kita sebagai satu-satunya hal yang benar berdasarkan situasi dan kondisi. Bahkan menurutnya pula, pemikiran-pemikiran para sarjana tidak dapat melepaskan diri dari relativisme ini.

Ada kelebihan yang didapat dari cara pandang orang-orang awam mengenai the sociology of knowledge, yaitu mereka dapat lebih menyadari kekuatan-kekuatan sosial yang mempengaruhi benaknya.

The Particular and Total Conceptions of Ideology

Mannheim menganggap penting diadakannya pembedaan konsep-konsep ideologi secara khusus (the particular conceptions of sociology) dan secara menyeluruh (the total conceptions of sociology).

Konsep ideologi secara khusus menjelaskan fenomena ideologi secara individual dan psikologis, sedangkan konsep ideologi secara menyeluruh menjelaskan fenomena ideologi secara sociological dan budaya.

Konsep ideologi secara khusus (the particular conceptions of sociology), diterapkan ditingkat kesadaran individu. Konsep ini menyatakan bahwa setiap individu yang mengejar kepentingannya akan menginterpretasikan kenyataan-kenyataan menurut kebutuhannya pada saat itu. Jika sesuai, individu akan menjawab kebutuhan dan kepentingannya secara menyeluruh. Jika sebagian unsur kenyataan berlawanan dengan prinsip individu maka ia akan menolaknya, karena menyamarkan kepentingan-kepentingan yang sebenarnya. Jika dihubungkan dengan teori Sigmund Freud (Freud’s notion of the unsconscious is striking), maka setiap individu akan berusaha untuk mengeliminasi segala aspek yang dikuatirkan akan mengganggu integritas kepribadiannya.

Mannheim sangat menyadari kelemahan pendapat-pendapatnya mengenai ideologi dalam hubungannya dengan egoisme atau sikap ingin menang sendiri individu, sehingga menurutnya agar teorinya dapat berlaku efektif maka aspek egoisme tersebut harus terlebih dulu dieliminasi.

Konsep ideologi khusus ini (the particular conceptions of sociology), menurut Mannheim tidak dapat diberlakukan terhadap kelompok. Sehingga menurutnya, pendekatan para reduksionis yang membagi kelompok-kelompok menjadi individu-individu yang mempunyai kepentingan-kepentingannya sendiri, dalam melakukan penilaian tentang ideologi akan melakukan kesalahan-kesalahan.

Pendekatan reduksionis seperti ini tidak menjelaskan fenomena ideologi, tetapi lebih merupakan cara lain dalam menjelaskan keberadaannya. Yang diperlukan disini adalah penjelasan mengapa individu-individu cenderung menutup kepentingan-kepentingannya dengan suatu ilusi atau kebohongan? Bagi Mannheim ideologi bukan hanya suatu fenomena psikologi, tetapi merupakan bagian dari kondisi sosial yang mendalam.

Konsep ideologi secara menyeluruh (the total conceptions of sociology) menurut Mannheim dapat menutupi kelemahan konsep khusus tentang ideologi. Namun terdapat persamaan diantara dua konsep ini, yaitu :

Pertama, kedua konsep ini tidak semata-mata tergantung pada apa yang dikatakan orang lain dalam menginterpretasikan makna dan maksudnya.

Kedua, kedua pandangan ini memperhitungkan kondisi sosial pihak lain dalam menjelaskan posisinya, walaupun konsep menyeluruh mengenai sosiologi jauh lebih luas.

Ketiga, kedua konsep inipun melihat ide-ide lain sebagai fungsi dari keberadaannya.

Sedangkan perbedaannya adalah :

Konsep menyeluruh mengenai ideologi (the total conceptions of sociology) tidak hanya menekankan kepada pada asumsi-asumsi individu, tetapi juga asumsi-asumsi kebudayaan kelompok sosial yang merupakan milik individu.

Kemudian, penggunaan metoda yang dipergunakan konsep ideologi secara menyeluruh (the total conceptions of sociology) pun sangat berbeda :

Dalam konsep ideologi secara khusus (the particular conceptions of sociology), para analis dan ideologis secara bersama mengemukakan kriteria yang dapat diterima dalam menilai kebenaran dan atau kesalahan suatu pendapat.

Kemudian, konsep ideologi secara khusus (the particular conceptions of sociology), mempercayai bahwa kesalahan-kesalahan penerapan ideologi dapat digambarkan melalui common belief.

Tidak demikian halnya dengan konsep menyeluruh mengenai ideologi (the total conceptions of sociology), pandangan para analis secara mendasar sangat berbeda dengan pandangan subyek atau persoalannya.

Pertama, menurut pandangan para analis, konsep menyeluruh mengenai ideologi senantiasa mengacu kepada analisis-analisis formal tanpa mengacu kepada faktor motivasi (faktor psikologi), dan penekanannya digantikan oleh obyektivitas faktor ekonomi dan sosial individu.

Selanjutnya adalah membangun analisis menyeluruh suatu kelompok sosial (dan bukan analisis konkret mengenai individu atau hal-hal abstrak) yang akan dipertimbangkan sebagai penghubung sistem ideologi secara keseluruhan.

Jadi, Mannheim melihat pengewajantahan ideologi melalui kelompok dan individu. Dalam hal ini, pandangan-pandangan ideologi Mannheim dianggap lebih mekanistis dibandingkan Karl Marx.

Konsep keseluruhan tentang ideologi (the total conceptions of sociology) merupakan produk collective unconscious, dan tugas analis ideologi adalah mengungkapkan pengaruhnya terhadap pemikiran kita.

Konsep khusus tentang ideologi (the particular conceptions of ideology), tidak lebih dari hanya sekedar mempertahankan dan berpegangan pada opini dan doktrin-doktrin lain.

Sedangkan the total conceptions of sociology menuntun sikap kritis kita terhadap opini dan doktrin-doktrin lain.

Mannheim tidak dapat menjawab secara memuaskan terhadap pertanyaan : mungkinkah didapatkan pengetahuan sesegera mungkin apabila seluruh consciousness dikondisikan secara sosial dan historis ?

Menurutnya jawaban terhadap pertanyaan tersebut terletak pada suatu disiplin baru yang ia namakan the sociology of knowledge.

The sociology of knowledge melihat masing-masing ide atau konsep tersebut sebagai perkembangan collective unconscious kita. Disini untuk pertamakalinya Mannheim mengemukakan pandangannya mengenai relativisme dalam arti penolakan terhadap seluruh kriteria kebenaran mutlak.

Agar analisis mengenai ideologi efektif, maka ia akan memperhitungkan seluruh cara pandang para analis termasuk secara sosial historis. Hal inilah yang menurut Mannheim membedakan metoda analisisnya dengan para marxist. Pandangan marxist mencegah melihat keterkaitan seluruh perkembangan sistem pemikiran perkembangan historis, termasuk diri mereka sendiri.

Tetapi ia menolak dikategorikan sebagai relativis, ia menggambarkannya sebagai relasionis. Artinya, seluruh pengetahuan historis merupakan pengetahuan relasional.

Para analis ideologi seyogyanya mengupayakan menghindari penilaian-penilaian tertentu dan berupaya mengembangkan suatu konteks sosial yang akan memunculkan secara lugas dan jelas ide dan doktrin sistem tertentu.

Dilihat dari sudut pandang the total conceptions of sociology, pengetahuan dianggap merupakan pengalaman ilusi, karena ideologi didalam konsep relasional sama sekali tidak identik dengan ilusi. Pengetahuan yang timbul dari pengalaman sendiri dalam situasi kehidupan aktual (sekalipun tidak mutlak), merupakan juga suatu pengetahuan.

Jika kita sampai pada suatu kesimpulan, maka kita akan dibatasi oleh pandangan historis dan sosial kita sendiri. Namun cakrawala pandangan tersebut keberadaannya memiliki kesempatan yang lebih baik dan sesuai dibandingkan pendapat-pendapat awam. Kita terpuaskan bahwa yang kita ketahui tersebut merupakan pengetahuan pada waktu itu, bahkan kita dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat dan hal ini merupakan tugas baru bagi the sociology of knowledge. Pengetahuan menurut para sosiolog merupakan tantangan terus menerus dan jangan dianggap sebagai kesimpulan tetap dan sah selamanya. Disinilah maksud Mannheim menekankan sikap dinamis dan relasional dibandingkan sikap yang hanya mendasarkan pada data statistik saja.

Jadi, teori Mannheim mengenai ideologi memberikan kepada kita suatu pengertian mengenai suatu periode sejarah. Teori ideologi perlu melihat sebab-sebab struktural pergolakan politik dan sosial, sehingga kita dapat mengukur pendapat-pendapat yang bertentangan dengan situasi yang sedang diamati. Untuk maksud ini, teori ideologi dapat menggambarkan tindakan politik dan solusi yang dapat dilakukan pada saat ini dan mana yang dipecahkan pada saat lain. Ilmu politik harus menghindarkan diri dari kesimpulan-kesimpulan yang anachronistic. Tugasnya adalah menepis pemikiran-pemikiran yang mencegah individu menyesuaikan zaman dalam kehidupannya. Ilmu politik harus menghindari norma-norma kuno (antiquated norms) dan pemikiran yang mencegah penyesuaian situasi (acclimatizations). Sehingga doktrin politik tentang ideologi yang muncul dari teori Mannheim merupakan suatu penyesuaian-penyesuaian individu terhadap lingkungannya.

Seperti telah dikemukakan di atas, Mannheim mengklaim bahwa pandangan ideologinya bukan merupakan pandangan relativisme kebenaran tetapi relasionisme. Namun, menurut penulis pandangan tersebut kurang tepat, oleh karena relativismenya terlihat dengan jelas ketika ia mendukung pandangan kompromistis ilmu sosial. Mannheim menyarankan agar dalam melakukan penyesuaian individu sampai ke lingkungan historisnya kita seyogyanya memiliki tujuan atau target. Walaupun Mannheim mengakui bahwa terdapat perubahan-perubahan historis, maka Mannheim pun harus mengakui pula bahwa ia menghendaki individu menerima kenyataan terdapatnya beberapa ukuran mengenai masyarakat (baik kurang maupun lebih). Menurut Mannheim ide-ide ini akan terus berubah sesuai perkembangan jaman.

Apakah ini merupakan bentuk relativisme yang lain ? Para ahli sosiologi perlu secara konstan menyesuaikan ilmu pengetahuannya terhadap target yang selalu berubah. Teori relatif apapun harus mengacu kepada kebenaran dan beberapa penyesuaian disana-sini.

Mannheim dianggap gagal dalam menjelaskan intelektual dan masyarakat dan perbedaan yang sangat mencolok antara ideologi dan utopia.

Intelektual dan Masyarakat

Mannheim mengemukakan suatu otonomi relatif bagi keberadaan intelektual dalam masyarakat. Untuk menjelaskan ini, ia memanfaatkan salah satu bagian buku Weber (Freischwebwebende Intelligenz) dalam menerngkankan ide-idenya. Seorang intelektual baik perorangan maupun kelompok merupakan bagian dari masyarakat. Dalam diri mereka terdapat tekanan untuk berkompetisi. Para intelektual dikelompokkan berdasarkan latar belakang sosial dan sektarian pendidikan yang berbeda.

Selanjutnya menurut Mannheim, secara perlahan masyarakat menuntut adanya arus gagasan-gagasan (flow of ideas). Artinya kegiatan intelektual tidak hanya terbatas pada pandangan-pandangan sempit, walupun para intelektual memiliki hak dalam menyampaikan pendapat-pendapatnya.

Sehingga seorang intelektual harus mampu mengenyampingkan tujuan-tujuannya sendiri dan menyesuaikannya dengan kebutuhan-kebutuhan nyata masyarakat, dan menurut Mannheim hanya segelintir intelektual yang mampu mencapainya.

Peran intelektual berdasarkan konsep Mannheim mirip dengan peran para filsuf, menurut Plato dalam bukunya the republic yakin bahwa sangat mungkin melatih kemampuan intelektual suatu kelompok sehingga mereka mampu memprediksikan apa yang terbaik bagi masyarakat dan mampu melihat kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan masyarakat secara keseluruhan.

Visi Mannheim mengenai peran intelektual dalam masyarakat pun mirip dengan peran intelektual (yang oleh Hegel disebut sebagai universal class dalam bukunya Philosophy of Right). Bagi Hegel universal class ini merupakan kelompok sosial terpenting dalam masyarakat modern, orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini misalnya pegawai negeri, pendeta, pengacara, para guru.

Terminologi universal class ini berkaitan sangat erat dengan pandangan Mannheim mengenai the free floating intelectual, oleh karena peran politik anggota-angota kelas ini adalah mengamankan kepentingan seluruh masyarakat.

Menurut Mannheim, pengkategorian politik sebagai suatu ilmu pengetahuan timbul oleh karena potensi netralitasnya. Para intelektual mempunyai komitmen untuk mengantisipasi konflik. Intelektual bertipe free floating tidak ingin menghindari sisi lain politik (yang wajar) oleh karena disinilah dinamisasi politik terjadi, yaitu misalnya adnya konflik-konflik norma. Dalam hal ini, Mannheim menentang intelektual yang berpikiran politik sempit, peran intelektual tersebut seharusnya membuat anggotanya menyadari kepentingan dan kepeduliannya pada masyarakat.

Ideologi dan Utopia

Menurut Mannheim, a state of mind is Utopian when it is incongruous with the state of reality within which it occurs (suatu pemikiran hanya merupakan utopia, manakala penerapannya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang sesungguhnya).

Ini merupakan syarat minimal agar kerangka pikiran utopia secara potensial berfungsi. Tidak seluruh kerangka pemikiran yang melampaui tatanan yang berlaku adalah utopia, jika ia dapat memberikan solusi bagi pemecahan masalah-masalah kekinian.

Disinilah terletak perbedaan utopia dan ideologi. Keberadaan pemikiran ideologi acapkali tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi walaupun demikian ia masih sering dimanfaatkan (walaupun tidak secara utuh), misalnya untuk melakukan pembenaran penerapan suatu ideologi pada tahapan perkembangan masyarakat tertentu.

Jadi, ideologi dan utopia seringkali sama-sama tidak sesuai dengan kenyataan. Penjelasan Mannheim untuk hal ini adalah bahwa hal tersebut lebih merupakan kekurangharmonisan the collective unconscious dari kelompok-kelompok yang terlibat.

Ide-ide kristen dalam masyarakat feodal eropa merupakan ideologi yang sangat penting saat itu. Ajaran gereja katolik mengenai otoritas ketuhanan berkaitan dengan otoritas mutlak monarki dan bangsawan. Dari sudut pandang ini dikatakan bahwa ideologi merupakan ide-ide the situationally transcendent yang secara de facto tidak pernah berhasil diwujudkan, contohnya adalah pandangan kristen mengenai cinta kasih yang lebih merupakan penyeimbang kondisi batin manusia.

Kita harus menghindari hanya melihat utopia dari satu sisi saja, karena secara alamiah akan terjadi penyesuaian yang didasarkan perkembangan jaman. Dalam pandangan Mannheim, hal ini cenderung tidak mewujud dan tidak memenuhi representasi jaman.

Peran the free floating intelectual dimasa kini adalah mencoba mengungkapkan kecenderungan-kecenderungan apa yang tidak terpenuhi.

Doktrin utopian adalah kebebasan, yang muncul dari kelas penguasa menengah pada abad 18 dan 19. Melalui sejarah tersebut, kita dapat melihat apa yang dimaksudkan oleh Mannheim dengan real elements dalam utopia ini, yakni tidak setiap doktrin merupakan ideologi misalnya doktrin kebebasan untuk bekerja, kebebasan bertempat tinggal, kebebasan berpendapat. Pada umumnya ideologi berfungsi sebagai pelindung suatu tatanan sedangkan utopia mencakup gagasan-gagasan yang potensial terealisasi dalam suatu tatanan sosial yang kondusif.

Mannheim memperlihatkan betapa sukarnya membedakan ideologi dan utopia dalam penerapannya. Kekuatan sebenarnya pada utopia adalah sebagai pemelihara kepentingan-kepentingan perkembangan masyarakat. Mannheim menyarankan agar kita melihat masyarakat secara dialektis untuk menetapkan utopia-utopia sesungguhnya, yaitu gagasan atau ide yang potensial terwujud. Utopia bagi Mannheim merupakan kebenaran yang belum matang.

Hanya pada praktek dan atau evolusi sejarah manusia yang dapat membedakan ideologi dan utopia, sehingga pada suatu saat kita tidak dapat lagi membedakan ide atau gagasan mana yang akan menjadi ideologi dan mana yang akan menjadi utopia, hanya masa depan yang akan menjawabnya.

Seperti dikemukakan di atas, bahwa teori Mannheim mengenai ideologi secara umum berhubungan dengan teori psikoanalis, artinya Mannheim menghendaki masyarakat sebagai suatu kesatuan harus selalu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan atau situasi nyata. Menurutnya dunia yang kita diami bukanlah sesuatu yang mutlak karena senantiasa terjadi perubahan dan perbaikan.

Kritik Cara Pendekatan Mannheim Mengenai Ideologi

Pertama, Mannheim telah gagal dalam membedakan pandangan relasionis dan relativis.

Kedua, pandangan relasionis menempatkan the free floating intellectual dalam posisi yang kurang tepat melalui penyesuaian konsep-konsep ideologi terhadap situasi dan kondisi tahap-tahap perkembangan masyarakat.

Berdasarkan sejarah sosiologi, Mannheim berpendapat bahwa relativisme merupakan produk atau hasil dari para sosiolog sejarah yang didasarkan atas fakta bahwa semua pemikiran historis terikat kepada situasi dan kondisi nyata kehidupan mereka. Apa yang diutarakan Mannheim bahwa terdapat kesalahan pada sudut pandang ini adalah mengarah pada suatu kesimpulan bahwa semua pemikiran yang terikat dengan sudut pandang subyektif dan sejarah individu dan kelompok adalah kurang tepat. Inilah implikasi yang diharapkannya untuk mengindari penjelasan pandangan relasionismenya.

Namun, pemanfaatan relasionisme oleh Mannheim hanya akan membuatnya menghindar dari masalah yang menyorot pusat pendekatannya dan ini merupakan persoalan relativisme.

Seseorang yang mengambil sudut pandang relasionisme masih harus menjawab mengapa pengetahuan yang bersifat perspektif dan sosial dapat berakar dan disebut pengetahuan ?

Untuk membuat pengertian dari sudut pandang relasionis, Mannheim bependapat bahwa ada sesuatu yang mensifatkan semua bentuk pengetahuan yang ditawarkan dari posisi relasionis sebagai ilmu pengetahuan, misalnya Kant, Marx ataupun wittgendstein mengakui bahwa semua pengetahuan berasal dari pandangan manusia dan walaupun demikian memiliki sifat-sifat umum atau dapat diuniversalkan. Relativisme tidak dapat dikategorikan sebagai teori pengetahuan, bahkan kemungkinan komunikasi linguistik manusia bergantung kepada penerimaan kategori umum.

Seorang marxist Italia, Anatonio Gramsci, mengatakan bahwa intelektual dalam sejumlah besar pekerjaan-pekerjaan teknis harus ditemukan dalam ekonomi pasar modern. Kategori intelektual seyogyanya diperluas untuk menarik orang dari kalangan teknisi, pangawas dan penasihat kerja.

Mannheim meminta kepada kelompok kerja yang berpikiran intelektual untuk menyadari dan tanggap mengenai keadaan politik dan sosial masyarakatnya karena mereka anggota masyarakat yang mampu.

Para intelektual, menurut Mannheim bisa membantu para pemimpin politik dalam mengarahkan penyesuaian secara cepat dan tepat didalam konteks masyarakat kontemporer.

Bogor, 26 November 1999

Karl Mannheim

Born: 27-Mar-1893
Birthplace: Budapest, Hungary
Died: 9-Jan-1947
Location of death: London, England
Cause of death: unspecified

Gender: Male
Religion: Jewish
Race or Ethnicity: White
Occupation: Sociologist

Nationality: Germany
Executive summary: Ideology and Utopia

University: University of Budapest
University: University of Berlin
University: University of Paris
University: University of Freiburg
Professor: University of Heidelberg (1926-30)
Professor: University of Frankfurt (1930-33)
Professor: London School of Economics
Professor: University of London (1933-45)
Professor: Philosophy and Sociology, University of London (1945-47)

Author of books:
Conservatism: A Contribution to the Sociology of Knowledge (1925)
Ideologie und Utopie (1929)
Freedom, Power, and Democratic Planning (1950)
Structures of Thinking (1922-24)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s